24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Kedua Puluh Sembilan di Bulan April

Ida Ayu Wayan Sugiantari by Ida Ayu Wayan Sugiantari
March 8, 2020
in Cerpen
Hari Kedua Puluh Sembilan di Bulan April

Salah satu lukisan dalam pameran seni rupa di Undiksha Singaraja

Cerpen: Ida Ayu Wayan Sugiantari []


Ini hari kedua puluh sembilan di Bulan April, jam di dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Aku memandang lekat foto perempuan setengah baya berukuran 10R di tembok ruang tamuku. Di foto itu ia memakai kebaya berwarna merah marun dengan potongan  sunda.  Rambutnya dipusung seadanya. Itu tatanan rambut terbaiknya, ia selalu menyisir seluruh rambutnya ke belakang; tanpa poni, diikat dengan karet gelang lalu dipusung,  selanjutnya dirapikan dengan dua jepit hitam kecil.

Foto itu diambil beberapa bulan sebelum ia sakit. Pipinya masih penuh, rambutnya hitam tebal, dadanya bidang, tubuhnya juga masih gempal. Tanpa pemulas bibir, penebal alis atau perona pipi  ia tampak sangat cantik. Alisnya dibiarkan tipis, senyumnya juga tipis. Ia memang tak pandai tersenyum, bahkan untuk keperluan mengambil sebuah foto ia tidak bisa memaksakan seulas senyum manis.

Sejak enam tahun lalu, foto ini adalah benda paling istimewa di rumahku. Aku menggantungnya di atas TV tabung berukuran 21 inch kesayanganku. Di ruangan seluas 7,5 meter persegi ini tidak ada sofa atau kursi kayu seperti ruang tamu umumnya,  hanya ada sebidang kasur spon tipis berukuran 120×200 cm  yang kuletakkan tepat di depan TV. Kasur ini sudah tidak empuk, warnanya usang, tetapi seperti TV, aku juga menyayanginya.

Aku menghabiskan banyak waktu terbaik hingga hal terburuk di kasur ini. Bersamanya, aku menikmati beragam acara televisi swasta hingga tertidur sampai pagi, mencumbu tubuhnya, memeluknya, hingga kehilangannya di kasur ini. Ya tepat 6 tahun silam, di hari yang sama aku kehilangan perempuanku, istri yang telah 31 tahun aku nikahi di kasur ini. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di pelukanku, beberapa saat setelah kami menikmati serial TV favoritnya.

Aku menarik nafas dalam, lalu menghelanya berkali-kali. Dadaku masih saja sesak. Mataku penuh oleh air mata. Aku tidak lagi bisa melihat wajah istriku di foto dengan jelas. Aku terisak, tubuhku bergetar hebat. Rasa sedih, rindu, sepi, hampa berkecamuk memenuhi rongga dadaku. Tuhan, aku sangat merindukannya!

Hampir  20  menit aku mematung di depan foto istriku, sampai kudengar suara isak tangis dari bilik kamar tidur putriku. Ah, dia sedang mengenang ibunya. Kehilangan ibu di usia 20 tahun adalah pukulan terberat dalam hidupnya. Suara tangisnya makin keras, aku biarkan, di saat seperti ini hal paling melegakan adalah menangis. Dibatasi dinding kayu, kami menikmati rasa rindu kami masing-masing, rindu pada kekasih, rindu pada ibu.

Pukul  07. 10 Wita, putriku tergopoh keluar dari kamarnya, matanya sembab. Kali ini kaca mata minusnya tak mampu menyembunyikan air mukanya. Ia tak banyak bicara, dengan tergesa ia mengikat rambut sebahunya. Hari ini hari Senin, seharusnya ia sudah berada di sekolah. Biasanya setiap hari Senin, ia akan masuk 15 menit lebih cepat dari biasanya. Bosnya adalah kepala sekolah yang sangat disiplin, jam upacara bendera dimulai pada jam ke nol, tidak bisa ditawar. Siapapun yang terlambat akan berdiri di luar pagar, tanpa kompromi. Sebagai guru kontrak yang baru beberapa bulan bekerja tentu ia tak mau dinilai malas. Paham situasi itu, aku tidak melontarkan banyak sapaan, aku hanya menawarkan bubuh barak yang masih tersisa setengah, yang tentu saja ditolaknya mentah-mentah.

