26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lilik Suryani: Senpai Shorinji Kempo Buleleng yang Humanis

Jaswanto by Jaswanto
September 10, 2023
in Persona
Lilik Suryani: Senpai Shorinji Kempo Buleleng yang Humanis

Lilik Suyani

MALAM ITU di Mailaku—salah satu tempat nongkrong elit di Singaraja—sedang ramai-ramainya. Meja dan kursi yang tersedia nyaris penuh. Yang tua dan yang muda berbaur bersama canda, obrolan, dan bau masakan. Desain interiornya yang antik dengan lampu yang agak remang memberi kesan romantik dan nostalgi tersendiri. Semacam memasuki lorong waktu dan terlempar ke masa yang lampau.

Rombongan pegawai sebuah toko kosmetik mendaulat meja dan kursi di dekat pintu masuk. “Sedang merayakan ulang tahun salah seorang dari mereka,” kata pelayan kepada rekan kerjanya. Sementara itu, di sebelahnya, sepasang kekasih asyik menikmati hidangan yang dipesan. Mereka bergeming di tengah keramaian.

Seorang pelayan laki-laki dengan makanan dan minuman di kedua tangannya, wira-wiri seperti mandor kebun karet. Rambutnya tipis dan agak surut ke belakang. Sementara itu, rekan kerjanya, seorang perempuan mungil, sibuk menyambut dan mendatangi pengunjung yang seperti tak ada habisnya. “Selamat datang, Kak. Mau pesan apa, Kak?” katanya sambil menyodorkan buku menu yang membuat pengunjung saling bertanya juga, “Kamu mau pesen apa?”

Di tengah keriuhan pelayan dan pengunjung itulah, seorang senpai Shorinji Kempo Buleleng, bersama keluarga kecilnya, sedang bercerita tentang perjalanannya menjadi atlet Kempo tahun 1980-an kepada tatkala.co, Jumat (8/9/2023) malam. “Silakan pesan minum dulu,” ujarnya, sebelum diwawancarai.

Dan sesaat sebelum makanan dan minuman yang telah dipesan dihidangkan, perempuan kelahiran Juli 1970 itu membuka ceritanya dengan kisah tahun 1982—untuk pertama kalinya ia mulai latihan Kempo. Saat itu, perempuan dengan nama lengkap Lilik Suryani itu baru kelas 6 SD.

“Saya mengenal Kempo dari kakak saya. Dia atlet juga,” terangnya.

Sebagai seorang perempuan, katanya, ia sangat beruntung lahir di keluarga yang memiliki keterbukaan berpikir dan menjunjung nilai-nilai kesetaraan. Orang tuanya tak keberatan anak perempuannya menjadi atlet seni beladiri—yang notabene identik dengan maskulinitas. Alih-alih melarang, mereka justru mendukung penuh apa yang sudah Lilik pilih.

Piagam Penghargaan Lilik Suryani sebagai juara 1 Embu Beregu Putra-Putri dalam Kejuaraan Kempo antar dojo se Kabupaten Buleleng tahun 1985 / Foto: Dok. Lilik

Padahal, zaman itu, saat Indonesia masih dikuasai rezim Orde Baru, patriarki masih menjadi momok menyeramkan bagi para perempuan—meski sebenarnya sampai sekarang di beberapa daerah masih seperti itu.

Pada masa ketika Soeharto sedang senang-senangnya menjalani profesi sebagai diktator, Lilik kecil mulai berlatih Kempo di Dojo Bhaktiyasa Singaraja. Ia dilatih oleh Sensei Nyoman Muliartha dan Sensei Pande Sumerhta Yoga. “Beliau berdua sangat menyuport saya. Kakak saya, Yap Lie Ciang, dan orang tua saya juga sangat mendukung saya untuk latihan dan menjadi atlet Kempo,” jelas Lilik dengan suara yang pelan dan lembut.

Hingga pada 1984, satu tahun sebelum Soeharto menerapkan asas tunggal Pancasila, Lilik mulai mengikuti kejuaraan antar dojo se-Kabupaten Buleleng dan berlanjut ke Kejurda, Kejurnas, Pra-PON, sampai PON XI 1985 di Jakarta.

Di ajang kejuaraan PON XI, Lilik berhasil menyumbangkan medali perunggu cabang olahraga (cabor) Kempo untuk Provinsi Bali bersama pasangannya, Heni Anggraini. Sedangkan, pada Pekan Olahraga Nasional saat itu, Bali berhasil menempati peringkat ke-16 dengan total perolehan 26 medali: 7 emas, 6 perak, dan 13 perunggu. “Itu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan,” kata Lilik.

Piagam Penghargaan Lilik Suryani saat mengikuti kejuaraan Kempo di PON XI 1985 Jakarta / Foto: Dok. Lilik

Pada saat menjelang PON di Jakarta itu, Lilik—yang masih kelas 3 SMP—harus bolak-balik Singaraja-Denpasar seminggu sekali untuk melakukan latihan. Dan ia sempat mengalami cedera.

Sebagai atlet Kempo perempuan, Lilik termasuk kategori kenshi yang berbakat. Dulu, ceritanya, saat ujian kenaikan tingkat, dirinya selalu menjadi lulusan terbaik. Dan saat ditanya apakah dirinya dulu memiliki latihan khusus? Ia menjawab, “Tidak”. Baginya, yang penting untuk dimiliki seorang atlet selain latihan adalah mental bertanding dan niat yang sungguh-sungguh.

“Kuncinya ada di konsentrasi dan gereget. Kalau sudah nggak punya gereget ya akan bisa,” ujarnya sambil memotong steak.

