7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, saya datang ke SPBU, ngantri, lalu menunggu beberapa menit. Sambil tengok kanan-kiri kurang kerjaan, perhatian saya tertuju pada sebuah truk tangki sedang membongkar muatan BBM.

Beberapa petugas berdiri mengelilingi lubang tangki pendam. Salah seorang memasukkan batang ukur, yang lain memegang lembar pencatatan. Mereka sesekali bercanda dengan bahasa daerah, sebentar-sebentar tawa kecil terdengar, tidak ada wajah tegang.

Tetapi begitu angka mulai disebut, suasana berubah. “Seratus tiga puluh lima koma lima…” Yang lain langsung mengulang. “Seratus tiga puluh lima koma lima.” Lalu seseorang mencatat. Tidak ada yang terburu-buru tapi juga tidak ada yang main-main. Saya sambil mengantri cukup lama memperhatikan mereka. Entah mengapa, justru dari pekerjaan yang dianggap sederhana itu saya melihat sesuatu yang semakin jarang kita bicarakan, yaitu integritas.

Mereka Tidak Sedang Menjaga BBM

Kalau dipikir-pikir, mereka memang sedang menjaga bensin. Tetapi sebenarnya bukan itu yang mereka jaga. Dalam pandangan saya, yang sedang mereka jaga adalah kepercayaan.  Beberapa liter BBM yang hilang mungkin hanya menjadi angka dalam laporan. Namun bagi mereka, angka itu bisa berarti teguran, kehilangan pekerjaan, bahkan hilangnya sumber nafkah keluarga.

Saya yakin gaji mereka tidak besar, maklumlah, memang jabatan mereka tidak prestisius. Namun mereka memahami satu hal yang sederhana,  yang intinya kalau mereka tidak bertanggung jawab, keluarga mereka bakal cilaka.

Kesadaran seperti ini melahirkan disiplin yang tidak dibuat-buat. Bukan karena mereka diawasi kamera. Bukan karena ingin viral atau dipuji-puji. Tetapi karena mereka paham betul, bahwa meski gaji tidak besar, pekerjaan mereka adalah amanah yang akan dapat diandalkan untuk merawat kehidupan anak dan istri.

Tiga Hal yang Menentukan Integritas

Percakapan saya dengan seorang kolega setelah itu, membawa saya pada sebuah rumusan sederhana, maklumlah karena otak saya juga sederhana. Bahwa integritas ternyata tidak hanya dibangun oleh moral, namun berdiri di atas tiga kaki. Moral, Sistem, dan Konsekuensi.

Moral membuat seseorang tahu mana yang benar,  sistem membuat penyimpangan sulit dilakukan, dan konsekuensi membuat orang berpikir ulang sebelum melanggar.  Kalau salah satu hilang, bangunan integritas mulai goyah, bahkan ambruk.

Mengapa orang baik pun bisa berbuat buruk? Tentu saja ini bukan pertanyaan baru.  Filsuf Hannah Arendt pernah memperkenalkan gagasan tentang the banality of evil, kejahatan yang menjadi biasa. Menurutnya, banyak tindakan buruk bukan dilakukan oleh monster, melainkan oleh orang-orang biasa yang berhenti berpikir secara moral dan menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang lumrah. 

Lah sekarang, korupsi pun sering bergerak ke arah itu. Bukan lagi dianggap penyimpangan, melainkan sudah jadi budaya.  Tengok saja kalimat-kalimat seperti, “Semua juga begitu,” atau “Kalau tidak ikut, malah rugi,”  malah kita sendiri kadang bilang, “Sudahlah, memang sistemnya begitu.” Semua itu  adalah contoh bagaimana kejahatan perlahan kehilangan rasa bersalahnya.  Padahal yang berubah bukan moralitasnya; yang berubah adalah standar sosialnya.

Lord Acton Sudah Mengingatkan Sejak Lama

Sejarawan Inggris John Emerich Edward Dalberg-Acton pernah menulis kalimat yang mungkin menjadi salah satu kutipan politik paling terkenal sepanjang masa.  “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”  Kekuasaan cenderung korup, lebih jauh lagi, kekuasaan yang mutlak cenderung korup secara mutlak.  Sayangnya kutipan itu sering dipahami secara keliru.

Bukan berarti setiap orang yang berkuasa pasti korup. Melainkan semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula godaan untuk menyalahgunakannya apabila tidak disertai pengawasan dan akuntabilitas.  Di sinilah sistem menjadi penting.  Bukan karena kita tidak percaya pada moral manusia.  Melainkan karena kita, saya dan anda, paham betul bahwa manusia adalah makhluk yang bisa, dan tidak hanya bisa,  malah gampang tergoda.

