1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
in Panggung
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi buku ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Istimewa

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!”

Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja Literary Festival (SLF), Minggu, 5 Juli 2026. Pernyataan tersebut bukan sekadar mewakili sikap salah satu tokohnya, melainkan menjadi gagasan utama novel yang mengangkat persoalan trauma, hak otonomi tubuh, dan kekerasan seksual.

Di Halaman Timur Gedong Kirtya, percakapan siang itu berlangsung di bawah rindangnya pepohonan. Saya berkesempatan menjadi moderator, memandu diskusi bersama Sasti Gotama selaku penulis dan Wulan Dewi Saraswati sebagai pembedah. Peserta tidak hanya datang untuk membicarakan sebuah novel, tetapi juga ingin memahami berbagai persoalan yang selama ini lebih sering dibisikkan daripada dibicarakan secara terbuka.

Korpus Uterus mengikuti perjalanan Panuluh atau Luh, seorang laki-laki yang lahir dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tumbuh di tengah kekerasan serta penolakan. Dari perjalanan hidupnya, Sasti membawa pembaca memasuki persoalan kehamilan, pemerkosaan, aborsi, trauma, pendidikan seks, hingga hak perempuan menentukan masa depan tubuhnya sendiri. Novel ini juga menghadirkan riset medis yang kuat sekaligus memperlihatkan bagaimana sastra dapat menjadi ruang untuk membaca kembali pengalaman perempuan yang selama ini acap disembunyikan.

Sasti Gotama membahas ‘Korpus Uterus’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 

Saya mengawali diskusi dengan pertanyaan mengenai titik mula novel tersebut. Rahim hadir sebagai simbol yang sangat dominan. Ia bukan hanya organ biologis, tetapi juga ruang kasih, trauma, dan pergulatan hak perempuan. Saya pun bertanya kepada Sasti, gagasan apa yang pertama kali lahir: tokoh Luh, isu aborsi, atau justru simbol rahim itu sendiri?

“Korpus Uterus ini lahir dari pengamatan langsung,” ujar Sasti. Ia mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman perempuan yang ditemuinya membuatnya ingin menulis cerita yang tidak berhenti pada persoalan biologis semata. Baginya, tubuh perempuan selalu berkaitan dengan pengalaman hidup, relasi kuasa, budaya, dan cara masyarakat memandang perempuan.

Sebagai pembaca, saya justru menyampaikan kesan yang sedikit berbeda. Setelah menutup halaman terakhir, saya merasa tokoh utama novel ini bukanlah Luh, melainkan rahim itu sendiri. Rahim hadir sebagai ibu, luka, tempat kehidupan bermula, bahkan arena pertarungan moral, agama, budaya, dan hak asasi manusia. Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Sasti: apakah sejak awal rahim memang sengaja dijadikan ‘tokoh utama’ dalam novelnya?

Sasti mengamini pembacaan tersebut. “Rahim memang tidak saya tempatkan hanya sebagai organ reproduksi. Di sanalah kasih, trauma, dan pergulatan hidup para tokohnya bertemu. Dari simbol itulah berbagai konflik dalam novel berkembang,” terangnya.

Wulan Dewi Saraswati saat membedah novel ‘Korpus Uterus’ di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Wulan Dewi Saraswati kemudian mengulas novel ini dari sudut pandang pembaca.

“Ada bagian-bagian yang membuat saya berhenti membaca sejenak. Saya merasa luka para tokohnya terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.”

Menurutnya, kekuatan Korpus Uterus bukan semata terletak pada keberaniannya mengangkat tema-tema sensitif, melainkan pada kemampuannya membuat pembaca ikut merasakan pergulatan batin para tokohnya.

Percakapan kemudian bergeser pada konteks sejarah. Saya menanyakan alasan Sasti memasukkan peristiwa 1965 dan tragedi 1998 ke dalam cerita. Bukankah novel ini berbicara mengenai tubuh perempuan?

Sasti menjelaskan bahwa kekerasan terhadap tubuh tidak pernah hadir sendirian. Ia selalu berkaitan dengan sejarah, kekuasaan, dan struktur sosial. Luka yang terjadi pada satu generasi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, tetapi juga perjalanan masyarakat yang membawa jejak berbagai tragedi kemanusiaan.

Sebagai pembaca, saya melihat pilihan itu membuat Korpus Uterus memiliki cakupan yang lebih luas. Novel ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya.

Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai pendidikan seks. Dalam novel, tokoh Luh mengatakan bahwa banyak anak gadis menjadi korban karena orang tua terlalu malu membicarakan seks. Saya kemudian bertanya kepada Sasti, apakah sastra sendiri dapat menjadi medium pendidikan seks yang lebih efektif tinimbang ceramah atau kampanye formal?

Menanggapi pertanyaan itu, Sasti mengatakan bahwa sastra bukanlah pengganti pendidikan formal. Tetapi sastra bisa menghadirkan empati. Melalui cerita, pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang tubuh atau kekerasan seksual, melainkan juga ikut merasakan ketakutan, kebingungan, dan trauma yang dialami para tokohnya.

Diskusi buku ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Istimewa

Bagi saya, salah satu kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada karakter Luh. Saya mengaku tertarik pada sosok laki-laki yang setiap hari berhadapan dengan perempuan-perempuan dalam kondisi paling rentan, tetapi tidak pernah memanfaatkan posisi tersebut. Padahal, banyak tokoh laki-laki lain dalam novel Korpus Uterus justru menjadi pelaku kekerasan seksual. Saya pun bertanya apakah Luh memang sengaja dihadirkan sebagai antitesis dari maskulinitas semacam itu?

Sasti tidak menggambarkan Luh sebagai manusia tanpa cela. Ia melihat Luh sebagai seseorang yang memilih tidak mengulang kekerasan yang melahirkan dirinya. Jawaban itu membuat karakter Luh terasa semakin kuat. Ia bukan tokoh yang hadir untuk menghakimi, melainkan seseorang yang berusaha memutus mata rantai luka.

Begitulah yang terjadi siang itu di halaman timur Gedong Kirtya. Setelah diskusi berakhir, peserta tidak langsung beranjak. Sebagian masih berbincang mengenai tokoh-tokohnya, sebagian mendiskusikan isu hak otonomi tubuh, sementara yang lain mengantre meminta tanda tangan penulis. Novel yang semula hanya berada di tangan pembaca berubah menjadi ruang percakapan mengenai tubuh, sejarah, kekerasan, pendidikan seks, dan hak asasi manusia.

Pada akhirnya, bedah buku Korpus Uterus tidak hanya membahas sebuah karya sastra. Diskusi itu menunjukkan bahwa sastra dapat membuka percakapan yang selama ini acap dianggap tabu. Dari rahim yang menjadi simbol kehidupan, Sasti Gotama mengajak pembaca berpikir ꟷ siapa yang sebenarnya berhak menentukan hak atas tubuh seseorang? [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuSasti GotamaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

Next Post

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ------Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co