6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Nasi Sere Lemo dan Seorang Karyawan

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 8, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Nasi Sere Lemo dan Seorang Karyawan

Banjar Cerancam, Jalan turi, Denpasar

Nasi Sere Lemo

NASI SERE LEMO DAN SEORANG KARYAWAN

  • Br. Gerenceng, Denpasar

Setelah berkeliling kota Denpasar
namun tidak juga menemukan apa dan bagaimana
cobalah ke Jalan Sutomo Gang 8 No. 8
tepat di sebelah Banjar Gerenceng
siapa tahu ia menunggu di sana,
apapun itu, siapapun itu.

Sudah berulang kali aku datang
ternyata senyum Ibu Wati lebih tua
dari usia pencaharian kita
di depan lapuk pintu coklat
tembok bata mengikis setiap pertanyaan
dari mana aku beranjak ?
sampai kapan kau akan berhenti ?

Mana hendak kita makan lebih dahulu
ayam sisit merah ? jukut gonda hijau kekuningan ?
kacang goreng asin ? telur krispi keriting ?
atau sambel sere lemo, merah hitam pedas ini ?
karena kita berdua tidak pernah mengetahui
cara lapar yang benar
bagaimana menanggulanginya
agar tetangga lain tidak mendengar.

Ini resep dari nenek moyang
di turunkan dari mimpi-mimpi
bulan purnama asing di merajan
ribuan tumbuk lesung di celah-celah tungku api
menguap entah ke mana arahnya
lalu kita mencari jauh, tanpa sesekali pulang ke rumah.

Seorang karyawan membawa catatan pesanan
satu di antaranya hanya nasi dan kata-kata setengah matang

“Di kantor semua orang sedang merangkai kalimat
tapi mereka lupa sebelum kalimat ada kata
serta kesepakatan antar keduanya
yang tidak pernah tertera dalam kamus” kata karyawan tersebut

Sambel sere lemo kulahap
bersama sayur gonda dan ayam sisit
menerka rasa pedas dari mulut hingga ke ubun-ubun
kacang dan telur nanti saja
setelah nasi habis dan keringat berakhir
botol teh sosro sendiri di ujung meja
seekor lalat bertengger sambil menjilat bibir botol
terbang ke atas piringku, bersiap tidur siang panjang.

“Tenang saja aku selalu menyimpan bekal kata-kata dari ibu
kukumpulkan jadi satu, lalu kumasak di hari minggu
agar Senin, aku terbiasa dengan orang-orang sepertimu” kata karyawan itu kepadaku
.
.
.
.
.

Aku selalu mencari datang
dan tiba saat pergi.

9-10-11 Januari 2021

NB
Sere lemo = sambel terasi dan perasan lemo
Merajan = tempat sembahyang Agama Hindu

TARI TENGKLONG, PRAJURIT MELOMPAT, KAMI TERTAWA

Sanggah Surya di tengah kerumunan
empat prajurit empat sudut, berpakaian hitam, saput poleng
membawa tombak panjang di pundaknya, tanda perang kisah-kisah
tidak sempat kita perankan, waktu jatuh di ujung tombak
menembus tawa hari ini.

Tabuh semakin cepat
tari berlari melingkar semakin pepat
kami berteriak, mereka bersorak
lalu berhenti seketika, empat prajurit bersiap satu kaki
semua tertawa, satu penari ngegol jenaka
terhempas ke luar lingkaran
sejarah lekang di rongga meriam batu
beku jadi sembah pada jingga Penampahan Galungan.

Hari itu orang-orang Kerandan
merayakan kemenangan dari musuh-musuh masa lalu
ibu-ibu membawa gebongan buah setinggi anak lelakinya
bapak-bapak duduk dibelakang
mengamati doa mana senyatanya memberikan nasib baik
anak-anak berkeliling melihat buah warna ungu, jingga, putih dan hitam
dalam kepalanya : semua buah menyenangkan apapun warnanya
aku menangis jika ujung tombak itu menyentuh tanah
mungkin tidak ada berkat lagi

setelahnya Nasi Jinggo dibagikan di atas gebogan
anak-anak berebut bingkisan warung, seperti oleh-oleh pesta ulang tahun
Raja Pemecutan berjinggo bersama rakyatnya
Kami menunggu raja usai makan malam,
sambil menghitung daun-daun ketapang jatuh di atas kepala kami
sambil memperhatikan seekor anjing hitam koreng
menunggu sisa makanan dari upacara.

Raja tertawa, rakyat menahan tawa sedikit
Empat prajurit usai bertaruh arah
Semua senang, semua lelah
Kami pulang membawa gebogan,
ambil menawarkan buah istimewa ke yang lain, kami barter
Sedari tadi adikku sudah mengincar anggur ungu dari eropa,
gebogan milik Ibu Jero

Ibu Jero hanya meminta senyum adikku.

Rabu 13 Januari 2021
13 : 26 WITA

Banjar Cerancam, Jalan Turi, Denpasar

PULANG, KE PANGKAL PITA SUARAMU

Bale Kulkul bata merah di pojok banjar,
piring-piring putih di beberapa sisinya, seseorang memanjat tangga
menatap langit, menggambar awan di tangannya
hari masih panas, was-was seorang anak kecil menyebrang ke banjar
ingin menabuh gangsa, memukul gong berkali-kali.