“Pamit, jik.”  Suaranya  sayup-sayup kudengar berlalu bersama suara motor matic-nya yang menderu. Aku kembali menikmati kopi hitamku, juga bubuh barak yang kuhabiskan dengan sendok daun pisang. Seperti umumnya orang di desa, aku selalu merobek sedikit daun pisang pembungkus bubuh untuk kujadikan sendok, aku meyakini ini rasanya jauh lebih nikmat dari memakai sendok berbahan stainless. Aku meneguk kopiku hingga tersisa ampas hitam di dasar gelas. Setahun terakhir aku sudah makin pandai meramu kopi, rasanya semakin mirip dengan buatan almarhumah istriku. Bagiku ini sudah cukup mengganjal perut sampai siang nanti. Aku sudah semakin pandai berkompromi dengan keadaan, jika sebelumnya aku biasa dijamu istri dengan masakan enak, maka saat ini untuk makan siang atau makan malam aku sudah biasa menyantap sepiring nasi berlauk telur goreng, sambel bawang matah, atau mie rebus saja.

Sebenarnya aku tidak hanya tinggal berdua dengan putriku. Ada adik perempuanku yang tinggal tak jauh dari rumahku. Ia lah yang mengambil banyak peran istriku, termasuk mengisi ruang kosong di hati anakku. Adikku adalah perempuan lajang berusia 48 tahun. Di usia sematang itu ia belum pernah menikah dan sepertinya tidak akan menikah. Di geria ini menjadi lajang sampai mati adalah pilihan terhormat untuk seorang Ida Ayu.

Adikku tidak sendiri, ada 9 orang perempuan lain yang tak punya pilihan lain selain melajang di geria ini; bibik kami yang berusia 80 tahun, beberapa sebaya dengannya, dan dua orang ponakan berusia sekitar 40 tahun. Mereka hidup dengan bersahaja. Mereka adalah perempuan sederhana yang tiap pagi pergi ke pasar dengan menggunakan kamen, pergi memasak di dapur, lalu menghabiskan waktu untuk membuat bahan upakara dan kerajinan dari daun lontar. Mereka tidak punya banyak mimpi seperti para perempuan milenial, mereka tidak dipusingkan urusan trend fashion, apalagi perkara politik. Bahagia mereka sederhana, punya cukup uang untuk mempersiapkan hari raya, dan menonton sinetron azab di televisi swasta.

Adikku pandai memasak tetapi tetap kalah  dari istriku. Istriku adalah koki terbaik bagiku. Seluruh isi geria kami juga mengakuinya, untuk banyak acara istriku sering dilibatkan di dapur. Ia juga sangat cekatan, entah dengan kekuatan super macam apa, setiap hari ia bisa menyiapkan beragam jenis lauk di bawah jam 8 pagi. Sudahlah aku tidak mau mengingat itu lebih banyak. Saat ini aku cukup bersyukur, ada adikku yang setiap hari menyiapkan makan untuk putriku, paling tidak anakku tak sepenuhnya kehilangan rasa ibu di rumah. Sementara aku lebih suka menikmati masakanku sendiri, melahapnya di dapur sambil mengenang koki terbaikku.

Aku mengambil potongan-potongan bambu dari gudang, lalu meletakkannya di bawah pohon mangga harum manis di halaman. Di bawah pohon mangga ini adalah tempat paling teduh untuk bekerja. Pohon mangga ini sudah berusia 13 tahun, batangnya kokoh setinggi  6 kaki dengan daun tunggal yang tersebar di seluruh cabang pohon. Di setiap musimnya pohon ini sangat rajin berbuah, buahnya juga sangat manis. Ah ini pohon kebanggaan istriku. Oh, di bawah pohon kebanggaannya tubuh istriku dulu dimandikan sebelum dibawa ke sema. Ah aku tidak mau banyak mengingatnya.

Di bawah pohon ini sebelumnya aku telah menggelar tikar plastik, dan menyiapkan perkakas.  Gergaji, pahat, siku-siku, ketam, palu, paku, sampai batu asahan sudah siap di atas tikar. Hari ini aku mau membuat tong sampah dari bambu. Ini pesanan bapak guru SD 500 meter dari rumahku. Katanya untuk persiapan akreditasi. Tiga hari lalu ia datang membawa 24 pesanan tong sampah. Dia meminta tong sampah ini nanti  dicat  warna, merah, kuning, dan hijau. Warna hijau untuk tong sampah organik, warna kuning untuk tong sampah anorganik, dan merah untuk tong sampah daur ulang. Aku hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan bapak guru itu, bagiku apapun pesanan konsumen tidak jadi masalah asalkan harganya sesuai.

