SETELAH absen pada 2024 karena gelaran Pemilu, festival kreatif terbesar di Bali ini kembali hadir dengan energi baru. Selama empat hari penuh, dari 24 hingga 27 Juli 2025, PICA Fest akan mengguncang dengan pertunjukan musik, festival clothing, kolaborasi lintas komunitas, budaya tradisional, dan gerakan peduli lingkungan.
Sejak digagas pertama kali pada 2014 oleh sekelompok anak muda industri clothing, PICA Fest lahir dengan mimpi besar: membangun ruang kolaborasi yang mampu mendorong geliat industri kreatif lokal. Dari awal sampai sekarang, Kota Denpasar tetap dipilih sebagai pusat pergerakan.
“Memilih kota Denpasar sebagai titik pusatnya, waktu itu rasanya memang sedikit pesimis untuk memulai sebuah event yang mengkolaborasikan banyak komunitas selain clothing,” kenang Ida Bagus Agung Brahmadiguna, atau akrab disapa Gus Tolet, selaku CEO PICA Fest saat konferensi pers di NEXX Cafe Denpasar pada Kamis, 17 Juli 2025.
“Walaupun ada banyak keraguan, dengan modal kerja keras dan kolaborasi yang solid dari berbagai komunitas yang terlibat, pada akhirnya kami berhasil menggelar PICA Fest yang ke-9 tahun ini, dan menjadi salah satu agenda Provinsi Bali berskala nasional dengan jumlah pengunjung yang selalu meningkat setiap tahunnya,” tambahnya.
Setelah berjalan konsisten hingga 2019, festival ini sempat vakum dua tahun akibat pandemi. PICA Fest kembali hadir di 2022 dan 2023, kemudian rehat sejenak pada 2024 karena pertimbangan situasi politik nasional. Kini, PICA Fest 2025 kembali menyapa dengan konsep festival yang lebih ramai dan lebih ramah.
Lebih dari seratus pengisi acara dipastikan tampil. Nama-nama besar seperti Hindia, Feast, Tipe-X, Tuantigabelas x Westwew, For Revenge x Stereowall, Stand Here Alone, Yura Yunita, Ahmad Abdul, Superman Is Dead, The Adams, Kangen Band, dan puluhan musisi lokal Bali siap memberi penampilan terbaik.
Tahun ini, semangat pelestarian budaya lokal turut disajikan. “Untuk pertama kalinya, elemen-elemen tradisional seperti Genjek, Liku, Rindik, hingga Joged Bumbung akan menjadi bagian dari rangkaian program festival, menghadirkan warna baru yang memperkaya pengalaman pengunjung,” ujar Gus Tolet.
Kolaborasi tetap menjadi napas utama. Tak hanya komunitas clothing, PICA Fest juga menggandeng komunitas tato, komunitas lari, e-sport, otomotif, serta UMKM Bali di sektor kuliner. Festival arak bertajuk Arakultura, hasil kerja sama dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, juga kembali digelar. Sebuah ruang perayaan bagi kekayaan rasa dan kearifan lokal.
Selain itu, PICA Fest 2025 juga meluncurkan PICA Waste Department, sebuah inisiatif pengelolaan sampah mandiri yang bekerja sama dengan Bersih-Bersih Bali, PPLH Bali, Yayasan Tegeh Sari, ACS Bali, Pesona Plastik, dan Daur Ulang.
“Di tengah perjuangan pemerintah dalam pengelolaan sampah, PICA Fest ingin hadir sebagai event yang bisa mengelola sampahnya secara mandiri. Semoga gerakan ini bisa menjadi solusi dan percontohan untuk event lainnya agar lebih peduli dengan sampah yang dihasilkan saat menggelar sebuah acara,” ujar Gde Andika Paramarta, selaku Ketua Panitia PICA Fest 2025.
Dengan semangat, kolaborasi, dan kesadaran baru, PICA Fest 2025 tak sekadar hadir sebagai ajang hiburan. Tapi menjelma sebagai simbol ekosistem kreatif Bali yang terus bergerak maju, berakar pada budaya, terbuka pada inovasi, dan peduli lingkungan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:




























