28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
in Cerpen
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini genap kepala tiga. Teman-teman seangkatannya sudah banyak yang membicarakan persiapan perubahan kelas anak dari SD menuju SMP.

Ghazali dan Bilqis telah menikah lima tahun lalu, dan sampai sekarang rumah mereka masih sepi dari tawa anak kecil.

“Kenapa belum tidur?” Bilqis menyodok pelan lengan suaminya.

“Mikir aja,” jawab Ghazali singkat. Bilqis sudah hapal jawaban itu. Sejak beberapa bulan terakhir, suaminya jadi pendiam kalau membahas soal anak. Padahal Bilqis sendiri, seorang guru TK di sebuah sekolah pinggiran Jakarta Selatan, setiap hari dikelilingi anak-anak riang yang ironisnya justru membuat rumahnya sendiri terasa lebih sunyi.

“Kita udah coba, Bang. Dokter bilang semua normal. Tinggal waktu aja!” Bilqis menenangkan.

Ghazali hanya mengangguk. Tapi jauh di dalam hati, ia merasa ada yang kurang dari dirinya sebagai laki-laki, sebagai calon ayah yang tak kunjung datang perannya.

Persahabatan Ghazali, Badrun, dan Ubay tak terpisahkan sejak bangku sekolah. Tapi waktu membawa mereka ke jalan yang berbeda-beda. Ghazali kini kurir paket, keliling Jakarta dari pagi sampai malam dengan motor bak yang selalu penuh kardus.

Selepas menyandang status duda, Badrun memilih untuk menyibukkan diri menjadi koki di sebuah resto makanan Vietnam di Kemang, kariernya menanjak meski jam kerjanya gila-gilaan. Ia terpaksa merelakan kehilangan istri yang sangat dicintainya. Kecelakaan maut kereta listrik sepulang kerja membuat Badrun mengalami trauma jika mendengar klakson kereta lintasan Bogor-Bekasi. Pernikahan Badrun singkat, hanya dua bulan.

Ubay, si paling nyeleneh di antara mereka adalah seorang aktor teater, hidup dari panggung ke panggung, kadang berlimpah kadang pas-pasan.

“Lo masih idealis banget jadi aktor teater, Bay. Kapan mau mapan?” celetuk Ghazali suatu malam saat mereka nongkrong di warkop dekat kos Ubay dan Badrun.

“Mapan itu relatif, Al. Gue bahagia di atas panggung,” balas Ubay santai sambil menyeruput kopi.

Badrun, yang duduk di antara mereka, cuma tertawa kecil. “Yang penting kita masih bisa kumpul kayak gini. Kerjaan boleh beda, tapi persahabatan jangan ikutan beda.”

Kata-kata Badrun itu terasa manis waktu itu. Tapi tak lama, ujian sesungguhnya datang justru dari arah yang tak terduga.

***

Minggu yang cerah, Ubay mendapat peran dalam pentas seni komunitas teaternya di halaman Balaikota Jakarta Selatan, kebetulan tak jauh dari sekolah TK tempat Bilqis mengajar. Selesai pentas, saat Ubay masih berkeringat dan bersemangat menerima tepuk tangan penonton, seorang perempuan menghampirinya.

“Sebuah keberuntungan bisa menikmati pementasan drama sebagus ini. Akting kamu keren, sangat menjiwai,” ucapnya sambil tersenyum.

Perempuan itu Seruni, sahabat dekat Bilqis sejak kuliah. Ia diminta untuk menemani Bilqis menonton pementasan Ubay, yang kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sementara, Ghazali setiap minggu selalu ramai orderan. Tatapan Seruni membuat Ubay terpaku sesaat, lalu tertawa canggung.

“Wah, makasih. Nama saya Ubay.”

“Seruni,” jawabnya singkat, namun matanya menyiratkan ketertarikan yang sama.

Sejak hari itu, Ubay jadi sering menyempatkan diri mampir ke sekitar sekolah Bilqis, berharap bertemu Seruni “secara tidak sengaja”. Badrun, sahabat sekaligus teman kosnya, jadi saksi pertama kisah cinta itu tumbuh.

