DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan sekadar urusan kebersihan, tetapi gerakan yang digerakkan sepenuhnya oleh generasi muda.
Keramaian Kasanga Festival 2026 mulai terasa sedari pagi di kawasan Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Tenda-tenda kuliner berdiri berderet, pengunjung berlalu-lalang, sementara di sudut-sudut lapangan terlihat deretan tong sampah berwarna kuning dan hijau dengan label yang berbeda.
Di depan tong-tong itu, beberapa pemuda-pemudi mengenakan sarung tangan sibuk memilah plastik, kertas, dan sisa makanan. Mereka tidak sekadar membuang sampah, tetapi memastikan setiap jenis limbah masuk ke tempat yang tepat.

Panitia Kasanga Festival memang menyiapkan sistem pengelolaan sampah khusus selama festival berlangsung pada 6–8 Maret 2026. Sistem ini dirancang untuk memastikan kegiatan besar tersebut tetap ramah lingkungan. Menariknya, seluruh pengelolaan tersebut sepenuhnya melibatkan generasi muda.
Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar, Anak Agung Made Angga Harta Yana mengatakan, pengelolaan sampah menjadi salah satu perhatian utama panitia sejak awal persiapan festival.
“Waste management merupakan salah satu persiapan kami dalam rangka menyambut Kasanga Fest yang keempat. Persiapan kami sangat matang karena tahun ini kegiatan dikelola oleh pemuda dan diselesaikan oleh pemuda,” ujar Angga.
Menurut Angga, sistem yang digunakan bukan muncul begitu saja. Panitia terlebih dahulu mempelajari sistem pengelolaan sampah yang pernah diterapkan dalam Denpasar Festival 2025 (Denfest). Konsep tersebut kemudian diamati, ditiru, dan disesuaikan dengan kebutuhan pelaksanaan Kasanga Festival 2026.
Hasilnya adalah sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur. Setiap jenis sampah dipilah sejak awal, mulai dari organik, anorganik, hingga residu.

Selain menyediakan tempat sampah terpilah di berbagai titik festival, panitia juga menyiapkan inovasi tambahan berupa gerobak edukasi yang berkeliling area festival. Gerobak ini berfungsi untuk memberikan edukasi langsung kepada pengunjung tentang cara memilah sampah yang benar.
“Dalam kesempatan ini kami juga memiliki kelebihan, yaitu nantinya akan ada gerobak keliling untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah,” jelas Angga.
Bagi panitia, edukasi menjadi bagian penting dari pengelolaan sampah. Tidak hanya membersihkan, tetapi juga membangun kesadaran pengunjung agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Dalam praktiknya, sampah yang terkumpul tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Panitia menargetkan agar sampah dari Kasanga Festival 2026 tidak sampai berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.
Sampah organik akan diolah di teba modern yang berada di sekitar Lapangan Puputan Badung. Sementara sampah anorganik disalurkan melalui kerja sama dengan bank sampah agar dapat didaur ulang. Adapun sampah residu akan ditangani oleh Pusat Daur Ulang (PDU) Padangsambian untuk diproses lebih lanjut.

Tidak berhenti sampai di situ, sisa makanan seperti kulit jeruk dan kulit buah juga dimanfaatkan untuk diolah menjadi eco-enzyme. Sementara limbah organik lainnya akan dimanfaatkan sebagai bahan untuk teba vertikal yang tersebar di kawasan Taman Kota Lapangan Puputan Badung. Saat ini terdapat sekitar 20 teba vertikal yang siap digunakan untuk mendukung pengolahan sampah selama festival berlangsung.
Bagi Angga, keterlibatan pemuda menjadi kekuatan utama dari seluruh sistem ini. Ia menegaskan bahwa pengelolaan festival, termasuk pengelolaan sampahnya, benar-benar digagas dan dijalankan oleh generasi muda.
“Ini benar-benar dari pemuda, untuk pemuda, dan diselesaikan oleh pemuda,” tegasnya.
Melalui sistem ini, panitia berharap Kasanga Festival 2026 tidak hanya menjadi ruang kreativitas bagi generasi muda, tetapi juga menjadi contoh bagaimana sebuah festival besar bisa berjalan dengan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:



























