Kunjungan Presiden Jokowi ke Singaraja, 22 September 2017. /Foto: FB/Putu Swastika

 

SELASA, 22 September 2017, sejumlah ruas  jalan kota Singaraja tumpah ruah dengan bocah SD. Bendera merah putih di tangan mereka lengkap dengan senyum polos penuh harapan. Tidak hanya itu masyarakat juga antusias berpanas-panasan di bawah terik matahari. Dan para wartawan dengan kameranya yang siap meliput segala momet yang terjadi.

Apa suasana agustusan belum selesai di kota pendidikan ini, pikirku. Usut punya usut ternyata mereka menanggalkan segala aktivitasnya hanya untuk menunggu kedatangan Presiden Jokowi Widodo dalam kunjungan kerjanya ke Bali, salah satunya ke kota Singaraja. Sekaligus sorenya dengan gaya khas blusukannya Presiden Jokowi juga mengunjungi tempat pengungsian Gunung Agung.

Ada beberapa hal yang menarik dari kunjungan Presiden Jokowi kali ini. Anak-anak sekolah dasar dan menengah menjadi penyambut tamu paling spesial. Lalu, warga kampus, termasuk juga mahasiswanya, sepertinya tak kelihatan. Apakah mereka tidak tergerak untuk ikut menyambut Presiden Jokowi, dan bila sempat, siapa tahu bisa mengajukan pertanyaan dan usul-usul untuk pendidikan dan sejenisnya. (Siapa tahu dapat sepeda, hehe)

Padahal secara emosional, birokrasi kampus dan birokrasi pemerintah sama-sama mempunyai pengaruh laten dalam hal perwujudan pengembangan jati diri bangsa. Jika bicara birokrasi kampus, mahasiswa bisa mengambil peran. Kampus dan pemerintahan daerah bisa bekerjasama dan membagi peran.

Mungkin memang kampus, baik birokratnya dan mahasiswanya, tidak dilibatkan dalam euphoria penyambutan Presiden oleh panitia di pemerintaan daerah. Mungkin karena dianggap kunjungan presiden tidak berhubungan dengan masalah kampus. Namun pihak kampus bisa saja mengajukan diri, melakukan lobi-lobi, agar mahasiswanya bisa berada di tengah acara kunjungan, sekaligus berada dekat dengan presiden. Dari jarak yang cukup dekat, kampus bisa mengajukan sejumlah “keluh-kesah”, atau setidak memperkenalkan kampus dengan segala prestasi dan kekuarangannya.

Di sejumlah daerah kunjungan presiden kerap dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk mengajukan sejumlah persoalan di daerah mereka. Bahkan ada beberapa dengan cara demonstrasi. Tapi di Bali, terutama di Singaraja, tak perlulah harus demo. Lobi secara baik-baik saja.

Atau, mungkin, pihak kampus, terutama para mahasiswanya, memang tidak berpikir untuk ikut-ikutan. Jika demikian halnya, ada yang mengusik pikiran saya sebagai mahasiswa, apa mahasiswa sudah tidak ada lagi geliat ke-Maha-annya yang berarti besar. Sehingga pikir praktis saya sekarang tidak ada bedanya antara siswa dan mahasiswa.

Atau mahasiswa terlalu sibuk menyelesaikan tugasnya yang dibebankan dosen, sehingga mahasiswa sekarang apatis yaitu tidak peduli dengan lingkungan sekitanya. Dan pikiran buruk saya, apa status mahasiswa (khususnya di Singaraja) tidak “dianggap” di tingkat nasional. Sehingga presiden dianggap hanya butuh bocah sekolahan bukan bocah kampus.

Seperti dari kutipan catatan Mata Najwa pesan untuk mahasiswa ”kuliah itu bukan tentang nilai dan indeks prestasi komulatif (IPK). Kuliah itu sebenarnya tentang pengalaman orang-orang yang kalian temui, serta skill yang kalian dapatkan dari kuliah”

Jika kita kaitkan dengan kunjungan Presiden beberapa hari yang lalu idealnya mahasiswa terlibat atau turut serta dalam penyambutan RI 1 sebagai panglima tertinggi bangsa ini. Mahasiswa sudah saatnya menampakkan keberadaan sekaligus sebagai bentuk eksistensi mahasiswa yang tidak apatis baik pada lingkungan maupun sosialnya, padahal momen kunjungan Presiden di Kabupaten Buleleng merupakan moment langka, maka yang rugi ialah kita, sebagai mahasiswa, tidak mendapatkan manfaat dari kunjungan tersebut.

Semisal contoh saat kunjungan presiden Barack Obama ke Indonesia yang disambut oleh rektor dan mahasiswa Universitas Indonesia. Sehingga mereka mendapatkan apresiasi dari orang nomor satu di amerika serikat. Dari sini kita belajar bahwa peran mahasiswa dan keberadaannya dipertanyakan.

Hal lain yang menarik dari kunjungan Presiden Jokowi kali ini ialah moment membagikan buku di sepanjang jalan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kota Singaraja dengan jargon “kota pendidikan” secara tidak langsung harus meningkatkan budaya literasinya, termasuk menyediakan layanan pendidikan yang memadai semisal perpustakaan, toko buku, dan media pembelajaran lainnya. Karena kini yang tampak lebih banyak pusat perbelajaan daripada pelayanan pendidikan.

Mari kita sama-sama kembali saling merefleksi diri antara mahasiswa dan instansi pendidikan untuk menjadi tombak utama pendidikan di Tanah Panji Sakti ini. Karena proses mahasiswa sejatinya berada di lingkungan dalam sekup luas yaitu masyarakat. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY