30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Muhammad Farras Hanif by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
in Esai
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Muhammad Farras Hanif

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu saja dari dapur. Di baliknya ada petani yang menanam, pekerja yang mengolah, pedagang yang mendistribusikan, serta berbagai pelaku usaha yang memastikan pangan tersedia ketika kita membutuhkannya. Jika kita telaah lebih dalam, pembicaraan terkait pangan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan pokok saja, melainkan tentang sebuah ekosistem ekonomi yang sangat besar.

Selama ini, isu ketahanan pangan umumnya dibahas dari sisi produksi, harga, pupuk, impor, dan ketersediaan bahan pangan saja. Aspek-aspek tersebut memang sangat penting untuk dikaji dan didiskusikan secara mendalam oleh para pakar. Namun, terdapat pertanyaan mendasar yang juga perlu diajukan: siapa yang membiayai pangan kita?

Pertanyaan ini semakin relevan karena sektor pertanian dan pangan tidak hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini, tetapi juga harus mampu menghadapi pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, pergeseran pola konsumsi, serta ketidakpastian ekonomi. Oleh sebab itu, ketahanan pangan tidak cukup hanya ditopang oleh lahan, teknologi, dan kebijakan, tetapi juga memerlukan dukungan modal yang memadai dan berkelanjutan.

Pada praktiknya, pelaku utama dalam rantai pangan justru sering berada pada posisi yang membutuhkan modal paling besar sekaligus menghadapi risiko yang tinggi. Petani sebagai tulang punggung pangan justru harus mengeluarkan biaya sebelum memperoleh hasil panen. Mereka membutuhkan benih, pupuk, alat produksi, tenaga kerja, hingga biaya distribusi.

Pada prosesnya, petani sering kali menghadapi tantangan eksternal berupa cuaca, serangan hama, perubahan harga, dan kondisi pasar yang mempengaruhi perubahan hasil pertanian tiap periodenya. Bagi petani kecil, keterbatasan modal dapat membuat peningkatan produktivitas menjadi sulit dilakukan. Akibatnya, persoalan pangan bukan hanya persoalan bagaimana menghasilkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana memastikan pelaku di dalamnya memiliki akses terhadap pembiayaan yang memadai.

Di sisi lain, masyarakat memiliki surplus dana yang sering kali belum dimanfaatkan di sistem keuangan dan investasi. Surplus dana tersebut seharusnya dapat dioptimalkan untuk berinvestasi ke beberapa instrument keuangan. Setiap orang yang berinvestasi pada dasarnya sedang memutuskan ke mana uangnya ditempatkan dan aktivitas ekonomi apa yang secara tidak langsung ikut dibiayainya. Selama ini, investasi sering dipahami terutama dari satu pertanyaan: berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh? Pertanyaan tersebut tentu sah dan penting.

Namun, bukankah kita juga perlu bertanya: apa yang akan tumbuh dari uang yang kita investasikan? Jika dana masyarakat dapat diarahkan ke aktivitas ekonomi produktif yang memperkuat sektor pangan, investasi tidak lagi sekadar menjadi instrumen untuk meningkatkan kekayaan individu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Di titik inilah investasi syariah memiliki ruang untuk mengambil peran. Investasi syariah pada hakikatnya tidak hanya dipahami sebagai pilihan investasi yang memenuhi ketentuan syariah, tetapi juga dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas sebagai sarana mobilisasi dana menuju kegiatan ekonomi yang produktif.

Investasi Berdampak

Dengan prinsip yang menekankan keadilan, amanah, dan kemaslahatan, investasi syariah memiliki peluang untuk mempertemukan pemilik modal dengan sektor-sektor yang membutuhkan pembiayaan, termasuk sektor pangan. Tantangan yang dihadapi investasi berbasis syariah bukan lagi sekedar apakah investasi syariah dapat memberikan keuntungan, melainkan bagaimana ekosistem investasi tersebut dapat memastikan bahwa sebagian modal yang dihimpun benar-benar ikut menggerakkan sektor riil dan memperkuat fondasi pangan Indonesia.

Namun, menghadirkan investasi syariah ke sektor pangan tentu tidak cukup dengan sekadar mengajak masyarakat berinvestasi. Dibutuhkan mekanisme yang mampu menghubungkan dana investor dengan kebutuhan nyata di sektor pangan. Investasi harus diarahkan pada ekosistem yang produktif, mulai dari usaha pertanian, peternakan, pengolahan hasil pertanian, hingga distribusi pangan. Dengan demikian, dana yang dihimpun tidak berhenti sebagai angka dalam portofolio investasi, tetapi benar-benar memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi yang menghasilkan barang, membuka lapangan kerja, dan memperkuat rantai pasok pangan.

Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai instrumen dalam ekosistem keuangan syariah. Sukuk, misalnya, dapat menjadi salah satu instrumen untuk menghimpun dana bagi pembiayaan proyek atau kegiatan produktif yang berkaitan dengan infrastruktur pangan.

Sementara itu, instrumen pasar modal syariah dan skema pembiayaan berbasis syariah lainnya dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan usaha di sektor pangan. Yang terpenting bukan semata-mata jenis instrumennya, tetapi bagaimana desain pembiayaannya mampu mempertemukan kebutuhan modal dengan proyek yang layak, produktif, dan memberikan manfaat nyata.

Di sinilah gagasan investasi berdampak (impact investing) menjadi relevan. Selama ini, keberhasilan investasi hampir selalu diukur melalui tingkat keuntungan yang diperoleh investor. Ukuran tersebut memang penting karena investasi tetap harus memberikan imbal hasil yang wajar dan mempertimbangkan risiko.

 Namun, investasi juga dapat dinilai dari dampak yang muncul di luar angka keuntungan tersebut. Ketika modal membantu petani meningkatkan produksi, UMKM pangan memperluas usahanya, atau infrastruktur distribusi pangan menjadi lebih baik, maka terdapat nilai ekonomi dan sosial yang ikut tercipta.

Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Dalam perspektif ekonomi syariah, pendekatan semacam ini memiliki landasan yang kuat. Prinsip amanah mengingatkan bahwa dana yang dipercayakan investor harus dikelola secara bertanggung jawab. Prinsip keadilan mendorong agar manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada pemilik modal atau perusahaan besar, tetapi juga dapat dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang menjadi bagian penting dari rantai pangan. Sementara prinsip maslahah memperluas cara kita melihat keberhasilan investasi: keuntungan finansial tetap penting, tetapi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat juga patut menjadi pertimbangan.

Meski demikian, kita perlu berhati-hati agar gagasan investasi syariah untuk pangan tidak berhenti sebagai slogan. Tidak semua investasi syariah secara otomatis memberikan dampak sosial, dan tidak semua proyek pangan otomatis layak dibiayai. Dibutuhkan tata kelola yang transparan, pengelolaan risiko yang baik, pemilihan proyek yang kredibel, serta mekanisme untuk mengukur dampak yang dihasilkan.

Investor juga perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai ke mana dananya disalurkan. Dengan begitu, prinsip syariah tidak hanya hadir pada bentuk akad atau instrumen, tetapi juga tercermin dalam bagaimana modal tersebut dikelola dan untuk siapa manfaat ekonominya dihasilkan.

Karena itu, membangun ketahanan pangan seharusnya bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Pemerintah tetap memiliki peran penting dalam menciptakan kebijakan, infrastruktur, insentif, dan ekosistem yang memungkinkan sektor pangan berkembang. Industri keuangan syariah dapat mengambil peran dengan menghadirkan skema pembiayaan dan investasi yang sesuai. Sementara masyarakat sebagai pemilik dana memiliki pilihan untuk menjadi bagian dari proses tersebut melalui investasi yang tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan, tetapi juga dampaknya terhadap perekonomian.

Pada akhirnya, kita mungkin perlu mengubah cara pandang terhadap investasi. Investasi bukan hanya tentang bagaimana uang kita bertambah, tetapi juga tentang apa yang tumbuh karena uang tersebut. Ketika pangan menjadi kebutuhan dasar sekaligus persoalan strategis bangsa, modal yang mengalir ke sektor pangan semestinya tidak dipandang sebagai kegiatan ekonomi biasa.

Jika investasi syariah mampu mempertemukan dana masyarakat dengan petani, pelaku usaha pangan, koperasi, dan sektor produktif lainnya, maka investasi dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membangun ketahanan pangan. Sebab, mungkin sudah waktunya investasi syariah tidak hanya tumbuh di layar aplikasi investasi, tetapi ikut turun ke sawah. [T]

Penulis: Muhammad Farras Hanif
Editor: Adnyana Ole

Tags: Investasikeuanganpangansyariah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Next Post

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Muhammad Farras Hanif

Muhammad Farras Hanif

Dosen Prodi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co