“Lo naksir beneran ya, Bay?” tanya Badrun suatu malam, melihat Ubay sibuk memilih baju di depan cermin kos.

“Gila emang keliatan banget ya.” Ubay nyengir malu.

Badrun, dengan gaya khasnya yang suka membantu, mulai jadi “wingman” tak resmi. Ia yang menyusun rencana biar Ubay dan Seruni sering ketemu mulai dari ajakan makan bareng Bilqis dan Ghazali, sampai bantu Ubay menyiapkan kejutan kecil di hari ulang tahun Seruni. Perlahan, hubungan itu tumbuh serius. Delapan bulan kemudian, semua sahabat sudah menganggap itu tinggal menunggu waktu menuju pelaminan.

***

Tapi kebahagiaan itu retak dari arah yang tak disangka. Suatu hari, Ubay mendapat teror telepon dan pesan dari debt collector pinjaman online. Awalnya ia bingung merasa tak pernah mengajukan pinjaman apa pun. Setelah ditelusuri, ternyata data pribadinya pernah dipakai Badrun beberapa bulan lalu untuk mengajukan pinjol demi menutup modal usaha sampingan katering kecil-kecilan miliknya yang sempat merugi.

Badrun, dalam keadaan terdesak, memakai KTP dan nomor Ubay tanpa izin penuh—hanya bermaksud pinjam sebentar dan berniat melunasi diam-diam sebelum ketahuan. Rencana itu gagal. Cicilan menunggak, bunga membengkak, dan teror pun sampai ke ponsel Ubay, bahkan menyebar ke kontak-kontak di ponselnya termasuk Seruni.

“Lo kok bisa-bisanya pake nama gue tanpa bilang-bilang?!” bentak Ubay di kamar kos mereka, suaranya bergetar menahan amarah.

“Gue… gue kepepet, Bay. Niatnya mau gue lunasin sebelum lo tau,” Badrun menunduk, suaranya lirih.

“Kepepet bukan alasan buat ngerusak nama baik gue! Sekarang Seruni juga jadi mikir yang enggak-enengak soal gue!”

Sejak malam itu, keduanya tak lagi bertegur sapa. Ubay pindah kos, menjauh dari Badrun yang dulu paling dekat dengannya. Persahabatan bertahun-tahun itu retak hanya dalam semalam.

Imbasnya pun merembet ke hubungan Ubay dan Seruni. Seruni, yang sempat mendapat pesan teror dari debt collector karena namanya ada di kontak darurat Ubay, jadi ragu akan hubungan yang berjalan selama ini.

“Aku nggak nuduh kamu apa-apa, Bay. Tapi ini bikin aku mikir, seberapa siap kamu ngadepin masalah kayak gini kalau kita udah nikah nanti,” ujar Seruni suatu sore, nadanya berat menahan kecewa.

Ubay tak bisa membantah. Bukan salahnya, tapi ia yang menanggung akibatnya. Hubungan mereka jadi renggang. Panggilan telepon berkurang, pesan tak lagi dibalas cepat. Beberapa bulan berlalu dalam kecanggungan yang menyesakkan.

Ghazali dan Bilqis, sebagai sahabat kedua belah pihak, ikut merasa berat. Mereka berusaha jadi penengah, namun luka itu butuh waktu untuk sembuh dengan sendirinya.

“Kadang persahabatan itu diuji bukan sama masalah gede, tapi sama kesalahan kecil yang nggak diomongin dari awal,” gumam Bilqis suatu malam pada Ghazali.

Ghazali mengangguk pelan. Ia sendiri jadi merenung. Jika selama ini terlalu sibuk memikirkan masalahnya sendiri, sampai lupa memperhatikan retaknya persahabatan dua sahabatnya yang lain.

***

Beberapa bulan kemudian, di tengah kesibukan masing-masing yang masih menyisakan jarak, Ghazali mengirim pesan ke grup WhatsApp lama yang sudah lama sepi.

“Woy, pada sibuk banget ya sampe grup jadi kuburan. Sabtu ini dateng ke rumah gue ya, ada yang mau gue omongin. Penting,” kata Ghazali.

Badrun dan Ubay sama-sama membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk. Tapi demi Ghazali, sahabat yang selama ini jadi perekat di antara mereka, keduanya sepakat datang meski belum saling menyapa satu sama lain.

