24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
January 28, 2021
in Khas
Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Pedagang lalapan di balik pagar yang buka tapi tertutup

Di masa krisis ini ketegangan seolah hal biasa. Ini karena dua keadaan yang kita hadapi setiap hari. Yakni, menghadapi jam normal dan menikuti jam pembatasan kegiatan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19.

Segala bentuk kegiatan apapun termasuk berdagang, jadi susah mengatur jam buka dan tutup usaha, juga susah mengatur pendapatan dan pengeluaran.

Saya memiliki kisah menarik. Ini terjadi di Denpasar, di mana masyarakatnya dihimbau untuk membatasi kegiatan mereka ketika jam telah menunjukan pukul 8 malam.  Yang artinya tanpa kecuali siapapun dan entah apapun itu usaha mereka tetap harus menutup guna mengurangi terjadinya kontak fisik dan menimbulkan keramaian.

Saya ingin menceritakan pengalaman yang sangat unik, lucu sekaligus menegangkan. Yang membuat saya berpikir ulang, sampai sejauh inikah persoalan kehidupan kita belakangan ini?

Saya sebagai orang pendatang di kota besar pastinya sangat bergantung dengan pedagang-pedagang malam semisal dagang nasi jinggo, lalapan, atau pedagang apapun yang masih meladeni hingga malam guna mengisi kebutuhan saya untuk makan.

Tetapi bagaimana nasib mereka hari ini?

Rabu tanggal 28 Januari 2021, pada malam hari sekitar puku 20.11 WITA saya sedang berada di kediaman teman saya. Yang kebetulan dia adalah salah satu mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Udayana.

Malam tiba, dan sebagai seorang mahasiswa yang apa adanya di musim panceklik ini pastinya ia harus memperhitungkan bekal yang terus menipis.   Dia memilih memasak nasi di kediamannya. Sol lauk-pauk, kami sepakati untuk mencarinya di luar.

Karena terlalu asyik mengobrol tentang impian dan cita-cita hingga lupa waktu., malam pun larut. Dan kami tersadar oleh masalah yang hari ini terjadi, bahwa ada himbauan soal pembatasan sosial bersekala besar atau yang akrab kita dengar dengan sebutan PSBB.

Lalu kami sepakat untuk beranjak dan membeli sekiranya yang patut dijadikan teman untuk sepiring nasi hangat, kami memilih membeli lalapan ayam goreng. Kami berusaha mengejar waktu dengan harapan masih ada pedagang yang masih buka.

Saat sampai di jalan raya, suasana kota masihlah ramai mungkin karena orang-orang baru menyelesaikan urusan mereka dan ingin kembali pulang. Tapi tak ditemukan pedagnag yang buka. Para pedagang, mereka sudah sibuk menutup dagangannya dan merapikan segala barang mereka.

Kami harap-harap cemas tidak menemukan pedagang lagi. Kami berkeliling, hingga akhirnya bertemu dengan sebuah warung lalapan yang unik.

Uniknya? Pedagang itu membuka dagangannya dengan konsep tertutup. Mereka memiliki sistem yang saya rasa pikir mereka buat secara spontan khusus di musim PSBB ini.

Jika dilihat dari depan, tidak ada terlihat aktivitas jual beli di warung itu.  Yang ada hanya seorang bapak-bapak yang berdiri di depan gerbang. Gerbang itu kurang lebih tingginya satu setengah meter. Dari atas celah pagar terlihat kepala rombong dan poster lalapan menempel pada dinding.

Saya pikir dagang itu sudah tutup. Tapi kemudian saya tahu ternyata dagang itu buka.

Kenapa saya bisa melihat dan berpikir bahwa bapak itu masih berjualan? Karena ketika saya melewatinya saya mendengar bapak itu berkata kepada seseorang di balik pagar, “Paha satu, dada satu, terong dan dua nasi.” Artinya, ya, itu menu yang dijual.

Di depan gerbng, terdpt seorang bapak sedang bersama seorang remaja berbaju putih dengan masih menggunakan helm. Bapak itu adalah bagian dari pedagang lalapan, dan bertugas untuk mengatur pembeli. Dan remaja itu tentu saja seorang pembeli.

Ketika saya memberhentikan sepeda motor, bapak itu mengangkat tangan dan memperlihatkan telapak tangannya. Apa artinya? Apakah dagangan sudah habis atau bagaimana? Eh, ternyata saya diberi tanda untuk menunggu, dan belum boleh mendekat.

Bapak itu kemudian meminta remaja pemebli itu untuk menunggu pesanannya. Bukan menunggu di tempat jualan, tidak tanggung-tanggung tempat untuk menunggunya ternyata jauh dari tempat berjualan. Yakni di seberang jalan yang sekiranya berjarak 15-20 meter dari gerbang tempat bapak itu berjualan.

Bapak itu kemudian memanggil saya dan menanyakan ingin memesan apa. Saya mengutarakan apa yang hendak saya beli. Setelah menyampaikan pesanan,  saya pun senasib dengan pembeli sebelumnya, yakni menunggu di tempat yang jauh.

