KAPAN terakhir kali kita bertanya, “Gimana kabar mental gue hari ini?” Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar BPJS. Kita panik kalau baterai HP tinggal 10 persen. Tapi kita lupa mengecek baterai diri sendiri. Itu pertanyaan pembuka yang paling jujur untuk Hari Kesehatan Mental 10 Oktober nanti.
Latar Belakang dan Sejarah Singkat
Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992 atas inisiatif Richard Hunter, Wakil Sekretaris Jenderal World Federation for Mental Health.
World Mental Health Day diusulkan oleh Richard Hunter dari WFMH (organisasi yang didirikan pada tahun 1948 dan beranggotakan lebih dari 150 negara) Tujuan awalnya dibentuk karena masih banyaknya masalah kesehatan mental yang tidak ditangani dengan baik serta minimnya pemahaman masyarakat yang menimbulkan stigma negatif.
Pada dua tahun pertama (1992–1993), peringatan ini berjalan secara umum tanpa mengangkat tema khusus, fokusnya hanya pada edukasi publik dan pembelaan kesehatan mental. Mulai Menggunakan Tema (1994): Atas saran Sekretaris Jenderal WFMH saat itu, Eugene Brody, hari peringatan ini mulai mengusung tema spesifik setiap tahunnya. Tema pertamanya pada tahun 1994 adalah “Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Mental di Seluruh Dunia” (Improving the Quality of Mental Health Services throughout the World).
Tema resmi World Mental Health Day 2026 yang jatuh pada Sabtu, 10 Oktober 2026 adalah: “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” ( Pengalaman Hidup yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata)
Tema ini ditetapkan oleh World Federation for Mental Health (WFMH). Fokusnya tahun ini sangat fenomenologis, Jadi sangat related dengan esai yang akan saya sajikan ini .
Tema itu intinya bukan lagi sekadar “ayo sadar pentingnya mental health”, tapi: sudah saatnya orang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental itu sendiri didengar sebagai ahli, bukan hanya sebagai pasien.
Selama ini mereka diajak cerita di panggung, tapi setelah itu tidak dilibatkan dalam pembuatan kebijakan, layanan, dan perubahan nyata di komunitas. WHO juga menekankan pesan yang sama: mendengarkan saja tidak cukup kalau tidak ada konsekuensi setelahnya. Harus ada perubahan dari sistem yang mendengarkan cerita itu menjadi layanan yang lebih manusiawi dan berbasis komunitas.
Pegiat Kesehatan Mental di Indonesia
Di Indonesia ada seseorang yang dikenal sebagai pegiat kesehatan mental, beliau adalah Bunda Arsaningsih. Sosok spiritualis modern dan praktisi kesehatan mental asal Bali. Dikenal sebagai pakar energi, guru meditasi, dan spiritualis modern. Karya utamanya adalah metode SOUL – Spirit of Universal Life. Diawali dengan SOUL Meter, yaitu metode untuk pengenalan jati diri. Dilanjutkan dengan SOUL Reflection untuk menyembuhkan diri, menghapus hal negatif dalam diri dan memperkuat kualitas positif
Bunda Arsaningsih adalah pendiri Yayasan Cahaya Cinta Kasih pada tahun 2012, yang bergerak di bidang bantuan kemanusiaan, pembentukan karakter, dan tuntunan meditasi Online SOUL Reflection di Youtube
Berkat kiprahnya beliau menerima penghargaan MURI 2015 sebagai pemrakarsa senam Yophytta Maternal (gabungan yoga, pilates, Tai Chi, dan afirmasi) dengan peserta ibu hamil terbanyak 25 ribu peserta. Tahun 2024 tercatat di Rekor MURI ke-2 sebagai penuntun Meditasi Renungan Jiwa dengan peserta terbanyak. Bunda Arsaningsih disebut sebagai orang pertama yang menerima gelar Certified Professional Spiritual Healer dari American Academy
Menyambut peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day) pada 10 Oktober 2026 mendatang, Yogyakarta resmi ditunjuk sebagai tuan rumah ajang “Tata Hati Indonesia”. Gelaran talkshow interaktif dan meditasi publik gratis ini digagas oleh Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mengusung tema “Menata Batin, Mengurai Beban”, acara ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB di Gedung Grha Sabha Pramana UGM. Kegiatan akan digelar secara hybrid dengan target 3.000 peserta hadir secara langsung dan 2.000 peserta bergabung secara daring.
Di tengah maraknya fenomena healing dan self-care di kalangan anak muda serta pekerja urban, Tata Hati Indonesia hadir menawarkan ruang refleksi batin yang substantif. Pendiri YCCK sekaligus pencipta metode SOUL, Bunda Arsaningsih menegaskan, bahwa kesehatan mental tidak bisa diselesaikan hanya dengan tren sesaat.
Menurut Bunda Arsaningsih “Kesehatan mental bukan soal healing sesaat, tapi soal kemampuan seseorang menata hatinya sendiri, setiap hari. Yogyakarta punya modal budaya yang sangat kuat untuk itu, mulat sarira, sangkan paraning dumadi, nilai-nilai lokal yang sebenarnya sudah lama mengajarkan kita cara pulang ke diri sendiri,” (RRI.CO.ID,10 September 2026)
Bunda Arsaningsih menyebutkan, Tata Hati Indonesia di Yogyakarta akan berlangsung dalam dua sesi utama yakni, temu wicara interaktif di mana peserta dipilih secara acak untuk berbagi cerita dan mendapatkan solusi langsung atas persoalan batin yang dihadapi, dipandu olehnya. Sementara sesi kedua adalah Meditasi SOUL Reflection, sesi meditasi bersama untuk membersihkan bebanemosi negatif, menumbuhkan afirmasi positif, dan memulai langkah hidup yang lebih sehat secara mental.
Program Tata Hati bukan hal baru, sepanjang perjalanannya, roadshow ini telah digelar di berbagai kota dan negara—mulai dari Solo, Paris, Italia, Brussels, Belanda, KBRI Den Haag, Wellington (New Zealand), hingga Melbourne—dengan jumlah peserta yang terus bertambah di setiap penyelenggaraan, bahkan mencatatkan rekor MURI untuk sesi meditasi ibu hamil terbanyak di Bali. Yogyakarta menjadi titik penting berikutnya, mempertemukan nalar akademik UGM dengan kebutuhan pemulihan spiritual masyarakat urban Indonesia.
Apa itu Kesehatan Mental?
Mental health atau kesehatan mental adalah keadaan kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan mental, melainkan kondisi di mana individu: Menyadari kemampuan dan potensi dirinya; mampu mengatasi tekanan atau stres normal dalam hidup; dapat bekerja dan belajar secara produktif; mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya atau komunitas.
Perbedaan dengan gangguan mental (mental illness), Kesehatan mental menggambarkan tingkat kesejahteraan psikologis secara keseluruhan. Setiap orang memilikinya dan kondisinya bisa naik atau turun.
Sedangkan gangguan mental adalah kondisi medis spesifik yang memengaruhi cara berpikir, suasana hati, dan perilaku, serta memerlukan diagnosis serta penanganan dari tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
Contoh masalah umum stres: tekanan berat akibat masalah pekerjaan, keuangan, atau sosial. Gangguan kecemasan: rasa cemas berlebihan yang sulit dikontrol dan mengganggu aktivitas.
Fenomenologi Lelah yang Tidak Dihargai
Kita tahu mental health itu penting, tapi kita tidak pernah merasa itu penting untuk kita. Selalu untuk orang lain. Untuk orang yang “sakit jiwa”, untuk orang yang di berita. Bukan untuk kita yang masih bisa ngopi, masih bisa tertawa di story, masih bisa bilang “gue gapapa kok”. Padahal, dari kacamata fenomenologi, tubuh kita sudah berteriak lama. Fenomenologi tidak bertanya “apa diagnosis kamu?”. Ia bertanya, “apa yang kamu alami?”
Coba kita rasakan ini, dan jujur : Pagi ini kita bangun, padahal sudah tidur 8 jam, tapi rasanya seperti tidak tidur. Nafas kita pendek-pendek di tengah rapat. Perut kita mulas padahal tidak salah makan. Kita scroll TikTok 3 jam bukan karena senang, tapi karena tidak sanggup diam dengan pikiran kita sendiri.
Dalam psikologi, ini bukan manja. Ini yang disebut psikosomatis—ketika jiwa kelelahan, ia menitipkan tagihannya ke tubuh. Tubuh jadi kurir. Kita mengira kesehatan mental itu harus terlihat dramatis: menangis seharian, teriak-teriak.
Padahal seringkali ia sangat sunyi dan sopan. Ia datang sebagai: lupa yang sering, mudah tersinggung untuk hal kecil, tidak bisa menikmati hal yang dulu kamu sukai. Kita mengabaikannya karena tidak ada luka yang berdarah.
Kita Hidup di Zaman yang Memaksa Kita Kuat Terus
Mengapa kita tidak sadar? Karena kita hidup dalam mitos yang dikuliti Roland Barthes dengan sempurna: Mitos Manusia Kuat. Tanda-tandanya ada di mana-mana: Postingan Instagram “Keep Strong”, “Good Vibes Only”, stiker di kantor “Kerja Keras Adalah Kunci Sukses”. Kita diajari bahwa sedih itu tidak produktif. Cemas itu tidak bersyukur. Lelah itu alasan. Maka kita belajar menjadi aktor.
Di psikologi sosial disebut emotional labor. Kita tersenyum saat presentasi, padahal di dalam kepala ada 20 tab yang terbuka dan semuanya berisik. Akibatnya, kita baru sadar pentingnya mental health ketika sudah jebol. Seperti baru sadar pentingnya rem setelah hampir tabrakan.
Kesehatan Mental Bukan tentang Bahagia Terus
Ini miskonsepsi terbesar yang harus diluruskan. Sehat mental bukan berarti kamu bahagia 24 jam. Itu tidak manusiawi. Dalam psikologi humanistik, sehat mental itu adalah kapasitas untuk memeluk seluruh emosi. Bukan hanya bahagia, tapi juga sedih, marah, kecewa, dan cemas – tanpa menghakimi diri sendiri sebagai “orang rusak”.
Analogi paling ringan: Kesehatan mental itu seperti cuaca, bukan iklim. Hari ini boleh mendung. Besok boleh hujan. Yang tidak sehat adalah ketika kita memaksa diri untuk selalu cerah, lalu menyalahkan diri sendiri kenapa awan tidak mau pergi.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebelum 10 Oktober? Bukan meditasi 2 jam. Bukan langsung ke psikolog kalau kita belum siap. Tapi mulai dengan satu jeda fenomenologis: Sekali sehari, tanyakan ke diri kita bukan “apa yang harus kita kerjain?”, tapi “gimana rasanya jadi kita hari ini?”
Rasakan kaki yang menapak lantai. Rasakan napas yang masuk dan keluar tanpa kita suruh. Sadari bahwa kita adalah tubuh yang merasakan, bukan hanya kepala yang berpikir. Jika jawabannya “gue capek banget“, ya sudah. Akui saja. Capek bukan dosa.
Esai ini tidak ingin membuat kita mendiagnosis diri sendiri. Ia hanya ingin mengembalikan satu kesadaran sederhana yang sering kita curi dari diri sendiri. Motor saja butuh servis, apalagi jiwa yang dipakai setiap detik untuk menahan hidup. Selamat menyambut 10 Oktober. Semoga kita tidak hanya memperingati kesehatan mental, tapi mulai merawatnya.[T]
Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole





























