Datang Setelah Riuh
Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan ujungnya. Saya sendiri baru tiba ketika sore hampir menyerahkan cahayanya kepada malam. Dari Cengkareng, pekerjaan membuat langkah saya tertahan lebih dari satu jam menuju Cemara 6 Gallery, Toeti Heraty Museum. Namun keterlambatan itu barangkali memberi saya cara pandang yang lain. Ruang pamer mulai lengang. Keramaian telah surut, menyisakan ruang, lukisan, dan kesunyian. Saya berhenti cukup lama.

Di hadapan karya-karya Lully Tutus, mata saya seperti kehilangan jalan pulang menuju kata-kata. Warna-warnanya terasa hidup. Ada gerak yang tidak benar-benar bergerak, suara yang tidak terdengar, dan kehidupan yang seakan masih berdenyut di balik permukaan kanvas. Saya tidak segera mencari penjelasan. Saya membiarkan mata tinggal lebih lama, membiarkan kesunyian mengerjakan sesuatu yang tidak dapat dikerjakan oleh kalimat. Barangkali karya seni tidak selalu meminta kita memahami. Ada karya yang terlebih dahulu meminta kita merasakan.
Ketika Mata Kehabisan Kata
Ada saat ketika mata menemukan sesuatu lebih dahulu daripada bahasa. Saya merasakan itu di ruang pamer Lully. Semakin saya mencoba merumuskan apa yang saya lihat, semakin terasa bahwa sebagian pengalaman justru dapat menguap ketika terlalu cepat diberi nama. Lukisan tidak selalu bekerja melalui kalimat. Ia bekerja melalui perjumpaan. Seseorang datang membawa kehidupan yang pernah dilaluinya, lalu sesuatu bergerak di antara mata dan kanvas. Yang hadir bukan hanya apa yang dibuat seniman, tetapi juga apa yang dibawa oleh orang yang melihatnya. Karena itu, saya tidak ingin buru-buru mengunci karya-karya ini dalam satu makna. Saya ingin membiarkan sebagian pintunya tetap terbuka.

Semakin lama memandangnya, saya merasa kehidupan tidak selalu masuk ke dalam seni sebagai cerita yang utuh. Ia dapat datang sebagai simbol, fantasi, sesuatu yang ganjil, atau serpihan pengalaman yang menemukan tubuh baru ketika berhadapan dengan warna. Ada ayam, rambut, tubuh perempuan, rumah, anak, kegaduhan, keinginan untuk pergi, jiwa yang ingin terbang, orang utan yang kehilangan habitat, juga sosok bertanduk yang justru menjaga alam. Ada buku, botol, laut, pepohonan, makhluk-makhluk fantasi, serta benda-benda yang melepaskan diri dari fungsi asalnya.
Semuanya tampak berjalan di jalur masing-masing, tetapi diam-diam bertemu pada satu kemungkinan: kehidupan sedang dipandang dari sisi yang lain. Realitas tidak selalu harus datang dengan wajah aslinya. Kadang ia perlu dibelokkan, diberi sayap, dipindahkan tempatnya, bahkan dibuat sedikit ganjil agar sesuatu yang terlalu dekat dengan mata dapat terlihat kembali. Fantasi, dalam pengertian ini, bukan pelarian dari kenyataan. Ia adalah cara lain untuk mengetuk pintu kenyataan.
Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya
Di sinilah perempuan dalam lukisan-lukisan Lully menjadi lebih dari sekadar figur. Tubuh perempuan seperti ruang tempat berbagai kemungkinan kehidupan bersemayam. Wajah-wajahnya cenderung tenang. Tatapannya tidak berteriak. Namun justru dari ketenangan itu muncul dunia yang begitu ramai. Lanskap dapat tumbuh dari kepala. Rumah, pepohonan, bukit, laut, bahkan ruang kehidupan seakan menemukan tempatnya di dalam tubuh manusia. Pakaian tidak lagi sekadar pakaian. Ia dapat menjadi habitat, perjalanan, bahkan ruang yang membawa dunia dari satu tempat ke tempat lain.