Sabtu sore itu, rumah kecil Ghazali dan Bilqis di Pengadegan lebih ramai dari biasanya. Badrun datang membawa oleh-oleh makanan buatannya sendiri. Ubay datang belakangan, agak canggung melihat Badrun sudah lebih dulu duduk di ruang tamu. Seruni pun hadir, diundang khusus oleh Bilqis.

Setelah semua berkumpul, Ghazali berdiri di tengah ruangan, menggenggam tangan Bilqis.

“Gue kumpulin kalian bukan buat basa-basi. Gue mau kasih tau… Bilqis lagi hamil. Delapan minggu.”

Ruangan hening sesaat, lalu pecah oleh tawa dan pelukan haru. Badrun yang pertama berdiri, matanya berkaca-kaca.

“Akhirnya, Al! Gue seneng banget buat lo berdua.”

Ubay, tanpa sadar, ikut berdiri dan memeluk Ghazali. Dalam pelukan itu, matanya bertemu dengan Badrun. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, keduanya saling menatap tanpa amarah.

“Bay,” Badrun memulai, suaranya pelan, “Gue minta maaf. Yang kemarin itu salah gue sepenuhnya. Gue nggak nyangka bakal ngerusak semuanya termasuk hubungan lo sama Seruni.”

Ubay menghela napas panjang. “Gue juga kelamaan marah, Drun. Padahal lo sahabat gue dari dulu. Cuma… butuh waktu buat gue nerima kalau itu bukan niat jahat lo.”

“Gue janji, gue bakal benerin semuanya. Termasuk sama Seruni, kalau lo mau gue bantu,” Badrun menawarkan, seperti dulu ia selalu jadi orang di belakang layar yang membantu Ubay.

Dari sudut ruangan, Seruni yang mendengar percakapan itu melangkah mendekat. “Sebenernya… aku juga kangen, Bay. Bukan berarti aku ragu sama kamu, tapi aku takut kalau kita belum cukup dewasa buat hadapin masalah bareng.”

Ubay menatap Seruni lekat. “Aku belajar banyak dari ini. Kalau ada masalah, aku janji nggak bakal nutupin lagi. Kita hadepin bareng-bareng.”

Bilqis yang menyaksikan semua itu tersenyum sambil mengusap perutnya yang belum terlihat membesar. Ia menoleh ke Ghazali. “Lihat, Bang. Kabar bahagia kita malah jadi obat buat mereka semua.”

Ghazali tersenyum, matanya berkaca-kaca. Selama ini ia cemas menjadi ayah, takut belum cukup siap, takut belum cukup dewasa. Tapi malam itu, melihat sahabat-sahabatnya kembali saling merangkul, ia sadar. Menjadi dewasa bukan soal siap sempurna, melainkan soal mau saling memaafkan dan terus berjalan bersama, apa pun rintangannya.

Di ruang tamu kecil itu, tawa kembali pecah. Badrun menyalakan lagi cerita-cerita lama, Ubay menimpali dengan gaya teatrikalnya yang khas, dan Seruni tertawa lepas untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. Bilqis menyandarkan kepala di bahu Ghazali.

Rumah kecil itu, yang dulu terasa sunyi menunggu kabar baik, kini terasa hangat dipenuhi tawa sahabat, cinta yang kembali utuh, dan harapan baru yang akan lahir sembilan bulan lagi. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta atau akrab disapa Ibenk adalah seorang pegiat literasi dan advokasi kebangsaan yang berasal dari Buleleng. Aktif menjadi podcaster dan salah satu pendiri Sociocorner, sebuah komunitas media alternatif yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kebangsaan dan keberagaman. Lahir di Surabaya, 22 Februari 1991 memiliki hobi menonton film dan pementasan budaya. Saat ini, penulis menetap di Jakarta dan aktif menjadi pembicara maupun kolumnis media online yang memiliki konsentrasi terhadap demokrasi, partisipasi anak muda, dan moderasi beragama. Buku yang pernah diterbitkan antara lain: Ruang Baru Masyarakat Digital (2020) dan Candradimuka Gerakan Intelektual (2022).

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co