20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Jani Nugraha 2022 | Mas Ruscitadewi Dalam Dunia Cerita Anak-anak

tatkala by tatkala
November 3, 2022
in Persona, Pilihan Editor
Bali Jani Nugraha 2022 | Mas Ruscitadewi Dalam Dunia Cerita Anak-anak

Mas Ruscitadewi | Foto: Istimewa

Anak Agung Sagung Mas Ruscitadewi sesungguhnya adalah seorang sastrawan. Ia menulis puisi dan cerpen dalam Bahasa Bali maupun Bahasa Indonesia. Namun, kegiatan yang paling banyak dilakukan adalah “mengurus” anak-anak. Untuk urusan kreativitas anak-anak, baik dalam menulis, menggambar, main teater, maupun menyanyi, ia selalu punya energi besar.

Jika ditulis dengan titel, nama lengkapnya Dr. Dra  Anak Agung Sagung Mas Ruscitadewi, M.Fil.H. Namun orang biasa menyapa dengan nama Mas Rus, atau Mbok Mas, atau Gung Mas. Semua panggilan itu akan membuatnya tersenyum, apalagi yang memanggil adalah anak-anak.

Mas Ruscitadewi bukan hanya mengurus anak-anak dalam pengertian fisik, misalnya dalam acara menggambar bersama, menyanyi bersama atau menulis bersama. Ia juga konsiten menulis untuk anak-anak.

Ia menulis lagu anak-anak, Ia menulis cerita anak. Sejumlah lagunya sudah direkam dan banyak diantaranya dikenal dengan baik oleh anak-anak, seperti lagu Kupu-Kupu Kuning. Dulu, lagu itu dinyanyikan Liana, sekira awal tahun 2000-an, diproduksi oleh Graha Nadha, dan tayang di Bali TV. Liana, sang penyanyi kini tentu saja sudah besar. Mas Ruscitadewi banyak melahirkan penyanyi seperti Liana, dulu, dan kini mereka sudah besar, bahkan barangkali banyak yang sudah jadi ibu.

Cerita anak-anak yang ditulisnya banyak yang sudah dibukukan. “Lewat, cerita anak itu saya merasa dapat memberikan bekal penting kepada anak-anak,” kata Mas Ruscitadewi.

Ia tak sekadar menulis untuk hiburan. Ia menulis dengan konsep “nadi” atau konsep “menjadi”, sebuah strategi yang ia pelajari saat menempuh pendidikan doktoral di Universitas Hindu Negeri (UHN) IGB Sugriwa, Denpasar (dulu IHNDN).

Artinya, ia sendiri akan menulis dengan konsep “menjadi” anak-anak. Dengan begitu, tulisan yang dihasilkan sangat disukai anak-anak karena cerita yang anak-anak baca memang benar cerita anak-anak, bukan cerita anak-anak yang ditulis dengan pola pikir dewasa.

[][][]

Mas Ruscitadewi lahir di Denpasar, 26 Mei 1965.  Ia mulai menulis cerita anak-anak sejak tahun 1995. Awalnyya ia membuat majalah berbahasa Bali bernama “Kulkul”. Setelah majalah itu terbit, ternyata tidak banyak anak-anak yang membacanya. Itu karena tidak banyak anak yang bisa membaca Bahasa Bali.

Ia lalu mencari cara agar anak-anak mulai mau dan biasa membaca Bahasa Bali. Ia kemudian membuat album lagu anak-anak dalam bentuk kaset, sehingga anak-anak bisa belajar Bahasa Bali lewat bernyanyi. Lagu-lagu rare yang anonim dikumpulkan, lalu diaransemen oleh Kadek Suardana (alm) dan dibantu Yong Sagita untuk urusan mixing.

Selain itu, ia juga tetap menciptakan lirik lagu baru yang diaransemen kemudian oleh musisi yang dipercaya, seperti Subandi dan musisi lain di Bali.

Mas Ruscitadewi

Makin dekatlah Mas Ruscitadewi kemudian dengan anak-anak, apalagi setelah ia dipercaya menjadi penanggung jawab Tabloid Lintang, majalah anak-anak yang diterbitkan Bali Post.

Dalam tabloid ini, Mas kemudian lebih banyak memberikan ruang bagi anak-anak untuk menulis cerita atau puisi, di samping menyiapkan sendiri berbagai tulisan lain untuk anak-anak di majalah itu. Tabloid ini mendapat sambutan hangat, bukan hanya dari anak-anak, melainkan juga para orang tua.

