PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Namun, tidak semua perubahan tersebut dapat diterima begitu saja. Dampaknya terkadang datang dan pergi tanpa dapat diperkirakan, seperti burung yang bertengger di atas dahan kering.
Ketika Krisis Finansial Asia atau Krisis Moneter melanda pada 1997–1998, Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang mengalami dampak berat dan proses pemulihan yang panjang. Krisis tersebut kemudian menjadi salah satu pemicu munculnya berbagai gerakan yang mengatasnamakan reformasi.
Namun, perubahan sosial dan politik yang berlangsung pada masa itu juga diiringi berbagai persoalan kemanusiaan. Nilai-nilai persatuan mengalami tekanan ketika sentimen rasial terhadap sesama warga negara menguat. Kecemburuan sosial dan kebencian berkembang menjadi kekerasan terhadap kelompok minoritas.
Pada situasi tersebut, kata-kata pun kehilangan kesuciannya. Fitnah dapat berubah menjadi senjata, sementara propaganda digunakan untuk membentuk kebencian dan merusak kehormatan seseorang. Kota-kota membara bukan hanya karena api, tetapi juga karena runtuhnya rasa kemanusiaan yang tergilas oleh perubahan yang berlangsung begitu liar.
Dalam konteks ingatan tentang masa tersebut, film Gecko—yang diputar pada geleran Minikino Film Week 12 (MFW12) 2026—karya sutradara asal Indonesia, Owen Effendi, menghadirkan sebuah perjalanan untuk menelusuri kembali sejarah keluarga. Ada satu hal yang terasa kuat setelah menonton film ini: setiap keluarga memiliki cerita masing-masing, tetapi tidak selalu ada kesempatan untuk bertanya kepada orang tua tentang pengalaman yang mereka lalui pada masa lalu.

Ketika pertanyaan itu tidak pernah diajukan, cerita-cerita tersebut berisiko terkubur bersama orang-orang yang mengalaminya. Gecko mengikuti perjalanan Niu Niu, seorang cucu yang berusaha mengungkap masa lalu tersembunyi keluarganya di Indonesia. Dalam pencarian tersebut, ia kemudian berhadapan dengan mitos seputar tokek atau gecko.
Film ini dibuka dengan gambar sebuah foto keluarga lama yang statis. Dari gambar tersebut, film kemudian bergerak mengikuti perjalanan Niu Niu. Sebagai generasi cucu yang telah lama tinggal di Cina, ia kembali ke Indonesia untuk mencari jejak keluarganya dan memahami sejarah yang selama ini sengaja disimpan rapat.
Pencarian Niu Niu kemudian membawa penonton mundur ke memori kelam Krisis Moneter dan Kerusuhan Mei 1998. Melalui rekaman arsip dan kesaksian lisan, terungkap titik kritis dalam sejarah keluarga mereka ketika rumah di Indonesia dibakar oleh massa.
Di tengah kepanikan dan situasi kota yang membara, sang ibu terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya. Ia meninggalkan tanah air dalam kondisi tragis dengan hanya membawa sebuah kantong plastik berisi beberapa potong pakaian.
Pelarian tersebut membawanya ke Singapura sebagai seorang pengungsi yang mengalami trauma. Begitu tiba di bandara, dengan air mata yang masih membasahi wajah, ia langsung diwawancarai oleh reporter setempat. Kisah pelariannya kemudian menjadi berita utama di media Singapura dan menjadikannya salah satu wajah dari krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Indonesia.
Sementara itu, ketika berada di Indonesia, Niu Niu menghadapi kenyataan yang sangat emosional. Ia akhirnya bertemu dengan bibinya yang berada dalam kondisi kritis akibat penyakit parah yang dideritanya.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana sunyi dan penuh haru. Ketika pertama kali bertatap muka, keduanya secara spontan berbicara menggunakan bahasa Mandarin. Bagi mereka, bahasa Mandarin bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bahasa ibu (mother tongue) yang mengikat identitas emosional dan spiritual keluarga mereka lintas generasi.
Percakapan menggunakan bahasa ibu tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan kembali ingatan masa lalu yang sempat terputus. Melalui percakapan terakhir yang lirih dan penuh air mata bersama sang bibi, Niu Niu perlahan menyusun potongan-potongan sejarah kelam serta rahasia trauma masa lalu yang selama ini tersimpan di dalam rumah tersebut.
Di tengah proses pencarian itu, muncul pula cerita tentang suara tokek yang terus terdengar di rumah. Ketika Niu Niu tengah makan siang, bibinya menceritakan mitos tentang tokek yang kerap berbunyi di rumah tersebut. Perlahan, pikiran Niu Niu mulai berkelindan dengan mitos dan takhayul lokal tentang tokek.
Suara tokek yang terus menghantui serta mistisisme yang mengelilingi hewan tersebut kemudian berkembang menjadi metafora visual. Tokek seolah menjadi penanda bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang dari sebuah rumah: ingatan tentang masa lalu.
Dalam konteks tersebut, tokek melambangkan memori yang “menempel” erat pada dinding rumah. Ia menjadi gambaran trauma antargenerasi (generational trauma) yang tidak pernah benar-benar pergi. Trauma itu bersembunyi di sudut-sudut gelap dan sesekali kembali melalui suara yang mengingatkan pemilik rumah pada luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Secara keseluruhan, Gecko adalah film berdurasi 14 menit yang merangkai arsip keluarga, sejarah kerusuhan, dan mitos menjadi refleksi tentang bagaimana sebuah keluarga Tionghoa-Indonesia bertahan setelah mengalami kekerasan dan kehilangan akibat kerusuhan.
Pendekatan Sinematik dalam Membangun Suasana
Selain melalui cerita tentang perjalanan Niu Niu, Gecko juga membangun suasana melalui penggunaan simbol-simbol visual yang berkaitan erat dengan ingatan, trauma, dan sejarah keluarga. Salah satu simbol yang paling kuat adalah tokek. Dalam kehidupan sehari-hari, tokek merupakan hewan yang kerap menempel pada dinding rumah dan bersembunyi di sudut-sudut yang tidak selalu terlihat. Keberadaannya justru sering kali disadari melalui suara yang khas dan berulang.
Dalam film ini, tokek kemudian menjadi metafora bagi trauma antargenerasi (generational trauma). Tragedi kebakaran rumah pada 1998 dan pelarian sang ibu hanya dengan membawa sebuah kantong plastik berisi pakaian menjadi luka yang tidak pernah benar-benar hilang. Luka tersebut seolah “menempel” pada dinding psikologis keluarga. Meskipun Niu Niu sebagai generasi muda tidak mengalami langsung kerusuhan tersebut, suara tokek terus menggemakan masa lalu yang belum selesai. Suara itu menjadi pengingat bahwa trauma dapat diwariskan melalui ingatan, cerita, dan suasana yang hidup di dalam sebuah keluarga.