Kepala menjadi lanskap, buku menjadi pohon, gaun menjadi rumah, botol menjadi ruang ingatan, sayap tumbuh dari makhluk yang berjalan lambat, dan cermin menjadi pertemuan dua sisi diri. Tubuh perempuan dalam karya-karya ini seakan tidak lagi memiliki batas yang tegas. Ia menjadi tempat di mana dunia luar dan dunia dalam saling bertukar alamat. Manusia ternyata membawa lebih banyak hal daripada yang tampak pada tubuhnya. Ia membawa rumah yang pernah ditinggali, jalan yang pernah dilalui, wajah yang pernah dicintai, juga sesuatu yang bahkan belum sempat diberi nama.
Dalam logika surealisme dekoratif, benda tidak harus tetap menjadi dirinya sendiri. Sebuah benda dapat memperoleh kehidupan kedua ketika ditempatkan di luar kebiasaan kita memandangnya. Buku, misalnya, tidak berhenti sebagai benda untuk dibaca. Ia dapat menjelma pohon, pakaian, sayap, atau lembaran yang terbang meninggalkan gravitasi. Di sana, membaca bukan hanya aktivitas intelektual. Buku menjadi akar bagi ingatan, batang bagi pengetahuan, cabang bagi pengalaman, dan sayap bagi kebebasan imajinasi. Begitu pula botol yang menyimpan pesan.
Ia menjadi ruang kecil bagi sesuatu yang jauh lebih besar: kenangan, hubungan, pesan yang belum selesai, atau bagian kehidupan yang masih menunggu untuk ditemukan. Botol itu seperti menyimpan laut dalam tubuh yang sempit. Tidak semua yang kita simpan benar-benar selesai. Sebagian hanya menunggu ditemukan kembali, dibuka, lalu dibiarkan mengalir ke dalam waktu yang baru.

Alam pun tidak datang sebagai penghias. Ia tumbuh sebagai bagian dari tubuh cerita. Jamur, pepohonan, gunung, tanah, laut, pasir, makhluk-makhluk kecil, hingga penghuni dunia fantasi saling mengisi ruang. Tidak ada yang benar-benar menjadi latar. Semuanya memiliki kemungkinan untuk menjadi tokoh. Alam dalam karya-karya ini terasa seperti sesuatu yang sedang mengingat manusia. Ada siput bersayap, misalnya.
Tubuhnya membawa kesabaran sebuah perjalanan yang lambat, sementara sayapnya menyimpan keinginan untuk melampaui jalan yang panjang. Di sana kelambatan tidak menjadi kelemahan. Ia berdampingan dengan hasrat terbang. Yang satu menuntun pada ketekunan, yang lain membuka kemungkinan kebebasan. Barangkali manusia memang hidup di antara keduanya: kaki yang masih menapak dan hati yang ingin terbang.
Laut dan daratan pun kehilangan garis batasnya. Duyung, perahu, air, pepohonan, makhluk laut, dan manusia saling memasuki wilayah masing-masing. Laut dapat mengalir ke dalam tubuh. Daratan dapat mengapung. Perahu dapat tumbuh menjadi bagian dari gaun. Sangkar dapat berubah menjadi habitat. Di sini benda-benda tidak lagi patuh pada nama yang diberikan kepadanya. Benda-benda memperoleh kehidupan kedua. Imajinasi tidak menghancurkan kenyataan. Ia hanya menggeser batas-batasnya, agar sesuatu yang selama ini terlalu akrab dapat kita lihat kembali dengan mata yang berbeda.
Yang Sehari-hari Diam-diam Membentuk Kita
Namun di balik dunia surealis yang penuh penyimpangan bentuk itu, saya justru menemukan sesuatu yang sangat dekat: kehidupan sehari-hari. Kita sering mengira kehidupan dibentuk oleh peristiwa-peristiwa besar. Padahal sebagian besar hidup berlangsung dalam perkara yang nyaris tidak pernah dicatat. Pagi yang dimulai sebelum tubuh benar-benar siap, makanan yang harus disiapkan, anak yang harus diperhatikan, rumah yang terus meminta disentuh, tangis, tawa, percakapan, dan pekerjaan yang datang kembali bahkan setelah selesai dikerjakan. Hal-hal itu begitu dekat hingga sering tidak dianggap sebagai peristiwa. Padahal mungkin justru dari sanalah seseorang perlahan dibentuk.

