AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis puisi biasa. Terlalu biasa. Jauh kualitasnya dibanding karya penyair yang disebut mata kiri-mata kanan perpuisian Indonesia itu. Tak ada dorongan untuk mengubah peta sastra Indonesia, atau mengejar penghargaan prestisius. Aku menulis hanya karena senang. Menulis puisi untuk bersenang-senang, tuangkan pikiran dan tuntaskan waktu luang. Ada kalanya kepala terasa riuh oleh timbunan wacana yang ingin dilepaskan. Pada saat lain, ada sensasi-sensasi halus dalam hidup yang menuntut untuk direkam sebelum menguap begitu saja. Puisi jadi muara bagi semua itu. Mengalir pelan, menampung letupan emosi, lalu mengendap di atas lembaran kertas.
Proses kreatitfku terbilang acak. Tak mengenal jam kerja pasti. Kadang bait pertama lahir di tengah kemacetan jalanan sore hari, di antara kepulan asap knalpot dan letupan klakson yang bersahutan. Kadang gagasan itu muncul saat aku menyeruput kopi hitam di kedai pinggir jalan, memerhatikan cara hujan membasahi trotoar. Kata-kata berkelit di kepala, minta dirangkai menjadi kalimat utuh. Aku meraih telepon genggam atau secarik kertas bekas, lalu mulai mencoret-coret. Mengubah rasa asing jadi baris-baris berima atau larik-larik bebas tanpa aturan. Rasanya lega setiap kali satu puisi berhasil diselesaikan, seolah ada beban tak kasat mata yang terangkat dari dada.
Beberapa kali karya-karya sederhana itu memberanikan diri keluar dari laci arsip. Aku mengirimnya ke media daring, majalah, hingga terpilih masuk ke dalam beberapa buku antologi bersama. Melihat nama sendiri tercetak di atas kertas selalu menghadirkan kehangatan tersendiri. Ada kepuasan kecil saat memegang antologi kolektif yang memuat puisiku. Kendati demikian, perasaan itu berhenti di sana. Aku tidak pernah tahu berapa banyak orang yang membaca larik-larik tersebut. Tidak ada data statistik yang mencatat berapa pasang mata yang singgah di halaman itu. Tidak tahu reaksi pembaca.
Dunia penerbitan kini bergerak dalam keheningan yang misterius. Puisi yang sudah terbit, menjelajah ruang dan waktu tanpa kabar balik. Apakah ada orang yang membaca puisiku sembari menikmati sarapan pagi? Atau barangkali kertas puisi itu hanya berakhir jadi pembungkus gorengan? Aku tidak memusingkannya. Namun di balik ketidakpastian itu, aku menyimpan satu keyakinan. Aku percaya seseorang di luar sana pasti pernah membacanya.
Entah berapa orang jumlahnya. Mungkin hanya hitungan jari, atau mungkin lebih sedikit. Boleh jadi pembaca setia puisiku hanyalah seorang editor yang terpaksa menyeleksi ratusan naskah di Sabtu malam. Dia duduk di depan layar komputer yang menyala terang, membaca tiap kata dengan mata lelah sebelum menekan tombol setuju untuk terbit. Atau bisa jadi pembaca itu seorang tukang cetak buku di pabrik penerbitan. Orang yang berdiri di dekat mesin-mesin raksasa yang bising, merapikan tumpukan kertas yang baru keluar dari pemotong, lalu matanya tak sengaja menangkap satu bait puisi milikku sebelum menjilidnya menjadi buku.
Jikapun hanya mereka yang sempat membacanya, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Puisi itu telah melakoni tugasnya. Puisi itu telah melompati benteng kesendirianku dan mendarat di benak orang lain, betapa pun singkatnya momen itu terjadi. Kehadiran pembaca, terlepas dari siapa mereka dan apa profesinya, menyempurnakan keberadaan karya. Puisi yang ditulis dengan jujur akan menemui jalannya sendiri untuk menyapa jiwa yang tepat.
Menjadi penyair kelas teri memberiku kebebasan yang luar biasa. Aku tidak perlu memikul beban ekspektasi publik yang berat. Tidak ada kritikus yang mengintai setiap kata yang kupilih, tidak ada tuntutan untuk selalu tampil jenius di setiap bait. Aku bisa menulis tentang hal-hal kecil yang sering dilupakan orang. Tentang bau tanah kering yang disiram air pertama kali, tentang kepak sayap burung Tekukur di sore hari. Atau tentang sunyinya kamar kos saat libur tiba. Semua terasa otentik karena aku tidak berusaha menjadi siapa-siapa selain diriku sendiri.
Aku terus menulis hingga hari ini. Lembar demi lembar catatan terus bertambah, beberapa terbit dan sebagian besar lainnya tetap tersimpan rapi di laptop. Aku menikmati setiap detik dari proses ini. Selama wacana masih berdesakan di dalam kepala dan sensasi kehidupan masih getar di jiwa, aku akan terus merangkai kata. Biarlah puisi-puisi itu terbang ke mana pun angin membawanya, menemui pembaca rahasianya di tempat-tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. [T]






























