29 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Muhammad Farras Hanif by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
in Esai
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Muhammad Farras Hanif

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu saja dari dapur. Di baliknya ada petani yang menanam, pekerja yang mengolah, pedagang yang mendistribusikan, serta berbagai pelaku usaha yang memastikan pangan tersedia ketika kita membutuhkannya. Jika kita telaah lebih dalam, pembicaraan terkait pangan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan pokok saja, melainkan tentang sebuah ekosistem ekonomi yang sangat besar.

Selama ini, isu ketahanan pangan umumnya dibahas dari sisi produksi, harga, pupuk, impor, dan ketersediaan bahan pangan saja. Aspek-aspek tersebut memang sangat penting untuk dikaji dan didiskusikan secara mendalam oleh para pakar. Namun, terdapat pertanyaan mendasar yang juga perlu diajukan: siapa yang membiayai pangan kita?

Pertanyaan ini semakin relevan karena sektor pertanian dan pangan tidak hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini, tetapi juga harus mampu menghadapi pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, pergeseran pola konsumsi, serta ketidakpastian ekonomi. Oleh sebab itu, ketahanan pangan tidak cukup hanya ditopang oleh lahan, teknologi, dan kebijakan, tetapi juga memerlukan dukungan modal yang memadai dan berkelanjutan.

Pada praktiknya, pelaku utama dalam rantai pangan justru sering berada pada posisi yang membutuhkan modal paling besar sekaligus menghadapi risiko yang tinggi. Petani sebagai tulang punggung pangan justru harus mengeluarkan biaya sebelum memperoleh hasil panen. Mereka membutuhkan benih, pupuk, alat produksi, tenaga kerja, hingga biaya distribusi.

Pada prosesnya, petani sering kali menghadapi tantangan eksternal berupa cuaca, serangan hama, perubahan harga, dan kondisi pasar yang mempengaruhi perubahan hasil pertanian tiap periodenya. Bagi petani kecil, keterbatasan modal dapat membuat peningkatan produktivitas menjadi sulit dilakukan. Akibatnya, persoalan pangan bukan hanya persoalan bagaimana menghasilkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana memastikan pelaku di dalamnya memiliki akses terhadap pembiayaan yang memadai.

Di sisi lain, masyarakat memiliki surplus dana yang sering kali belum dimanfaatkan di sistem keuangan dan investasi. Surplus dana tersebut seharusnya dapat dioptimalkan untuk berinvestasi ke beberapa instrument keuangan. Setiap orang yang berinvestasi pada dasarnya sedang memutuskan ke mana uangnya ditempatkan dan aktivitas ekonomi apa yang secara tidak langsung ikut dibiayainya. Selama ini, investasi sering dipahami terutama dari satu pertanyaan: berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh? Pertanyaan tersebut tentu sah dan penting.

Namun, bukankah kita juga perlu bertanya: apa yang akan tumbuh dari uang yang kita investasikan? Jika dana masyarakat dapat diarahkan ke aktivitas ekonomi produktif yang memperkuat sektor pangan, investasi tidak lagi sekadar menjadi instrumen untuk meningkatkan kekayaan individu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Di titik inilah investasi syariah memiliki ruang untuk mengambil peran. Investasi syariah pada hakikatnya tidak hanya dipahami sebagai pilihan investasi yang memenuhi ketentuan syariah, tetapi juga dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas sebagai sarana mobilisasi dana menuju kegiatan ekonomi yang produktif.

Investasi Berdampak

Dengan prinsip yang menekankan keadilan, amanah, dan kemaslahatan, investasi syariah memiliki peluang untuk mempertemukan pemilik modal dengan sektor-sektor yang membutuhkan pembiayaan, termasuk sektor pangan. Tantangan yang dihadapi investasi berbasis syariah bukan lagi sekedar apakah investasi syariah dapat memberikan keuntungan, melainkan bagaimana ekosistem investasi tersebut dapat memastikan bahwa sebagian modal yang dihimpun benar-benar ikut menggerakkan sektor riil dan memperkuat fondasi pangan Indonesia.

Namun, menghadirkan investasi syariah ke sektor pangan tentu tidak cukup dengan sekadar mengajak masyarakat berinvestasi. Dibutuhkan mekanisme yang mampu menghubungkan dana investor dengan kebutuhan nyata di sektor pangan. Investasi harus diarahkan pada ekosistem yang produktif, mulai dari usaha pertanian, peternakan, pengolahan hasil pertanian, hingga distribusi pangan. Dengan demikian, dana yang dihimpun tidak berhenti sebagai angka dalam portofolio investasi, tetapi benar-benar memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi yang menghasilkan barang, membuka lapangan kerja, dan memperkuat rantai pasok pangan.

Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai instrumen dalam ekosistem keuangan syariah. Sukuk, misalnya, dapat menjadi salah satu instrumen untuk menghimpun dana bagi pembiayaan proyek atau kegiatan produktif yang berkaitan dengan infrastruktur pangan.

Sementara itu, instrumen pasar modal syariah dan skema pembiayaan berbasis syariah lainnya dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan usaha di sektor pangan. Yang terpenting bukan semata-mata jenis instrumennya, tetapi bagaimana desain pembiayaannya mampu mempertemukan kebutuhan modal dengan proyek yang layak, produktif, dan memberikan manfaat nyata.

Di sinilah gagasan investasi berdampak (impact investing) menjadi relevan. Selama ini, keberhasilan investasi hampir selalu diukur melalui tingkat keuntungan yang diperoleh investor. Ukuran tersebut memang penting karena investasi tetap harus memberikan imbal hasil yang wajar dan mempertimbangkan risiko.

 Namun, investasi juga dapat dinilai dari dampak yang muncul di luar angka keuntungan tersebut. Ketika modal membantu petani meningkatkan produksi, UMKM pangan memperluas usahanya, atau infrastruktur distribusi pangan menjadi lebih baik, maka terdapat nilai ekonomi dan sosial yang ikut tercipta.

Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Dalam perspektif ekonomi syariah, pendekatan semacam ini memiliki landasan yang kuat. Prinsip amanah mengingatkan bahwa dana yang dipercayakan investor harus dikelola secara bertanggung jawab. Prinsip keadilan mendorong agar manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada pemilik modal atau perusahaan besar, tetapi juga dapat dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang menjadi bagian penting dari rantai pangan. Sementara prinsip maslahah memperluas cara kita melihat keberhasilan investasi: keuntungan finansial tetap penting, tetapi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat juga patut menjadi pertimbangan.

Meski demikian, kita perlu berhati-hati agar gagasan investasi syariah untuk pangan tidak berhenti sebagai slogan. Tidak semua investasi syariah secara otomatis memberikan dampak sosial, dan tidak semua proyek pangan otomatis layak dibiayai. Dibutuhkan tata kelola yang transparan, pengelolaan risiko yang baik, pemilihan proyek yang kredibel, serta mekanisme untuk mengukur dampak yang dihasilkan.

Investor juga perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai ke mana dananya disalurkan. Dengan begitu, prinsip syariah tidak hanya hadir pada bentuk akad atau instrumen, tetapi juga tercermin dalam bagaimana modal tersebut dikelola dan untuk siapa manfaat ekonominya dihasilkan.

Karena itu, membangun ketahanan pangan seharusnya bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Pemerintah tetap memiliki peran penting dalam menciptakan kebijakan, infrastruktur, insentif, dan ekosistem yang memungkinkan sektor pangan berkembang. Industri keuangan syariah dapat mengambil peran dengan menghadirkan skema pembiayaan dan investasi yang sesuai. Sementara masyarakat sebagai pemilik dana memiliki pilihan untuk menjadi bagian dari proses tersebut melalui investasi yang tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan, tetapi juga dampaknya terhadap perekonomian.

Pada akhirnya, kita mungkin perlu mengubah cara pandang terhadap investasi. Investasi bukan hanya tentang bagaimana uang kita bertambah, tetapi juga tentang apa yang tumbuh karena uang tersebut. Ketika pangan menjadi kebutuhan dasar sekaligus persoalan strategis bangsa, modal yang mengalir ke sektor pangan semestinya tidak dipandang sebagai kegiatan ekonomi biasa.

Jika investasi syariah mampu mempertemukan dana masyarakat dengan petani, pelaku usaha pangan, koperasi, dan sektor produktif lainnya, maka investasi dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membangun ketahanan pangan. Sebab, mungkin sudah waktunya investasi syariah tidak hanya tumbuh di layar aplikasi investasi, tetapi ikut turun ke sawah. [T]

Penulis: Muhammad Farras Hanif
Editor: Adnyana Ole

Tags: Investasikeuanganpangansyariah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Muhammad Farras Hanif

Muhammad Farras Hanif

Dosen Prodi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co