ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”.
Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali mengingat keberadaannya. Tidak ada yang salah dengan itu, justru peringatan semacam ini penting. Ia membuat wayang kembali dibicarakan di tengah kehidupan yang semakin riuh oleh hal-hal baru.
Tetapi sebagai orang yang tumbuh dekat dengan dunia pedalangan Bali, saya justru tergelitik oleh satu pertanyaan : sejak kapan sebenarnya para dalang Bali merasa perlu memiliki Hari Wayang?
Jawabannya mungkin sedikit mengejutkan.
Barangkali mereka tidak pernah merasa perlu menciptakannya.
Sebab jauh sebelum istilah Hari Wayang Nasional maupun Hari Wayang Dunia ramai kita kenal, para dalang di Bali telah mempunyai satu hari istimewa untuk wayang.
Namanya Tumpek Wayang.
Dan di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Sebab Tumpek Wayang tidak datang dengan spanduk bertuliskan Selamat Hari Wayang. Tidak ada seremoni penghargaan. Tidak ada panggung khusus yang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa hari itu wayang sedang dirayakan.
Sebaliknya, yang terjadi justru lebih sunyi. Wayang dirapikan. Perangkat pedalangan ditata.
banten dipersiapkan. Doa dihaturkan.
Wayang yang pada hari-hari lain berada di tangan dalang sebagai media pertunjukan, pada hari itu ditempatkan kembali sebagai sesuatu yang dimuliakan.
Mungkin di situlah perbedaan menarik antara merayakan wayang dan memuliakan wayang.
KETIKA WAYANG BERHENTI MENJADI TONTONAN
Tumpek Wayang seperti mengajak seorang dalang berhenti sejenak dari kesibukannya memainkan wayang.
Aneh juga sebenarnya, setiap saat dalang menarikan wayang, berbicara, bertengkar, bercanda, jatuh cinta, berperang, bahkan berbicara tentang Tuhan. Tetapi pada Tumpek Wayang, seolah-olah keadaan berbalik.
Bukan lagi dalang yang “menghidupkan” wayang.
Justru wayanglah yang mengingatkan sang dalang tentang kehidupannya.
Bahwa di balik keterampilan memainkan tokoh, ada pengetahuan yang diwariskan. Di balik suara dan dialog, ada guru yang pernah mengajarkan. Di balik tangan yang lincah memainkan wayang, ada proses panjang yang membentuk seorang dalang.
Karena itu yang mendapat perhatian bukan hanya wayangnya, Keropak, kelir, cepala, dan berbagai perangkat yang menyertai pagelaran pewayangan turut memperoleh tempat dalam momentum tersebut, benda-benda itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain tetapi bagi seorang dalang, benda-benda tersebut menyimpan perjalanan.
Tumpek Wayang kemudian menjadi semacam ruang untuk mengembalikan kesadaran bahwa wayang bukan semata-mata produk seni.
Ia adalah sebuah dunia.
LALU DATANGLAH SAPUH LEGER
Ada lapisan lain yang membuat Wuku Wayang menjadi semakin menarik.
Pada rentang waktu inilah kita sering menjumpai pagelaran Wayang Sapuh Leger, yang berkaitan dengan panglukatan Sapuh Leger bagi mereka yang lahir pada Wuku Wayang.
Di sini wayang semakin sulit disebut sekadar tontonan.
Kisah tentang Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Rare Kumara membawa kita pada sebuah perjalanan yang pada salah satu bagiannya mempertemukan Sang Hyang Kala dengan sang dalang.
Pertemuan itu penting, sebab dalang di dalam kisah Sapuh Leger bukan hanya orang yang duduk di belakang kelir sambil memainkan tokoh Ia seakan berada dalam posisi yang unik, menjadi pencerita sekaligus hadir di dalam struktur spiritual cerita yang sedang dituturkannya.
Di sinilah kita bertemu dengan istilah Dalang Samirana.
Dalam tradisi pedalangan Bali, gelar ini tidak semata-mata berbicara tentang kepandaian seseorang memainkan wayang. Ia membawa bayangan tentang kematangan seorang dalang, pengetahuan, kemampuan pedalangan, pengalaman, sekaligus laku spiritual yang menyertainya.
Maka menjadi dalang tiba-tiba terdengar jauh lebih berat daripada sekadar mampu membuat penonton tertawa, sebab ada saat ketika tangannya tidak hanya dituntut piawai menggerakkan wayang. Ada saat ketika dirinya sendiri menjadi bagian dari tanggung jawab pertunjukan itu.
WAYANG TIDAK MEMBUTUHKAN UCAPAN SELAMAT
Mungkin ini terdengar sedikit nakal.
Tetapi saya membayangkan wayang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan ucapan Selamat Hari Wayang.
Yang dibutuhkan wayang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih sulit, ada orang yang mau mempelajarinya, ada dalang yang terus memainkannya, ada generasi yang berani menafsirkannya, ada masyarakat yang masih menyediakan ruang baginya, dan ada pengetahuan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Barangkali karena itulah Tumpek Wayang terasa begitu menarik.
Ia tidak meminta kita sekadar mengingat wayang.
Ia meminta kita membangun hubungan dengannya.
Dan mungkin jauh sebelum kita sibuk menentukan kapan wayang harus dirayakan, para pendahulu telah meninggalkan sebuah cara yang jauh lebih dalam untuk melakukannya.
Bukan dengan mengatakan:
“Hari ini adalah Hari Wayang.”
Tetapi dengan sebuah tindakan sederhana, mengeluarkan wayang, membersihkannya, menatanya, menghaturkan persembahan, mengingat guru dan pengetahuan yang diwariskan, lalu menyadari kembali bahwa apa yang berada di tangan seorang dalang bukan sekadar benda pertunjukan.
Ia adalah pengetahuan.
Ia adalah ingatan.
Ia adalah laku.
Dan selama semua itu masih diwariskan, wayang tidak sedang diperingati, Wayang sedang dihidupkan. [T]





