Bahkan nasib saya bisa dikatakan lebih kurang beruntung karena tempat saya menunggu ternyata lebih jauh dan harus menyesuaikan dengan petunjuk bapak itu.  “Tunggu di sana ya, ntar kalau sudah saya panggil.” Kata bapak itu sambil menunjuk satu tempat.

Kami mengangguk, dan menyebrang jalan. Setelah itu saya saling tatap dengan teman saya dan membicarakan bahwa ini adalah kejadian yang unik. Saya seperti terlempar ke suasana seorang pemuda yang sedang membeli barang haram, entah itu narkoba atau barang lainnya, yang tidak sepatutnya kami konsumsi. Padahal kami hanya ingin membeli makan.

Setelah tertawa kecil saya mulai mengamati gerak-gerik tubuh bapak tersebut, dia terlihat panik menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang memperhatikan sesuatu yang bahaya akan datang. Padahal dia hanya pedagang lalapan, tetapi laku tubuhnya seperti sedang menjual sumber dosa yang membahayakan banyak orang.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, bapak itu memanggil pemuda pembeli pertama dan karena saya anggap kejadian ini bakal langka saya mempunyai ide untuk mengambil foto. Beberapa bungkusan berwadah kresek saya lihat menyembul dari atas pagar. Remaja itu lantas mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, lalu mengambil kresek dari tangan bapak itu.  Transaksi dilakukan di atas pagar.

Beberapa menit kemudian saya dipanggil. Mungkin karena takut dilihat oleh orang lain saya disuruh masuk oleh bapak itu. Saya menunggu di balik pagar. Lalu saya masuk ke balik pagar dan melihat kegiatan di dalamnya.

Di dalamnya ada seorang ibu-ibu dan satu orang pemuda yang tengah sibuk memasak dan menyiapkan pesanan demi pesanan. Tangan mereka bergerak dengan tempo yang sangat cepat, seolah mereka sudah hapal oleh ruang dan segala benda yang ada di sana. Ibu-ibu tersebut terlihat tengah menyiapkan kertas minyak, dan membungkus sambel dengan pelastik kecil.  Pemuda satunya tengah sibuk menggoreng dengan api yang sangat besar.

Rombong dagangan itu terlihat ditutupi dengan spanduk lalapan yang sama seperti yang ada di dinding belakang rombong. Spanduk yang satunya menyelimuti rombong seolah-olah terlihat bahwa dagangan itu sudah tutup dan sudah taka da lagi aktivitas berjualan.

Saya bertanya, “Buk, kenapa kok jualannya kayak gini?”

Ibu itu menjawab, “Mau gimana lagi, Dik? Mau tidak mau saya harus berani melanggar, bayangkan kami baru buka jam setengah tujuh malam dan disuruh tutup jam delapan. Artinya saya cuman disuruh nongkrong aja di dagangan?”

Saya tertawa kecil kepada ibu tersebut sambil tersenyum dan dia pun membalasnya dengan senyuman kecil pula.

 Tak terasa terlalu lama saya memerhatikan gerak tubuh mereka ternyata pesanan saya sadah siap, lalu saya menanyakan harganya dan kemudian membayarnya dengan uang pas. Tak lupa saya berucap terimakasih kepada ibu itu, sontak ibu itu bekata “Alhamdulillah akhirnya pembeli ke empat.”

Di jalan saya memikirkan bagaimana mereka menghalalkan segala cara sekiranya untuk kebutuhan mereka, pun demikian dengan saya yang mencoba merasa optimis untuk mencari pedagang yang masih buka setelah lewat dari jam yang sudah ditentukan oleh himbauan. Setidaknya kami sama-sama melanggar untuk keberlangsungan kami dan sama-sama menguntungkan.

Toh selama kami tetap menjaga jarak dan menggunakan protokol kesehatan saya kira ini halal di lakukan, demi menjaga kewarasan satu sama lain. Melanggar kadang perlu jika untuk kebaikan kan? Lagipula jika dikatakan melanggar kami tidak terlalu melanggar, hanya lewat beberapa menit dari peraturan jam pembatasan.

Bagaimana dengan misalnya keterlambatan yang selama bertahun-tahun belum juga terselesaikan oleh pemerintah misalnya kasus HAM pada Tragedi 98 atau kasus Munir? Tapi ya sudahlah saya takut terlalu ngalur ngidul bercerita.

Maka sebaiknya saya akhiri saja, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan secara fisik, pikiran dan hati. Hehehe salam. [T]

Tags: covid 19pandemipecel lelepedagang lalapanPSBB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Keindahan dan Kehancuran | Wacana Lingkungan Alam dalam Puisi Indonesia Modern Karya Penyair di Bali Periode 1970-an Hingga 2010-an

Next Post

Suntikan Periode Kedua

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Suntikan Periode Kedua

Suntikan Periode Kedua

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co