Sebagai penggemar Genesis, kita seperti tak bisa melepaskan ikatan emosional dengan “Firth of Fifth”. Lagu yang dirilis pada 1973 di album Selling England by the Pound ini memang sudah berusia puluhan tahun, tetapi gema progresifnya tetap mengalir di celah-celah ingatan hingga sekarang.
Judulnya merupakan plesetan dari “Firth of Fourth”, sebuah teluk di Skotlandia yang menghadap Laut Utara. Namun bagi saya, “Firth of Fifth” adalah lagu tentang sungai, tentang arus takdir yang mengalir dari sumber hingga muara, tentang perjalanan hidup yang berulang pada jalurnya sendiri. Air sungai itu seperti kawanan domba dalam kandang: jiwa-jiwa manusia yang patuh pada nasib, tak berdaya meski berkali-kali melihat celah untuk pergi.
The path is clear, though no eyes can see /
The course laid down long before /
The sheep remain inside their pen /
Though many times they’ve seen the way to leave
Keindahan lagu ini bukan hanya pada liriknya, tetapi juga pada musiknya yang bagai sungai mimpi, mengalun, menderas, lalu pecah menjadi arus yang menegangkan. Banyak yang menganggapnya sebagai puncak rock progresif Genesis pada era Peter Gabriel, Tony Banks, Phil Collins, Steve Hackett, dan Mike Rutherford.
Intro piano Tony Banks memunculkan kesan mata air yang merembes, lalu jatuh menjadi aliran kecil. Ritmenya ritmis dan klasik, seperti gemerlap air di antara bebatuan. Pada titik tertentu arus itu membesar dan menciptakan pusaran, dan di sanalah vokal Peter Gabriel masuk, membawa kita pada lanskap sungai yang menjadi gambaran tema lagu.
Sungai itu terus bergerak menuju hilir, megah, dingin, dan penuh refleksi, bagaikan penunggang kuda yang melewati perkampungan sambil membawa bayangan-bayangan tentang hidup dan mati:
He rides majestic, past homes of men /
To see reflected there, the trees, the sky, the lily fair /
The scene of death is lying just below…
Bait-bait berikutnya menambah kedalaman: kata “undinal”, “gunung yang menghalangi pandangan”, “kanker yang harus diangkat”, hingga “madrigal”. Semua ini seperti penanda bahwa manusia dalam lagu ini sedang terperangkap dalam tembok nilai komunal yang sempit, terputus dari cakrawala spiritualnya. Mereka hidup seperti Undine, roh air yang berjalan sebagai manusia tanpa jiwa, hingga harus “dibersihkan” agar tak menjadi konformis selamanya.
Namun pusat emosi lagu ini jelas berada pada instrumentalnya yang megah. Deretan akord kompleks dan ritme yang rapi membawa kita memasuki lanskap musikal yang semakin luas, sementara solo seruling Peter Gabriel dan gitar Steve Hackett menghidupkan energi sungai: bergerak, mengalir, lalu mengantar kita ke muara jauh di ujung pulau.
The sheep remain inside their pen /
Until the shepherd leads his flock away /
The sands of time were eroded by /
The river of constant change
Di sinilah puncak “Firth of Fifth”: sebagaimana sungai tak mampu menolak muara, jiwa manusia pun terseret dalam waktu dan perubahan. Lagu ini menjadi renungan eksistensial tentang rapuhnya jiwa menghadapi arus kehidupan, tentang ketidakberdayaan yang menggambarkan keterbatasan kita sebagai manusia. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