Hanya membuat kerajinan macam ini yang masih bisa kulakukan. Aku sudah tidak lagi bisa mengambil pekerjaan yang berat seperti dulu. Aku tak lagi mengambil borongan membangun rumah, membuat bale banjar, atau membuat sanggah. Bukan hanya karena faktor usia, tapi juga beberapa penyakit yang membuatku semakin lemah. 3 tahun lalu aku menjalani operasi glaukoma di mata kiri dan operasi kornea dan katarak di mata kanan. Glaukoma  yang kuderita disebabkan oleh kerusakan saraf mata karena meningkatnya tekanan pada bola mata. Hal ini terjadi akibat gangguan pada sistem aliran cairan mata.

Awalnya aku sering merasakan gejala penglihatan kabur, nyeri pada mata, hingga sakit kepala. Setelah operasi aku merasa cukup baik  namun tetap tidak bisa melihat sejelas dahulu. Bahkan beberapa bulan terakhir mataku kembali parah. Kata dokter spesialis mata yang kukunjungi untuk kontrol setiap bulan, aku harus segera menjalani operasi kembali, jika tidak aku bisa terancam buta.

Saat itu di ruang periksa yang dingin, seorang dokter spesialis mata senior memeriksa mataku dengan seksama. Kalimatnya sangat lembut, “ Bapak harus segera operasi, nggih. Nanti akan dibuatkan jadwal.” Kakiku dingin, tanganku dingin, tubuhku bergetar, kalimat lembut dan sopan itu membuatku rapuh. Aku memegang tangan putriku lalu menangis, kali ini ia terkejut dengan reaksiku yang berlebihan. Ia menyenggol kakiku, memberi tanda agar aku segera diam. Ia tampaknya malu pada ibu dokter dan 2 orang perawat mata di ruangan itu.

“Tidak perlu menangis Pak, nanti kalo Bapak tidak segera operasi, nanti mata Bapak makin parah. Penglihatan Bapak memang tidak akan lebih baik, tapi paling tidak kami berusaha mempertahankan penglihatan bapak agar tidak sampai buta. Kan Bapak sudah pake BPJS jadi tidak perlu mengkhawatirkan biaya.” Seorang perawat mencoba menenangkanku. Aku tidak mencoba menjelaskan tangisku, aku menarik nafas sangat panjang. Aku hanya lelah, sangat lelah. 3 operasi mata sebelumnya cukup menyakitkan, selebihnya aku tidak memiliki banyak motivasi untuk operasi lagi. Sesungguhnya aku ingin istirahat sangat panjang. Di sepanjang perjalanan pulang aku tidak banyak bicara, aku hanya memegang erat tetes mata timolol dan travoprost  yang kudapat gratis dari rumah sakit.

Ini hari kedua puluh sembilan di Bulan April, pukul 15.05 Wita, masih di bawah pohon mangga, aku sudah selesai membelah bambu menjadi potongan-potongan berukuran 35 x 2,5 cm. Aku meluruskan kedua kaki. Ada benjolan di jempol kaki kanan yang makin membesar. Selain glaukoma, kadar asam urat di tubuhku sangat tinggi. Setelah bertahun-tahun menderita asam urat dan merasakan kambuh-sembuhnya, kristal asam urat sudah membentuk benjolan di bawah kulitku. Benjolan itu tidak sakit, tapi sering menimbulkan rasa tidak nyaman. Aku sudah makin terbiasa dengan rasanya.

Aku memandang ke sekeliling, sore ini sangat sepi. Dari pulang kerja, putriku mengurung diri di kamar, dan adikku mungkin sedang tidur siang. Aku menyenderkan kepala di batang pohon, aku memejamkan kedua mata, aku merasa sangat hampa.

“ Atu Aji….”

“ Atu…..”

Aku membuka mata, tiba-tiba aku sudah mendapati seorang perempuan muda duduk di depanku. Dadaku berdegup sangat kencang. Aku terkejut mendapati siapa yang tiba-tiba datang. Ia sangat cantik, sama seperti dulu. Tubuhnya lebih berisi, tapi tubuhnya masih sangat proporsional. Kulitnya masih sama, sawo matang, tapi kali ini tampak lebih bersih terawat. Wajahnya tampak lebih  bulat, pipinya makin penuh. Sekali lagi, dia masih cantik, kemeja putih polos dan celana panjang berwarna abu-abu membuatnya tampak mempesona. Lidahku tercekat, tubuhku mematung. Ini kali pertama dalam hidupku aku tidak paham harus melakukan apa.

