SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan pribadi. “Kamu baik-baik saja?” “Sehat?” “Ada masalah?” Kadang mereka mendoakan saya, atau hanya bertanya singkat. Saya tahu itu bentuk kepedulian dan saya tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang mengganggu.
Tetapi lama-lama saya justru tertarik pada sesuatu yang berada di balik pertanyaan itu. Mengapa sebuah tulisan begitu mudah dianggap sebagai keadaan sebenarnya dari seseorang? Mengapa ketika saya menulis tentang kesedihan, orang menganggap saya sedang sedih? Ketika saya menulis tentang kemarahan, orang mengira saya sedang bermusuhan dengan seseorang? Ketika saya menulis sesuatu yang gelap, orang merasa perlu memastikan bahwa saya baik-baik saja?
Bukankah seorang penulis boleh menulis tentang sesuatu yang tidak sedang dialaminya? Bukankah penyair boleh menciptakan kesedihan yang tidak sedang ia rasakan? Bukankah sebuah “aku” dalam puisi tidak selalu berarti penulisnya?
Saya memang sengaja menggunakan media sosial dengan cara seperti itu. Bagi saya, media sosial bukan semata-mata etalase untuk personal branding. Ia kadang menjadi semacam buku harian yang pintunya tidak saya tutup rapat-rapat. Saya menulis ketika sedang senang, marah, kecewa, atau sedang baik-baik saja. Tetapi saya juga menulis ketika diri saya sedang tidak terlalu baik. Itu pilihan sadar. Saya tidak merasa perlu memperlihatkan hanya bagian kehidupan yang rapi, sehat, sukses, bahagia, dan enak dipandang.
Hidup tidak selalu seperti itu. Ada hari ketika seseorang merasa ringan, ada hari ketika kepalanya penuh. Ada saat ketika ia sangat percaya diri, ada saat ketika ia merasa kecil. Ada pagi ketika ia produktif, ada malam ketika ia hanya ingin diam.
Manusia memang tidak sesederhana unggahan terakhirnya. Tetapi media sosial membuat kita seolah-olah harus sederhana. Barangkali kita telah terlalu lama hidup dalam kebudayaan yang mengajarkan bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang terlihat baik. Kita melihat orang tersenyum, berlibur, makan enak, mendapat pekerjaan baru, menikah, membeli rumah atau kendaraan, bertemu orang penting, menerima penghargaan, membaca buku, atau berolahraga. Semuanya terlihat baik. Kemudian kita mengira kehidupan mereka memang baik.
Padahal yang kita lihat mungkin hanya beberapa detik dari hidup seseorang. Kita tidak melihat pertengkarannya, kecemasannya, tagihan yang belum dibayar, kesepian setelah pesta selesai, malam ketika ia tidak bisa tidur, atau percakapan yang membuatnya menangis.
Kita hanya melihat apa yang dipilihnya untuk ditampilkan. Namun anehnya, potongan itu sering kita perlakukan sebagai keseluruhan. Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik. Media sosial bukan hanya membuat kita menampilkan kehidupan. Ia juga perlahan mengajari kita cara membaca kehidupan orang lain.
Foto bahagia berarti bahagia. Tulisan sedih berarti sedang bermasalah. Tulisan marah berarti sedang bertengkar. Puisi cinta berarti sedang jatuh cinta. Tulisan tentang kematian berarti sedang ingin mati. Tulisan tentang kesepian berarti sedang kesepian.
Padahal manusia tidak bekerja sesederhana itu. Seorang penulis dapat menulis tentang kematian tanpa sedang ingin mati. Seorang penyair dapat menulis tentang kehilangan tanpa sedang kehilangan seseorang. Seorang penulis esai dapat menulis tentang kemarahan tanpa sedang marah kepada pembacanya.
