DEWA HYANG
tak pandai aku merapal mantra
tak mampu aku menghapal nama-Mu
saat hina dalam diri
tak bisa lenyap
bahkan dengan riuh-rendah parisudha
maka di sudut merajan
pada wangi bunga dan harum dupa
aku memohon
selengkap doa tak hilang jalan
agar lapang langkah menuju pintu-Mu
melesat
melesatlah dari surga loka
bersama angin, Meme Bapa
turun
turunlah sebelum malam tiba
beribu rindu karang tua
menunggumu pulang
berkali sudah
tirta membasuh mataku
mengurai batu ragu dan serbuk debu
di longsoran
dan aku tak berhenti
menatap-Mu dalam diam
AKU INGIN BERSULANG
telah kusajikan
pahit manis sebotol tuak
kusadap dari enau
yang Kau tanam
beratus ribu tahun lalu
kuracik dari niat bersih
dan serabut kelapa terpilih
kurajang di atas tungku api-Mu
aku ingin bersulang
di sela dingin malam ini
mereguk tenang kata-kata-Mu
seperti pada musim yang lalu
saat aku tak sanggup lagi
menawar racun diri
tuang
tuanglah secukupnya
meski malam mabuk di pagi hari
tapi kita harus tetap tegak tanpa lupa diri
biar tersingkap rahasia hidupmu
yang kusimpan rapat-rapat
di dasar botol di sela ampas paling bawah
di balik tiang balai sakapat
tuang
ini tuak tinggal secangkir
ini tuak sajian terakhir
setengah untukku
setengah untukmu
tuak terakhir
seperti setetes hidupmu
yang kau perjuangkan
dan kita rayakan pada perjumpaan
yang singkat ini
sebelum kau mengantarku kembali
menuju rumah abadi
DOA YANG TERKABUL
lenguh godel muani
teduh di rimbun daun
doa-doa yang terkabul
setelah kelahiran yang tak terhitung
suci tubuhmu
tak lagi dikoyak amuk glanggang
tajam
pikiran yang menghunjam
SAMPAI KAPAN
sampai kapan merah darah
berceceran di tanah Pangaturan?
sampai tanah
tak lagi tampak jejak langkah
mengapa sembah tanah
harus dengan amis darah?
sebab tanah
rumah yang paling lapang
saat jiwa
harus kembali pulang
MENAPAK JEJAK
katamu
kita hanya menapak terang jejak
mengapa pada suatu langkah
aku sempat tersesat pada semak-semak?
semak belukar itu
hatimu yang ragu
di persimpangan jalan purba
jalan menuju sunia loka
kini kau telah sampai di altar Pangaturan
maka cakupkanlah kedua tangan
biar warna-warni sekar
tumbuh mekar di hati yang belukar
sebab kaki harus kau langkahkan lagi
menapak jejak Ki Dukuh Selulung
merawat napas
yang menyembul di balik daun-daun
juga setiap tetes hidup
di atas tanah Dalem Cantel
menyembur dari celah tebing batu
darah di tubuhmu
Glosarium:
*balai sakapat: bangunan dengan empat tiang penyangga tempat berkumpul dan bersantai keluarga
*glanggang: senjata tombak dari bambu
*godel muani: sapi muda jantan
*longsoran: tempat roh leluhur disetanakan setelah dimohon (katunas)
*meme bapa: orang tua
Penulis: Komang Sujana
Editor: Made Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