“Atu aji, titiang minta maaf.” Ia memegang kakiku, lalu beberapa menit kemudian kepalanya menyentuh kedua kakiku. Telapak kakiku basah oleh air mata. Aku masih diam mematung, aku bingung harus bereaksi bagaimana dalam situasi ini. Anak perempuanku pulang setelah 13 tahun yang panjang. Aku biarkan ia terisak di kakiku, sementara ingatanku melayang ke masa lalu.

Saat itu ia masih 23 tahun, ia bekerja sebagai guru negeri di sekolah dasar  .Sebenarnya saat itu ia sedang dekat dengan seorang lelaki berusia 34 tahun bernama Gus Putra,  anak dari seorang Pedanda Siwa dari Klungkung. Aku membanggakannya di mana-mana, putriku akan memiliki masa depan yang sempurna. Di usia 20 setamat kuliah D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar,  ia langsung diangkat menjadi pegawai negeri, kemudian memiliki calon suami seorang Ida Bagus yang tampan dan mapan. Lelaki itu sudah 2 kali pernah ke rumah, aku menyukainya, tentu selain karena ia seorang Ida Bagus, ia berkharisma walaupun sedikit kaku saat berbincang.

Sebulan kemudian mimpi sempurnaku runtuh. Aku masih ingat jelas hari itu, minggu pagi, saat keluarga besar sedang berkumpul di rumah untuk persiapan upacara tiga bulanan ponakan kami, kelian banjar datang tergopoh-gopoh membawa sepucuk surat. Surat yang kemudian membuat istriku menangis lalu pingsan, surat yang kemudian membuatku malu di depan seluruh keluarga besar, surat yang kemudian membuatku marah besar dan mengeluarkan janji besar.

Ajik, Ibu,  saya  mohon maaf!

Saya tahu apa yang saya lakukan ini akan menyakiti keluarga, tapi ini adalah pilihan hidup saya. Saya mencintai Made dan akan memilihnya menjadi suami saya……

Anak kebanggangganku nyerod.  Ia menikah dengan seorang lelaki biasa, teman semasa kuliahnya. Ternyata mereka telah menjalin hubungan selama 2,5 tahun. Aku merasa dibodohi, dicurangi, dipermalukan dan selanjutnya hancur. Beberapa keluarga mencoba menguatkanku, selebihnya mentertawakan kesombonganku. Selain menanggung malu pada keluarga di rumah aku juga kehilangan muka pada keluarga Gus Putra. Bisa dibayangkan betapa kompleks masalah yang ia bebankan pada kami orang tuanya saat itu. Aku bahkan memerlukan waktu hampir setahun untuk bangkit dan bisa menjalani hidup dengan normal.

Aku tidak sadar kapan Dayu Tut, anak bungsuku ke luar dari kamarnya. Aku mendapati ia memeluk kakaknya dengan sangat erat. Mereka menangis hebat. Sementara aku masih mematung, dadaku berdegup kencang, nafasku lebih cepat dari biasanya, tapi ini bukan amarah, ini rindu yang bertemu muara. Ya diam-diam dalam diam aku sangat merindukannya. Apalagi setelah kepergian ibunya, rasa hampa kehilangan istri membuatku lebih sering memikirkan dan merindukannya.

“ Jik, tolong maafkan Mbok Tu, ini sudah terlalu lama. Ajik sudah tidak lagi punya alasan untuk marah. Di geria ini Mbok Tu bukan satu-satunya yang nyerod. Yang lain sudah biasa pulang. Kemaren Pedanda Gede biasa bercanda dengan cucunya, anaknya Mbok Mang yang nyerod ke Beleleng. Ajik sudah tidak perlu merasa malu lagi pada keluarga besar. Titiang yakin  tidak akan lagi yang mempermasalahkan ini.” Putri bungsuku, memegang tanganku sambil menangis tersedu. Kata-katanya benar, di geria kami perkara nyerod bukan lagi perkara luar biasa seperti 13 tahun lalu. Waktu sudah berubah, banyak batasan yang hilang perlahan, termasuk pandangan tentang memilih pasangan hidup.

Aku menarik nafas panjang. Dadaku tiba-tiba terasa lega, seolah batu besar yang selama ini mengganjal jalan nafasku melenyap. Aku menitikkan air mata. Ini air mata bahagia seorang ayah yang akhirnya bertemu  putrinya setelah 13 tahun yang panjang. Aku membuka kedua tanganku dengan lebar, isyarat memintanya beranjak dari kakiku, aku mau ia memelukku.

