Google

TAHUN 2017 ini, Soekarno atau Bung Karno, presiden pertama dan Proklamator RI, ikut meramaikan Pesta Kesenian Bali ke-39 di Taman Budaya Denpasar. Tentu saja ia tidak hadir secara fisik, tapi hadir melalui naskah drama berjudul Koekoetbi yang akan dipentaskan dalam bentuk drama gong oleh Komunitas Kampung Seni Banyuning, Singaraja.

Kaget Soekarno bikin naskah drama? Seharusnya tidak. Karena semua tahu Soekarno memang sangat mencintai seni. Selain menjadi penikmat, dia juga menjadi kreator, menciptakan sejumlah karya seni, termasuk naskah drama. Koetkoetbi itu berkisah tentang apa, silakan menontonnya di PKB 23 Juni malam.

Garapan drama gong dengan naskah karya Soekarno oleh Kampung Seni Banyuning dengan sutradara Putu Satria Kusuma bisa dianggap sebagai simbol terima kasih karena selama menjabat sebagai presiden, Soekarno punya perhatian besar terhadap kesenian, termasuk kesenian Bali. Banyak sumbangan yang diberikan Soekarno dalam perkembangan kesenian Bali. Dengarlah cerita seniman-seniman tua yang pernah pentas di Istana Negara maupun di Istana Tampaksiring, mereka pastilah bercerita tentang kenangan manis terhadap Soekarno tentang bagaimana tokoh besar itu memperhatikan seniman.

Penari Kebyar Duduk legendaries, Ida Bagus Oka Wirjana atau Ida Bagus Aji Blangsinga yang meninggal Kamis 3 Februari 2017, pernah bercerita bahwa sikap kesnimannya dipengaruhi oleh Soekarno. Oka Wirjana memang kerap menari di Istana Kepresidenan pada masa pemerintahan Soekarno. Sehingga ia sangat dekat dengan Soekarno.

Kedekatannya dengan Presiden RI pertama itu memberi pengaruh terhadap prinsipnya untuk terus melabuhkan pilihan pada jalan hidup bersahaja dan sederhana, sebagai seorang seniman. “Pak Presiden ngeranaang Aji ten medue napi. Tapi Aji sugih ken nyama braya, timpal, pengalaman, to ne alih, to ne langgeng. (Bapak Presiden yang membuat saya tak punya apa-apa. Tapi saya kaya keluarga, kerabat, teman, dan pengalaman. Itulah yang dicari, karena itu yang langgeng”.

Begitu kata Aji Blangsinga pada satu kesempatan ngobrol dengan Dayu Ani, penari dari Sanggar Maha Bajra Sandhi, sebagaimana pernah ditulis di tatkala.co.

Soekarno mencintai seni bukanlah hal yang mengherankan. Kritikus seni Merwan Yusuf dalam diskusi “Bung Karno dan Seni” pada tahun 2012 sebagaimana dikutip Majalah Historia menyebutkan secara genetik, Sukarno ini berdekatan dengan seni bukan secara kebetulan. Darah Bali ibunya, dalam pandangan Merwan, mengalirkan darah seni pada Sukarno. “Orang Bali itu dan agamanya sudah sebuah seni,” ujarnya.

Yang tak banyak orang tahu, Tari Terunajaya yang diciptakan seniman Buleleng, Gede Manik, ternyata diberi nama oleh Soekarno karena sebelumnya tarian itu tidak punya nama. Sebagaimana ditulis Kadek Suartaya di www.isi-dps.ac.id, Gede Manik berkesempatan ngobrol dengan Soekarno di Istana Tampaksiring sekitar tahun 1950.

Istana Tampaksiring memang menjadi arena yang intim bagi para seniman dimana para seniman  terbaik Bali mendapat perhatian istimewa dari Bung Karno.  Bung Karno dengan penuh kebanggaan menyuguhkan tari-tarian Bali seperti tari janger, legong keraton, tari-tarian kebyar, kepada tamu-tamu terhormatnya.

Pada suatu hari di tahun 1950, Bung Karno terkagum-kagum dengan sebuah tari ciptaan baru. Kepada I Gede Manik, sang pencipta tari itu Bung Karno bertanya: “Pak Gede Manik, tari ciptaan bapak lain dari pada yang lain, bagus, bagus sekali!Tari apa namanya?” I Gede Manik menjawab polos, “Belum punya nama paduka presiden”.

“Oh, begini Pak Manik, melihat dari gerak gerik semangat, dinamis dan lugasnya tari ciptaan bapak ini, aku melihat adanya gelora generasi muda yang pantang menyerah berjuang memajukan bangsanya. Oleh karena itu, tari ini aku beri nama Tarunajaya, setuju?” Demikian kata Bung Karno.

Bung Karno, sebagaimana ditulis Kadek Suartaya, tidak hanya sebatas membanggakan kesenian Bali kepada tamu-tamunya, namun juga terlibat memberikan saran-saran kepada pelakunya. Misalnya ketika Bung Karno mengundang  grup  Cak Bona  pentas di Istana Tampaksiring untuk menyambut Presiden  Uni Soviet   Nikita  Khrushchev  pada tahun  1960.

Sebagai sebuah pementasan  seni  yang disuguhkan bagi  tamu kehormatan  negara, dirasakan kurang sopan menampilkan tari ini dengan  para pemain yang hanya memakai selembar kain hitam yang menutup bagian  vital saja. Bung Karno menyarankan para pemeran tokoh-tokoh seperti Rama,  Laksmana, Sita  dan lain-lainnya memakai busana meniru busana  tari  Wayang Wong. Bung Karno juga mengusulkan agar jumlah penari yang awalnya sekitar 50 orang ditambah menjadi 100 orang yang duduk melingkar berlapis-lapis.

Tak hanya ngecak dengan 100 penari, Bung Karno lebih jauh meminta agar dapat ditampilkan  cak dengan lebih dari 1000 penari untuk memeriahkan perayaan ulang  tahun  proklamasi  ke-13 Republik Indonesia. Bahkan Bung Karno meminta penarinya harus wanita. Maka pada tahun 1958 itu berangkatlah para seniman Cak Bona I Nengah Mudarya,  I  Gusti  Putu Wates, dan Ni  Wayan Manis  ke Jakarta melatih  1.500  wanita  menjadi penari  cak.

Sukses  pementasan tari  cak wanita itu  mendorong Bung  Karno  menggelarnya kembali pada pembukaan  pesta  olahraga Ganefo di Jakarta, pesta olahraga dari negara-negara yang dikelompokkan oleh Bung  Karno sebagai new emerging forces, di tahun 1962. Pada momentum yang sama, Bung Karno juga memamerkan keindahan kesenian Bali yaitu tari Pendet yang dibawakan oleh 1000 orang gadis-gadis Bali.

Jadi, drama gong Koekoetbi karya Bung Karno yang diadaptasi dan dipentaskan Kampung Seni Banyuning di Pesta Kesenian Bali tahun 2017 ini bisa saja mengundang pemikiran untuk membuat semacam festival persembahan kepada Soekarno, mungkin bisa diselipkan di PKB, mungkin juga bisa dibuat tersendiri. (T/ole)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY