6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 6, 2026
in Esai
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa teman. Percakapan waktu itu tidak sedang membahas pembangunan, politik, atau sastra, melainkan soal orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan spiritual.

Bang D.S. Putra menunjuk seorang kawan yang dikenal gemar menekuni dunia niskala. Ia pernah membantu mengobati orang, lalu memilih menetap di Ungasan, Badung. Sambil tersenyum, Bang D.S. Putra berkata, “Nah, lihat. Orang Jembrana memang lebih sakti kalau sudah di luar Jembrana.”

Semua yang mendengar tertawa. Saya pun menganggapnya sekadar gurauan. Bertahun-tahun kemudian, saya justru merasa kalimat itu menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan saat itu.

Kesaktian yang dimaksud Bang D.S. Putra, saya kira, bukan semata-mata kemampuan gaib. Ia sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih membumi, yakni pengakuan, ruang bertumbuh, dan keberanian menemukan diri sendiri di luar kampung halaman.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Negara, saya sering mendengar cerita serupa. Banyak orang berkata, jika ingin berkembang, keluarlah dari Jembrana. Carilah pengalaman di Denpasar, Badung, Surabaya, Jakarta, bahkan luar negeri. Bukan karena Jembrana tidak baik, melainkan karena dunia di luar memberi ruang yang lebih luas untuk menguji kemampuan.

Semakin lama saya hidup di Denpasar, semakin sering saya menemukan pembenaran atas ungkapan itu. Saya bertemu orang-orang Jembrana yang menjadi birokrat, dosen, seniman, wartawan, dokter, pengusaha, hingga pekerja migran di Jepang. Sebagian besar mencapai titik penting dalam hidupnya justru setelah meninggalkan tanah kelahiran.

Mereka tetap membawa logat, kebiasaan, dan cara berpikir orang Jembrana. Namun, potensi mereka berkembang ketika bertemu lingkungan yang berbeda. Fenomena itu membuat saya bertanya; mengapa? Apakah benar orang Jembrana baru dihargai setelah berada di luar Jembrana? Ataukah sebenarnya yang berubah bukan masyarakat di luar sana, melainkan cara seseorang memandang dirinya sendiri setelah menjadi perantau?

Ada satu istilah yang hampir selalu muncul ketika orang membicarakan karakter masyarakat Jembrana, yakni degag. Kata ini sulit diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa Indonesia. Ia tidak identik dengan sombong, keras kepala, atau arogan, meskipun kadang memiliki irisan makna dengan semuanya.

Bagi saya, degag lebih dekat dengan sikap tidak mudah mengakui kehebatan seseorang sebelum benar-benar terbukti. Orang Jembrana cenderung suka menguji. Ketika melihat seseorang mulai menonjol, respons pertama yang muncul sering kali bukan pujian, melainkan tantangan.

“Memangnya sehebat apa?” “Benarkah dia bisa?” “Jangan cepat puas.” Kalimat-kalimat seperti itu bukan selalu lahir dari rasa iri. Dalam banyak kasus, ia justru menjadi mekanisme sosial yang membuat seseorang tidak cepat merasa besar. Di Jembrana, menjadi hebat bukan perkara mudah. Selalu ada orang lain yang dianggap lebih pintar, lebih berpengalaman, atau lebih “sakti”. Karena itu, pengakuan tidak datang begitu saja.

Budaya semacam ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia membuat orang tidak mudah berpuas diri. Setiap keberhasilan harus dibuktikan berkali-kali. Namun di sisi lain, budaya itu juga dapat membuat seseorang merasa tidak pernah cukup. Apresiasi sering datang terlambat. Dukungan baru muncul setelah keberhasilan diakui oleh orang luar.

Ironisnya, seseorang kadang baru dianggap berhasil di kampungnya sendiri setelah terlebih dahulu dihormati di tempat lain. Dalam antropologi, pengakuan sosial merupakan bagian penting dari pembentukan identitas. Identitas seseorang tidak hanya dibangun oleh siapa dirinya, tetapi juga oleh bagaimana masyarakat memandang dirinya.

Ketika lingkungan terus-menerus menguji seseorang, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tahan banting. Akan tetapi, bila ruang untuk berkembang terlalu sempit, sebagian orang memilih mencari arena lain. Merantau menjadi salah satu jawabannya. Di tempat baru, seseorang tidak lagi dikenal sebagai anak siapa, berasal dari banjar mana, atau keturunan keluarga tertentu. Semua penanda lama perlahan menghilang.

Yang berbicara adalah kemampuan, yang dinilai adalah hasil kerja, dan yang dihargai adalah integritas. Barangkali di situlah letak “kesaktian” yang dimaksud Bang D.S. Putra. Kesaktian bukan kemampuan menaklukkan orang lain, melainkan kemampuan bertahan ketika semua penanda lama tidak lagi memiliki arti.

Saya sendiri mengalami perjalanan itu. Selepas SMA, saya meninggalkan Negara untuk kuliah di Denpasar. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Saya pernah jatuh, didiagnosis skizofrenia, pulang ke Jembrana untuk menjalani masa pemulihan, lalu kembali lagi ke Denpasar beberapa tahun kemudian.

Ketika kembali ke kota ini pada akhir 2014, saya datang tanpa banyak harapan. Saya hanya ingin memulai hidup lagi. Menjadi wartawan adalah salah satu jalan yang kemudian saya pilih. Saya menulis tentang kebudayaan, masyarakat, lingkungan, seni, hingga kisah-kisah kecil yang sering luput dari perhatian media arus utama.

Sedikit demi sedikit saya menemukan ruang yang selama ini saya cari. Saya menerbitkan buku, bertemu banyak seniman dan budayawan, berdiskusi dengan akademisi, menjadi pembicara dalam pelatihan menulis, dan mengenal Bali dari sudut yang jauh lebih luas daripada ketika saya tinggal di kampung halaman.

Semua itu membuat saya kembali mengingat ucapan Bang D.S. Putra. Mungkin benar, ada sesuatu yang terjadi ketika orang Jembrana meninggalkan Jembrana. Bukan karena tanah kelahirannya kehilangan tuah, melainkan karena jarak memberi kesempatan bagi seseorang untuk menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi di dalam dirinya.

Tentu saja, tidak adil jika mengatakan bahwa setiap orang Jembrana harus meninggalkan kampung halamannya agar dapat berkembang. Banyak orang memilih tetap tinggal di Jembrana dan mengabdikan hidupnya di sana sebagai guru, petani, nelayan, tenaga kesehatan, seniman, aparatur sipil negara, maupun pelaku usaha. Mereka adalah orang-orang yang menjaga denyut kehidupan daerah itu setiap hari.

Namun, jika berbicara tentang karakter masyarakatnya, saya merasa ada jejak sejarah yang patut dibaca lebih jauh. Salah satu cerita yang paling sering saya dengar sejak kecil adalah kisah tentang Jimbarwana, nama lama yang diyakini menjadi asal-usul Jembrana. Dalam berbagai tradisi lisan, wilayah Bali bagian barat digambarkan sebagai hutan lebat yang kemudian dibuka menjadi permukiman baru. Ada pula cerita bahwa kawasan ini menjadi tempat datangnya orang-orang yang tersisih dari pusat-pusat kekuasaan di Bali Selatan, entah karena konflik politik, kekalahan perang, ataupun alasan-alasan lain.

Sebagai tradisi lisan, kisah-kisah itu tentu tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara historis. Akan tetapi, dalam antropologi, sebuah cerita tidak harus seluruhnya faktual untuk memiliki makna. Tradisi lisan sering kali menjadi cara sebuah masyarakat menjelaskan asal-usul dirinya, membangun identitas bersama, dan memberi makna terhadap pengalaman kolektif yang diwariskan lintas generasi.

Barangkali karena itulah masyarakat Jembrana tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka lahir dari perjuangan. Saya sering membayangkan bagaimana rasanya hidup di tengah hutan yang masih liar. Tidak ada jalan raya, listrik, atau pasar seperti sekarang. Yang ada hanyalah pepohonan besar, binatang buas, sungai-sungai yang deras, dan alam yang belum sepenuhnya bersahabat.

Membuka hutan menjadi sawah, membangun rumah, menciptakan sistem pengairan, lalu membentuk komunitas yang bertahan hingga ratusan tahun tentu bukan pekerjaan sederhana. Jika hari ini orang Bali menyebut leluhur tertentu sebagai “sakti”, mungkin salah satu bentuk kesaktian terbesar justru adalah kemampuan menaklukkan alam tanpa kehilangan rasa hormat kepadanya.

Kesaktian semacam itu tidak diwariskan dalam bentuk mantra. Ia diwariskan sebagai keberanian. Saya kemudian memahami bahwa Jembrana sejak lama merupakan wilayah perjumpaan Posisinya di ujung barat Bali membuat daerah ini menjadi pintu masuk bagi banyak orang. Dari Pelabuhan Gilimanuk, orang datang dari Jawa membawa bahasa, agama, makanan, hingga cara hidup yang berbeda. Sebaliknya, orang Bali juga berangkat meninggalkan pulau melalui pelabuhan yang sama untuk mencari kehidupan di tempat lain.

Pertemuan itu berlangsung berabad-abad. Karena itu, Jembrana tumbuh menjadi salah satu wilayah paling majemuk di Bali. Di banyak tempat di Bali, seseorang mungkin tumbuh dalam lingkungan yang didominasi satu komunitas adat. Di Jembrana, sejak kecil kami terbiasa hidup berdampingan dengan tetangga yang berbeda agama dan suku. Adzan dari masjid dan kidung dari pura bukanlah dua suara yang saling meniadakan, melainkan bagian dari lanskap keseharian.

Warung makan menjual tipat cantok berdampingan dengan pecel Jawa. Di pasar, orang bercakap dalam bahasa Bali, Jawa, Madura, atau Indonesia tanpa merasa sedang melewati batas identitas. Keberagaman bukan slogan. Ia adalah pengalaman hidup. Mungkin karena itu pula, banyak pendatang merasa nyaman menetap di Jembrana.

Mereka tidak merasa menjadi orang asing terlalu lama. Sebaliknya, masyarakat Jembrana pun relatif cepat menerima kehadiran orang baru selama mereka datang dengan niat baik dan mau hidup berdampingan. Bagi saya, keterbukaan seperti ini merupakan modal sosial yang sangat penting. Ia membuat orang Jembrana lebih mudah beradaptasi ketika harus merantau.

Pegiat sastra dan budaya Nanoq da Kansas pernah menyampaikan sebuah pandangan yang menarik ketika membicarakan sejarah Jembrana. Menurutnya, dalam ingatan kolektif masyarakat berkembang keyakinan bahwa mereka yang dianggap terlalu kritis, terlalu cerdas, terlalu tampan, atau terlalu menonjol pada masa lampau kerap menjadi batu sandungan bagi pusat-pusat kekuasaan. Sebagian di antaranya kemudian dikisahkan tersingkir ke wilayah Bali bagian barat.

Terlepas dari dapat atau tidaknya cerita itu dibuktikan secara historis, gagasan tersebut menarik sebagai cara masyarakat membaca dirinya sendiri. Seolah-olah sejak awal, Jembrana memang dihuni oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya cocok dengan tatanan lama. Mereka datang dengan membawa luka. Namun, dari luka itulah tumbuh keberanian untuk membangun kehidupan baru.

Saya tidak tahu apakah kisah itu benar secara harfiah. Tetapi saya memahami mengapa cerita semacam itu terus hidup. Setiap masyarakat membutuhkan narasi tentang asal-usulnya. Narasi itulah yang kemudian membentuk cara mereka memandang dunia. Orang Jembrana mungkin tidak mewarisi kisah tentang kerajaan yang megah atau pusat kekuasaan yang gemerlap. Sebaliknya, mereka mewarisi cerita tentang kerja keras, tentang membuka hutan, tentang hidup di wilayah perbatasan, dan tentang kemampuan bertahan dalam keadaan yang tidak selalu mudah.

Dari situlah lahir watak yang saya kenali sejak kecil. Tidak mudah menyerah, tidak mudah silau, dan tidak mudah percaya begitu saja sebelum melihat bukti. Mungkin itulah yang oleh orang Jembrana disebut degag. Bukan sekadar keras kepala, melainkan kehati-hatian yang lahir dari sejarah panjang untuk bertahan hidup.

Barangkali, tanpa disadari, watak itulah yang kemudian ikut menemani mereka ketika melangkah meninggalkan kampung halaman. Saya tidak pernah benar-benar berniat meninggalkan Jembrana. Seperti banyak anak muda lainnya, saya berangkat ke Denpasar untuk kuliah dengan keyakinan sederhana bahwa setelah selesai, saya akan pulang. Kampung halaman selalu saya bayangkan sebagai tujuan akhir. Kota hanya persinggahan.

Hidup ternyata memiliki rencana lain. Saya mengalami masa yang barangkali menjadi titik terendah dalam hidup ketika didiagnosis skizofrenia pada 2009. Dunia yang sebelumnya terasa begitu terbuka mendadak mengecil. Saya pulang ke Negara. Bertahun-tahun saya menjalani pemulihan, belajar menerima keadaan, dan mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Pada masa itu, saya sering merasa gagal. Saya melihat teman-teman kuliah mulai bekerja, membangun keluarga, dan meniti karier. Sementara saya harus belajar melakukan hal-hal yang bagi orang lain mungkin tampak sederhana, yakni, mengelola pikiran, meminum obat secara teratur, dan meyakinkan diri bahwa hidup masih layak dijalani.

Kini, ketika mengingat masa-masa itu, saya sadar bahwa Jembrana telah memberikan sesuatu yang tidak saya temukan di tempat lain. Ia memberi saya waktu. Di tengah ritme hidup yang lebih pelan, saya belajar menerima bahwa kesembuhan bukan perlombaan. Saya mulai membaca dan menulis lagi. Berjalan menyusuri sawah dan pantai, mendengarkan suara angin yang berembus dari Selat Bali. Semua itu perlahan mengembalikan saya kepada diri sendiri.

Mungkin, sebelum seseorang menjadi “sakti” di luar Jembrana, ia terlebih dahulu harus belajar menjadi manusia di Jembrana. Pada akhir 2014 saya kembali ke Denpasar. Saya datang tanpa gelar sarjana, tanpa pekerjaan tetap, dan tanpa jaminan bahwa hidup akan berjalan lebih baik. Saya hanya membawa satu keyakinan; saya ingin menulis. Keputusan itu tampak sederhana. Namun, justru dari situlah hidup saya berubah.

Saya menjadi wartawan. Saya bertemu seniman, budayawan, akademisi, aktivis lingkungan, dan banyak orang yang mengajarkan cara baru memandang Bali. Saya mulai menulis feature, esai, ulasan seni, dan laporan-laporan yang tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga berusaha memahami manusia di balik setiap peristiwa.

Pelan-pelan, tulisan saya menemukan pembacanya. Buku-buku mulai terbit, undangan berdiskusi datang. Saya dipercaya menjadi narasumber, moderator, hingga juri lomba menulis. Semua itu tidak datang sekaligus. Ia bertumbuh sedikit demi sedikit, seperti pohon yang akarnya lebih dahulu bekerja dalam diam sebelum akhirnya memperlihatkan batang dan daunnya.

Di setiap kesempatan itu, saya selalu memperkenalkan diri sebagai orang Jembrana. Bukan karena saya ingin membawa identitas daerah ke mana-mana, melainkan karena saya menyadari bahwa cara saya memandang dunia dibentuk oleh tanah tempat saya dilahirkan.

