BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi di telepon genggam, sebagian lain menjadi percakapan di meja makan, kedai kopi, kantor, atau perjalanan pulang. Satu kabar belum selesai dicerna, kabar lain sudah menyusul.
Kita menjadi terbiasa melihat begitu banyak hal dalam waktu yang bersamaan.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah kita mengetahui berbagai persoalan itu, melainkan apa yang terjadi setelah kita mengetahuinya. Apakah semua kabar tersebut benar-benar mengubah cara kita memandang lingkungan dan orang lain? Atau, karena datang terlalu deras, semuanya justru lewat begitu saja?

Seni berada di wilayah yang menarik dalam persoalan semacam ini. Ia tidak bekerja dengan kecepatan notifikasi. Sebuah pertunjukan membutuhkan tubuh, sebuah lukisan membutuhkan waktu untuk dilihat, dan sebuah percakapan membutuhkan orang-orang yang bersedia tinggal lebih lama di dalamnya.
Persoalan itulah yang dibicarakan dalam Beranda Bentara bertajuk “Ruang, Rasa, Sesama: Refleksi Seni dan Kepedulian Hari Ini” di Gedung Unit 1 Kompas Gramedia Ketewel, Gianyar, Jumat (25/9/2026). Bentara Budaya Bali menghadirkan penulis dan pengamat budaya Dr. Jean Couteau, penari sekaligus koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau Dayu Ani, serta perupa Made Kaek.
Acara tersebut berlangsung sehari sebelum Bentara Budaya genap berusia 44 tahun pada 26 September 2026. Ketiga pembicara memiliki hubungan dengan Kompas, Bentara Budaya Bali, dan jejaring kesenian yang berkembang di sekitar ruang tersebut sejak 2009.

Percakapan sore itu tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang dilakukan seniman. Yang muncul justru pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana seseorang tetap memiliki kepekaan ketika hampir setiap hari dibombardir kabar mengenai krisis?
Bagi Dayu Ani, salah satu jawabannya adalah memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti.
Tubuh, Jeda, dan Kepekaan
Sebagai penari dan koreografer, Dayu Ani terbiasa bekerja dengan sesuatu yang paling dekat dengan manusia: tubuh. Tetapi tubuh, baginya, bukan semata alat untuk bergerak di atas panggung. Tubuh adalah tempat pengalaman, kesadaran, dan komunikasi berlangsung.
“Di tengah gempuran informasi dan berita bencana, seni menjadi titik jeda bagi kita. Dari perenungan dan titik jeda tersebut, kita tergerak untuk berbuat sesuatu melalui media karya, sekecil apa pun itu, guna menyebarkan getaran kasih dan pengingat kemanusiaan,” ujarnya.
Kalimat itu terasa dekat dengan cara kerja tari. Penonton tidak membaca gerakan seperti membaca berita. Mereka mengalaminya melalui tatapan, bunyi, ruang, dan tubuh yang bergerak. Ada waktu yang diperlukan untuk menangkap sesuatu yang mungkin tidak bisa dijelaskan hanya dengan kalimat.
Dayu Ani telah beberapa kali menghadirkan karya di Bentara Budaya Bali. Ia terlibat sebagai koreografer dalam film Sekala Niskala karya Kamila Andini, yang mendapat pemutaran khusus di Bentara Budaya Bali pada 2018. Ia juga terlibat dalam film Samsara garapan Garin Nugroho. Belakangan, ia menciptakan pertunjukan tari Gambuh Masutasoma.
Dari pengalamannya sebagai penari, ia melihat tubuh sebagai penghubung. Hubungan itu bukan hanya antara penampil dan penonton, tetapi juga antara manusia dengan lingkungan yang lebih luas.