Ironi yang Sulit Dijelaskan

Dalam berbagai kesempatan, termasuk kuliah umum yang baru-baru ini disampaikan oleh Mahfud MD di UIN Palopo, muncul gagasan agar Indonesia mempertimbangkan hukuman yang jauh lebih berat bagi koruptor.  Gagasan ini tentu mengundang perdebatan.  Sebagian melihat korupsi sebagai kejahatan luar biasa, pastinya juga layak dijatuhi hukuman luar biasa.  Sebagian lain menekankan pentingnya menjaga prinsip hak asasi manusia dan memastikan efektivitas kebijakan pidana.

Apa pun posisi kita dalam perdebatan tersebut bebas dan sah, namun tetap saja ada satu pelajaran yang relatif disepakati banyak ahli kriminologi, yaitu kepastian penegakan hukum sering kali lebih berpengaruh daripada sekadar ancaman hukuman yang berat.  Jika seseorang merasa peluang tertangkap sangat kecil, sementara keuntungan yang diperoleh sangat besar, ancaman hukuman setinggi apa pun bisa kehilangan daya cegahnya. 

Sebaliknya, ketika sistem pengawasan kuat, pelanggaran cepat terdeteksi, dan sanksi diterapkan secara konsisten, ruang untuk penyimpangan menjadi jauh lebih sempit. Ya, mohon maaf jika pembicaraan ini jadi klasik dan membosankan, karena belum diterapkan. Wajar saja sineas Joko Anwar mengumpat keras lewat filmya, Ghost in The Cell.

Di sinilah saya kembali mengingat petugas SPBU tadi.  Ia mungkin bertanggung jawab atas beberapa ribu liter BBM.  Nilainya mungkin ratusan juta rupiah.  Setiap angka diperiksa.  Setiap selisih dicatat.  Setiap prosedur dijalankan.  Lalu di sisi lain, saya membayangkan orang-orang yang diberi amanah mengelola anggaran publik bernilai miliaran, bahkan triliunan rupiah.

Secara logika moral, semakin besar amanah, semakin besar pula tanggung jawabnya.  Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa besarnya amanah tidak otomatis diikuti oleh besarnya integritas.  Ironi inilah yang berkali-kali menjadi kritik dalam karya sastra, film, maupun diskursus publik. 

Kita sering menyaksikan pelanggaran kecil dihukum cepat, sementara pelanggaran yang jauh lebih besar memerlukan proses panjang, bahkan kadang berakhir dengan hukuman yang oleh sebagian masyarakat dirasa belum sebanding dengan dampak yang ditimbulkan.

Integritas Tidak Mengenal Pangkat

Sang filsuf Aristoteles mengatakan bahwa kebajikan bukanlah sesuatu yang muncul sesekali, melainkan kebiasaan yang dibentuk melalui tindakan yang berulang.  “We are what we repeatedly do.”  Integritas juga demikian. Integritas tidak lahir ketika seseorang menduduki jabatan tinggi. Ia dibangun sejak seseorang mampu bertanggung jawab atas pekerjaan yang paling sederhana. 

Petugas SPBU itu mungkin tidak pernah membaca teori etika. Ia mungkin tidak mengenal filsafat politik.  Namun setiap hari ia sedang mempraktikkan sesuatu yang oleh banyak universitas diajarkan bersemester-semester lamanya, yaitu menjaga amanah.

Indonesia mungkin tidak kekurangan orang berpendidikan. Tidak kekurangan profesor, apalagi kekurangan doktor.  Tidak juga kekurangan pejabat yang fasih berbicara tentang tata kelola.  Uniknya yang kadang terasa langka justru adalah kesediaan untuk menganggap amanah sebagai sesuatu yang sakral. Yang ada adalah menganggap amanah sebagai sesuatu peta jalan kemakmuran pribadi.  Padahal bangsa ini mungkin tidak pertama-tama membutuhkan manusia yang paling cerdas. Bangsa ini membutuhkan manusia yang amanah, itu saja.

Dan titipan, sekecil apa pun, tidak boleh dikurangi.  Jadi, saya pulang dari SPBU hari itu bukan hanya membawa tangki motor istri saya yang tidak lagi penuh seperti biasanya, karena harga BBM baru saja naik. Namun, saya juga membawa sebuah pelajaran yang diajarkan oleh para petugas pompa bensin.  Bahwa integritas ternyata tidak selalu tinggal di gedung-gedung megah.  Kadang ia sedang berdiri di bawah terik matahari, mengenakan seragam sederhana, memegang batang ukur, menyebut angka dengan hati-hati, lalu pulang dengan gaji yang mungkin tidak pernah masuk berita.

Namun justru dari merekalah kita diingatkan bahwa harga sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekayaannya, melainkan oleh seberapa sungguh-sungguh warganya menjaga amanah. Kalau tidak, niscaya kita bakal jadi tikus mati di lumbung padi. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: integritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Next Post

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co