6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Proses Kreatif I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra: Relasi Kuasa Tubuh dan Pendekatan Tubuh Terhadap Peristiwa

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
September 19, 2022
in Persona
Proses Kreatif I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra: Relasi Kuasa Tubuh dan Pendekatan Tubuh Terhadap Peristiwa

Saya berjanji pada I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra untuk ngobrol kurang lebih 30 menit, tapi pada 22 juli 2022 itu, ternyata Gus Bang, begitu ia biasa disapa, justru menawarkan obrolan yang menarik untuk saya simak dan tampaknya ia tak keberatan, dan jadilah obrolan kami berlanjut kurang lebih selama satu jam.

Kami duduk ngemper di sisi kanan ruang Gedung Wisata Mandala di depan Pura Samuan Tiga—yang pada saat itu, beberapa peserta Temu Seni Tari Indonesia Bertutur 2022 masih berlatih, sesungguhnya Gus Bang termasuk salah satu peserta yang berlatih itu. Suasana cukup riuh, tapi kami tetap asik selama obrolan berlangsung.

Dosen Jurusan Seni Tari di ISI Denpasar ini terlahir pada keluarga yang memang merupakan pelaku seni. Sang kakek merupakan seniman topeng yang juga pembuat bade dan lembu, begitu pula kedua orang tuanya yang sama-sama merupakan penari tradisi.

Hal itulah yang membuatnya secara tidak langsung menjadi tertarik dan menekuni kesenian tari, khususnya tari tradisi. Ia mulai aktif belajar tari Bali sedari kecil di Sanggar Lokananta, lalu berlanjut proses sampai pada pendidikan S1 dan S2 di ISI Yogyakarta.

I Putu Bagus Bang Sada Graha dalam Sesi Sharing Method di Pura Gunung Kawi

Dalam proses belajarnya di ISI Yogyakarta, ia menjelaskan bahwa secara sadar memang menyelami ranah tari kontemporer dan menjadikannya mulai mengenal gagasan-gagasan terkait hal-hal yang ada di sekitarnya, pun tentang wacana kontemporer dan isu yang tengah berkembang.

Tari kontemporer memiliki begitu banyak potensi untuk diselami, misalnya bagaimana tubuh mengeksplorasi banyak hal tanpa harus terikat oleh pakem. Selain itu, wawasan, gagasan, dan narasi yang hadir pun dirasakan memiliki bentangan yang jauh lebih luas, dan akhirnya bisa mengantarkannya bertemu banyak orang yang walau memiliki disiplin yang berbeda, namun selalu bisa memberikan perspektif baru.

Barangkali, kebiasaan yang membesarkannya melekat begitu kuat dalam diri Gus Bang. Nyatanya, sumber-sumber gagasan yang menginspirasinya ternyata lebih banyak datang dari tempat kelahirannya. Ia menyebutkan bagaimana tradisi yang ada dan juga dampak pariwisata untuk ekologi Bali menjadi satu isu yang sedang menarik perhatiannya. Isu tersebut ia gali untuk menjadi satu gagasan, dan ide sebagai dasar dalam berkarya.

I Putu Bagus Bang Sada Graha (kiri) dan Ayu Anantha Putri (kanan) dalam sesi Sharing Method

 “Di awal berproses, aku punya ketertarikan terhadap upacara ngaben di Bali,” kata Gus Bang. Tampaknya Gus Bang merasa perlu untuk menjelaskan lebih banyak hal, sehingga tanpa saya lontarkan pertanyaan lain, ia seolah sudah menebak rasa penasaran saya tentang keterkaitan tradisi Bali terhadap penggarapan karyanya.

Upacara kematian di Bali ia katakan sebagai sebuah perayaan yang begitu megah, baik dilihat dari banyaknya orang yang turut hadir, termasuk banten yang tidak sederhana. Dari upacara tersebut, ia menemukan satu hal yang menarik perhatiannya, yaitu “relasi kuasa tubuh”. Isu ini terkait dengan bagaimana orang lain bisa mengambil alih tubuh yang lain, dengan di baliknya diadakan narasi-narasi keagaaman.

Contohnya pada upacara ngaben —atau barangkali juga terjadi pada upacara kematian di seluruh Indonesia: tentang bagaimana tata cara tubuh manusia (tubuh aktif) memperlakukan tubuh jenasah (tubuh pasif) seolah-olah memiliki haknya atas tubuh pasif tersebut. Misal, pada prosesi upacara ngaben di Bali yang dimulai dari nyiramang sampai dengan  mayasin. “Ada tubuh-tubuh lain yang berkuasa atas tubuh kita sendiri,” simpul Gus Bang.

Ada pun isu lain yang masih terkait dengan isu Relasi Kuasa Tubuh ini adalah karyanya pada tahun 2021, yaitu tentang keberadaan anjing Bang Bungkem.

Di Bali, anjing jenis ini adalah jenis anjing yang selalu dijadikan sarana upacara Guru Rsi Gana. Anjing yang memiliki dominasi bulu berwarna merah dengan moncong mulut, ekor, dan juga telapak kaki berwarna hitam ini, dipercaya oleh masyarakat Bali sebagai jenis anjing yang tidak bisa tergantikan keberadaannya sebagai Caru dalam pelaksanaan upacara. Hal ini dikarenakan adanya kepercayaan tentang bagaimana anjing jenis Bang Bungkem tersebut memiliki kekuatan alam untuk menetralisir pekarangan yang dianggap kotor.

I Putu Bagus Bang Sada Graha dan peserta Temu Seni Tari lainnya presentasi hasil workshop kecak di Teges Kanginan, Ubud

Bila ditarik ulur pada waktu dekat ini, Gus Bang juga memiliki simpati terhadap kasus rabies yang tengah beredar di masyarakat. Populasi anjing di Bali yang cukup banyak, pada akhirnya juga membuat banyak anjing liar dibunuh karena adanya ketakutan dan semacamnya.

Begitulah pada akhirnya Ia menyadari keberadaan Isu Relasi Kuasa Tubuh memang ada, tidak hanya hubungan antara manusia dengan manusia, namun dalam hubungan hewan dan manusia juga terjadi hal serupa.

Kesempatan ngobrol di tengah-tengah kegiatan yang diadakan Kemendikbud ini berlangsung, saya tentunya tidak lupa menanyakan tentang metode yang biasa ia gunakan dalam proses berkaryarnya. Seperti seniman lainnya, Gus Bang juga tidak pelit ilmu sama sekali.

Ia bercerita banyak hal terkait metode ketubuhan yang sering ia terapkan. Inti sari yang saya tangkap adalah, tentang bagaimana mendekatkan tubuh terhadap peristiwa yang ingin dihadirkan.

I Putu Bagus Bang Sada Graha (kiri) dan Razan Wirjosandjojo (kanan) dalam pertunjukan tari di Teges Kanginan, Ubud

Metode yang ia pilih tidak melulu tentang latihan gerak, namun juga berusaha memberikan memori-memori ketubuhan. Semacam melatih tubuh di dalam air: berlari, kemudian bagaimana tubuh  merespon tekanan yang datang. Latihan lainnya, ia pun sempat mengamati keadaan pasar yang di mana banyak orang berlalu lalang, bau yang beragam, dan segala aktivitas yang terjadi dalam waktu yang bersamaan, memberikan suatu gambaran bagaimana keadaan chaos itu terjadi dalam suatu waktu.

Latihan dengan metode semacam itu pada akhirnya menjadikan tubuh memiliki memori peristiwa dengan merekam kejadian yang ada, yang nantinya  juga secara tidak langsung akan mampu merespon hal-hal yang terendap dalam memori ketubuhannya.

Pengalaman gerak tubuh inilah yang kemudian menjadi memori-memori yang sewaktu-waktu bisa hadir tanpa disadari. Seperti pada pengalamannya dalam menarikan tari-tari tradisi dari daerah lain, ternyata memori ketubuhan yang masih melekat kuat adalah napas-napas gerak tari Bali yang memang kerap hadir di setiap gerak-gerak yang dilakukan.

Bila bicara kembali tentang tari Bali, ketika sesi sharing methode, Gus Bang tergelitik oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh Razan, salah seorang peserta asal Solo, sewaktu kegiatan napak tilas di Pura Gunung Kawi. Kenapa candi ini hanya terlihat pada sudut pandang 2 dimensi saja? Pertanyaan tersebut pada akhirnya memberikan kesadaran terhadap Gus Bang tentang tari-trai tradisi Bali, yang tidak jarang hanya menampilkan bagian depan tubuh saja. Bagian-bagian tubuh lain sebenarnya ada, namun tak tampak oleh mata penonton.

Hal tersebut membangkitkan ketertarikan untuk mempertanyakan kembali tentang pemahaman dimensi dalam tubuh manusia. Pendekatan dimensi memberikan sebuah pemahaman dan kesadaran bahwa sebanarnya ada hal-hal yang tak tampak, namun melekat di diri kita masing-masing.

Hal yang tak tampak ini tentu bisa dilihat dari perspektif lain seperti, kesejarahan, kehiduapn soisial, agama dan politik, yang pada akhirnya mengkontruksi tubuh sebagai manusia. Hal-hal yang tidak terlihat tersebutlah yang  membentuk tubuh kita secara sadar dan tidak sadar.

Berangkat dari hal tersebut, pada kesempatannya melakukan pementasan kolaborasi bersama Razan di area luar Pura Khayangan Tiga, Desa Teges, Ubud, Bli, Gus Bang mencoba menawarkan gagasan terkait hal-hal yang tidak tampak dalam diri atau yang lebih mengkhususnya pada diri penari.

Contoh sederhana tentang hal yang tak tampak adalah bagaimana mata penonton hanya bisa melihat apa yang diperlihatkan oleh penari di atas panggung, di baliknya tentu ada proses yang sebenarnya lebih menarik untuk diketahui namun hal itulah yang tidak terlihat di sana.