“Tubuh adalah jembatan serta media komunikasi antara kita dengan audiens dan semesta,” katanya.
Karena itu, ada pekerjaan yang harus dilakukan sebelum tubuh menjadi bahasa di atas panggung. Bagi Dayu Ani, pekerjaan tersebut berkaitan dengan disiplin dan kemampuan untuk hening.
“Sebelum melangkah menjadi ekspresi seni, tubuh dan jiwa harus dibereskan terlebih dahulu melalui disiplin dan keheningan agar kita mampu mendengarkan serta menumbuhkan empati,” lanjutnya.
Keheningan yang dimaksud bukan keadaan tanpa suara. Ia lebih dekat pada kemampuan untuk memberi perhatian. Di tengah kehidupan yang terus meminta respons cepat, kemampuan semacam itu menjadi semakin penting. Seniman perlu mendengarkan sebelum berbicara melalui karyanya.
Made Kaek membawa pembicaraan ke persoalan yang berbeda, tetapi masih berhubungan dengan cara manusia menjalani proses. Baginya, berkesenian bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan mengandalkan bakat atau kecerdasan saja.
“Kunci utama dalam hidup dan berkesenian bukanlah sekadar kepintaran, melainkan kedisiplinan, fokus, dan keberanian untuk tekun berproses serta berkompetisi secara sehat di era persaingan yang ketat ini,” kata Kaek.
Ruang yang Terus Berubah
Kaek mengetahui bahwa ruang untuk berkesenian juga berubah. Selain aktif berpameran di berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri, ia membangun Rumah Paros di Sukawati sebagai tempat bertemu dan bertukar gagasan.
Ia tidak melihat ruang kebudayaan hanya dalam bentuk gedung kesenian atau institusi yang memiliki program resmi. Kehidupan kreatif bisa tumbuh di tempat yang lebih sederhana, bahkan di tempat yang sejak awal tidak dirancang sebagai ruang kebudayaan.
“Ruang publik dan kreativitas hari ini tidak lagi terbatas, tetapi ada di mana-mana, seperti di kedai-kedai kopi tempat generasi muda berkumpul. Di ruang-ruang baru tersebut, kreativitas bergerak, ekonomi berjalan, dan daya hidup kebudayaan terus bergulir,” ujarnya.

Ada perubahan cara orang berkumpul dan bertukar gagasan. Dahulu, ruang kebudayaan mungkin lebih mudah dikenali melalui galeri, gedung pertunjukan, atau taman budaya. Kini, percakapan mengenai musik, seni rupa, film, desain, sastra, dan berbagai persoalan sosial bisa berlangsung di tempat yang jauh lebih cair.
Yang penting bagi Kaek bukan semata-mata tempatnya, tetapi hubungan yang terbentuk di dalamnya.
“Hal yang paling mendasar adalah rasa ‘sesama’ dan empati. Dari sana kita dapat membangun ekosistem kebudayaan yang saling mendukung dan terus bertumbuh bersama,” katanya.
Kaek sendiri telah lama menjalani hubungan dengan ruang-ruang semacam itu. Pada 2024, ia hadir di Bentara Budaya Yogyakarta melalui pameran tunggal Kala Api: The Age of Pawns. Di Bali, Rumah Paros menjadi salah satu tempat yang ia bangun untuk memungkinkan pertemuan berlangsung lebih dekat dan tidak terlalu formal.
Bagi Jean Couteau, kebutuhan terhadap ruang semacam itu berkaitan dengan cara masyarakat memahami kebudayaannya sendiri.
Penulis seni rupa dan pengamat budaya tersebut selama bertahun-tahun menulis tentang manusia, Bali, Indonesia, seni, dan perubahan sosial. Tulisan-tulisannya terbit secara berkala dalam kolom Udar Rasa di Kompas. Ia juga termasuk sosok yang aktif dalam ekosistem Bentara Budaya Bali sejak tahun-tahun awal perjalanan ruang tersebut.
Jean mengingatkan bahwa kebudayaan dapat kehilangan daya kritisnya jika hanya diterima sebagai sesuatu yang sudah selesai. Tradisi, karya, dan berbagai produk kebudayaan perlu terus dibicarakan, bahkan dipertanyakan.
“Kebudayaan tidak boleh hanya diteruskan secara komersial atau diterima begitu saja tanpa pertanyaan. Kita memerlukan ruang publik tempat di mana kebudayaan dan produknya dipertanyakan secara kritis, baik dari sudut pandang sosiologis, estetis, maupun filsafati,” ujarnya.
Ada perbedaan antara melestarikan sesuatu dan sekadar mengulanginya. Dalam pengertian pertama, kebudayaan diberi kesempatan untuk hidup dan berhadapan dengan keadaan baru. Dalam pengertian kedua, ia berisiko menjadi benda yang hanya dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah dibaca ulang.
Hal serupa berlaku dalam seni. Menurut Jean, seniman perlu memiliki kepekaan terhadap perubahan yang berlangsung di sekelilingnya.
“Penciptaan seni modern bermula dari kesadaran intuitif dan analitis. Seniman yang kreatif adalah mereka yang menyadari adanya pergeseran sosial, politik, maupun pertarungan bawah sadar yang digugah oleh modernitas, lalu meresponsnya melalui karya,” kata Jean.
Perubahan itu bisa muncul dalam bentuk yang besar—pergeseran politik, persoalan ekonomi, perubahan lingkungan—atau dalam pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seniman kemudian mengolahnya melalui medium masing-masing.