Simbol lain yang tidak kalah kuat adalah kantong plastik yang dibawa sang ibu ketika melarikan diri ke Singapura. Benda sederhana tersebut menjadi gambaran tentang kerapuhan dan ketidakpastian yang dialami seseorang ketika kehilangan rumah dan harus meninggalkan tanah air. Dalam sekejap, kenyamanan hidup, status sosial, serta berbagai benda yang sebelumnya dimiliki seakan menyusut menjadi beberapa helai pakaian di dalam sebuah kantong plastik.
Kisah tentang kantong plastik tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat berubah menjadi konsumsi publik. Ketika sang ibu tiba di Singapura dalam keadaan trauma dan langsung diwawancarai oleh wartawan, penderitaan yang sangat personal kemudian hadir sebagai pemberitaan. Tangis, kehilangan, dan pengalaman sebagai pengungsi menjadi bagian dari sebuah berita yang dikonsumsi masyarakat. Di sini, film mempertemukan pengalaman pribadi dengan cara media membingkai sebuah tragedi kemanusiaan.
Sementara itu, foto keluarga yang muncul pada bagian awal film memberikan kesan yang berbeda. Foto tersebut menghadirkan sebuah gambaran keluarga yang tampak diam dan tenang, tetapi justru menyimpan sejarah yang belum terungkap. Jarak antara foto lama dan perjalanan Niu Niu di masa kini memperlihatkan adanya jarak waktu sekaligus jarak pengalaman antara generasi yang mengalami tragedi dan generasi yang berusaha memahaminya.
Foto keluarga tersebut pada akhirnya bukan sekadar dokumentasi masa lalu. Ia menjadi pintu masuk bagi Niu Niu untuk menelusuri kembali sejarah keluarganya. Kehadiran sang ayah sebagai narasumber semakin memperkuat hubungan antargenerasi tersebut. Pengalaman generasi sebelumnya menjadi penting bagi generasi berikutnya untuk memahami ruang, peristiwa, dan luka yang tidak mereka alami secara langsung. Dengan demikian, proses mencari sejarah keluarga juga menjadi proses menyusun kembali potongan-potongan ingatan yang sebelumnya terpisah.

