23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
January 28, 2021
in Khas
Semua Akan Ilegal Pada Waktunya | Cerita Dagang Lalapan Unik di Malam PSBB

Pedagang lalapan di balik pagar yang buka tapi tertutup

Di masa krisis ini ketegangan seolah hal biasa. Ini karena dua keadaan yang kita hadapi setiap hari. Yakni, menghadapi jam normal dan menikuti jam pembatasan kegiatan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19.

Segala bentuk kegiatan apapun termasuk berdagang, jadi susah mengatur jam buka dan tutup usaha, juga susah mengatur pendapatan dan pengeluaran.

Saya memiliki kisah menarik. Ini terjadi di Denpasar, di mana masyarakatnya dihimbau untuk membatasi kegiatan mereka ketika jam telah menunjukan pukul 8 malam.  Yang artinya tanpa kecuali siapapun dan entah apapun itu usaha mereka tetap harus menutup guna mengurangi terjadinya kontak fisik dan menimbulkan keramaian.

Saya ingin menceritakan pengalaman yang sangat unik, lucu sekaligus menegangkan. Yang membuat saya berpikir ulang, sampai sejauh inikah persoalan kehidupan kita belakangan ini?

Saya sebagai orang pendatang di kota besar pastinya sangat bergantung dengan pedagang-pedagang malam semisal dagang nasi jinggo, lalapan, atau pedagang apapun yang masih meladeni hingga malam guna mengisi kebutuhan saya untuk makan.

Tetapi bagaimana nasib mereka hari ini?

Rabu tanggal 28 Januari 2021, pada malam hari sekitar puku 20.11 WITA saya sedang berada di kediaman teman saya. Yang kebetulan dia adalah salah satu mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Udayana.

Malam tiba, dan sebagai seorang mahasiswa yang apa adanya di musim panceklik ini pastinya ia harus memperhitungkan bekal yang terus menipis.   Dia memilih memasak nasi di kediamannya. Sol lauk-pauk, kami sepakati untuk mencarinya di luar.

Karena terlalu asyik mengobrol tentang impian dan cita-cita hingga lupa waktu., malam pun larut. Dan kami tersadar oleh masalah yang hari ini terjadi, bahwa ada himbauan soal pembatasan sosial bersekala besar atau yang akrab kita dengar dengan sebutan PSBB.

Lalu kami sepakat untuk beranjak dan membeli sekiranya yang patut dijadikan teman untuk sepiring nasi hangat, kami memilih membeli lalapan ayam goreng. Kami berusaha mengejar waktu dengan harapan masih ada pedagang yang masih buka.

Saat sampai di jalan raya, suasana kota masihlah ramai mungkin karena orang-orang baru menyelesaikan urusan mereka dan ingin kembali pulang. Tapi tak ditemukan pedagnag yang buka. Para pedagang, mereka sudah sibuk menutup dagangannya dan merapikan segala barang mereka.

Kami harap-harap cemas tidak menemukan pedagang lagi. Kami berkeliling, hingga akhirnya bertemu dengan sebuah warung lalapan yang unik.

Uniknya? Pedagang itu membuka dagangannya dengan konsep tertutup. Mereka memiliki sistem yang saya rasa pikir mereka buat secara spontan khusus di musim PSBB ini.

Jika dilihat dari depan, tidak ada terlihat aktivitas jual beli di warung itu.  Yang ada hanya seorang bapak-bapak yang berdiri di depan gerbang. Gerbang itu kurang lebih tingginya satu setengah meter. Dari atas celah pagar terlihat kepala rombong dan poster lalapan menempel pada dinding.

Saya pikir dagang itu sudah tutup. Tapi kemudian saya tahu ternyata dagang itu buka.

Kenapa saya bisa melihat dan berpikir bahwa bapak itu masih berjualan? Karena ketika saya melewatinya saya mendengar bapak itu berkata kepada seseorang di balik pagar, “Paha satu, dada satu, terong dan dua nasi.” Artinya, ya, itu menu yang dijual.

Di depan gerbng, terdpt seorang bapak sedang bersama seorang remaja berbaju putih dengan masih menggunakan helm. Bapak itu adalah bagian dari pedagang lalapan, dan bertugas untuk mengatur pembeli. Dan remaja itu tentu saja seorang pembeli.

Ketika saya memberhentikan sepeda motor, bapak itu mengangkat tangan dan memperlihatkan telapak tangannya. Apa artinya? Apakah dagangan sudah habis atau bagaimana? Eh, ternyata saya diberi tanda untuk menunggu, dan belum boleh mendekat.

Bapak itu kemudian meminta remaja pemebli itu untuk menunggu pesanannya. Bukan menunggu di tempat jualan, tidak tanggung-tanggung tempat untuk menunggunya ternyata jauh dari tempat berjualan. Yakni di seberang jalan yang sekiranya berjarak 15-20 meter dari gerbang tempat bapak itu berjualan.

