24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hadiah Rancage untuk Penulis Bali – Antara Amat Senang dan Agak Malu

I Putu Supartika by I Putu Supartika
February 2, 2018
in Esai

DIDAULAT menjadi penerima hadiah Sastera Rancage tahun 2017, saya merasakan dua hal sekaligus yang bertolak belakang. Saya merasa senang, di sisi lain saya juga merasa malu.

Secara alamiah, sebagai manusia, sudah pasti saya amat senang mendapat penghargaan yang sangat bergengsi di bidang Sastra Bali Moderen, selanjutnya disingkat SBM. Bisa saya analogikan Rancage adalah nobelnya SBM.

Untuk itu, saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Kebudayaan Rancage karena telah menghargai apa yang saya kerjakan, apa yang kami lakukan – para penulis SBM ini.

Namun, di balik rasa senang yang saya rasakan, sesungguhnya ada terselip rasa malu. Jika tak boleh disebut amat malu, ya sebut saja agak malu. Kenapa?

Pertama, saya mendapatkan penghargaan karena dinilai berjasa dalam pengembangan SBM di Bali. Berjasa? Benarkah saya berjasa?

Benar, selain menulis SBM, saya juga menerbitkan karya-karya SBM di blog yang saya kelola, Suara Saking Bali. Semua itu saya lakukan karena kecintaan saya terhadap terhadap SDM. Kecintaan untuk menuliskan, kecintaan untuk menyebarkannya.

Tapi, jasa itu belum bisa disebut besar. Jasa saya dalam pengembangan SBM sangat kecil, bahkan tak ada seujung kuku, dengan apa yang sudah dilakukan pendahulu saya, Nyoman Manda, Made Sanggra (almarhum), IDK Raka Kusuma, Made Sugianto, dan tokoh-tokoh pendahulu yang lain.

Saya mulai menulis sejak tahun 2012 dan baru dimuat di media berbahasa Bali pertengahan tahun 2013. Blog Suara Saking Bali saya buat satu tahun lalu tepatnya bulan Januari 2016, kemudian disusul dengan menerbitkan Jurnal Suara Saking Bali pada bulan November 2016 bersama teman-teman.

Bagaimana saya tidak malu. Bandingkan saja, Nyoman Manda bersama almarhum Made Sanggra dengan majalah Canang Sari dan Satua-nya sudah berjuang mengembangkan SBM sejak saya masih kecil bahkan mungkin belum lahir. Dan hingga sekarang majalah itu masih tetap ada.

Demikian juga IDK Raka Kusuma dengan sanggar Buratwangi dan majalah Buratwangi-nya. Atau Made Sugianto dengan penerbitan indie, Pustaka Ekspresi. Dibanding para tokoh yang tak bisa diragukan lagi jasa dan idealismenya di bidang SBM itu, posisi saya entah berada di mana.

Kedua, yang membuat saya malu adalah Sastera Rancage diberikan oleh orang atau lembaga dari luar Bali (lebih tepatnya yayasan dari Bandung) dan bukan orang, lembaga, yayasan, atau pemerintah Bali.

Ini tanda tanya besar bagi kita semua, khusunya orang Bali. Ada apa dengan Sastra Bali Modern? Benarkah karya-karya sastra modern berbahasa Bali itu berguna bagi kehidupan kita di Bali? Benarkah ia layak diperjuangkan?

Berbicara tentang perkembangan sastra Bali modern hari ini, kita akan menemukan penulis-penulis SBM yang berjuang keras agar karya mereka ada yang membaca, agar karya mereka ada yang meghargai. Bukan sekadar komentar “hebat”, atau “top”, atau “lanjutkan” di media sosial semacam facebook saat mereka menyiarkan karya mereka.

Kita menyaksikan bagaimana buku-buku SBM bermunculan setiap tahun dan menjadi penghias rak di toko buku karena tidak laku. Tidak laku karena pembacanya jarang. Hanya orang-orang spesial dan sangat perlu yang mau membaca buku SBM. Dan kenyataan yang saya lihat di lapangan, kebanyakan dari penulis SBM membagikan bukunya secara cuma-cuma kepada temannya. Sungguh ironis.

