GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini genap kepala tiga. Teman-teman seangkatannya sudah banyak yang membicarakan persiapan perubahan kelas anak dari SD menuju SMP.
Ghazali dan Bilqis telah menikah lima tahun lalu, dan sampai sekarang rumah mereka masih sepi dari tawa anak kecil.
“Kenapa belum tidur?” Bilqis menyodok pelan lengan suaminya.
“Mikir aja,” jawab Ghazali singkat. Bilqis sudah hapal jawaban itu. Sejak beberapa bulan terakhir, suaminya jadi pendiam kalau membahas soal anak. Padahal Bilqis sendiri, seorang guru TK di sebuah sekolah pinggiran Jakarta Selatan, setiap hari dikelilingi anak-anak riang yang ironisnya justru membuat rumahnya sendiri terasa lebih sunyi.
“Kita udah coba, Bang. Dokter bilang semua normal. Tinggal waktu aja!” Bilqis menenangkan.
Ghazali hanya mengangguk. Tapi jauh di dalam hati, ia merasa ada yang kurang dari dirinya sebagai laki-laki, sebagai calon ayah yang tak kunjung datang perannya.
Persahabatan Ghazali, Badrun, dan Ubay tak terpisahkan sejak bangku sekolah. Tapi waktu membawa mereka ke jalan yang berbeda-beda. Ghazali kini kurir paket, keliling Jakarta dari pagi sampai malam dengan motor bak yang selalu penuh kardus.
Selepas menyandang status duda, Badrun memilih untuk menyibukkan diri menjadi koki di sebuah resto makanan Vietnam di Kemang, kariernya menanjak meski jam kerjanya gila-gilaan. Ia terpaksa merelakan kehilangan istri yang sangat dicintainya. Kecelakaan maut kereta listrik sepulang kerja membuat Badrun mengalami trauma jika mendengar klakson kereta lintasan Bogor-Bekasi. Pernikahan Badrun singkat, hanya dua bulan.
Ubay, si paling nyeleneh di antara mereka adalah seorang aktor teater, hidup dari panggung ke panggung, kadang berlimpah kadang pas-pasan.
“Lo masih idealis banget jadi aktor teater, Bay. Kapan mau mapan?” celetuk Ghazali suatu malam saat mereka nongkrong di warkop dekat kos Ubay dan Badrun.
“Mapan itu relatif, Al. Gue bahagia di atas panggung,” balas Ubay santai sambil menyeruput kopi.
Badrun, yang duduk di antara mereka, cuma tertawa kecil. “Yang penting kita masih bisa kumpul kayak gini. Kerjaan boleh beda, tapi persahabatan jangan ikutan beda.”
Kata-kata Badrun itu terasa manis waktu itu. Tapi tak lama, ujian sesungguhnya datang justru dari arah yang tak terduga.
***
Minggu yang cerah, Ubay mendapat peran dalam pentas seni komunitas teaternya di halaman Balaikota Jakarta Selatan, kebetulan tak jauh dari sekolah TK tempat Bilqis mengajar. Selesai pentas, saat Ubay masih berkeringat dan bersemangat menerima tepuk tangan penonton, seorang perempuan menghampirinya.
“Sebuah keberuntungan bisa menikmati pementasan drama sebagus ini. Akting kamu keren, sangat menjiwai,” ucapnya sambil tersenyum.
Perempuan itu Seruni, sahabat dekat Bilqis sejak kuliah. Ia diminta untuk menemani Bilqis menonton pementasan Ubay, yang kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sementara, Ghazali setiap minggu selalu ramai orderan. Tatapan Seruni membuat Ubay terpaku sesaat, lalu tertawa canggung.
“Wah, makasih. Nama saya Ubay.”
“Seruni,” jawabnya singkat, namun matanya menyiratkan ketertarikan yang sama.