Kita sering lupa bahwa menulis tentang sesuatu tidak selalu berarti sedang mengalami sesuatu. Saya pernah berpikir bahwa mungkin persoalannya bukan pada tulisan saya, melainkan pada cara orang membaca.Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat bergantung pada konteks. Ketika seorang teman berkata, “Gila kamu,” saya bisa memahami apakah itu kemarahan atau candaan karena saya mengetahui situasinya. Ketika seorang ibu bertanya, “Kamu kok diam saja?”, pertanyaan itu memiliki konteks yang berbeda dengan ketika seorang dokter mengatakan hal serupa.
Kata-kata yang sama bisa memiliki arti berbeda karena konteksnya berbeda. Media sosial merusak sebagian batas itu. Ibu saya dapat membaca tulisan yang sama dengan teman saya. Teman kerja dapat membaca puisi yang sama dengan orang yang tidak mengenal saya. Pembaca dapat membaca sesuatu sebagai karya sastra, sementara keluarga saya membacanya sebagai kabar mengenai keadaan pribadi saya.
Satu tulisan, banyak pembaca, konteks dan kemungkinan tafsir. Dalam kajian media sosial ada istilah context collapse, ketika berbagai kelompok audiens yang dalam kehidupan nyata biasanya terpisah tiba-tiba berkumpul dalam satu ruang digital.
Barangkali itulah sebabnya media sosial terasa aneh; ia adalah ruang publik yang kita masuki dengan perasaan sedang berada di ruang pribadi. Kita menulis seperti sedang berbicara kepada diri sendiri, tetapi dibaca orang yang sama sekali tidak berada dalam konteks ketika tulisan itu lahir.
Saya menulis puisi. Di dalam puisi ada “aku”, tetapi apakah “aku” itu selalu saya? Tentu tidak. “Aku” bisa menjadi tokoh, suara, kemungkinan, diri saya sepuluh tahun lalu, dan juga bisa menjadi seseorang yang saya bayangkan. Bahkan bisa menjadi seseorang yang tidak pernah ada.
Namun media sosial membuat jarak antara penulis dan “aku” dalam teks menjadi semakin tipis. Nama saya ada di atas tulisan, foto saya ada di profil, dan akun itu milik saya. Maka ketika saya menulis “malam ini aku ingin pergi jauh”, orang mungkin langsung berpikir saya benar-benar ingin pergi. Ketika saya menulis “aku kehilangan seseorang”, orang mungkin mulai mencari siapa yang hilang dari kehidupan saya.
Ketika saya menulis “aku membenci dunia,” orang mungkin menyimpulkan bahwa saya sedang berada dalam kondisi psikologis tertentu. Padahal mungkin saya sedang membuat puisi. Hanya puisi. Atau sedang mencoba memahami manusia melalui sebuah kalimat.
Bukankah itu bagian dari kerja seorang penulis? Yang lebih menarik, kadang-kadang saya justru menulis sesuatu yang benar-benar terjadi, tetapi orang menganggapnya fiksi. Mungkin karena mereka sudah mengenal saya sebagai penulis.
Ada prasangka terbalik, yakni, “Ah, itu kan Angga. Dia memang suka menulis.” Seolah-olah menjadi penulis membuat apa yang saya katakan kehilangan status sebagai kenyataan.
Maka terjadi pembalikan yang agak lucu sekaligus menggelisahkan; fiksi dianggap kenyataan, dan kenyataan dianggap fiksi.
Citra dianggap kehidupan. Kehidupan dianggap citra. Tulisan dianggap pengakuan. Pengakuan dianggap tulisan. Di titik tertentu saya mulai bertanya, yakni, jangan-jangan yang sedang berubah bukan kenyataannya, tetapi cara kita menentukan apa yang kita anggap nyata.
Istilah “masyarakat skizofrenik” kemudian muncul dalam kepala saya. Redaktur Pelaksana koran besar di Denpasar tempat saya bekerja dulu pernah menyampaikan istilah itu pada sebuah obrolan kami, malam selepas bekerja. Saya tahu istilah itu problematis.
Skizofrenia adalah kondisi kesehatan mental yang nyata dan kompleks. Ia bukan sinonim dari kebingungan, perilaku aneh, kontradiksi, atau sesuatu yang tidak kita mengerti. Karena itu, saya tidak sedang mendiagnosis masyarakat.
Tanda tanya pada judul sengaja saya pertahankan. Jika istilah “masyarakat skizofrenik” digunakan, saya menggunakannya sebagai metafora sosial untuk menunjuk sesuatu yang berbeda, yaitu, fragmentasi realitas.
Kita hidup dengan begitu banyak versi tentang kenyataan. Ada kenyataan yang kita alami, kita ceritakan, kita foto, kita edit, dan kita unggah. Ada kenyataan yang dibaca orang, kemudian ditafsirkan. Dan tafsiran itu dapat kembali memengaruhi kenyataan.
Saya menulis sesuatu. Orang menganggap saya sedang bermasalah. Orang kemudian bertanya. Saya menjelaskan bahwa tulisan itu hanya puisi. Tetapi orang tetap menganggap saya bermasalah. Akhirnya sesuatu yang pada mulanya fiksi telah menciptakan peristiwa nyata, misalnya percakapan, kekhawatiran, bahkan perubahan cara orang memperlakukan saya.
Sesuatu yang tidak nyata dapat menghasilkan akibat yang nyata. Bukankah itu menarik? Barangkali manusia memang tidak terlalu nyaman dengan ketidakpastian. Kita ingin segera tahu. “Dia kenapa?” “Dia sedang marah kepada siapa?” “Dia putus?” “Dia sedang depresi?” “Dia sedang bahagia?” “Dia sedang punya masalah?”
Kita ingin memberi nama. Sebab sesuatu yang telah diberi nama terasa lebih mudah dipahami. Padahal kadang-kadang sebuah tulisan memang hanya sebuah tulisan. Ia tidak harus menjadi diagnosis, pengakuan, petunjuk dan tidak harus memiliki satu makna. Puisi, terutama, hidup dari ambiguitas. Ia tidak selalu ingin menjawab. Kadang ia justru ingin meninggalkan pertanyaan. Tetapi media sosial tidak terlalu menyukai pertanyaan. Media sosial menyukai kepastian. Setuju atau tidak setuju. Suka atau tidak suka. Bahagia atau sedih. Benar atau salah.
Kita dipaksa membaca manusia dengan kategori-kategori pendek. Di sinilah persoalan itu menjadi antropologis. Kebudayaan selalu mengajari manusia bagaimana membaca tanda. Pakaian, bahasa, gestur, makanan, rumah, bahkan cara seseorang duduk dapat menjadi tanda tentang siapa dirinya.
Media sosial memperbanyak tanda itu tanpa batas. Foto makanan berarti sesuatu. Emoji berarti sesuatu. Menghapus foto berarti sesuatu. Tidak membalas pesan berarti sesuatu. Mengunggah lagu tertentu berarti sesuatu.
Bahkan memilih tidak mengunggah apa pun dapat dianggap sebagai sesuatu. Kita hidup dalam masyarakat yang penuh tanda, dan kita terus menafsirkannya. Masalahnya, tanda tidak pernah identik dengan kenyataan. Foto makanan bukan makanan. Foto pantai bukan pantai. Foto seseorang tersenyum bukan kebahagiaan itu sendiri. Puisi tentang kesedihan bukan kesedihan itu sendiri. Status tentang kebahagiaan bukan kebahagiaan.
Tetapi semakin sering kita lupa pada jarak tersebut. Mungkin karena media sosial telah membuat kehidupan menjadi pertunjukan. Bukan berarti semua orang palsu. Saya tidak percaya itu. Tetapi kita sekarang hidup dengan kesadaran bahwa apa pun yang kita lakukan dapat dilihat. Ketika makan, kita bisa memotret. Ketika bepergian, kita mengunggah. Ketika menerima penghargaan, kita membagikan. Ketika membaca buku, kita memperlihatkannya. Ketika sedih, kita menulis.