Bapak itu kemudian memanggil saya dan menanyakan ingin memesan apa. Saya mengutarakan apa yang hendak saya beli. Setelah menyampaikan pesanan,  saya pun senasib dengan pembeli sebelumnya, yakni menunggu di tempat yang jauh.

Bahkan nasib saya bisa dikatakan lebih kurang beruntung karena tempat saya menunggu ternyata lebih jauh dan harus menyesuaikan dengan petunjuk bapak itu.  “Tunggu di sana ya, ntar kalau sudah saya panggil.” Kata bapak itu sambil menunjuk satu tempat.

Kami mengangguk, dan menyebrang jalan. Setelah itu saya saling tatap dengan teman saya dan membicarakan bahwa ini adalah kejadian yang unik. Saya seperti terlempar ke suasana seorang pemuda yang sedang membeli barang haram, entah itu narkoba atau barang lainnya, yang tidak sepatutnya kami konsumsi. Padahal kami hanya ingin membeli makan.

Setelah tertawa kecil saya mulai mengamati gerak-gerik tubuh bapak tersebut, dia terlihat panik menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang memperhatikan sesuatu yang bahaya akan datang. Padahal dia hanya pedagang lalapan, tetapi laku tubuhnya seperti sedang menjual sumber dosa yang membahayakan banyak orang.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, bapak itu memanggil pemuda pembeli pertama dan karena saya anggap kejadian ini bakal langka saya mempunyai ide untuk mengambil foto. Beberapa bungkusan berwadah kresek saya lihat menyembul dari atas pagar. Remaja itu lantas mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, lalu mengambil kresek dari tangan bapak itu.  Transaksi dilakukan di atas pagar.

Beberapa menit kemudian saya dipanggil. Mungkin karena takut dilihat oleh orang lain saya disuruh masuk oleh bapak itu. Saya menunggu di balik pagar. Lalu saya masuk ke balik pagar dan melihat kegiatan di dalamnya.

Di dalamnya ada seorang ibu-ibu dan satu orang pemuda yang tengah sibuk memasak dan menyiapkan pesanan demi pesanan. Tangan mereka bergerak dengan tempo yang sangat cepat, seolah mereka sudah hapal oleh ruang dan segala benda yang ada di sana. Ibu-ibu tersebut terlihat tengah menyiapkan kertas minyak, dan membungkus sambel dengan pelastik kecil.  Pemuda satunya tengah sibuk menggoreng dengan api yang sangat besar.

Rombong dagangan itu terlihat ditutupi dengan spanduk lalapan yang sama seperti yang ada di dinding belakang rombong. Spanduk yang satunya menyelimuti rombong seolah-olah terlihat bahwa dagangan itu sudah tutup dan sudah taka da lagi aktivitas berjualan.

Saya bertanya, “Buk, kenapa kok jualannya kayak gini?”

Ibu itu menjawab, “Mau gimana lagi, Dik? Mau tidak mau saya harus berani melanggar, bayangkan kami baru buka jam setengah tujuh malam dan disuruh tutup jam delapan. Artinya saya cuman disuruh nongkrong aja di dagangan?”

Saya tertawa kecil kepada ibu tersebut sambil tersenyum dan dia pun membalasnya dengan senyuman kecil pula.

 Tak terasa terlalu lama saya memerhatikan gerak tubuh mereka ternyata pesanan saya sadah siap, lalu saya menanyakan harganya dan kemudian membayarnya dengan uang pas. Tak lupa saya berucap terimakasih kepada ibu itu, sontak ibu itu bekata “Alhamdulillah akhirnya pembeli ke empat.”

Di jalan saya memikirkan bagaimana mereka menghalalkan segala cara sekiranya untuk kebutuhan mereka, pun demikian dengan saya yang mencoba merasa optimis untuk mencari pedagang yang masih buka setelah lewat dari jam yang sudah ditentukan oleh himbauan. Setidaknya kami sama-sama melanggar untuk keberlangsungan kami dan sama-sama menguntungkan.

Toh selama kami tetap menjaga jarak dan menggunakan protokol kesehatan saya kira ini halal di lakukan, demi menjaga kewarasan satu sama lain. Melanggar kadang perlu jika untuk kebaikan kan? Lagipula jika dikatakan melanggar kami tidak terlalu melanggar, hanya lewat beberapa menit dari peraturan jam pembatasan.

Bagaimana dengan misalnya keterlambatan yang selama bertahun-tahun belum juga terselesaikan oleh pemerintah misalnya kasus HAM pada Tragedi 98 atau kasus Munir? Tapi ya sudahlah saya takut terlalu ngalur ngidul bercerita.

Maka sebaiknya saya akhiri saja, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan secara fisik, pikiran dan hati. Hehehe salam. [T]

Tags: covid 19pandemipecel lelepedagang lalapanPSBB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Keindahan dan Kehancuran | Wacana Lingkungan Alam dalam Puisi Indonesia Modern Karya Penyair di Bali Periode 1970-an Hingga 2010-an

Next Post

Suntikan Periode Kedua

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Suntikan Periode Kedua

Suntikan Periode Kedua

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co