“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu.
Kalimat ringan tersebut langsung mencairkan atmosfer di Bamboo Stage, Living World Denpasar, Rabu, 22 April 2026. Di balik candaan itu, terselip gambaran tentang fase hidup sekaligus arah berkarya yang sedang ia jalani. Tika tampak santai, namun jelas membawa sesuatu yang serius: tiga lagu yang menandai babak terbarunya di industri musik Bali.
Tiga lagu yang diluncurkan sekaligus, “Jaga Hati”, “Ngobral Janji”, dan “Bli Made” menjadi bukti bahwa Tika memilih jalur yang lebih dinamis. Ia secara tidak langsung menegaskan bahwa merilis single demi single memberinya ruang untuk terus aktif dan dekat dengan pendengar.
“Kalau nunggu album, rasanya lama. Saya orangnya nggak sabaran, selalu ingin cepat-cepat berbagi lagu ke pendengar,” kata Tika, menjelaskan alasannya memilih merilis single secara bertahap.

Meski dibalut gaya santai, materi lagu yang ia bawa cukup reflektif. “Jaga Hati”, misalnya, berbicara tentang hubungan jarak jauh (LDR) yang penuh tantangan. Tika menggambarkan bagaimana komitmen diuji ketika dua orang dipisahkan oleh ruang dan waktu.
Sementara itu, “Ngobral Janji” hadir dengan nada yang lebih tegas. Lagu ini menjadi semacam pengingat bagi perempuan agar tidak mudah terbuai oleh janji-janji manis tanpa bukti. Seperti tersirat dari penjelasannya, Tika kini lebih berhati-hati dalam melihat suatu relasi, dan itu tercermin dalam karyanya.
Ia tidak secara eksplisit menyebut pengalaman pribadi sebagai sumber utama, tetapi dari caranya bertutur, terasa bahwa lagu-lagu ini lahir dari kedekatan dengan realitas sehari-hari.
Di titik inilah, perjalanan Tika sebagai musisi menjadi relevan untuk ditarik ke belakang. Perempuan bernama lengkap Ni Wayan Ika Mulaning Pagraky ini lahir pada 15 Mei 1996 di Pidpid, Karangasem, Bali. Ia dikenal sebagai salah satu penyanyi Bali yang berhasil menembus kancah nasional. Lonjakan kariernya terjadi saat bergabung dengan Republik Cinta Manajemen (RCM) milik Ahmad Dhani, yang kemudian membawanya menjadi bagian dari grup Dewi-Dewi pada 2016. Meski kini sukses sebagai solois, Tika tetap menjaga akarnya dengan terus menyanyikan lagu pop Bali sebagai bentuk kecintaannya pada tanah kelahirannya.
Kemudian, lagu yang banyak mendapat sorotan jatuh pada “Bli Made”. Lagu ini mempertemukannya kembali dengan Wira Krisna, sosok yang tidak hanya rekan duet, tetapi juga bagian dari masa lalunya.

Tika mengungkapkan bahwa ide lagu ini muncul dari hal yang sangat sederhana, yakni kebiasaan curhat. Ia mengakui bahwa komunikasi dengan Wira masih terjalin hingga kini, meski dalam konteks yang berbeda.
“Masih sering curhat sih. Dari situ juga jadi ide lagu ini,” kata Tika, tersenyum.
Ia menjelaskan bahwa lagu tersebut menceritakan tentang seseorang yang awalnya hanya menjadi tempat berbagi cerita, lalu perlahan berkembang menjadi hubungan yang lebih dalam. Tema yang dekat dengan banyak orang, dan mungkin juga, secara halus, mencerminkan dinamika yang pernah mereka jalani.
Wira menimpali dengan nada santai, menegaskan dukungannya terhadap Tika.
“Saya selalu support Tika,” ujarnya singkat.
Ia juga menambahkan, “Lagu ‘Bli Made’ ini sendiri menceritakan tentang seseorang wanita yang curhat kepada teman lawan jenis dan akhirnya jadian. Begitupun proses lagu ini, juga berawal dari curhat, kemudian jadi lagu.”
Kehadiran mereka dalam satu panggung tentu memancing spekulasi. Pertanyaan tentang kemungkinan kembali menjalin hubungan asmara (CLBK) mengemuka, namun keduanya memilih merespons dengan bijak.
“Fokus utama kami sekarang anak dulu, tumbuh kembangnya,” ujar Tika. Ia menegaskan bahwa membangun kembali hubungan bukan prioritas saat ini.
Pernyataan itu disampaikan dengan tenang, tanpa dramatisasi. Di situlah terasa kedewasaan yang kini mereka bangun. Bahwa hubungan tidak harus kembali untuk tetap memiliki arti.
Kolaborasi mereka dalam lagu “Bli Made” pun menjadi simbol dari fase tersebut. Sebuah bukti bahwa relasi yang telah berubah tidak harus berakhir dengan jarak, melainkan bisa menemukan bentuk baru yang lebih sehat dan produktif.

Di sisi lain, keputusan Tika untuk belum merilis album penuh juga menarik. Ia mengaku sebenarnya sudah memiliki cukup materi, bahkan sempat terpikir membuat mini album yang berisi empat hingga lima lagu. Namun, keinginannya untuk segera berbagi karya membuatnya memilih jalur rilis single demi single.
Secara tidak langsung, Tika juga memahami ritme industri musik saat ini. Dengan merilis lagu satu per satu, ia bisa menjaga eksistensi dan intensitas interaksi dengan publik.
Menjelang akhir sesi konferensi pers, Tika turut menyampaikan harapan bahwa lagu-lagunya dapat diterima luas oleh masyarakat.
Sore itu pun perlahan beranjak menuju malam. Setelah konferensi pers, panggung Amphitheater Living World Denpasar telah bersiap untuk konser yang akan dimulai pukul 19.00 Wita.
Namun, sebelum lagu-lagu baru itu benar-benar dimainkan, Tika sudah lebih dulu menyampaikan sesuatu yang lebih dalam. Tentang perjalanan, pilihan, dan keberanian untuk tetap berkarya di tengah dinamika kehidupan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























