4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Kenal Maka Tak Sayang | Mari Memahami Pepatah dengan Logika Matematika

Wahyudi Prasancika by Wahyudi Prasancika
March 21, 2021
in Esai
Tak Kenal Maka Tak Sayang | Mari Memahami Pepatah dengan Logika Matematika

Ilustrasi: salah satu film drama Korea romantis [Google]

Tentu menyebalkan ketika orang yang pernah sayang kepada kita (misal saja mantan pacar atau mantan lainnya) pada akhirnya seolah tidak kenal lagi setelah dia tidak sayang. Minimal ini valid bagi saya, mungkin bagi temen-temen juga. Permasalahannya, apakah ketika seseorang tak sayang maka akan sepatutnya seolah tidak kenal? Pertanyaan ini membuat saya untuk mengingat kembali pepatah tak kenal maka tak sayang. Sebagai mahasiswa matematika, ya saya coba membawa pertanyaan tadi dan pepatah yang ada ke dalam konsep logika matematika.

Pertama, mari kita sepakati bahwa pepatah tak kenal maka tak sayang memang logis dan sesuai di kehidupan sehari-hari. Selanjutnya akan diarahkan kepada beberapa asumsi/premis untuk mencari kesimpulan/akibat yang sesuai logika.


Misalkan

   p : tak kenal

   q : tak sayang

~ p : kenal

~ q : sayang


Kondisi 1

Tak kenal maka tak sayang.   (pepatah yang sudah disepakati)

Tak kenal.    (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….      (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: p

Kesimpulan: q


Kondisi ini dijamin kebenaranannya sesuai logika matematika dan ini dikenal sebagai metode Modus Ponen.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: tak kenal

Kesimpulan: tak sayang


Artinya,

Berdasarlan kondisi di atas, jika tak saling mengenal maka tentu tidak ada sayang. Ya, ini menjadi hal yang cukup jelas dan sederhana untuk dipahami. Tentu semua akan sepakat bahwa tak akan ada sayang yang muncul saat kita tak saling mengenal.


Kondisi 2

Tak kenal maka tak sayang.   (pepatah yang sudah disepakati)

Sayang.     (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….     (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: ~ q

Kesimpulan: ~ p


Kondisi ini dijamin kebenaranannya sesuai logika matematika dan ini dikenal sebagai metode Modus Tollens.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: sayang

Kesimpulan: kenal


Artinya,

Berdasarkan kondisi di atas, akibat dari adanya rasa sayang tentu adalah kondisi saling mengenal atau kenal. Ketika kita sayang dengan seseorang, tentu kita sudah mengenalnya bukan? Saya rasa hal ini masih cukup mudah untuk diterima. Jadi terima saja.


Kondisi 3

Tak kenal maka tak sayang.    (pepatah yang sudah disepakati)

Kenal.        (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….   (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: ~ p

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Pada kondisi ini, telah disepakati bahwa tidak ada hal yang dapat disimpulkan.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: kenal

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Artinya,

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sayang sudah pasti kenal. Tapi ini tidak langsung berlaku untuk sebaliknya. Kenal belum tentu sayang. Masih ada kemungkinan saat kita kenal dengan seseorang maka kita bisa sayang atau juga tidak. Ya kadang hanya sekadar kenal saja. Jadi memang tidak ada hal yang bisa disimpulkan dan dapat dibenartkan sepenuhnya sebagai akibat dari asumsi yang diiberikan.


Kondisi 4

Tak kenal maka tak sayang.    (pepatah yang sudah disepakati)

Tak sayang.      (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah …. (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: q

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Pada kondisi ini, telah disepakati bahwa tidak ada hal yang dapat disimpulkan.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: tak sayang

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Artinya,

Pada kondisi ini, memang tidak ada hal yang bisa disimpulkan dan dapat dibenartkan sepenuhnya sebagai akibat dari asumsi yang diiberikan. Tak sayang bisa karena memang tak saling mengenal sebelumnya. Juga seringkali ketika sudah tak sayang, akhirnya seolah tak saling mengenal. Padahal memang sudah saling mengenal sebelumnya. (seperti cerita di awal)


           Dia tak sayang karena memang tidak kenal.

           Dia tak sayang setelah adanya perpisahan. Padahal udah kenal sebelumnya.


Jadi tak sayang memang belum bisa dipastikan apakah karena tak kenal atau sebetulnya sudah ada perkenalan sebelumnya.

Ini juga menjawab pertanyaan di awal bahwa ketika sudah tak sayang bukan berarti tak kenal. Ini berlaku kalo kita masih sepakat dengan pepatah tak kenal maka tak sayang. Kalo pepatah yang diyakini berbeda, tentu akan berbeda kesimpulan dari setiap asumsi kondisinya.

Berdasarkan empat kondisi di atas, pepatah tak kenal makak tak sayang menjadi pepatah yang logis untuk kehidupan sehari-hari. Setidaknya logis bagi saya. Jadi saya rasa pepatah ini dibuat sudah sesuai logika dengan beberapa pertimbangan dan akhirnya disepakati. Apa mungkin yang membuat pepatah ini adalah senior saya di matematika?  

Namanya juga mahasiswa matematika yang masih belajar, bisa jadi dalam pembahasan di atas ada kekeliruan. Jadi bisa dikoreksi juga, hehehe. [T]

Tags: BahasaLogikamatematikapepatah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Next Post

Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Wahyudi Prasancika

Wahyudi Prasancika

Mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika di Undiksha, pemain teater, sedang belajar menulis

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co