LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai acara, lomba ini dilaksanakan pada 26 September 2026 untuk memantik kreativitas seniman muda Kelurahan Kapal dalam mengolah instrumen ceng-ceng ke dalam komposisi instrumental.
Dalam lomba ini, instrumen ceng-ceng diberikan ruang berkreasi secara penuh. Selama ini, ceng-ceng lebih banyak hadir sebagai bagian dari format barungan Baleganjur dan Gong Gede. Karena itu, pemberian ruang mandiri dapat dipandang sebagai upaya menarik untuk mendedahkan “dirinya” secara audial melalui pengolahan timbre, tekstur, kilitan, layering, dan gramatikal musikal baru.
Gagasan tersebut rupanya telah dipersiapkan panitia sebelum lomba berlangsung. Pada 30 Agustus 2026, panitia terlebih dahulu menyelenggarakan workshop tentang pengolahan instrumen ceng-ceng dalam format kreasi.
Workshop tersebut menghadirkan salah satu anggota tim juri, Putu Tiodore Adi Bawa, S.Sn., M.Sn., sebagai tutor. Dalam kegiatan itu, Tiodore Adi Bawa memberikan acuan teknis mengenai kilitan ceng-ceng secara konvensional sekaligus membuka visi pengembangannya ke dalam bentuk kreasi.

Langkah panitia ini patut diapresiasi karena kompetisi diawali dengan kegiatan edukasi. Artinya, panitia tidak hanya menyediakan gelanggang kompetitif, tetapi juga memberikan bekal kepada seluruh peserta agar memiliki pemahaman yang jelas mengenai teknik mengkreasikan instrumen ceng-ceng.
Pola seperti ini dapat menjadi pertimbangan bagi penyelenggara lomba seni lainnya di Bali. Dengan memberikan pengetahuan sebelum kompetisi berlangsung, kegiatan lomba tidak berhenti pada persoalan nominasi dan pemenang, tetapi juga meninggalkan pengalaman serta pengetahuan yang dapat dikembangkan peserta dalam proses berkesenian mereka.
Dalam pelaksanaan lomba ceng-ceng kreasi sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026 Kelurahan Kapal, terdapat beberapa capaian menarik dari para kontestan. Capaian yang paling menonjol dan patut diapresiasi adalah transformasi tabuhan Gamelan Gambang serta eksplorasi timbre dari instrumen ceng-ceng.
Tabuhan Gamelan Gambang, khususnya pada instrumen saron dan pola ubit-ubitan gambang, ditransformasikan secara apik ke dalam permainan ceng-ceng. Gagasan tersebut menunjukkan kejelian musikal dalam mentransformasi tabuhan ubit-ubitan gambang untuk menghadirkan pola kilitan baru, terlepas dari pola kilitan nebuk, cek lima, dan cek nem yang selama ini lekat dengan permainan ceng-ceng.

Capaian kedua terlihat pada pengolahan timbre yang sangat beragam serta penggunaan teknik permainan baru dalam menggarap instrumen ceng-ceng sebagai format komposisi kreasi. Gramatikal komposisinya tidak terbelenggu oleh embel-embel format gilak atau batel yang selama ini melekat pada instrumen ceng-ceng dalam barungan Baleganjur.
Gramatikal komposisi tersebut berawal dari pengenalan terhadap beragam timbre. Ragam timbre itu kemudian disusun menjadi kalimat gending yang terstruktur. Struktur gending dibangun melalui pergerakan pola ritme yang terus dikembangkan, baik melalui panjang-pendek matra maupun manipulasi bentuk ritme berdasarkan tekstur warna suara.
Dua capaian tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam mentransformasi tabuhan Gamelan Gambang dan menghadirkan gramatikal musikal baru. Meski demikian, masih terdapat beberapa kontestan yang mengalami kesulitan untuk mengolah ceng-ceng keluar dari gramatikal Baleganjur.
Hal itu, misalnya, terlihat dari penggunaan pola kilitan nebuk dengan ornamentasi warna suara “tak” yang masih banyak ditemukan dalam karya-karya ceng-ceng kreasi yang dilombakan. Bahkan, ketika diberikan jatah tungguhan kajar sebagai pembantu tempo, instrumen tersebut justru diolah menjadi pemantik ritme yang harus diikuti oleh tungguhan ceng-ceng.
Kecenderungan tersebut berpotensi menurunkan maksud dan tujuan digelarnya lomba ceng-ceng kreasi, yakni mendorong ceng-ceng untuk mampu berdiri sendiri sebagai instrumen yang memiliki kemungkinan musikal yang lebih luas.
Dari pelaksanaan lomba ceng-ceng kreasi dalam rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026, ada satu hal penting yang dapat diserap: ceng-ceng diberikan ruang untuk merdeka dan independen dalam lingkup audial.

Mengapa demikian? Selama ini, ceng-ceng masih berada dalam lingkup barungan Baleganjur dan kerap dipandang sebagai instrumen tambahan dalam barungan Gong Kebyar dan Gong Gede. Dalam posisinya sebagai bagian dari barungan tersebut, ceng-ceng lebih banyak berfungsi sebagai pengramen atau pemayas (hiasan) dalam keseluruhan orkestrasi musikal.
Melalui lomba ceng-ceng kreasi, instrumen ini memperoleh kesempatan untuk berdiri sendiri sebagai subjek olahan komposisi audial. Ceng-ceng tidak lagi sekadar menjadi bagian pendukung dalam sebuah barungan, tetapi dapat menjadi pusat eksplorasi yang melahirkan kemungkinan timbre, teknik permainan, pola ritme, serta gramatikal musikal baru.
Dengan demikian, lomba ini membuka ruang bagi ceng-ceng untuk berdiri sendiri sebagai subjek komposisi. Ruang tersebut penting karena memberi kesempatan kepada para seniman untuk melihat kembali potensi musikal ceng-ceng, bukan hanya sebagai bagian dari sebuah barungan, tetapi sebagai instrumen yang memiliki dunia bunyi dan kemungkinan pengembangan musikalnya sendiri.[T]
Penulis: I Wayan Diana Putra
Editor: Jaswanto






























