24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tetralogi Buru, Panggilan Zaman dan Kekuatan yang Terabaikan

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
July 2, 2019
in Esai
Tetralogi Buru, Panggilan Zaman dan Kekuatan yang Terabaikan

Ist

Saya agak menyesal baru khatam roman ini ketika menyelesaikan studi master sejarah di UGM, 6 tahun lalu. Saat kuliah sarjana, saya sempat membaca salah satu  bagian Tetralogi Pulau Buru, Anak Semua Bangsa. Itupun tak sampai habis. Saya membelinya karena alasan-alasan yang tak masuk akal di sebuah toko buku, Toga Mas, yang waktu itu masih berlamat di sekitaran Jalan Udayana Singaraja sebelum akhirnya pindah ke Jalan Kartini.

Siapapun akan sepakat bahwa Pram, melalui Teralogi Pulau Buru telah berhasil memotret embrio nasionalisme Indonesia yang paradoks sekaligus ambigu. Racikan fakta sejarah dipadu nalar proletar tentang gelombang revivalisme lokal menempatkan Pram sebagai salah sastrawan berpengaruh pada jamannya.

Pun demikian, di masa puncak jayanya, Pram adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat. Era di mana Lekra dan Manikebu saling melancarkan gagasan dan opini akademis bagik media massa dan cetak tentang bagaimana seharusnya kebudayaan nasional dirumuskan. Meski mereka hidup di jaman Orde Lama yang tidak jauh opresif dengan Orde Baru, intelektualisme cenderung lebih hidup. Barulah di era Orde Baru, bersamaan pemberangusan PKI juga ikut memusnahkan satu generasi intelektual.

Dalam metodologi sejarah mutakhir, Pram bisa jadi sukses mempromosikan teks ideal problematika sastra dengan sejarah. Ilmu sejarah sejak era Leopold van Ranke, dengan keangkuhan metodologi positivistik Barat tidak pernah sudi “membumi”. Sastra di tempat lain merangkak demi menggali intimitas kemanusiaan. Meski kedunya berangkat pada akar yang sama, pada satu momen mereka berpisah, dan pada titik yang lain bertemu. Pram lah, melalui novel sejarah ini menyejarahkan sastra dan begitu sebaliknya, menyastrakan sejarah.

Bagi mantan sarjana pendidikan seperti saya, membaca novel sejarah agaknya bukan kewajiban. Kami cukup tahu judul buku dan pengarang tanpa harus bersentuhan, atau membaca secara langsung. Dengan pengetahuan sepotong dan agak dipaksakan itu, sudah cukup kiranya berbagi pengetahuan di dalam kelas. Perlu dicatat, output yang dihasilkan oleh prodi kami tidak menekankan pada kemampuan literasi, sastra salah satunya, bukan merupakan keharusan. Sarjana pendidikan sejarah diarahkan pada kemampuan manajemen kelas. Kemampuan pedagogi sejarah lebih ditekankan dibanding telaah epistemologi keilmuan. Dalam teks ideal, kami diharapkan menjadi penutur masa lalu yang sesuai dengan kurikulum yang dihasilkan oleh Pemerintah melalui Kemendikbud.

Oktober 2014, setelah menyelesaikan studi master dan kembali ke tanah kelahiran, obsesi saya terhadap Pram tidak memudar, bahkan semakin gila dengan memburu karya-karyanya yang lain. Beberapa di antaranya saya dapatkan secara gratis dalam bentuk pdf dari kawan di Jogja. Beberapa yang lain saya fotocopy seperti aslinya setelah berburu di hampir semua perpustakaan kampus UGM, UNY, SADAR dan UIN Sunan Kalijaga.

Hasil bacaan terhadap karya-karya Pram saya tuangkan di beberapa jurnal. Kehadiran Pram sebagai inspirasi menulis mendorong saya tetap terjaga dan produktif. Oleh sebab itu, saya membutuhkan media aktualisasi untuk mengekspresikan ide-ide liar Pram tentang intelektualisme sastra sejarah, dan ruang itu hanya ada di perguruan tinggi. Alasannya, selama 2 tahun mengajar di bimbel dan SMA di daerah Denpasar sejak 2015-2016, anak didik saya tidak terlalu punya idealisme literasi. Mereka, yang saya sebut Gen Z adalah generasi dengan budaya digital.


KLIK DI SINI

MAS MARTAYANA

UNTUK BACA ESAI-ESAI LAIN


Momen itu akhirnya datang, dan sejak Februari 2017, saya mengajar di Prodi pendidikan sejarah Undiksha. Di sanalah, pada mata kuliah sejarah intelektual, pemikiran-pemikiran Pram saya semai dan diskusikan dengan mahasiswa tanpa takut berhadapan dengan masalah pedagogi normatif. Meski di jaman mereka, akses terhadap informasi sangat luas di tambah kelihaian update sekaligus upgrade teknologi adalah hal lumrah, tetap saja budaya digital tidak bisa menggantikan budaya literasi. Mereka gagap budaya berhadapan dengan teks asli.

Di awal pertemuan, mereka tampak kurang nyaman dan sering menyampaikan keluhan. Akan tetapi keluh itu sirna berganti menjadi obsesi. Dari yang awalnya dipaksa, lalu terpaksa, akhirnya terbiasa. Dalam tulisan lain di platform ini, saya menyebut perilaku gagap literasi dengan istilah “intelektual pengecer”. Bak gayung bersambut, kini merekapun tampak antusias menerima siraman proletarianisme ala Pram melalui saya.