Pendekatan tersebut semakin kuat melalui penggunaan docufiction, yaitu perpaduan antara dokumenter dan unsur fiksi atau mitos. Pilihan ini membuat Gecko tidak hanya berhadapan dengan sejarah sebagai kumpulan fakta, tanggal, dan peristiwa, tetapi juga dengan sejarah sebagai pengalaman manusia yang dipenuhi emosi, ketakutan, ingatan, dan kepercayaan.
Mitos tentang tokek kemudian ditempatkan berdampingan dengan arsip dan kesaksian keluarga. Perpaduan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman terhadap sebuah tragedi tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui fakta sejarah. Ada ketakutan yang menetap, ada ingatan yang terputus, dan ada pengalaman emosional yang terus hidup bahkan setelah peristiwa tersebut berlalu.
Dalam konteks ini, mitos menjadi salah satu cara untuk memahami penderitaan yang mungkin terlalu berat apabila hanya didekati melalui logika. Tokek tidak lagi sekadar hadir sebagai hewan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi berubah menjadi suara masa lalu yang terus memanggil ingatan keluarga.
Melalui berbagai simbol tersebut, Gecko membangun suasana yang mempertemukan ruang domestik, sejarah, ingatan, dan trauma. Foto keluarga, kantong plastik, suara tokek, arsip, serta kesaksian antargenerasi saling terhubung untuk membentuk perjalanan Niu Niu dalam memahami masa lalu keluarganya.
Dengan demikian, pendekatan sinematik dalam Gecko tidak hanya digunakan untuk memperindah tampilan film, tetapi juga menjadi bagian dari cara film menyampaikan ingatan. Setiap benda, suara, dan gambar membawa jejak pengalaman yang perlahan membuka kembali sejarah keluarga. Masa lalu tidak hadir sebagai sesuatu yang telah selesai, melainkan sebagai sesuatu yang masih hidup dan dapat kembali melalui suara, ruang, benda, serta ingatan orang-orang yang ditinggalkan.
Kronologi Eskalasi Gelombang Kerusuhan di Jakarta
Pada awal Januari hingga April 1998, gelombang aksi mahasiswa dan masyarakat mulai meningkat seiring melonjaknya harga barang akibat Krisis Moneter yang telah menghantam Indonesia sejak pertengahan 1997. Pada periode ini, demonstrasi banyak berlangsung di lingkungan kampus dan ruang publik dalam bentuk aksi massa.
Situasi kemudian semakin memanas setelah terjadi Tragedi Trisakti. Penembakan terhadap empat mahasiswa Universitas Trisakti ketika mengikuti aksi pada 12 Mei 1998 memicu kemarahan publik dan memperbesar gelombang protes di Jakarta.

Pada 13–15 Mei 1998, aksi demonstrasi dan duka cita berkembang menjadi kerusuhan. Massa mulai memblokir jalan, membakar kendaraan, serta menyerang pertokoan di sejumlah kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Pusat. Lalu, 14 Mei 1998, penjarahan dan pembakaran semakin meluas. Rumah tinggal, ruko, serta pusat perbelanjaan menjadi sasaran. Kawasan seperti Klender, Glodok, dan Sunter turut terdampak kerusuhan. Sejumlah kawasan bisnis dan permukiman yang dihuni warga keturunan Tionghoa menjadi salah satu sasaran kekerasan. Selanjutnya, pada 15 Mei 1998, kerusuhan mulai mereda seiring dengan pengamanan yang dilakukan aparat. Namun, kerusakan fisik dan trauma sosial yang ditinggalkan telah meluas.
Ingatan tentang peristiwa tersebut kemudian kembali muncul melalui pengalaman keluarga Owen Effendi. Ia mengatakan, “Hal yang paling membekas bagi saya adalah saat Nenek baru saja meninggalkan rumah kami yang terbakar. Beliau pergi hanya membawa sekantong plastik berisi beberapa helai pakaian. Ketika tiba di Singapura…,” ungkap Owen Effendi, sutradara film Gecko.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa sejarah dapat meninggalkan ingatan yang sangat personal. Melalui Gecko, kekacauan situasi dan hilangnya nilai-nilai persaudaraan pada masa itu tidak hanya ditampilkan sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai pengalaman yang diwariskan melalui ingatan keluarga.
Melalui pendekatan docufiction, film ini mengajak penonton melihat kembali luka lama yang selama ini tersimpan di sudut-sudut ingatan keluarga. Tragedi masa lalu tidak lagi sekadar menjadi catatan dalam buku sejarah, tetapi hadir sebagai realitas emosional yang dampaknya masih dirasakan oleh generasi berikutnya.

Pengalaman serupa juga disampaikan Apax Anton, ayah Owen Effendi: “Ibu saya bahkan menjadi sorotan utama berita di sana. Setibanya di Singapura, seorang wartawan setempat langsung mewawancarainya mengenai situasi dan kondisi yang tengah terjadi di Indonesia saat itu,” ungkap Apax Anton, ayah Owen Effendi.
Pada akhirnya, perjumpaan Niu Niu dengan bibinya memperlihatkan bahwa di tengah hancurnya rasa persatuan dan munculnya kekerasan berbasis identitas, bahasa ibu dan ruang domestik dapat menjadi tempat untuk mempertahankan ingatan sekaligus martabat kemanusiaan.
Melalui Gecko, Owen Effendi menghadirkan seni visual sebagai ruang untuk mengolah ingatan dan trauma keluarga. Film ini menjadi sebuah upaya untuk kembali, mendengarkan “suara-suara tokek” yang terus bergema, serta menjahit kembali potongan-potongan sejarah yang sempat terkoyak oleh kekerasan dan kebencian.[T]
Penulis: Putu Arya Dhamma Nanda
Editor: Jaswanto





