Banyak anak-anak yang sebelumnya tak bisa menulis akhirnya bisa menulis puisi atau cerita pendek (cerpen). “Kami juga mengadakan road show keliling Bali mengajari anak-anak menulis puisi dan cerpen,” kata Mas Rus.

Dari berbagai upaya yang dilakukan Mas Rus kemudian lahirlah banyak penulis cerita anak di Tabloid Lintang.

“Menulis cerita anak itu mirip dengan membuat cerpen, hanya saja bahasanya harus sederhana untuk anak-anak. Agak sulit memang, tetapi perlu membiasakannya agar sesuai konsumsi anak-anak, dan tetap menarik dan tidak kehilangan kedalamannya agar gampang dibaca dan dicerna,” kata Mas Rus.

Selain menulis cerita anak, Mas juga melatih teater untuk anak-anak. “Teater itu ibarat ibunya puisi atau cerpen, sehingga bisa berteater akan sangtat baik untuik menggeluti aktivisa kesenian lainnya,” ujarnya.

Untuk urusan menggambar, Mas Rus punya cara yang unik. Ia bersama teman-temannya mengumpulkan anak-anak yang sedang bersantai di lapangan Puputan Badung untuk diajak melukis bersama.

“Dalam menggambar itu, anak-anak diajak untuk menggores ide, lalu melatih menuliskan ide itu. Gambar yang sudah dibuatnya, wajib diceritakan melalui tulisan. Nah, disini mereka dapat belajar membuat cerita juga, walau itu diawali dengan menggambar,” kata Mas Rus.

[][[][]

Masa kanak-kanak Mas Ruscitadewi sendiri tentu saja amat indah. Bakatnya dalam menulis karya sastra udah tampak sejak ia anak-anak.

Saat bersekolah di SD N 2 Kesiman, ia memiliki guru inspiratif. Namanya Silandri Dipani. Guru itu memberikan pelajaran Bahasa Indonesia dengan menugaskan anak-anak membuat naskah drama. Bukan hanya menulis, tetapi juga diberi kesempatan memainkan naskah drama itu di kelas.

Di samping pentas drama, Silandri Dipani juga melatih anak-anak menulis puisi. Pelajaran-pelajaran itu tak hanya berlangsung di kelas, melainkan juga di luar kelas. Itu terjadi setelah Mas Ruscitadewi dan teman-temannya mendapat kesempatan untuk tampil bermain drama di TVRI.

Mas Ruscitadewi (nomor 4 dari kanan) menerima Bali Jani Nugraha atas pengabdiannya di bidang sastra dan cerita anak-anak

Mas dan kawan-kawannya juga berkesempatan tampil membaca puisi Bali, baik di kelas atau pada acara perpisahan. Ia merasa kesempatan itu sebagai sebuah penghargaan untuk mengenal dunia sastara lebih jauh.

“Saya memang senang dengan sastra, apalagi kemudian diberi kesempatan pentas, maka sangat terasa senangnya. Kalau senang tanpa ada kesempatan, susah juga,” kata Mas Rus.

Masa-masa SD adalah masa-masa menyenangkan bagi Mas Rus. Ia kerapkali tampil sebagai juara dalam setiap kegiatan lomba yang diikutinya. Bukan hanya juara dalam lomba seni, namun juga dalam lomba olahraga.

Antara lain ia menjadi juara tenis meja, catur, lomba membuat penjor, MC, pidato berbaha Bali, mesatwa Bali, juara mebebasan, membaca Bhagawatdigita dan lomba membuat pas bunga.

Ia sempat menjadi juara dua Cerdas Cermat SD se-Bali. Saat itu juara satunya adalah SD Mutiara Singaraja. Di tengah-tengah kegiatan sekolah, ia kemudian berlatih teater dan diajak bermain drama oleh Anom Ranuara yang dikenal sebagai sutradara Teater Mini Badung. Ia juga ikut bermaian film KB dari panggung ke panggung di Art Center dan tampil membaca puisi dan teater di TVR.

Mas Rus juga ikut kelas teater di Art Center bersama Yudane dan Putu Satria Kusuma yang dilatih Made Taro dan Bapak Putra. Kegiatan belajar menari juga tetap dilakukannya, sehingga kegiatan antara tradisi dan modern berjalan dengan seimbang.

Seni tradisi yang berjalan secara alamai itu, tak hanya disajikan untuk ngayah, tetapi sempat pula tampil di Hotel Bali Beach. Namun, kegiatan menulis masih tetap dilakukan. “Sejak SMP, saya sangat serius menulis puisis atau cerpen. Itu karena karya puisi sudah dimuat Bali Post,” katanya.

Saat remaja, Mas Ruscitadewi menulis cerpen remaja. Cerpenya yang berjudul “Mati” dimuat dalam ruang budaya di Bali Post Minggu. Padahal ia penulis SMP, namun karyanya sudah masuk pada kolom budaya yang penulisnya biasa diisi oleh penulis-penulis senior.

Sejak itu mulai serius membuat cerpan. “Saya kemudian dipercaya menjadi wartawan remaja yang membantu mewawancarai artis untuk penerbitan di Bali Post. Saat itu bersama Diga Amerta dan Gus Raka Suardana. Sementara atasan saya termasuk Prof. Darma Putra. Saat itu, saya sudah nyambi kerja di Bali Post,” katanya.

[][][]

Dalam hal menulis puisi, Mas Ruscitadewi juga punya paham tersendiri. Baginya, puisi itu “tenget” atau sakral, karena menulis kata-kata yang indah itu adalah sesuatu yang sudah mendapatkan kesimpulan. Maka, Mas selalu hapal dengan puisinya-puisi yang ditulisnya.

“Puisi dan sastra itu bukan hanya kata-kata, tetapi di situ ada kesimpulan, “nyastra”. Misal bericara tentang pertanian, saya sudah ada di situ lalu mengatakan betapa indahnya menjadi petani,” kata Mas Ruscitadewi.

Saat sekolah di SMAN 3 Denpasar makin menjadi-jadilah prestasinya di bidang seni dan sastra. Ia meraih juara cipta cerpen, membaca cerpen, cipta naskah drama. Lomba-lomba seni modern, biasanya lebih banyak digelar oleh Akademika, Unud.

Begitu juga ketika menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra (Jurusan Arkeologi) Universitas Udayana, Mas bermain teater bersama Putu Satria Kusuma, Yudane, termasuk dengan Putri Suastini. Lalu, bergabung bersama teater Abu Bakar, selanjutnya bergabung dengan Sanggar Putih yang dipimpin Kadek Suardana, selanjutnya membuat kelompok teater sendiri.

Pengalaman berteater membawa ke mana-mana, termasuk ke Thailand. Ia juga menggarap Tater Lawa-lawa keliling di Lombok.

Di bidang seni tradisional ia banyak diberikan pengaruh poistif yang didapati pada guru tarinya, seperti Bapa Sija, Bapak Kantor, Limbak, Men Cenik, Sang Ayu Muklen, Reneng dan lainnya. Dari sana, Mas menyerap yang kemudian mempengaruhi proses berkeseniannya.

Selain sebagai pengasuh Tabloid Anak-Anak Lintang, Kelompok Media  Bali Post, Mas juga sebagai Pengurus Listibya Provinsi Bali sampai tahun 2021 serta aktif sebagai Anggota Majelis Desa Adat Propinsi Bali, Pembina Bali Muda Wedari Faiundation, dan Pembina Bali Rare Paduraksa.

Teater anak-anak asuhan Mas Ruscitadewi

Pengalaman berteater, diantarnya Tahun 1987-1989 membuat  naskah dan menyutradarai drama/teater “Mimbar Agama Hindu” di TVRI Denpasar, Tahun 1989- 1991 Membuat naskah dan menyutradarai naskah penyuluhan Karang Taruna, bekerjasama dengan Kantor Departemen Sosial Provinsi Bali di TVRI Denpasar, Tahun 1991-1994, membuat naskah dan menyutradarai  drama “Sang Putri”, “Sang Pemburu” dan Lawa-lawa” yang dipentaskan di Bali, Lombok dan Taiwan serta melatih dan menyutradarai teater Somenigth Dream  dengan siswa pertukaran budaya Bali –Amerika.

Mas juga membuat naskah bersama dan main dalam teater “Campur-Campur” dan ” The Time is Hunter” dalam Festival  Darwin Australia  tahun 2001 dan 2006. Pada tahun 2008, Mas juga berkolaborasi dengan seniman dan pendeta Jepang dalam pertunjukan “Mandala” yang dipentaskan di Nusa Dua Bali.

