24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketidakadilan Perayaan Hari Ibu

I Wayan Artika by I Wayan Artika
December 23, 2023
in Esai
Ketidakadilan Perayaan Hari Ibu

I Wayan Artika

BALI memiliki sejumlah kategori perempuan sebagai ibu (melahirkan). Di antaranya terjadi kontradiksi. Di ujung adalah Men Brayut, ibu dengan 18 anak. Di ujung yang berlawanan ada Men Bekung, perempuan yang menikah dan tidak memiliki keturunan. Di antara kedua kutub tersebut mungkin Men Tuung Kuning, ibu yang terancam oleh suaminya sendiri karena melahirkan anak perempuan.

Memiliki anak dan tidak memiliki anak masih diperjelas dengan konsep anak yang diidealkan, yakni anak laki-laki. Bisa menjadi ibu bagi perempuan Bali, seperti Men Brayut, masih belum cukup jika hanya melahirkan anak perempuan. Perempuan harus bisa melahirkan anak laki-laki.

Kutub Men Bekung adalah siksaan sosial sepanjang hidup perempuan Bali yang tidak beruntung karena tidak subur. Derita Men Bekung adalah narasi patriarki bahwa yang tidak subur itu identik dengan perempuan. Jika pasangan suami istri tidak memiliki keturunan, vonisnya dijatuhkan dengan telak pada istri.

Derita perempuan ini tidak hanya sebatas si tertuduh tidak subur dan karena inilah si suami boleh menikah lagi sebagai pernyataan bahwa dirinya tidak ada masalah soal kesuburan. Laki-laki Bali dibela oleh kuasa purusa bahwa dirinya tidak mandul!

Derita Men Bekung hingga ke alam kematian. Roh-roh mereka yang semasa hidupnya menyandang pungkusan Men Bekung akan menyusui ulat-ulat raksasa (sedagul). Pandangan kuno di Bali dengan terus terang menyalahkan perempuan yang malang tersebut. Mereka dihukum secara sosial semasa hidup dan kelak di alam kematian harus menyusui ulat-ulat raksasa.

Pandangan kuno adat yang antisains sama sekali tidak bisa menjelaskan perkara-perkara reproduksi yang tidak subur. Hal ini juga tampak pada ketimpangan bahwa biang kerok tidak subur itu hanya perempuan. Kelak, ilmu kedokteran mulai mengimbangi pandangan kuno itu. Sains atau kedokteran  menjadi pembela perempuan dengan permasalahan kesuburan.

Kutub lain adalah keluarga Brayut. Men Brayut memiliki 18 anak. Memang tidak ada persoalan apa-apa dengan jumlah anak yang banyak. Cerita ini menyampaikan pesan bahwa perempuan Bali harus menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada anak-anak mereka.  Kelak, Men Brayut yang menyimpan ideologi kesuburan berhadapan dengan alam medis modern yang diwujudkan dengan program keluarga berencana (KB) untuk menekan jumlah penduduk.

Sebagai program baru, apalagi bergesekan dengan wilayah mitologi atau keyakinan, tentu KB di Bali tidak langsung diterima. Telah terjadi pemaksaan semboyan KB “dua anak cukup, laki perempuan sama saja”. Hal ini bertentangan dengan ideologi purusa di Bali. Nilai anak laki-laki lebih utama ketimbang anak perempuan. Men Tuung Kuning misalnya menerima pesan ”anak perempuan harus kau cincang bersama ari-arinya untuk dijadikan santapan ayam jago”.

KB tidak hanya mengguncang ideologi patriarki tetapi juga menimbulkan konflik batin pada diri orang Bali, yaitu tepatnya pada sistem kepercayaan kelahiran kembali. Program ini dipandang sebagai penutup pintu kelahiran para leluhur kembali.

Men Brayut adalah ”jalan tol” bagi para leluhur untuk lahir kembali karena seorang perempuan akan melahirkan 18 kali. Sejalan dengan Men Brayut, peluang leluhur lahir kembali sangat tinggi. Lantas, KB membatasi secara drastis: hanya dua kelahiran. Seorang penulis asing menyatakan KB telah membunuh Men Brayut.

Dalam masa hampir setengah abad kemudian sejak KB digelontorkan di Bali dan ternyata telah memberi rasa nyaman dengan dua anak, menjadi indikator utama kesuksesan, baru disadari KB menimbulkan persoalan kependudukan.

