6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Kini, Teater Mini | “Korban” di Festival Seni Bali Jani

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 5, 2021
in Ulasan
Pohon Kini, Teater Mini | “Korban” di Festival Seni Bali Jani

Pementasan Teater Mini Bali di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Provinsi Bali. [Foto: Lanus Ketut]

Teater Mini……Drama Klasik……Teater Mini……. Drama Klasik….. (dibaca dengan berjeda). Begitulah kiranya saya mengorek informasi yang mengendap di kepala,. Berulang kali saya ucapkan, berulang kali pula saya kebingungan. Sebab saya lahir jauh setelah masa jaya Teater Mini lewat Drama Klasiknya. Saat itu Drama Klasik menjadi tontonan wajib di masa muda ayah dan paman saya, sekitar tahun 1980an.

Makanya saat nonton Pementasan Teater Mini – Drama Klasik berjudul Korban pada Rabu, 3 November 2021, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Provinsi .Bali, saya menyiapkan diri sesadar-sadarnya. seutuh-utuhnya, dengan kesadaran bahwa kelompok teater tersebut, ialah para tetua-tetua yang dulunya berjuang atas nama kesenian modern, pada zamannya.

Beberapa kali nama Teater Mini, sempat terlintas pada obrolan pertemuan dengan penggiat teater. Juga nama ini saya jumpai pada pagelaran PKB, tapi saya  tidak menaruh perhatian terlalu serius waktu itu.

Namun saat Paman saya, seorang koki di sebuah hotel di Sanur menyinggung nama Teater Mini dan sejumlah nomor Drama Klasiknya pada satu pertemuan kami di Banjar. Saya mulai curiga, biasanya wacana teater itu jarang menyentuh orang awam, nah ini Paman saya yang notabene bukan orang seni, kok mengetahui nama teater Mini.

“Saat itu masih TV hitam putih, pada jam dan hari yang sama, Paman dan keluarga pasti menonton Drama Klasik yang mereka mainkan. Itu jadi hiburan utama, dan semua orang menanti kisah kelanjutannya setiap minggu” ujar paman saya.

Ia melanjutkan kisah, yang ia selalu ingat ialah nomor Layon Sari dan Jaya Prana. Semua orang membicarakan kisahnya, di warung kopi, di pasar, di kantor, di banjar dan jadi trending topik jika ia berjumpa teman-temannya. Dengan bekal mitos itulah saya menilik pertunjukan Teater Mini sebagai saksi narasi besar teater modern di Bali.

Pertunjukan Teater Mini Di Bali Jani Festival, mengisahkan tentang marahnya seorang Penghuni Pohon besar, Karena  Raja Chandraloka dan istrinya bersenggama di hutan. Raja Chandraloka yang hendak kembali ke istana  dari perjalanan Anjangsana, terpaksa harus bermalam di sebuah hutan. Nah saat bermalam itulah raja dan permaisurinya bercinta di tengah gelapnya hutan.

Kemarahan sang penghuni pohon, meminta nyawa sang raja sebagai gantinya. Namun para patih dan permaisuri keberatan atas kehendak itu. Akhirnya penghuni hutan meminta ganti nyawa, seorang anak muda dari kaum Brahmana yang ketika dipenggal nanti disaksikan oleh kedua orang tuanya.  Yang memenggalpun haruslah tangan sang Raja.

Bingunglah para patih dan raja mencari jalan keluar, hingga mereka menemukan suatu solusi, yaitu mengadakan sayembara. Siapa anak muda yang tulus ikhlas menyerahkan nyawa dan telah mendapat restu dari kedua orangtuanya. Ia akan mendapatkan hadiah  berupa patung emas berbentuk manusia dewasa, serta tanah yang luasnya 10 desa.