Pelukan ini rasanya sama seperti yang kurasakan saat aku memeluk bayi pertamaku 36 tahun lalu. Aku tidak berucap apapun, sementara sambil terisak, ia mengucap maaf berkali-kali, dan aku menggangguk berkali-kali pula.  Kami menangis bersama, lalu lega bersama.

Setelah berhasil menenangkan diri, kami melepaskan pelukan. Aku menatapnya lekat. “ Selamat ulang tahun nak….” Ini kalimat pertama yang berhasil kuucapkan. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Entah untuk alasan apa, di antara 365 hari lainnya, Tuhan memilihkan tanggal 29 April utuk mencatat dua perkara penting dalam hidupku; 30 tahun kemudian istriku meninggal tepat di hari ia melahirkan putri pertama kami. Tubuh putriku bergetar hebat, aku paham apa yag ia rasakan. Aku biarkan ia menangis lagi, sekeras yang ia mau, lalu membenamkan wajahnya di pelukan gadis kecil yang sedari tadi berdiri di antara kami.

Ini hari kedua puluh sembilan di Bulan April, pukul 20.05 Wita. Kami semua duduk di beranda. Aku memakai pakaian paling bersih yang aku punya baju kaos abu-abu dan  kamen sarung kotak-kotak berwarna coklat tua. Di pangkuanku menggelayut manja gadis cantik berumur 8 tahun. Ini cucuku. Selain mirip secara fisik, bocah ini juga mewarisi benar sifat  ibunya, pemberani namun supel. Baru 3 jam kami saling mengenal sebagai kakek dan cucu, tetapi ia sudah mampu meluluhkanku, bahkan aku hampir tidak mau melepasnya semenit pun. Aku menciumnya , memeluknya, dan membelai rambutnya berkali-kali.

Ia mulai tampak mengantuk, aku mengangkat seluruh tubuhnya ke pangkuanku. Kepalanya bersandar di tangan kiriku. Di posisi ini aku bisa dengan seksama memandang wajah polosnya. Rambutnya lurus hitam kecoklatan, bola matanya besar dan bening, dagunya runcing, ada belahan di tengahnya. Ia balik menatapku lalu tersenyum  lebar, dua lesung pipi tampak jelas di pipinya. Ia sangat mempesona, sejenak aku lupa hari ini adalah hari kehilangan besar. Aku seketika menemukan alasan untuk menjalani operasi mata ke empatku. Aku tidak mau buta. Aku ingin pandanganku  jelas agar tetap bisa menatap kedua mata bening ini.

Gadis kecilku menguap berkali-kali, aku tersenyum bingar lalu mulai berdendang pupuh maskumambang dengan suara paling merdu yang aku punya.


Kemu laku

Ditu ade gedong cenik

Bersih wau pragat

Sang kalih raris ngeranjing

Saget ngenah gegambaran


Anak jegeg

Metimpal ye bagus genjing

Solah anut pisan

Rarase nganyudang ati

Kadi Ratih lan semara


Ini hari kedua puluh sembilan di Bulan April, di bawah pohon mangga, istriku berdiri dengan kebaya berwarna merah marun. Ia tersenyum, kali ini senyumnya manis, sangat manis.

                                                                                                Selumbung, Oktober 2019

Tags: Cerpen
Share128TweetSendShareSend
Previous Post

Taman Baca Kesiman, “Hub” alias Tempat Penghubung di Riuh Denpasar

Next Post

Halu Masa Lalu; Lagu Cinta dan Kenangan yang Bukan tentang Cinta

Ida Ayu Wayan Sugiantari

Ida Ayu Wayan Sugiantari

Lahir di Culik pada 29 April 1983. Menulis puisi sejak tahun 1998 ketika duduk di bangku SMP. Pada tahun 1999-2001 saat mengenyan bangku SMA di SMUN 2 Amlapura karya-karyanya sering dimuat di Bali Post Minggu. Pada tahun 2003 diangkat menjadi guru, dan sejak April 2017 hingga sekarang penulis diberikan tugas tambahan sebagai kepala sekolah di Satuan Pendidikan SDN 1 Selumbung.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Halu Masa Lalu; Lagu Cinta dan Kenangan yang Bukan tentang Cinta

Halu Masa Lalu; Lagu Cinta dan Kenangan yang Bukan tentang Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co