LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika semakin banyak lulusannya justru masuk ke pasar kerja dengan posisi tidak pasti?
Selama menjadi mahasiswa, saya kerap merasa perkuliahan hanya menjadi rangkaian kewajiban. Hadir, mengikuti presentasi, bertanya demi partisipasi, mengerjakan tugas, lalu memperoleh nilai. Begitu pola ini menjadi kebiasaan, mahasiswa bisa melewati satu semester penuh tanpa pernah benar-benar mengalami pergolakan intelektual.
Mahasiswa belajar bahwa yang penting adalah bertanya, bukan apa yang ditanyakan. Presentasi selesai, tugas terkumpul, presensi terpenuhi, sementara pemahaman atas persoalan yang dibicarakan sering tertinggal di belakang.
Kegelisahan serupa saya alami saat skripsian. Margin harus benar, sitasi harus sesuai, formulir demi formulir harus dipenuhi. Mahasiswa bisa menghabiskan begitu banyak energi memastikan penelitian sesuai format sampai lupa mengapa penelitian itu dilakukan sejak awal.
Yang mengganggu bukan aturan akademik itu sendiri, melainkan ketika prosedur menjadi lebih mudah diperiksa daripada kualitas pemikiran. Skripsi berformat rapi lebih mudah dinilai daripada skripsi yang mengajukan pertanyaan ilmiah benar-benar menarik.
Dosen sendiri terjebak dalam tuntutan serupa. Di tengah beban mengajar, mereka dituntut mengejar publikasi, mengurus akreditasi, mengisi laporan kinerja. Universitas terlihat sangat sibuk menghasilkan luaran formal, namun kesibukan itu belum tentu mencerminkan kehidupan intelektual yang subur.
Ketika lulus, mahasiswa langsung berhadapan dengan pasar kerja yang tidak lagi menjanjikan kepastian. Gelar sarjana sering hanya mengantarkan mereka pada pekerjaan tidak sesuai bidang, kontrak jangka pendek, atau posisi tanpa perlindungan memadai, kondisi yang oleh Guy Standing dinamakan precariat.
Pendidikan tinggi menjanjikan mobilitas sosial, pasar kerja justru menawarkan ketidakpastian baru. Barangkali karena itu orientasi mahasiswa terhadap kuliah ikut berubah, kuliah dipandang sebagai investasi, jurusan dipilih berdasarkan peluang kerja, sertifikat dan pengalaman organisasi dikumpulkan untuk CV.
Persoalannya jika seluruh nilai pendidikan hanya diukur dari kecepatan seseorang dikonversi menjadi tenaga kerja, sebab pada titik itu universitas sulit dibedakan dari lembaga pelatihan kerja.
Hal ini kian mendesak seiring kampus makin dekat dengan kebutuhan industri. Kurikulum disesuaikan dengan pasar, keberhasilan lulusan diukur dari serapan kerja. Yang perlu dipertanyakan adalah akibatnya ketika hubungan kampus dan industri menjadi terlalu dominan.
Universitas seyogianya bisa mengambil jarak dari dinamika pasar agar dapat memahaminya secara kritis. Ketika kampus sepenuhnya tunduk pada kebutuhan industri, tidak ada lagi ruang mempertanyakan keadilan dari sistem pasar itu sendiri, mengapa jenis pekerjaan tertentu dihargai sangat tinggi sementara yang lain diabaikan, bagaimana nasib pekerja yang tergusur teknologi. Pertanyaan semacam ini tidak serta-merta menciptakan lapangan kerja baru, namun vital bagi arah perkembangan masyarakat.
Tak jarang kita terlalu mudah menyebut universitas sebagai menara gading karena dianggap jauh dari dunia nyata. Padahal ada kemungkinan sebaliknya. Kampus justru dapat kehilangan fungsi kritisnya ketika terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan dunia nyata yang sudah ada.
Mahasiswa perlu ruang untuk memahami mengapa sistem itu bekerja seperti sekarang, siapa diuntungkan, siapa tertinggal, dan pantas-tidaknya keadaan itu diterima begitu saja.
Pendidikan tinggi tidak dikotomis pilihan antara ilmu dan pekerjaan. Keduanya tetap diperlukan. Persoalannya saat pekerjaan menjadi satu-satunya alasan pengetahuan dianggap bernilai.
Universitas semestinya tidak hanya menghasilkan orang siap masuk pasar kerja, perlu menghasilkan orang mampu melihat pasar kerja secara kritis. Jika ia hanya mengajarkan cara menyesuaikan diri dengan dunia yang sudah ada, kita mungkin akan memiliki semakin banyak lulusan siap bekerja, dan semakin sedikit orang yang bertanya apakah dunia kerja yang mereka masuki memang layak dipertahankan seperti sekarang.[T]
Penulis: I Wayan Renaldi Bayu Permana
Editor: Adnyana Ole






