Politik demografi Gubernur Wayan Koster dengan tegas menolak semboyan KB ”dua anak cukup”. Ini dinilai sebagai ancaman demografi. KB yang sukses di Bali tidak serta-merta mengurangi kepadatan penduduk. Jumlah penduduk tidak terbendung karena pada satu sisi jumlah kelhiran berhasil ditekan dan pada sisi lain pendatang tidak terkendali masuk. Gubernur Wayan Koster mendekonstruksi “dua anak cukup” menjadi empat anak atau lebih.

Terlepas dari kedua kutub demografik: Men Brayut dan Men Bekung dan di antara keduanya terjadi garis mediasi: Men Tuung Kuning; adalah nasib Ni Nyoman Pollok. Ia seorang penari legong dari Desa Kelandis. Nasibnya malang dalam pernikahannya dengan Le Mayeur.

Perkawinan itu hanya menguntungkan Le Mayeur. Ni Pollok digunakan sebagai model. Dari sudut pandang Le Mayeur atau dengan menggunakan perspektif berkesenian modern-barat, perkawinan pelukis dengan modelnya, tentu tidak mengandung persoalan. Mereka bahagia.

Namun bagi Ni Pollok, perkawinannya tidak membahagiakan dirinya. Hal ini disampaikan Ni Pollok kepada penulis biografinya Yati Mariyati Wiharja dalam buku Ni Pollok, Model dari Desa Kelandis (1976). Sumbernya adalah satu hal: Le Mayeur mengkolonialisasi Ni Pollok dengan cara tidak mengizinkannya mengandung. Jika ia sampai mengandung, melahirkan dan menyusui, seperti Men Brayut maka keindahan tubuh Ni Pollok akan hilang sehingga tidak menarik dijadikan model lukisan.

Melalui perspektif patiarki atau kuasa purusa seperti pada cerita Men Tuung Kuning, Ni Nyoman Pollok pun bergeming. Le Mayeur tetap pada prinsipnya dalam mengkolonialisasi dengan menggerus seluruh keindahan alam Bali pada tubuh istrinya (?), modelnya.

Sebagai suami memang ia mencoba ”membayar” Ni Pollok dengan uang, kain batik, kompor, lukisan. Mungkin semua pemberian suaminya diterima walaupun tidak sepenuhnya karena sebagai model profesional ia layak menerima bayaran. Anak tidak pernah digantikan dengan lukisan mahal, uang, dan museum.

Ketika kehidupan modern merayakan peringatan hari ibu, sebagai apresiasi atas perjuangan kaum perempuan Indonesia, yang kala itu ruang yang dijadikan ajang mengkonstruksi kiprah perempuan Indonesia adalah bangsa namun kelak, dan sebagaimana akhir-akhir ini, hari ibu mengalami domestifikasi atau penyempitan makna.

Makna perayaan hari ibu, sebagaimana dapat dibaca di media sosial tanggl 22 Desember 2023, adalah perempuan yang menjadi ibu. Momen perayaan ini menunjukkan hubungan mesra antara ibu dan anak. Pola perayaan hari ibu yang direkam media sosial adalah rasa bakti anak kepada ibunya, ucapan terima kasih atas jasa ibu, atau ucapan membayar janji seorang anak kepada ibunya.

Dalam situasi ini, perayaan hari ibu mengandung rasa tidak adil. Perempuan yang tidak memiliki anak, seperti Ni Nyoman Pollok, tidak bisa mendapat perayaan hari ibu. Karena itu, perayaan hari ibu juga harus direvitalisasi maknanya. Yang dirayakan adalah jasa para perempuan. Dengan revitalisasi makna ini, perayaan hari ibu terasa lebih adil. Di sini, Ni Nyoman Pollok berhak mendapat ucapan hari ibu karena ia rela memilih hidup terkolonialisasi sebagai pilihan perempuan Bali di jalan kuasa purusa.

Ni Pollok memang tidak melahirkan anak-anak; tetapi tubuhnya telah melahirkan hampir seluruh karya Le Mayeur. Lukisan-lukisan itu semua adalah anak-anak Ni Nyoman Pollok.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
Lagu dan Meme Tentang Ibu di Hari Ibu : Kehebatan Emak-Emak yang Diabadikan
Doa Ibu Tidak Sepanjang Jalan

Dari Iwan Fals  Hingga A.A. Raka Sidan:  Catatan Kegagalan Pendidikan Tinggi
Literasi Dasar: Hubungan Abadi Antara Manusia dan Pengetahuan, Konstruksi dan Konsumsi
Tags: Hari IbuNi PollokPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pentas Suun: Percakapan Tubuh dengan Kursi-Kursi

Next Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co