Dalam My Orchestra, kegaduhan kehidupan domestik dapat dibaca sebagai bunyi yang menyusun pengalaman. Tangis anak, tawa, suara pekerjaan, percakapan, dan segala bunyi rumah tidak lagi sekadar gangguan. Semuanya menjadi bagian dari komposisi kehidupan. Rumah bukan semata tempat yang harus ditinggalkan agar kehidupan kreatif dapat berlangsung. Rumah justru salah satu ruang pertama tempat manusia belajar tentang perhatian, kesabaran, kelelahan, kasih sayang, tanggung jawab, dan keinginan untuk tetap memiliki ruang bagi dirinya sendiri.
Pemikiran Mikke Susanto tentang kerja domestik menemukan gema di sini. Kerja yang sering dianggap rutin ternyata membawa tenaga, emosi, perhatian, dan relasi ke dalam pengalaman penciptaan. Apa yang tampak sebagai keseharian dapat menjadi bahan baku yang diam-diam masuk ke dalam warna. Mungkin tidak ada kehidupan yang benar-benar biasa. Kita hanya terlalu sering melewatinya tanpa sempat melihat kedalamannya.
Perempuan yang Tidak Selesai Didefinisikan
Karena itu, perempuan dalam karya Lully tidak selesai hanya dengan satu identitas. Ia dapat menjadi ibu, istri, pekerja, perawat kehidupan, sekaligus seseorang yang memiliki kehendak dan dunia batinnya sendiri. Rambut dapat menjadi mahkota, identitas, tanda feminitas, sekaligus bahasa kebebasan. Sanggul membawa jejak tradisi. Rambut yang terurai membawa angin. Di antara ikatan dan kebebasan itu, ada seseorang yang menentukan sendiri bagaimana dirinya ingin hadir. Tubuh tidak berhenti sebagai sesuatu yang dilihat. Ia menyimpan pengalaman, pilihan, ingatan, kehilangan, keberanian, juga kalimat-kalimat yang tidak pernah sempat diucapkan.

Bahkan keibuan terasa lebih luas daripada hubungan biologis. Ia menjadi daya untuk merawat, menjaga, menampung, dan menyediakan ruang bagi sesuatu untuk tumbuh. Perempuan menjadi semacam pusat gravitasi. Anak-anak, alam, buku, makhluk fantasi, laut, bahkan benda-benda kecil seolah memperoleh ruang untuk hidup di sekitarnya. Mungkin menjadi perempuan memang sering berarti hidup di antara banyak peran.
Tetapi manusia tidak pernah selesai hanya karena sebuah peran telah diberikan kepadanya. Di balik semua nama itu tetap ada seseorang yang ingin mengenali dirinya sendiri. Karena itu, waktu untuk berkarya menjadi penting. Bukan sekadar waktu untuk membuat lukisan, melainkan ruang kecil untuk mengingat bahwa di tengah begitu banyak yang harus dirawat, ada diri sendiri yang juga perlu diberi tempat bernapas.
Keanehan yang Membuka Mata
Saya tertarik pada cara Lully membelokkan sesuatu yang sudah kita kenal. Sosok bertanduk tidak selalu jahat. Ayam tidak hanya menjadi ayam. Rambut tidak sekadar rambut. Rumah tidak hanya bangunan. Kegaduhan tidak selalu kekacauan. Narayana, misalnya, menggeser kebiasaan kita membaca bentuk. Tanduk yang dalam banyak gambaran kerap diasosiasikan dengan sesuatu yang menakutkan justru hadir sebagai penjaga alam dan kehidupan di sekitarnya.

Ketika tanda-tanda bergeser, cara kita melihat ikut bergeser. Kita terlalu mudah percaya pada permukaan, memberi nama sebelum mengenal, menyimpulkan sebelum mengalami. Padahal sesuatu yang tampak ganjil mungkin sedang membawa kebenaran yang tidak mampu disampaikan oleh bentuk yang terlalu biasa. Barangkali seni memang sesekali perlu membuat kita tersesat agar mata menemukan jalan yang belum pernah dilaluinya.
Dari Tubuh ke Dunia
Perjalanan Lully tidak berhenti pada tubuh dan pengalaman personal. Pandangannya melebar kepada kegelisahan manusia yang ingin pergi demi kehidupan yang dianggap lebih baik, orang utan yang kehilangan rumah ketika hutan kehilangan perlindungan, juga desa, budaya, dan bumi yang membutuhkan perhatian. Winih membawa kegelisahan tentang habitat yang perlahan kehilangan ruang. Kabur Aja Dulu menangkap hasrat manusia mencari kehidupan di tempat lain.
Dua arah perjalanan itu menyisakan pertanyaan tentang rumah. Manusia mencari tempat untuk hidup, sementara makhluk lain kehilangan tempat hidupnya. Ada perpindahan yang dipilih. Ada perpindahan yang dipaksa keadaan. Ada rumah yang ditinggalkan. Ada rumah yang hilang sebelum sempat ditinggalkan. Alam di sini bukan latar belakang. Ia menjadi bagian dari tubuh narasi.