Tak terhitung sudah berapa kali saya mengangguk-anggukan kepala karena merasa menemukan kesadaran yang  lama tak saya sadari, tentang bagaimana tubuh kita terbentuk oleh sesuatu yang nampak dan tak nampak dari penglihatan orang lain. Begitupun ketika kita menilai orang lain dengan tanpa mengetahui orang tersebut secara lebih jauh. Barangkali saya tidak menatap orang itu dengan dimensi yang lebih luas.

I Putu Bagus Bang Sada Graha dalam pertunjukan tari di Mandala Wisata, Desa Bedulu

Di penghujung obrolan, saya akhirnya menanyakan tentang apa yang ingin dicapai dalam waktu dekat atau panjang ini. Ayah dari seorang putri yang baru berusia 6 bulan ini menjelaskan tentang salah satu cita-citanya. Ia ingin membuat sebuah ruang: art space, yang bisa memberikan sebuah ruang diskusi dan saling menginspirasi dengan menggodok ide dari banyak seniman yang ada di Bali. Hal ini juga didasari oleh kurang banyaknya ruang fleksibel (dibandingkan dengan ruang tradisi) yang ada bagi para seniman, terkhusus seniman tari.

Sementara dalam waktu dekat ini, penari asal Singapadu, kecamatan Sukawati, Gianyar ini sedang fokus dalam garapan karya yang mengusung isu ekologi Bali sebagai salah satu daerah wisata yang cukup terkenal. Perubahan alih fungsi lahan persawahan yang semakin hari semakin dipenuhi oleh industri-industri kecil, juga pemukiman yang tak hanya mendatangkan dampak positif, namun juga banyak dampak negatif.

Isu inilah yang memunculkan sebuah kegelisahan dan kini sedang berusaha ia transformasi dalam bentuk garapan karya yang tengah ia persiapkan dalam rangka pentas di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta, pada 17 Desember 2022.[T]

  • BACA artikel lain tentang Temu Seni Tari Indonesia Bertutur
  • Proses Kreatif Angelina Ayuni Praise: Metode Atas-Bawah, Menyeimbangkan Ketubuhan yang Terbalut Kebudayaan
    Tags: Indonesia Bertuturseni tariTemu Seni Tari
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Gerakan Tanam Jagung di Desa Gadungan: 2 Kali Jagung, 1 Kali Padi

    Next Post

    Beramah Tamah dengan Sekolah Ramah Anak

    Dian Ayu Lestari

    Dian Ayu Lestari

    Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

    Related Posts

    Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

    by Nyoman Budarsana
    February 28, 2026
    0
    Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

    RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

    Read moreDetails

    Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

    by Made Adnyana Ole
    February 28, 2026
    0
    Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

    SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

    Read moreDetails

    Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

    by Nyoman Budarsana
    February 28, 2026
    0
    Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

    ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

    Read moreDetails

    I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

    by Nyoman Budarsana
    February 28, 2026
    0
    I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

    I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

    Read moreDetails

    Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

    by Made Adnyana Ole
    February 27, 2026
    0
    Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

    Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

    Read moreDetails

    Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

    by I Nyoman Darma Putra
    February 26, 2026
    0
    Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

    Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

    Read moreDetails

    Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

    by Angga Wijaya
    February 22, 2026
    0
    Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

    SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

    Read moreDetails

    Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

    by Angga Wijaya
    February 16, 2026
    0
    Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

    DI sebuah pementasan karya guru dan siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati, pada Sabtu...

    Read moreDetails

    Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

    by Dede Putra Wiguna
    January 10, 2026
    0
    Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

    TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu,...

    Read moreDetails

    Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

    by Dede Putra Wiguna
    December 29, 2025
    0
    Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

    BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH.,...

    Read moreDetails
    Next Post
    Beramah Tamah dengan Sekolah Ramah Anak

    Beramah Tamah dengan Sekolah Ramah Anak

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

      Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
    Esai

    Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

    NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

    by Agung Sudarsa
    March 5, 2026
    Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
    Budaya

    Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

    DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

    by Dede Putra Wiguna
    March 5, 2026
    Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
    Esai

    ‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

    SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

    by Ashlikhatul Fuaddah
    March 5, 2026
    Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
    Esai

    Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

    SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

    by I Putu Suiraoka
    March 4, 2026
    Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
    Pemerintahan

    Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

    KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

    by tatkala
    March 4, 2026
    ‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
    Hiburan

    ‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

    Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

    by tatkala
    March 4, 2026
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
    Esai

    Korve, Bersihkan Sampah Republik!

    PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    March 4, 2026
    Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
    Opini

    Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

    PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

    by I Made Pria Dharsana
    March 3, 2026
    Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
    Esai

    Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

    DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

    by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
    March 3, 2026
    Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
    Esai

    Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

    Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

    by Agung Sudarsa
    March 3, 2026
    ’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
    Ulas Musik

    ’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

    Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

    by Ahmad Sihabudin
    March 3, 2026
    Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
    Esai

    Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

    DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

    by Ashlikhatul Fuaddah
    March 2, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co