Sejak hari itu, Ubay jadi sering menyempatkan diri mampir ke sekitar sekolah Bilqis, berharap bertemu Seruni “secara tidak sengaja”. Badrun, sahabat sekaligus teman kosnya, jadi saksi pertama kisah cinta itu tumbuh.
“Lo naksir beneran ya, Bay?” tanya Badrun suatu malam, melihat Ubay sibuk memilih baju di depan cermin kos.
“Gila emang keliatan banget ya.” Ubay nyengir malu.
Badrun, dengan gaya khasnya yang suka membantu, mulai jadi “wingman” tak resmi. Ia yang menyusun rencana biar Ubay dan Seruni sering ketemu mulai dari ajakan makan bareng Bilqis dan Ghazali, sampai bantu Ubay menyiapkan kejutan kecil di hari ulang tahun Seruni. Perlahan, hubungan itu tumbuh serius. Delapan bulan kemudian, semua sahabat sudah menganggap itu tinggal menunggu waktu menuju pelaminan.
***
Tapi kebahagiaan itu retak dari arah yang tak disangka. Suatu hari, Ubay mendapat teror telepon dan pesan dari debt collector pinjaman online. Awalnya ia bingung merasa tak pernah mengajukan pinjaman apa pun. Setelah ditelusuri, ternyata data pribadinya pernah dipakai Badrun beberapa bulan lalu untuk mengajukan pinjol demi menutup modal usaha sampingan katering kecil-kecilan miliknya yang sempat merugi.
Badrun, dalam keadaan terdesak, memakai KTP dan nomor Ubay tanpa izin penuh—hanya bermaksud pinjam sebentar dan berniat melunasi diam-diam sebelum ketahuan. Rencana itu gagal. Cicilan menunggak, bunga membengkak, dan teror pun sampai ke ponsel Ubay, bahkan menyebar ke kontak-kontak di ponselnya termasuk Seruni.
“Lo kok bisa-bisanya pake nama gue tanpa bilang-bilang?!” bentak Ubay di kamar kos mereka, suaranya bergetar menahan amarah.
“Gue… gue kepepet, Bay. Niatnya mau gue lunasin sebelum lo tau,” Badrun menunduk, suaranya lirih.
“Kepepet bukan alasan buat ngerusak nama baik gue! Sekarang Seruni juga jadi mikir yang enggak-enengak soal gue!”
Sejak malam itu, keduanya tak lagi bertegur sapa. Ubay pindah kos, menjauh dari Badrun yang dulu paling dekat dengannya. Persahabatan bertahun-tahun itu retak hanya dalam semalam.
Imbasnya pun merembet ke hubungan Ubay dan Seruni. Seruni, yang sempat mendapat pesan teror dari debt collector karena namanya ada di kontak darurat Ubay, jadi ragu akan hubungan yang berjalan selama ini.
“Aku nggak nuduh kamu apa-apa, Bay. Tapi ini bikin aku mikir, seberapa siap kamu ngadepin masalah kayak gini kalau kita udah nikah nanti,” ujar Seruni suatu sore, nadanya berat menahan kecewa.
Ubay tak bisa membantah. Bukan salahnya, tapi ia yang menanggung akibatnya. Hubungan mereka jadi renggang. Panggilan telepon berkurang, pesan tak lagi dibalas cepat. Beberapa bulan berlalu dalam kecanggungan yang menyesakkan.
Ghazali dan Bilqis, sebagai sahabat kedua belah pihak, ikut merasa berat. Mereka berusaha jadi penengah, namun luka itu butuh waktu untuk sembuh dengan sendirinya.
“Kadang persahabatan itu diuji bukan sama masalah gede, tapi sama kesalahan kecil yang nggak diomongin dari awal,” gumam Bilqis suatu malam pada Ghazali.
Ghazali mengangguk pelan. Ia sendiri jadi merenung. Jika selama ini terlalu sibuk memikirkan masalahnya sendiri, sampai lupa memperhatikan retaknya persahabatan dua sahabatnya yang lain.