Saya belajar menghargai keberagaman karena tumbuh di Jembrana. Saya belajar tidak mudah menyerah karena melihat bagaimana masyarakat di sana bertahan hidup. Saya belajar bekerja tanpa banyak bicara karena itulah etos yang saya temui sejak kecil.

Mungkin seluruh pengalaman itu ikut mengalir ke dalam setiap tulisan yang saya hasilkan. Sesekali saya pulang ke Negara. Setiap kali melewati Pantai Yeh Leh, perbatasan Tabanan dan Jembrana di arah timur, dan melihat tulisan “Selamat Datang di Kabupaten Jembrana”, ada perasaan yang sulit dijelaskan.

Saya tidak sedang pulang sebagai orang yang berbeda, saya hanya pulang sebagai seseorang yang telah berjalan cukup jauh untuk memahami rumahnya sendiri. Saya menikmati kopi di warung kecil, menyapa teman-teman lama, mendengar kembali logat Jembrana yang khas. Lalu menyadari bahwa waktu memang mengubah banyak hal, tetapi kampung halaman selalu memiliki caranya sendiri untuk menerima seseorang tanpa banyak bertanya. Mungkin inilah sebabnya mengapa banyak perantau selalu menyimpan kerinduan kepada tanah kelahirannya. Bukan karena di sana hidup lebih mudah, melainkan karena di sanalah seseorang pertama kali belajar menjadi manusia.

Kini, setiap kali mengingat ucapan Bang D.S. Putra, saya tidak lagi mendengarnya sebagai sebuah gurauan. Saya mendengarnya sebagai cara seorang budayawan membaca watak masyarakatnya.

Orang Jembrana memang tampak lebih “sakti” ketika berada di luar Jembrana. Namun, kesaktian itu bukan muncul setelah mereka merantau. Kesaktian itu sudah lama ada. Ia dibentuk oleh sejarah sebuah daerah perbatasan yang akrab dengan keberagaman. Ia ditempa oleh kerja keras para leluhur yang membuka hutan menjadi kampung. Ia dipelihara oleh keluarga-keluarga sederhana yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mudah menyerah.

Perantauan hanyalah panggung. Di sanalah kesaktian itu menjadi terlihat. Saya kemudian teringat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa pohon setinggi apa pun tidak pernah memutus hubungannya dengan akar.

Barangkali demikian pula orang Jembrana. Mereka boleh bekerja di Denpasar, Badung, Jakarta, Surabaya, Makassar, Tokyo, atau di belahan dunia mana pun. Mereka boleh berganti profesi, berganti bahasa, bahkan berganti kewarganegaraan. Namun, ada satu hal yang tetap mereka bawa, yakni, ingatan.

Ingatan tentang kampung kecil di ujung barat Bali yang mengajarkan mereka arti kerja keras, tentang masyarakat yang keras dalam menguji, tetapi tulus ketika akhirnya menerima. Juga, ingatan tentang rumah yang mungkin tidak selalu menjadi tempat terbaik untuk berkembang, tetapi selalu menjadi tempat terbaik untuk pulang.

Barangkali itulah yang sesungguhnya ingin dikatakan Bang D.S. Putra pada sore itu. Bahwa orang Jembrana tidak menjadi lebih sakti karena meninggalkan Jembrana. Mereka menjadi tampak lebih sakti karena dunia yang lebih luas akhirnya melihat apa yang sejak lama tumbuh, diam-diam, di tanah yang mereka sebut kampung halaman.

Dan saya percaya, sejauh apa pun langkah seorang perantau, pada akhirnya ia tidak sedang mencari tempat untuk menjadi orang lain. Ia hanya sedang mencari jalan agar dapat kembali mengenal dirinya sendiri. Mungkin, itulah kesaktian yang paling manusiawi. [T]

Tags: jembrana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

Next Post

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co