10 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Nur Kamilia by Nur Kamilia
March 10, 2026
in Esai
Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini adalah ujian sekaligus etalase bagi model toleransi beragama di Indonesia. Ketika umat Muslim bersiap merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, di saat yang sama umat Hindu di Bali sedang memasuki fase Catur Brata Penyepian. Di titik inilah, terjadi sebuah negosiasi ruang publik yang menarik untuk dibedah secara mendalam.

Di Bali, perayaan Takbiran yang biasanya identik dengan syiar vokal dan mobilitas massa, mengalami transformasi bentuk menjadi apa yang saya sebut sebagai Takbiran dalam Gening. Gening atau keheningan yang jernih, menjadi bingkai bagi umat Muslim untuk menjalankan ibadahnya tanpa harus mencederai kesucian ritual tetangganya. Ini bukan soal pembatasan hak beragama, melainkan sebuah laku ngempet raga menahan ego kolektif demi harmoni sosial yang lebih besar.

Redefinisi Syiar dalam Ruang Privat

Secara tradisional, Takbiran dipahami sebagai ekspresi syukur yang disyiarkan secara luas. Namun, konteks sosiokultural Bali menuntut redefinisi terhadap cara syiar itu disampaikan. Ketika Nyepi berlangsung, seluruh aktivitas luar ruang dihentikan, termasuk penggunaan pengeras suara dan cahaya yang mencolok. Dalam kondisi ini, umat Muslim di Bali melakukan adaptasi sosioreligius yang sangat taktis.

Takbiran tetap dilaksanakan, namun volumenya ditarik ke dalam ruang-ruang privat seperti masjid atau rumah tinggal dengan mematuhi aturan tanpa pengeras suara luar (speaker luar). Secara teologis, hal ini mengembalikan esensi takbir sebagai bentuk komunikasi vertikal yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Syiar tidak lagi diukur dari seberapa jauh suara itu terdengar, melainkan seberapa dalam makna itu meresap ke dalam sanubari jemaah.

Adaptasi ini menunjukkan bahwa hukum Islam di Bali bersifat fleksibel dalam bingkai Desa Kala Patra (tempat, waktu, dan keadaan). Umat Muslim memahami bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak harus bertabrakan dengan penghormatan terhadap tatanan lokal. Keheningan Nyepi justru memberikan ruang akustik yang unik; di mana doa-doa yang dilantunkan dengan lirih justru terasa lebih bertenaga karena tidak terdistorsi oleh hiruk-pikuk duniawi.

Mekanisme Toleransi Berbasis Kesepakatan Kolektif

Toleransi yang terjadi di Bali saat Takbiran bertemu Nyepi bukanlah hasil dari pembiaran yang pasif, melainkan buah dari manajemen konflik yang matang. Di tingkat struktural, peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Majelis Desa Adat (MDA) sangat krusial dalam menyusun seruan bersama. Namun, keberhasilan sesungguhnya ada pada koordinasi di tingkat akar rumput, yakni antara Takmir Masjid dan Pecalang.

Ada mekanisme teknis yang dijalankan: jemaah yang ingin melaksanakan salat Idul Fitri atau Takbiran di masjid biasanya diperbolehkan dengan catatan harus berjalan kaki, menggunakan pencahayaan seminimal mungkin, dan tidak membuat kegaduhan di jalanan. Di sini, Pecalang bukan bertugas untuk melarang, melainkan mengawal agar jemaah bisa beribadah dengan aman tanpa mengganggu ketenangan lingkungan yang sedang melaksanakan Nyepi.

Inilah yang disebut sebagai Toleransi Timbal Balik. Umat Hindu memberikan ruang bagi umat Muslim untuk tetap menjalankan kewajiban agamanya di tengah hari suci Hindu, sementara umat Muslim membalasnya dengan cara menyesuaikan teknis ibadah agar tidak melanggar prinsip Catur Brata Penyepian. Hubungan ini adalah kontrak sosial yang telah teruji selama puluhan tahun di Bali, membuktikan bahwa benturan kepentingan bisa dihindari melalui dialog yang setara.

Menyama dan Integrasi Sosial

Secara sosiologis, fenomena ini memperkuat ikatan Menyama (persaudaraan) yang menjadi fondasi masyarakat Bali. Toleransi di sini tidak dipandang sebagai beban atau pengorbanan salah satu pihak, melainkan sebagai investasi sosial. Umat Muslim yang melakukan ngempet raga (menahan diri) sebenarnya sedang menanam benih rasa hormat yang akan dipanen kembali dalam bentuk keamanan dan kenyamanan hidup berdampingan di masa depan.