Kehidupan bukan hanya dijalani. Ia juga direpresentasikan. Setelah direpresentasikan, ia dikonsumsi oleh orang lain. Di sinilah manusia digital hidup dalam dua dunia, yakni dunia yang dialami dan dunia yang ditampilkan.
Kadang keduanya bertemu, kadang tidak. Dan semakin lama, kita bahkan bisa lupa mana yang lebih kita hidupi. Saya tidak ingin mengatakan media sosial buruk. Sebaliknya, media sosial memberi saya sesuatu yang berharga, yakni ruang untuk menulis dan berbicara.
Sebuah puisi yang dulu mungkin hanya tersimpan dalam buku catatan kini dapat dibaca orang lain. Pengalaman personal dapat menjadi percakapan publik. Orang yang tidak memiliki panggung besar dapat menyampaikan pikirannya. Tetapi kebebasan itu datang bersama konsekuensi. Ketika kita diberi kebebasan menampilkan diri, kita juga memberi orang lain kebebasan menafsirkan diri kita.
Dan kita tidak pernah sepenuhnya dapat mengendalikan tafsiran itu. Kita dapat mengendalikan apa yang kita unggah, tetapi tidak pernah sepenuhnya mengendalikan apa yang orang lain pahami dari unggahan tersebut. Mungkin itulah salah satu harga menjadi manusia di ruang digital. Karena itu saya tidak keberatan ketika seseorang bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
Saya tahu pertanyaan itu lahir dari kepedulian. Yang saya persoalkan adalah ketika kepedulian berubah menjadi kesimpulan. Ketika sebuah puisi langsung dianggap bukti penderitaan, sebuah tulisan langsung dianggap pengakuan dan ekspresi emosional langsung dianggap diagnosis.
Manusia lebih rumit daripada unggahan terakhirnya. Seseorang dapat sedih hari ini dan bahagia besok. Dapat marah pagi hari dan tertawa sore hari. Dapat menulis tentang kematian tetapi masih memiliki keinginan kuat untuk hidup. Dapat menulis tentang kesepian tetapi dikelilingi banyak orang. Dapat menulis tentang cinta tanpa sedang jatuh cinta. Dapat menulis tentang kegilaan tanpa sedang kehilangan kewarasan. Itulah manusia.
Bukan selalu stabil, tetapi selalu bergerak Tentu ada batas yang harus kita pahami. Kita tidak boleh menggunakan alasan “itu cuma konten” untuk mengabaikan seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Jika seseorang berulang kali menunjukkan tanda bahaya atau menyampaikan sesuatu secara serius yang menunjukkan bahwa ia membutuhkan bantuan, kepedulian tetap penting. Persoalannya bukan kepedulian, melainkan ketika setiap ekspresi emosional otomatis dianggap sebagai bukti bahwa seseorang sedang mengalami krisis.
Kita terlalu cepat mendiagnosis. Atau sebaliknya, terlalu cepat menormalisasi. Keduanya sama-sama berbahaya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca konteks. Sayangnya, konteks adalah sesuatu yang paling mudah hilang di media sosial. Saya kira ada sesuatu yang sehat dari keberanian memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu baik-baik saja.
Bukan untuk menjadikan penderitaan sebagai tontonan, mencari perhatian, juga mengembalikan manusia kepada kompleksitasnya. Kita membutuhkan ruang untuk mengakui bahwa hidup memiliki banyak warna, termasuk warna yang tidak fotogenik.
Jika semua orang hanya memperlihatkan keberhasilan, kita akan mengira hanya kita sendiri yang gagal. Jika hanya menunjukkan kebahagiaan, kita akan mengira hanya kita sendiri yang sedih. Jika semua orang hanya menunjukkan ketenangan, kita akan merasa bahwa kegelisahan adalah sesuatu yang memalukan.