***
Beberapa bulan kemudian, di tengah kesibukan masing-masing yang masih menyisakan jarak, Ghazali mengirim pesan ke grup WhatsApp lama yang sudah lama sepi.
“Woy, pada sibuk banget ya sampe grup jadi kuburan. Sabtu ini dateng ke rumah gue ya, ada yang mau gue omongin. Penting,” kata Ghazali.
Badrun dan Ubay sama-sama membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk. Tapi demi Ghazali, sahabat yang selama ini jadi perekat di antara mereka, keduanya sepakat datang meski belum saling menyapa satu sama lain.
Sabtu sore itu, rumah kecil Ghazali dan Bilqis di Pengadegan lebih ramai dari biasanya. Badrun datang membawa oleh-oleh makanan buatannya sendiri. Ubay datang belakangan, agak canggung melihat Badrun sudah lebih dulu duduk di ruang tamu. Seruni pun hadir, diundang khusus oleh Bilqis.
Setelah semua berkumpul, Ghazali berdiri di tengah ruangan, menggenggam tangan Bilqis.
“Gue kumpulin kalian bukan buat basa-basi. Gue mau kasih tau… Bilqis lagi hamil. Delapan minggu.”
Ruangan hening sesaat, lalu pecah oleh tawa dan pelukan haru. Badrun yang pertama berdiri, matanya berkaca-kaca.
“Akhirnya, Al! Gue seneng banget buat lo berdua.”
Ubay, tanpa sadar, ikut berdiri dan memeluk Ghazali. Dalam pelukan itu, matanya bertemu dengan Badrun. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, keduanya saling menatap tanpa amarah.
“Bay,” Badrun memulai, suaranya pelan, “Gue minta maaf. Yang kemarin itu salah gue sepenuhnya. Gue nggak nyangka bakal ngerusak semuanya termasuk hubungan lo sama Seruni.”
Ubay menghela napas panjang. “Gue juga kelamaan marah, Drun. Padahal lo sahabat gue dari dulu. Cuma… butuh waktu buat gue nerima kalau itu bukan niat jahat lo.”
“Gue janji, gue bakal benerin semuanya. Termasuk sama Seruni, kalau lo mau gue bantu,” Badrun menawarkan, seperti dulu ia selalu jadi orang di belakang layar yang membantu Ubay.
Dari sudut ruangan, Seruni yang mendengar percakapan itu melangkah mendekat. “Sebenernya… aku juga kangen, Bay. Bukan berarti aku ragu sama kamu, tapi aku takut kalau kita belum cukup dewasa buat hadapin masalah bareng.”
Ubay menatap Seruni lekat. “Aku belajar banyak dari ini. Kalau ada masalah, aku janji nggak bakal nutupin lagi. Kita hadepin bareng-bareng.”
Bilqis yang menyaksikan semua itu tersenyum sambil mengusap perutnya yang belum terlihat membesar. Ia menoleh ke Ghazali. “Lihat, Bang. Kabar bahagia kita malah jadi obat buat mereka semua.”
Ghazali tersenyum, matanya berkaca-kaca. Selama ini ia cemas menjadi ayah, takut belum cukup siap, takut belum cukup dewasa. Tapi malam itu, melihat sahabat-sahabatnya kembali saling merangkul, ia sadar. Menjadi dewasa bukan soal siap sempurna, melainkan soal mau saling memaafkan dan terus berjalan bersama, apa pun rintangannya.
Di ruang tamu kecil itu, tawa kembali pecah. Badrun menyalakan lagi cerita-cerita lama, Ubay menimpali dengan gaya teatrikalnya yang khas, dan Seruni tertawa lepas untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. Bilqis menyandarkan kepala di bahu Ghazali.
Rumah kecil itu, yang dulu terasa sunyi menunggu kabar baik, kini terasa hangat dipenuhi tawa sahabat, cinta yang kembali utuh, dan harapan baru yang akan lahir sembilan bulan lagi. [T]





