Karena itulah seni tidak selalu harus menjelaskan sesuatu secara gamblang. Sebuah karya dapat bekerja melalui pengalaman yang lebih samar: perasaan tidak nyaman, ingatan, kegelisahan, keindahan, atau bahkan keheningan.
Di sanalah percakapan tentang ruang publik menjadi penting. Orang datang ke sebuah ruang kebudayaan dengan latar belakang yang berbeda, membawa pengalaman masing-masing. Mereka kemudian bertemu di hadapan sebuah karya atau dalam sebuah percakapan.
“Di tengah fenomena sosial dan dinamika zaman, kebudayaan serta ruang perjumpaan hadir sebagai sarana untuk berupaya menutupi dan mengikis jarak yang memisahkan antarmanusia,” ujar Jean.
Empati, dalam pengertian ini, tidak muncul karena seseorang diperintah untuk berempati. Ia dapat tumbuh karena manusia berkesempatan bertemu dengan pengalaman yang berbeda dari dirinya.
Sebuah pertunjukan tari mungkin membuat seseorang memikirkan kembali tubuhnya. Sebuah lukisan dapat membuka ingatan yang sudah lama tersimpan. Sebuah dialog bisa membuat seseorang pulang dengan pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam pikirannya.
Bentara Budaya Bali selama ini menjadi salah satu tempat berlangsungnya pertemuan-pertemuan semacam itu. Sebagai bagian dari Kompas Gramedia, ruang ini mempertemukan seniman, penulis, pemikir, dan masyarakat melalui berbagai kegiatan, mulai dari dialog, pameran, hingga pertunjukan.
Barangkali fungsi ruang kebudayaan memang tidak selalu terlihat hasilnya pada saat itu juga. Tidak semua percakapan menghasilkan kesimpulan. Tidak semua karya mengubah cara pandang penontonnya. Kadang-kadang yang tertinggal hanya sebuah pertanyaan yang baru menemukan jawabannya beberapa hari kemudian.
Dan mungkin memang itu yang dibutuhkan dari seni ketika dunia bergerak terlalu cepat: bukan tambahan kebisingan, melainkan kesempatan untuk memperhatikan kembali.
Memperhatikan tubuh. Memperhatikan lingkungan. Memperhatikan orang lain. Lalu, setelah cukup lama berhenti, kembali berjalan dengan kesadaran yang sedikit berbeda.[T]
Sumber/Penulis: Rilis/Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole






