Padahal kehidupan manusia memang terdiri dari semuanya. Mungkin karena itu saya tidak terlalu ingin menghapus tulisan-tulisan yang membuat saya terlihat tidak baik-baik saja. Saya ingin menyimpan jejak bahwa manusia tidak selalu baik-baik saja. Ada hari ketika saya marah, kecewa, sedih, merasa lucu dengan diri sendiri, atau ada hari ketika saya merasa sangat hidup. Semuanya bagian dari saya. Tetapi tidak semuanya harus dibaca sebagai laporan keadaan.
Kalau hari ini saya menulis puisi tentang kehilangan, belum tentu saya kehilangan seseorang. Kalau besok saya menulis tentang kematian, belum tentu saya sedang ingin mati. Kalau lusa saya menulis tentang kegembiraan, belum tentu hidup saya sempurna. Saya hanya sedang menulis.
Pada akhirnya, pertanyaan dalam judul ini mungkin bukan pertanyaan mengenai kegilaan. Ia adalah pertanyaan mengenai cara kita memahami kenyataan. Ketika konten dianggap kenyataan, kita perlu bertanya; mengapa? Ketika kenyataan dianggap fiksi, kita juga perlu bertanya; mengapa? Ketika seseorang mengunggah foto bahagia lalu kita percaya bahwa ia bahagia, kita sedang menafsirkan.
Ketika seseorang menulis puisi sedih lalu kita percaya bahwa ia sedang sedih, kita juga sedang menafsirkan. Kita tidak pernah benar-benar melihat manusia melalui layar. Kita hanya melihat representasinya. Dan representasi selalu membutuhkan pembacaan. Barangkali persoalan kita hari ini bukan karena manusia kehilangan realitas, melainkan karena kita terlalu mudah mengira bahwa apa yang tampil di layar adalah realitas itu sendiri.
Kita lupa bahwa di balik sebuah unggahan ada kehidupan yang jauh lebih panjang daripada beberapa detik yang kita habiskan untuk membacanya. Ada pagi yang tidak difoto, percakapan yang tidak direkam, kegagalan yang tidak diunggah.
Ada tawa yang tidak menjadi story, kesedihan yang tidak ditulis, pekerjaan yang tidak dipamerkan, ada kehidupan yang berlangsung tanpa kamera. Dan mungkin justru kehidupan yang tidak tampil itulah kehidupan yang paling nyata.
Karena itu, ketika suatu hari saudara saya membaca tulisan saya lalu bertanya, “Kamu baik-baik saja?”, saya tidak akan marah. Saya tahu itu bentuk kepedulian. Mungkin saya hanya akan menjawab; “Tenang. Saya sedang menulis.” Sebab bagi seorang penulis, tidak semua yang ditulis adalah luka. Tidak semua kemarahan adalah pertengkaran, tidak semua kesedihan adalah penderitaan. Tidak semua “aku” adalah dirinya.
Dan tidak semua kenyataan harus tampak seperti kenyataan di layar. Barangkali yang perlu kita pelajari kembali di zaman media sosial bukan hanya cara menulis, tetapi juga cara membaca. Membaca kalimat, konteks, membaca manusia.
Dan, yang paling sulit, belajar menerima bahwa kita tidak selalu tahu. Tidak tahu apakah seseorang sedang bahagia. Tidak tahu apakah ia sedang sedih. Tidak tahu apakah sebuah puisi adalah pengakuan atau sekadar puisi. Tidak tahu apakah sebuah senyum berarti bahagia. Tidak tahu apakah sebuah tangisan berarti hancur. Tidak tahu adalah bagian dari membaca manusia. Sebab manusia tidak pernah selesai dijelaskan oleh satu foto, satu status, satu puisi, atau satu unggahan. Mungkin justru di situlah kewarasan kita diuji. Bukan pada kemampuan untuk selalu mengetahui keadaan orang lain, melainkan pada kesediaan untuk mengakui bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Selebihnya berlangsung di luar layar. Tidak difoto, tidak diunggah, tidak diberi tanda suka, tidak dikomentari, dan tidak menjadi konten. Tetapi nyata. Sangat nyata. [T]






