Daratan yang tandus dapat berhadapan dengan sepetak hijau. Pohon yang tumbang dapat berhadapan dengan kemungkinan tumbuh kembali. Harapan tidak selalu hadir dalam kalimat besar. Kadang ia hanya berupa warna hijau yang bertahan di tengah tanah yang hampir kehilangan musimnya. Dari tubuh, pandangan bergerak menuju dunia. Dari rumah, pertanyaan melebar menjadi: rumah bagi siapa?
Antara Ingatan, Spiritualitas, dan Zaman
Dunia Lully juga tidak berhenti pada alam dan imajinasi. Ada lapisan spiritual yang muncul melalui kristal, mahkota, tanduk, cahaya, peri, dan figur-figur penjaga. Spiritualitas itu tidak hadir sebagai khotbah. Ia lebih menyerupai cahaya yang jatuh di permukaan benda, memberi tanda tanpa memaksa kita menyebut namanya. Kristal membawa kesan jernih sekaligus menyimpan kedalaman. Mahkota memancarkan kemuliaan, tetapi juga menyimpan berat yang harus ditanggung kepala. Tanduk mengingatkan pada kekuatan purba. Sosok penjaga membuka kemungkinan tentang sesuatu yang melindungi tanpa selalu terlihat.
Di sisi lain, dunia tradisional dan spiritual bertemu dengan benda-benda zaman kini: laptop, gawai, roket, drone, dan simbol ekonomi digital. Masa lalu tidak sepenuhnya pergi ketika masa depan datang. Keduanya dapat tinggal dalam tubuh yang sama. Perempuan berada di antara keduanya. Ia dapat membawa teknologi sekaligus alam, masa depan sekaligus ingatan, dunia digital sekaligus akar kehidupan. Mungkin manusia modern bukan manusia yang meninggalkan akar, melainkan manusia yang sedang belajar membawa akarnya ke tengah arus zaman.
Apa yang Kita Bawa Pulang dari Sebuah Lukisan
Pada akhirnya, seluruh simbol itu kembali kepada sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: apa yang sebenarnya kita bawa di dalam diri ketika melewati kehidupan? Mungkin bukan hanya ingatan. Kita membawa rumah-rumah yang pernah kita tinggali, wajah-wajah yang pernah kita cintai, pengetahuan yang pernah mengubah cara memandang dunia, pengalaman yang belum selesai, alam yang pernah disentuh mata, masa depan yang belum terjadi, dan mimpi-mimpi yang bahkan belum menemukan nama.

Sebuah lukisan tidak selesai ketika cat mengering. Ia memulai kehidupan berikutnya ketika bertemu dengan mata orang lain. Saya datang membawa kehidupan saya sendiri, lalu berdiri di hadapan kehidupan yang telah dituangkan Lully ke dalam kanvas. Di antara keduanya ada sesuatu yang tidak dapat diukur: pengalaman, ingatan, perasaan, dan tafsir. Di titik itu, karya tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pembuatnya. Ia memasuki kehidupan orang lain. Ia berubah lagi, tumbuh lagi, menemukan pintu yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mungkin itulah sebabnya sebuah lukisan dapat membuat seseorang terdiam tanpa tahu persis apa yang sedang disentuhnya.
Waktu yang Tidak Lagi Bisa Dihitung
Tulisan Heti Palestina Yunani membuka satu pintu tentang waktu yang tidak selalu tersedia bagi seorang perempuan. Ada celah-celah pendek di antara pekerjaan rumah, keluarga, anak-anak, dan berbagai kebutuhan kehidupan. Lima belas atau tiga puluh menit mungkin tampak terlalu kecil untuk disebut sebagai waktu berkarya. Namun mungkin waktu memang tidak selalu datang sebagai hamparan luas. Kadang ia hanya berupa celah.
Dan dari celah itulah sesuatu tumbuh. Daster, dalam pembacaan Heti, berada di antara tubuh domestik dan tubuh seniman, antara pekerjaan yang harus diselesaikan dan hasrat yang tidak ingin ditinggalkan. Mikke membawa perhatian kepada riuh kehidupan domestik yang bukan sekadar latar, melainkan bagian dari pengalaman yang mengendap di dalam proses penciptaan.