Tetralogi Buru mengisahkan tentang gerakan kebangkitan nasional Indonesia rentang tahun  1898 – 1918, dengan tokoh protagonis utama seorang anak bupati yang mengenyam pendidikan Belanda, yakni Minke. Karakter Minke digambarkan mengalami pergolakan batin di antara dua dunia ; Barat atau Timur. Ia tumbuh dan berkembang, dari yang merasa malu terlahir sebagai pribumi dan menolak menulis dalam bahasa Melayu hingga menjadi salah satu pejuang melawan kolonialisme. Pertemuannya dengan Petani Jawa yang bernama Trunodongso, yang digusur dari tanahnya sendiri adalah tonggak penting dalam perubahan sikap Minke terhadap kolonialisme. Perjalanannya menjadi semakin menggeliat ketika ia mendedikasikan diri melalui kehadiran surat kabar berbahasa Melayu-Medan Prijaji.

Tokoh Minke dalam tetralogi Buru adalah fiksi yang berangkat dari jejak dokumen sejarah yang ditinggalkan Bapak Pers Nasional ; Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo. Dalam hal ini, sebagai wujud penghormatan dan kekagumannya kepada sosok Tirto, Pram memonumenkan kisahnya ke dalam sebuah novel berjudul Sang Pemula. Minke, sebagaimana yang dibayangkan, adalah sosok fiksi metaforis terhadap tujuan utama Pram untuk menyampaikan hikayat, tafsir dan pandangannya tentang embrio pembentukan sebuah bangsa-negara Indonesia. Potret tentang kondisi sosial politk dan ekonomi pada masa kolonial yang berhasil didokumentasikan dalam novel ini bahkan jauh melampaui kajian ilmiah tentang periode itu. Tak lain adalah karena kelebihan sastra untuk memberi nyawa bagi kajian-kajian ilmiah dan sejarah masa lalu yang membentuk Indonesia hari ini.

Saya menggarisbawahi otoritas Pram yang menempatkan Max Havelaar, karya Multatuli (nama samaran Eduard Douwes Dekker) sebagai pioner buku yang membunuh kolonialisme dan menjadi karya yang menginspirasinya. Penuturan melalui novel (semi otobiografs ini) Max Havelaar berhasil mengangkat problem ketidakdilan akibat berlangsungnya tatanan kolonial secara khusus sistem Tanam Paksa dan di sisi lain tatanan feodal yang menjadi sarana Pemerintah Kolonial menghisap dan mengendalikan rakyat.

Metaforis kebudayaan lain yang berhasil dianalogikan Pram adalah kisah Saidjah dan Adinda, kisah utama dan paling menyentuh di dalam kisah pengalaman nyata seorang Asisten Residen Lebak ketika bersentuhan dengan penderitaan rakyat atau kaum tani, berinteraksi dan bersentuhan dengan sebuah sistim kekuasaan feodal yang korup dan sesungguhnya menjadi mesin atau perkakas kuasa kolonial dimana dia mengabdi, dan pada akhirnya modal dan pasar. Modal dan pasar muncul dalam sosok Batavus Droogstoppel, seorang borjuis kecil pedagang kopi dan hingar binger Lelang Kopi di negeri Belanda.

Fragmen sosial yang ditampilkan kisah percintaan Saidjah dan Adinda telah berhasil membuka mata kita bahwa rakyat di masa itu adalah korban eksploitasi dan kekejaman, sapi perahan, baik itu sistem kolonial maupun ketamakan serta sifat korup pembesar-pembesar bumi putera. Kritik dan laporan tentang kesewenangan Bupati melalui saluran birokrasi kolonial menemui jalan buntu, bahkan akhirnya sang Residen disingkirkan dari jabatannya karena dipandang tidak loyal dan patuh pada keputusan atasan.

Bagi saya, buku ini telah merobohkan sendi-sendi legitimasi moral Belanda dalam mengkolonisasi wilayah jajahannya yang diberi nama Hindia Belanda. Bagaimana tidak, mereka menganggap diri bangsa yang tercerahkan. Hal ini berangkat dari prosesualisasi sejarah Eropa yang memasuki era modern. Meski begitu, tagline di atas berbanding terbalik dengan pensikapan mereka terhadap penduduk Hindia-Belanda yang eksploitatif sekaligus diskriminatif.. Jejak primitif Eropa era Kegelapan masih merupakan penyakit mental yang serius.

Pada masa yang berbeda, Tetralogi Pulau Buru merupakan buku wajib bagi kaum intelektual pembangkang di era Orde Baru. Barangkali hal yang membuat buku ini menjadi bacaan wajib para pembangkang karena kemampuannya memotret dengan tajam ketidakadilan sosial di dalam cengkeraman kuasa kolonial dan kapitalis perkebunan. Di era Orde Baru, kolonial dan kapitalis tidak lagi berkulit putih dengan ciri kaukasian, melainkan melayu cokelat. Di sisi lain, karena cara pandang roman yang dianggap progresif dalam memberikan makna pada proses panjang pembentukan sebuah bangsa. [T]

Tags: BukuPramudya Ananta Toerresensi bukusastrasejarah
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

“Ntud Nduk Fun Bike”, Jelajah Jalan Mesra Subak dan Pedesaan di Tabanan

Next Post

Ciri-Ciri Jaman Kali

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Ciri-Ciri Jaman Kali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co