Praktik ini juga menghapus stigma bahwa agama adalah faktor pemecah belah. Di Bali, agama justru menjadi alat integrasi melalui tradisi seperti Ngejot (berbagi makanan). Meskipun saat Nyepi aktivitas berbagi ini dibatasi oleh aturan tidak boleh keluar rumah, namun semangatnya tetap terasa. Saling pengertian yang terbangun saat malam Takbiran yang sunyi menciptakan rasa solidaritas yang kuat.

Pelajaran penting dari Bali adalah bahwa toleransi sejati membutuhkan kedewasaan emosional. Ia menuntut setiap pemeluk agama untuk mampu menempatkan diri dalam posisi orang lain. Ketika seorang Muslim memilih untuk tidak menyalakan pengeras suara saat Takbiran karena menghormati tetangganya yang sedang Nyepi, ia sedang mempraktikkan moderasi beragama dalam level yang paling konkret. Begitu pula saat masyarakat Hindu memberikan akses jalan bagi warga Muslim menuju masjid, mereka sedang menunjukkan wajah agama yang inklusif.

Pertemuan Takbiran dan Nyepi di Bali adalah sebuah pesan keras bagi bangsa ini: bahwa harmoni tidak memerlukan keseragaman, melainkan kesepakatan untuk saling memberi ruang. Keheningan di malam Takbiran tersebut tidak mengurangi esensi kemenangan Idul Fitri; sebaliknya, ia memurnikannya dari aspek-aspek selebrasi yang bersifat superfisial.

Bali telah membuktikan bahwa kedaulatan agama bisa berjalan beriringan dengan kedaulatan adat. Di bawah langit yang gelap tanpa polusi cahaya dan suara, Takbir dan Nyepi bersatu dalam satu tarikan napas kedamaian. Kemenangan sejati bagi umat Muslim di Bali bukan terletak pada meriahnya pawai, melainkan pada keberhasilan menjaga hati dan laku demi tegaknya kerukunan di tanah yang mereka pijak. Inilah wajah Indonesia yang kita cita-citakan: sebuah bangsa yang mampu menemukan titik temu di tengah perbedaan yang paling kontras sekalipun. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepiIdul FitriLebaranogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

by Elpeni Fitrah
March 10, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam...

Read moreDetails

Marwah yang Tak Terbeli

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam...

Read moreDetails

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

by Ni Made Erika Suciari
March 10, 2026
0
Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

KEMAJUAN ilmu kedokteran telah membuat banyak penyakit menular sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun meningkatnya kembali kasus campak menjadi pengingat...

Read moreDetails

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

by Sugi Lanus
March 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

Read moreDetails

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

by Satria Aditya
March 9, 2026
0
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik

SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah...

Read moreDetails

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

by Sugi Lanus
March 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan "Kawitan". Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah...

Read moreDetails

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

by Angga Wijaya
March 9, 2026
0
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti...

Read moreDetails

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
0
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

DALAM bentang sejarah musik rock di tanah air, sulit membayangkan struktur megah genre ini berdiri kokoh tanpa menyebut satu nama...

Read moreDetails

Mudik Lebaran dan Komunikasi Intrabudaya

by Chusmeru
March 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KERIUHAN selalu akan terjadi menjelang Lebaran di Indonesia. Seperti biasa, mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta selalu menunggu...

Read moreDetails

Keseimbangan Rasio dan Rasa

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
March 8, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

PERHATIKAN orang yang berselancar, begitu menikmatinya. Justru semakin besar gelombang, semakin peselancar itu menikmati rasanya. Kenapa orang itu bisa melakukannya?...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata
Esai

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini...

by Nur Kamilia
March 10, 2026
Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026
Panggung

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

PENILAIAN seni memang subjektif. Namun pada akhirnya, karya yang mampu menyatukan gagasan, visual, dan pementasan sering kali menonjol dengan sendirinya....

by Dede Putra Wiguna
March 10, 2026
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
Esai

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam...

by Elpeni Fitrah
March 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Marwah yang Tak Terbeli

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak
Esai

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

KEMAJUAN ilmu kedokteran telah membuat banyak penyakit menular sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun meningkatnya kembali kasus campak menjadi pengingat...

by Ni Made Erika Suciari
March 10, 2026
Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng
Pemerintahan

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng

DEWAN Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Buleleng mengelar pertemuan penting guna membahas arah pembangunan daerah ke depan serta validasi data sosial....

by tatkala
March 9, 2026
‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026
Panggung

‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026

DI antara deretan karya dalam Lomba Sketsa Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026, sebuah gambar berjudul “Gangga Maya” menarik perhatian dewan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta  —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan
Opini

Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan

TULISAN I Gede Joni Suhartawan mengenai Lakon Lobi Pedidian Bali di Pusat di tatkala.co membuka kotak pandora yang selama ini...

by Jro Gde Sudibya
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Esai

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah...

by Satria Aditya
March 9, 2026
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah
Panggung

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan "Kawitan". Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah...

by Sugi Lanus
March 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co