Namun saya ingin berjalan sedikit lebih jauh dari pertanyaan tentang bagaimana waktu itu ditemukan. Bukan hanya bagaimana Lully mencuri waktu, tetapi apa yang terjadi pada waktu yang berhasil dicurinya setelah waktu itu masuk ke dalam lukisan. Pertanyaan itu mengubah cara saya memandang karya-karyanya. Lima belas menit yang semula hanya jeda dari pekerjaan rumah dapat berubah menjadi garis, warna, bentuk, dan gestur. Tiga puluh menit yang seharusnya lenyap bersama riuh rumah tiba-tiba memperoleh umur yang jauh lebih panjang ketika masuk ke dalam kanvas. Waktu menemukan tubuh keduanya. Ia tidak lagi tinggal sebagai angka pada jam. Ia menjadi warna, garis, bentuk, pengalaman, dan akhirnya menjadi karya.
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas
Mungkin sebuah lukisan memang tidak pernah benar-benar dimulai dari kanvas. Ia bermula jauh sebelumnya, dari kehidupan yang dijalani, tubuh yang bekerja, rumah yang dirawat, sesuatu yang dilihat, kegelisahan yang datang diam-diam, tawa, kehilangan, keinginan untuk menemukan, juga dunia yang berubah lebih cepat daripada kemampuan kita memahaminya. Semua itu melewati tubuh seorang seniman sebelum menemukan bentuk. Tidak seluruh kehidupan masuk ke dalam lukisan. Hanya sarinya.
Yang bising menjadi warna. Yang berlalu menjadi jejak. Yang tak sempat dikatakan menemukan bentuknya sendiri. Ingatan menjadi simbol. Alam menjadi lanskap batin. Buku menjadi perjalanan. Laut menjadi kemungkinan. Tubuh menjadi semesta. Waktu menjadi warna.
Di situlah saya melihat sesuatu yang lebih jauh dari sekadar mencuri waktu. Waktu yang disisihkan ternyata tidak hilang dari kehidupan. Ia kembali kepada kehidupan dalam bentuk yang berbeda. Maka yang penting bukan semata-mata berapa banyak waktu yang berhasil diambil dari kesibukan, melainkan apa yang terjadi pada waktu itu setelah melewati tangan seorang seniman. Ia tidak kembali sebagai waktu. Ia kembali sebagai karya. Dan mungkin di sanalah sari pati kehidupan tinggal, bukan pada berapa lama sesuatu berlangsung, melainkan pada apa yang masih tinggal setelah ia berlalu.
Setelah Waktu Menjadi Warna
Saya datang ketika riuh telah selesai. Tetapi mungkin sebuah karya memang tidak membutuhkan keramaian untuk berbicara. Ia cukup tinggal, menunggu seseorang datang dan menemukan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia cari. Setelah ruang museum kembali sunyi, waktu tidak berhenti di sana. Ia berpindah dari satu mata ke mata lain, dari satu ingatan ke ingatan lain. Kehidupan yang pernah melewati tangan Lully menemukan kehidupan keduanya di hadapan orang-orang yang melihatnya.
Saya pulang dengan kesadaran bahwa waktu mungkin memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti tubuh: dari pagi yang sibuk ke meja makan, dari rumah ke tangan, dari tangan ke warna, dari warna ke kanvas, lalu dari kanvas ke ingatan seseorang.

Maka yang paling berharga dari waktu mungkin bukan berapa lama kita memilikinya, melainkan apa yang berhasil kita tinggalkan darinya. Lully meninggalkan warna. Dan warna itu tinggal lebih lama daripada waktunya. [T]
Jakarta, 22 September 2026





