Saya ingat bagaimana IDK Raka Kusuma menanggapi celotehan saya: “Wenten penulis SBM baru malih Pak Dewa (ada penulis SBM baru lagi, Pak Dewa)”.

Beliau menanggapi: “Becik nika, pang ramean ajak buduh (bagus itu, biar semakin banyak yang kita ajak gila)”.

Buduh. Ya, buduh. Mungkin kata itu yang tepat untuk mewakili para penulis SBM yang masih bertahan hingga kini. Bagaimana tidak buduh? Mereka bertahan di dalam ruang yang tanpa arah dan tujuan. Mereka seperti melakukan sesuatu yang sia-sia, dan terkesan membuang waktu.

Menulis, menulis, dan menulis entah sampai kapan walaupun karya mereka tak banyak yang membaca. Hanya orang buduh yang mampu melakukan itu. Tapi itulah semangat ngayah yang selalu mereka pegang teguh.

Dari dulu sastra Bali modern seperti hidup sendiri-sendiri, seperti terpisah dari jaring-jaring kehidupan, padahal sejatinya SBM adalah bagian dari kehidupan orang Bali. SBM seperti berada di suatu daerah yang asing di tanah kelahirannya. Ia seakan kalah gengsi dengan sastra modern berbahasa Indonesia, sekaligus kalah taksu dengan sastra Bali klasik seperti pupuh dan geguritan.

Saya tahu, Nyoman Manda, Made Sanggra dan IDK Raka Kusuma, adalah orang-orang yang terlalu kuat berada di tengah sepinya gaung SBM. Mereka tetap menerbitkan majalah sembari tetap berkarya, meski hingga kini rasa-rasanya pembaca setia SDM adalah orang yang itu-itu saja.

Tapi, Tuhan seakan tak ingin SBM mati. Setiap tahun ada saja penulis SBM baru yang lahir. Di sisi lain, ada saja pembaca setia yang juga lahir, meski jumlahnya tak pernah banyak. Peran Bali Post yang menyediakan ruangan untuk karaya-karya penulis SBM, kemudian diikuti dengan Pos Bali, harus diakui menambah gairah hidup SBM di Bali, meski pengaruhnya terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali tetap belum terasa benar.

Ketika bahasa Bali diperjuangkan oleh banyak orang, dan mendapat perhatian luas yang disertai dengan keluarnya sejumlah keputusan-keputusan politik,  tampaknya hal itu tidak dibarengi dengan melejitnya gaung SBM yang secara jelas ditulis dalam bahasa Bali.

Orang-orang birokrasi dan orang-orang politik sangat jarang membicarakan sastra Bali modern, bahkan mungkin banyak yang tak kenal dan bertanya-tanya SBM itu makhluk apa. SDM tak pernah jadi trend di kalangan birokrat dan politikus, semisal tren naik sepeda, trend pungut sampah, atau trend jalan santai dan tanam pohon.

Jadi, SBM adalah dunia sunyi. Selalu sunyi dan sendiri.

Hingga akhirnya dipungut oleh orang luar lewat penghargaan Sastera Rancage. Harus diakui, penghargaan Sastera Rancage inilah sebagai salah satu pendorong semangat para penulis SBM untuk tetap bertahan. Saya jadi ingin bertanya: Kenapa sampai bisa orang luar yang lebih peduli dengan nasib SBM? Apa kita orang Bali tidak merasa malu? Bukankah itu merupakan tamparan keras untuk kita orang Bali?

Hah, sudahlah. Biarlah angin tetap berhembus, dan tetangga sebelah tetap mengoceh dan mengatakan kita adalah penulis keren. (T)

Baca juga: Made Sugianto dan Sastra Bali Modern

Tags: Bahasa BaliHadiah Rancagesastrasastra bali modern
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Ulasan Buku Avianti Armand: Puisi dari Nama-nama Perempuan yang Dihapus

Next Post

Kemana Angin Berhembus? – Di Balik Hikayat Lawatan Raja Salman ke Negeri-negeri Bawah Angin

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Kemana Angin Berhembus? – Di Balik Hikayat Lawatan Raja Salman ke Negeri-negeri Bawah Angin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co