Ia juga membuat teater dan arja anak-anak “Sayembara” yang dipentaskan dalam Konfrensi Menteri Investasi Asia Fasifik, membuat operet anak-anak “Air Sumber Kehidupan” yang dipentaskan saat peresmian DSDP oleh Presiden RI, membuat naskah dan menyutradarai pementasan teater “Jaya Prana Tattwa dalam Pesta Kesenian Bali 2018, mendapatkan penghargaan sebagai Peserta Terbaik dalam Jejak Virtual Aktor 2020 yang digelar oleh Kementrian Kebudayaan  RI.

[][][]

Saat ini, Mas mengajar mengajar teater  untuk para penderita HIV AIDS di YKP, anak-anak tukang suun di pasar Badung (2011), Tahun 2011- 2012 memberi pelajaran kemanusiaan, filsafat dan teater bagi narapidana yang dihukum 5 tahun hingga hukuman mati, di LP Krobokan, Bali, memberi workshop monolog,  teater, janger  dan cak ke seluruh Bali tahun 2016-2018 serta mengajar sastra dan teater di SD Saraswati 4 Denpasar, IKIP PGRI Bali.

Mas juga aktif dalam kegiatan film, seperti menjadi Co produser dalam film Under The Tree karya Garin Nugroho, membuat film dokumenter Relegi Topeng, membuat film documenter Pertemuan Agung Sekala Niskala (Pangrebongan), membuat film cerita Sudra, membuat tayangan pelajaran bahasa dan aksara Bali Anacaraka.

Untuk seni suara dan musik, Mas pernah membuat lagu dan klip Gayatri Mantra yang tayang setiap hari di BaliTV, membuat lagu, dan album lagu-lagu Bal remaja dan anak-anak yang diproduksi oleh Graha Nadha yang ditayangkan oleh BaliTV, membuat Album Bianglala , Ngastitiang Bali, Kupu-Kupu Kuning , Surya Anyar dan Mlajah Matembang  dan lain-lainyang meraih penghargaan Gita Denpost Award

Sedang untuk sastra dan koran, Mas memenangkan Lomba Cipta Puisi Dunia Atlanta Review tahun 2001, memperoleh penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali tahun 2008. Ia juga merintis, membuat  dan menjadi pengasuh  koran anak-anak Lintang mulai tahun 1999 hingga sekarang.

Ia juga merintis, membuat dan menjadi oengasuh koran  sisipan Bali Post Minggu berbahasa Bali Bali Orti  tahun 2006-2016, penulis buku Dongeng, Kumpulan Cerita Pendek (Bahasa Indonesia dan Bali), Puisi, Monolog, Drama, Pelajaran dan pengayaan Arkeologi dan Peninggalan Purbakala

Mas Rus juga sebagai kurator sejak tahun 2009- 2016 yang menjadi kurator (juri) penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali, menjadi kurator Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawa Natya di Taman Budaya Denpasar tahun 2016-2018, menjadi kurator Fekan Seni Bali Jani tahun 2019, sebagai ketua dewan pembina Bali Muda Foundation yang bergerak di bidang literasi, untuk mengajar guru mendongeng dan mecipta dongeng.

Ia juga menjadi ketua dewan pembina Bali Rara Paduraksa yang bergerak di bidang lingkungan dan budaya. Membuat cerita untuk anak-anak, 15 cerita untuk anak terbarunya sedang dalam proses cetak. Atas pengabdiannya terhadap sastra dan cerita anak-anak itulah Pemerintah Provinsi Bali memberikan penghargaan Bali Jani Nugraha dibidang Sastra serangkaian dengan Festival Bali Jani (FSBJ) IV. [T][Ole/*]

Bali Jani Nugraha 2022 | Dhenok Kristianti dan Hembusan Napas Bali dalam Puisi-puisinya
Bali Jani Nugraha 2022 | Prof. I Nyoman Darma Putra, Juru Kunci Sastra Indonesia di Bali
Kera Putih yang Pemilih
Tags: Bali Jani Nugrahacerita anakdongengFestival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2022Mas Ruscitadewisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang

Next Post

Bukan Hanya Hindu (di) Bali: Hindu (di) India Lebih Awal Terbelah Gerakan Sai Baba & Hare Krishna

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails
Next Post
Aksara Membaca Aksara,  Lontar Membaca Lontar

Bukan Hanya Hindu (di) Bali: Hindu (di) India Lebih Awal Terbelah Gerakan Sai Baba & Hare Krishna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co