Di Kesiman, Denpasar, Bali, Indonesia, perayaan Kuningan merupakan upacara dengan upakara (perlengkapan dan peralatan berupacara yang paling, ribet dan heboh, bagi umat Hindu di Bali, khususnya para perempuan Bali.
Ada sarana berupacara yang disebut “celanggi” sebuah wadah berbentuk lingkaran terbuat dari daun nangka atau janur, rontar dll yang di dalamnya berisikan nasi kuning dengan aneka sayur tauge, kacang panjang, terong, rumput laut, kacang saur, dan aneka lauk dari binatang laut. Berisi irisan daging kelapa sebagai taring/gigi, serutan kelapa berbentuk bulat sebagai mulut, berbentuk segitiga sebagai hidung, daun intaran/mimba sebagai alis dan dua kacang hitam (botor) sebagai mata.
“Celanggi” dengan ‘canang’ merupakan salah satu persembahan khas Kuningan. “Celanggi” dalam bentuk yang lebih besar disebut “tebog'” biasanya dihatirkan bersama “sodan”. Pada persembahan yang lebih besar inilah biasanya ditancapkan wayang yang terbuat dari buah pepaya muda, sebagai simbol “leluhur”. Salah satu dari ” sodan'” yang dihaturkan berupa banten “sambutan” serupa pejati dan prayascita, yang berisikan ‘sampian: rangkain janur berbentuk padma dan genta. Banten inilah yang inilah yang kemudian “ditatab” (dipersembahkan) kepada anak yang giginya belum tanggal, sebagai simbol rasa syukur keluarga dalam menyambut kehadiran leluhur yang menitis dalam diri si anak.
Leluhur
Seorang manusia, dalam kepercayaan leluhur Hindu Bali adalah adalah salah satu percikan Tuhan yang bertubuh fisik, yang hidup di dunia, bersama dengan binatang dan pohon. Semua yang hidup di dunia adalah wayang, bayang-bayang dan kemahakuasaan Tuhan, juga leluhur manusia, yang pernah hidup, dan kita menjadi bayang, serupa wayang.
Nasi warna kuning adalah simbul kemakmuran, seperti hslnya warna emas sebagai esensi pertiwi/tanah, sebagai puncak pengetahuan leluhur ketika hidup di bumi.
Etnografi Semesta Bali
Dari perayaan Kuningan yang terkesan heboh dan ribet, tersimpan banyak pengetahuan leluhur tentang bentuk, fungsi, esensi dan energi unsur alam, serta etnografi tanaman dan binatang, yang hidup di tanah, air Bali.
Saat Kuningan, juga dipersembahkan sebuah wadah dari daun kelapa yang disebut ‘endongan’ berbentuk segi embat, berisikan aneka hasil bumi, pisang, tebu, jajan, beras, benang, daun timbul, cemara, beringin, wimba dan pakis. Sisi luar dari “endongan” sebagai bumi, dibingkai oleh ulatan janur yang berbentuk seperti ular. Dan berjajar dengan “Endongan'” juga dipersembahkan rangkain janur berbentuk cakra yang disebut tamiang, dan berbentuk trisula yang disebut ter.
Tebog berbentuk segi empat adalah simbol tanah dan air dengan segala yang hidup di dalamnya, dua ular yang membingkai adalah simbol kendalinya (energi proton dan elektron yang saling tarik menarik menuju keseimbangan), padma adalah simbol cinta kasih, genta adalah simbol getaran yang membentuk frekwensi cakra adalah simbul waktu dan putaran waktu, trisula adalah simbol kesatuan sabda bayu idep (pikiran kata-kata dan perbuatan).
Membumi
Pada perayaan Kuningan ada pelajaran tentang etnografi isi bumi, tanaman perintis (pakis), penyimpan air (beringin), penghasil energi (timbul), penetralisir petir (cemara), berfungsi obat/pestisida (intaran/mimba), daun nangka, dan janur. Juga kacang-kacangan, rumput laut dan binatang laut yang sangat berguna bagi kesehatan.
Leluhur Bali memang telah lama pergi, tetapi telah meningggalkan pengetahuan luas tak bertepi, yang harus dicari dipelajari, dipahami dan dimengerti, agar hidup lebih membumi.
Rahajeng Nyanggra Kuningan. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole


