Karier Lilik sebagai atlet Kempo memang tak berlangsung lama. Sejak tahun 1990, setelah lulus SMA, saat mulai bekerja di  PT. Bank Central Asia (BCA), ia sudah mulai jarang mengikuti kejuaraan. Hingga saat umurnya hampir menginjak 40 tahun, ia mulai berlatih kembali. Dan sampai sekarang, meski tidak menjadi pengurus PERKEMI Buleleng, ia masih sering memberi dukungan kepada atlet-atlet muda di dojo tempatnya berlatih dulu.

Pada momen peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Taman Kota Singaraja, Jumat (8/9/2023), bersama lima atlet senior lainnya—termasuk juniornya (kohai) di Dojo Bhaktiyasa Arief Gunawan (baca tentang sosok ARIEF GUNAWAN DI SINI)—Lilik Suryani mendapat penghargaan dari KONI Buleleng sebagai bentuk penghormatan karena telah mengharumkan nama Buleleng dan Bali pada masanya.

Sosok yang Humanis

Yang membuat Lilik Suryani terkesan dengan Kempo adalah nilai-nilai yang diajarkan di dalamnya. Ia mengaku banyak mendapat pelajaran hidup dari seni beladiri yang berasal dari Negeri Sakura itu. Benar, selain mengajarkan teknik beladiri, Kempo juga terkenal dengan ajaran welas-asihnya, kasih-sayangnya. Semua kenshi diajarkan tentang nilai-nilai persaudaraan.

Hal itu dikarena seni beladiri ini berlandaskan ajaran Budha, yang melarang saling menyakiti dan membunuh. Oleh karena itu, semua atlet Kempo—yang biasa disebut kenshi—hanya diizinkan untuk mempertahankan diri dan tidak boleh menyerang terlebih dahulu.

Doktrin falsafah “Perangilah dirimu sendiri sebelum memerangi orang lain” mempengaruhi susunan atau struktur gerak beladiri ini. Sehingga, menurut Lilik, gerakan teknik selalu dimulai dengan mengelak/menangkis serangan terlebih dahulu sebelum membalas kemudian.

“Kami diajarkan untuk menjadi manusia yang penuh kasih sayang. Ini sesuai dengan semboyan kami: Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan. Kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman,” terang Lilik mengutip semboyan Shorijin Kempo.

Sebagai seorang pribadi, Lilik memang sosok yang humanis. Ia senang menebar kebahagiaan di mana-mana. Saat ada bencana melanda suatu daerah, bersama keluarganya, sebisa mungkin ia akan memberikan bantuan.

Lilik Suryani (yang memegang piagam) seusai menerima penghargaan dari KONI Buleleng / Foto: Dok. Perkemi Buleleng

Saat Gunung Agung meletus, Gunung Semeru erupsi, atau saat Pulau Lombok digoncang gempa bumi  2018, Lilik selalu membantu.

“Bahkan saya pernah belusukan sampai ke pedalaman Pulau Seram, Maluku, untuk sekadar membantu,” katanya.

Selain memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, Lilik juga memiliki jiwa petualangan yang tidak main-main. Senpai Shorinji Kempo Buleleng itu mengaku suka mendaki gunung. Ia pernah mendaki Semeru dan Rinjani—bahkan sudah dua kali.

Barangkali, selain faktor ajaran keluarga, dari Kempo dan kesukaannya mendaki gunung itulah jiwa kemanusiaannya semakin membuncah. Lilik sadar betul bahwa kasih sayang dapat melintasi perbedaan apapun. Entah suka, ras, golongan, maupun agama.

Ia tidak pernah membeda-bedakan manusia. Sebab, menurutnya, semua berhak mendapat kasih sayang dan semua juga wajib memberikan kasih sayang—walaupun dengan kadar dan cara yang berbeda-beda.

Lilik adalah seorang humanis yang universal. Ia mengagumi Gus Dur, sosok yang dinilainya sebagai humanis sejati. Dan ia juga percaya bahwa setiap agama mengajarkan cinta kepada pemeluknya.

Benar. Setiap agama memang mengajarkan cinta kepada pemeluknya, tetapi cinta itu sendiri tak punya agama—karena cinta adalah tujuan dari setiap agama.

Kedudukan cinta itu di atas agama. Agama adalah jalan, cinta adalah tujuan yang hendak dicapai oleh jalan itu. Bagaimana bisa tujuan lebih rendah tingkatannya daripada jalan yang menuju kepada-Nya?

Maka, Lilik percaya, jika ada yang mengaku sebagai orang yang beragama namun belum mampu merasakan cinta dan melihat cinta di mana-mana, orang tersebut patut memperbaiki caranya beragama.

Dan jika ada yang mengaku sebagai orang beragama namun senantiasa masih menyebarkan kebencian dan permusuhan, memandang orang lain yang tidak seagama dengannya lebih rendah derajadnya, maka beragamanya sia-sia belaka. Karena Tuhan adalah Cinta!

Falsafah Shorijin Kempo berbunyi: “Perangilah dirimu sendiri sebelum memerangi orang lain.” Itu.[T]

Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: atletikKONI Bulelengolahragapencak silattokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelir Wayang dan Sihir Atmosfer Dalang

Next Post

Mahasiswa Inbound Unud Mengeksplor Kawasan Pura Besakih dengan Modul Kebhinekaan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Inbound Unud Mengeksplor Kawasan Pura Besakih dengan Modul Kebhinekaan

Mahasiswa Inbound Unud Mengeksplor Kawasan Pura Besakih dengan Modul Kebhinekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co