Sudah menjadi tradisi, setiap kegiatan Badan Pimpinan Daerah Indonesian Housekeepers Association (BPD IHKA) Bali selalu diisi dengan pameran perlengkapan hotel atau berbagai alat yang membantu seorang housekeeper dalam melaksanakan tugasnya. Jika sebelumnya pameran itu biasa dikaitkan dengan Making Bed Competition, namun kali ini dipadu dengan konferensi, beryajuk “International Housekeeper’s Conference & Exhibition” yang telah berlangsung di Discovery Kartika Plaza Hotel, Jumat 27 Juni 2025.
Setelah melakukan regestrasi, para peserta kemudian memasuki ballroom yang melwati pameran itu. Pameran yang menyajikan berbagai perlengkapan hotel dengan menampilkan berbagai macam produk dan layanan yang dibutuhkan oleh industri perhotelan. Mulai dari perabotan kamar, peralatan dapur, perlengkapan kamar mandi, perlengkapan kebersihan, linen, dekorasi, dan teknologi informasi yang terkait dengan operasional hotel.
Pameran ini juga menampilkan inovasi terbaru dalam industri perhotelan, seperti sistem reservasi online, teknologi hemat energi, dan solusi berkelanjutan untuk operasional hotel. Namun, yang paling banyak mendapat perhatian pengunjung, ketika menyaksikan robot-robot yang dipakai untuk membersihkan ruangan dan lainnya. Namun, produk paling banyak adalah bed, meja hias dan linen yang diperlukan hotel. Pameran ini didukung sebanyak 45 vendor yang melaksakan pameran bersama di pintu masuk menuju ballroom.
Acara konferensi ini diawali dengan sambutan Wakil Menteri (Wamen) Pariwisata RI Ni Luh Puspa yang menyebutkan, housekeeping memang berada di area belakang, tetapi mereka itulah menentukan experience yang dirasakan oleh para wisatawan ketika tiba di hotel. Housekeeping yang menentukan apakah wisatawan itu akan repeat order di hotel itu kembali. “Waktu lulus SMA, saya pernah bekerja di hotel di bagian housekeeping. Memang itu tak terlalu lama, tetapi saya menyadari betapa pentingnya posisi saya untuk menjaga kenyamanan wisatawan ketika tamu menginap di hotel,” bebernya.

Housekeeper bukan hanya bicara soal menjaga kebersihan, tetapi menjaga seluruh ekosistem yang ada di hotel. Ia kemudian mengapresiasi acara konferensi yang mengangkat tema “Reducing Waste, Stress, The Power of Emotional Intelligent”. “Tema ini sangat menarik, dan jarang sekali kita duduk bersama berbicara soal IA ini. Saya sangat menyukai tema hari ini,” sebutnya. Housekeeper bukan hanya bicara soal menjaga kebersihan, tetapi menjaga seluruh ekosistem yang ada di hotel,” terangnya.
“Tema ini selaras dengan program Kementrian Pariwisata Republik Indonesia. Ibu Menteri Pariwisata titip salam kepada bapak ibu semua. Ibu Menteri sangat konsen sekali dengan hospitality terkait dengan experience wisatawan juga tentang kebersiahan,” imbuhnya.
Dulu, di jaman Covid-19, Menteri Sandiaga Uno bersama Ibu Wamen Angela Herliani Tanoesoedibjo membuat standar CHSE: Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environmental Sustainability (Kelestarian Lingkungan). Melalui pedoman ini, maka diharapkan kepada pelaku industri perhotelan termasuk housekeeper dapat didorong untuk menerapkan prinsip 3R, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang).

Selain 3R, tentu juga episiensi dengan penggunaan air, listrik juga bahan kimia pembersih. Kemenpar mengembangkan pada pelatihan yang tidak hanya fokos pada teknis, tetapi juga pada penguatan soup skill, termasuk tentang kecerdasan emosional sesuai tema kegiatan ini. “Saya juga mengapresai Pemerintah Provinsi Bali yang konsen luar biasa terhadap masalah sampah. Gubernur Bali berkali-kali berbicara masalah sampah, dan ini memang hal yang serius saat ini. Maka, kita harap semua memiliki konsep yang sama,” ungkapnya.
Sementara Ketua BPD IHKA Bali, I Gede Cahyadi Putra mengatakan, pihaknya sempat pesimis untuk melaksanakan konferensei dan pameran ini, karena pariwisata sempat tak baik di awal tahun 2025. Setelah disupport rekan-rekannya, akhirnya dapat melaksanakan acara ini dengan lancar. “Kami melihat pekerja hotel di awal tahun 2025 itu memiliki beban mental naik-turun. Itu karena mereka dihadapkan dengan situasi tantangan pariwisata yang luar biasa,” papar pria yang akrab disapa Cadi ini polos.
Cadi mengaku pertamanya mengangkat tema “The International Intelligent”, tetapi setelah ada surat edaran dari Pemrpov Bali terkait penggunaan sampah plastik botol, maka member mangajukan untuk mengadakan forum mengenai cara memilah limbah yang ada di hotel ini.

Pada bagian akhir konferensi ini juga menghadirkan seorang dokter hypnotherapy yang sudah malang melintang, sehingga para peserta yang datang beban mental mereka dirilis dari ruangan ini, dan mereka bisa fresh kembali, dan keluar siap menghadapi tantangan. “Jujur, Bali saat ini tidak baik-baik saja karena sampah belum terurus dengan baik, kemacetan semakin parah, dan belakangan muncul kasus kriminalitas yang semakin meningkat. Mestinya sudah ada solusi agar masalah tidak terjadi di Bali,” ucapnya.
Cadi mengatakan, beberapa wisatawan telah menyampaikan keluhaannya. Mereka sudah membayar kalau tidak salah sebesar Rp150.000, namun para tamu menanyakan kenapa pantai masih tampak kotor, dan di area masih banyak sampah yang tidak terurus dengan baik. “Jika masalah itu masih ada, bagaimana mewujudkan sustainability tourism. Maka peran semua pihak harus peduli. Peran pemerintah harus segera mengambil action kedepan, sehingga ini tidak menjadi masalah,” harapnya.

Sedangkan, Humas Koordinator IHKA Bali, Roma Pujawan memaparkan, acara ini dihadiri sebanyak 510 peserta, diantaranya lebih dari 300 peserta dari kalangan hotel, dan didukung 45 vendor. Lalu, masalah peserta, awalnya pihaknya pesimis, ternyata bisa melampaui target. Kegiata ini, dihadiri pula oleh delegasi Asean, seperti Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia untuk sharing dalam menangani masalah di masing-masing unit hotel mereka. Sementara dari luar daerah, diantaranya Jatim, Yogya, Jakarta, Jateng, dan NTB yang selalu hadir.
Roma mengatakan, tantangan Bali di 2025 ini adalah kemacetan, sampah dan ketika hujan muncul banjir. Sebagai insan pariwisata professional, maka seluruh member IHKA Bali tetap melakukan inovasi agar selalu menjaga kualitas sajian kebersihan dan kenyamanan tamu,” imbuhnya. “Jujur, kami merasa bangganya atas berhasilan acara dipersiapkan bersama team. “Kami sempat sedikit pesimis dengan kehadiran member, namun karena topik yang disajikan begitu menarik dan sesuai degan arahan pemerintah, member malah membludak,” ujar Roma sembari mengatakan pada 23 Juni kemarin, BPD IHKA Bali merayakan HUT ke 28. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