Di sinilah terjadi konflik keluarga dari pemuda bernama Suarnabawa, ketika  ia hendak mendaftarkan diri namun juga harus mendapat restu kedua orang tuanya. Awalnya orang tua tidak mengizinkan, namun setelah mendapatkan penjelasan dari sang anak, bahwa perbuatannya ialah untuk negara serta rasa baktinya kepada kedua orang tua. Alhasil orang tua Suarnabawa pun menyetujui keinginan sang anak.

Usai menonton pertunjukan, saya rindu memainkan naskah-naskah teater realis, dengan takaran emosi serta intonasi khasnya. Sebab pementasan tersebut hampr penuh menggunakan bahasa, dialog, serta paparan-paparan yang panjang dalam menyampaikan gagasan adegan. Metafor yang digunakan juga khas Bali, tidak jauh dari konteks zamannya.

Namun mungkin saja karena terbiasa dengan logika film, perpanjangan teks tersebut belum mampu menyokong logika panggung secara klop dalam waktu  60 menit. Semisal, saya selalu bertanya orang tua yang seperti apa yang mampu melepaskan nyawa anak kandungannya bahkan kejadiannya ia saksikan di depan mata kepalanya sendiri?. Konflik sebenarnya terjadi pada keluarga kecil  tersebut pertimbangan antara keberuntungan dan kebuntungan. Justru silau karena adegan percakapan yang panjang di dalam puri sendiri.

Membicarakan kejanian pementasan Teater Mini, mereka juga menyampaikan visual melalui tubuh, kostum, serta tata lampu yang mumpuni. Visual tubuh ini, saya cermati pada pemain-pemain latar yang bertugas menjadi pohon dan orang-orang desa yang gembira. Jika berkenan mungkin saja penari latar yang berperan sebagai pohon itu dihadirkan melalui hologram, atau video mapping yang mutakhir. Pasti, rasa Jani itu lebih kental hadir di panggung, seperti pementasan  Teater Koma beberapa tahun terakhir yang betul-betul seluruh menggunakan teknologi mapping untuk latar suasana adegannya. Dari sisi kostum, saya melihat “Bali Kini”, yang sering hadir pada pementasan-pementasan drama kolosal waktu PKB dan saat parade ogoh-ogoh pada upacara pengerupukan.

Tapi terlepas dari pernak-pernik “kini” yang saya bicarakan, Teater Mini hadir sebagai ruang nostalgia para penikmatnya. Kalau saya yang sebagai penonton hari ini, justru harus menilik jauh ke belakang waktu untuk mencapai kemungkinan pembacaan berbeda.

Satu pembacaan itu berupa teks pohon besar yang hadir di atas panggung. Jika dikaitkan dengan hari ini, pohon-pohon besar takut ditebang karena memiliki ritus kultus masyarakat tertentu. Bahkan jika ada proyek pembangunan pun, beberapa pohon tidak diberani ditebang karena takut kena bahaya dari penguhinya.

Dulu pohon besar mudah dijumpai, sebut saja di Jalan Veteran dan Gajah Mada – Denpasar , katanya di sana ada banyak pohon asem, besar-besar. Namun buahnya jatuh seringkali membuat pengendara terpeselet – akhirnya ditebang. Karena banyaknya warga Denpasar yang memiliki sepeda motor.

Sekarang beberapa pohon asem dapat dijumpai, terutama yang bersaput poleng. Begitu pula di setra Badung banyak pohon-pohon besar yang tetap tumbuh, gagah, menancap di tanah. Siapa berani menebang pohon di kuburan, yang dianggap sebagai rumah  sementara arwah-arwah yang masih menepi di bumi ini.

Naaaah, pertanyaan dari pembacaan itu, apakah semua pohon harus memiliki penghuni terlebih dahulu, agar kita semua sadar untuk menjaganya ?

Siapa yang harus dikorbankan atau berkorban. Kepentingan siapa yang hendak didahului? [T]

Tags: Festival Seni Bali JaniTeaterTetaer Mini Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harapan Sembuh Penderita Kanker Semakin Besar

Next Post

Menjaga Teater (Modern) di Bali

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Teater (Modern) di Bali

Menjaga Teater (Modern) di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co