Gong tersebut menyimpan kisah panjang, melintang dari Sanur – ke Ceramcam
tukar menukar janji, atas lingkar perjalanan tetua-tetua
yang barangkali kita lupakan tanpa sengaja,
terselip di antara lontar daun jaka, di tumbuh serat jamur warna merah
peradaban tetap berjalan, pendongeng masih ulung
menceritakannya kembali kepadamu – kepadaku,
di pangku dalam, temaram mata ibu.

Setiap kata penting, untuk pertumbuhanmu
nyatanya tidak segampang itu, mereka sedang sibuk menjawab pertanyaan
apakah selamat pagi itu di peruntukkan pagi ?
tidakkan sangat arogan mengucapkan salam
sebelum pagi benar-benar ada di halaman
menyisir setiap absen tawa anak-anak, di simpan malam pada bulan.

Kata Bli Wayan Sukadana, bila anak kita belum mampu berbicara
semisal : melafal benda-benda, meniru suara cicak saat menangkap nyamuk
mengucap ibu dengan sempurna, menanyakan sanksi kelahirannya,
sementara usianya sudah terlewat
datanglah hati, ilkhas pada berkat
basuh air cempaka di antara celah gong tembaga
kumpulkan setitik demi setitik di jemarimu
hingga ujung lidah, tenggorokan, usus, sampai ke jantungnya
minum, minumlah…… mandi, mandilah…..

Mereka akan kembali, pulang ke pangkal pita suaramu.

Sedari dulu orang-orang tahu gong itu bertuah
mengembalikan asal bunyi, muasal suara, ke liang – liang sekalipun
terdengar samar jauh lagu ancang-ancagan
senja mengulang kepergiannya sekian kali
leluhur menjenguk sesekali saat upacara suci di gelar berkala
sementara kita menghitung jumlah karat
di antara kerak waktu di badan gong, kulit gendang, ujung kempul, daun gangsa
bahkan di tiang penyangga yang memisahkan nasib kita hari ini.

Upacara usai tepat saat anak-anak mulai belajar menari
sambil menghafal nama sungai yang mengitari desa kita
alirannya sampai di kaki ibu, sebab langkahmu tidak pernah kuduga.

Denpasar, Januari 2020

POLLOK BERMULA, MEMANDANG PANTAI LAPANG

Dari Kelandis Ni Pollok bermula
dari halaman Pura Jurit liku tubuhnya berhulu
dari Rumah Sanur milik Le Mayuer ia bermuara

Aku berkunjung ke rumah tua milik keluarganya
halaman ditumbuhi bunga-bunga merah, rumah kupu-kupu
menyimpan perjalanan menuju pesisir,
menitipkan telur di bawah daun ketapang kering di ujung ranting.

Kata cucumu, Arini, yang kini sibuk di artshop kecil depan museum
gemulai tangan, sudut senyum, serta liku jemarimu
masih tersisa di halaman hatinya,
saat bayang-bayang daun jepun
tepat jatuh di wajah puluhan patung koleksi tuan
begitulah caranya mengingatmu,
sembari menelisik puas warna pada kanvas,
tumbuh di dinding kayu jati merah
seorang anak desa jadi penari legong .

Kemudian kami berdua mencoba menerka
gincu apa kesukaanmu ? selendang apa favoritmu ?
saat suamimu mulai menerjemahkan bias matahari
menjadi berbagai kemungkinan tanda tanya,
sebab tidak ada titik dalam kehidupanmu kan ?

Aku dan Ibu Arini mengira, perempuan yang gemar menari
merupakan persembahan luhur untuk para dewa
tubuh ditempa dari pagi hingga malam hari,
seperti perjalananmu mencari air di sungai,
memberi makan babi dan sapi,
memanen padi, menumbuk jagung
hingga menjaga keseimbangan antara ketiadaan dan kehampaan.

Tubuh-tubuh itu sudah jadi, dikerja ikhlas tak berkesudahan.

Odah, orang banyak mengenalmu sebagai model lukisan
kau masih di situ, memandang pantai lapang,
di pesisir banyak toko oleh-oleh sekarang,
baju barong, kaca mata, topi, udeng, kaos I Love Bali
topeng bondres, serta penjual makanan yang saban hari menunggu

Sesekali pulanglah ke Kelandis
cucu-cucumu gemar menari, setiap piodalan di pura
datang pada kami hujan terakhir bulan kelabu
ajarkan setiap gerak mata dan gerak rapal jemari
sebab hidup ku adalah tarian
tarian panjang untukmu dan dewa-dewa

Januari-Mei 2021


– CATATAN

Puisi-puisi ini hadir dari tulisan semasa saya menjadi wartawan di tahun 2017. Waktu itu saya mengampu rubrik tentang banjar. Setiap banjar di Denpasar saya kunjungi, mencari cerita, legenda, mitos, makanan enak, sistem sosialnya hingga tokoh yang memegang peranan penting dalam satu wilayah banjar tersebut.

Tahun ini 2021 saya mengulik lagi tulisan itu, lalu mengunjungi ulang banjar tersebut secara berkala. Kadang diam-diam hanya duduk di balai banjar, kadang ketemu kelian adat atau dinasnya, kadang hanya menatap balai kulkulnya saja. Tentu puisi ini tidak terlepas dari situasi zamannya, saat mencari data dulu hingga saya merangkainya jadi puisi.

Inilah yang saya sebut sebagai puisi arsip, hadirnya dari data dan pengarsipan walaupun belum lengkap, kemudian dirangkai dengan metafora-metafora logika peristiwa yang saya alami. Tapi memang agak susah menakar puisinya, jika tidak mengetahui latar dibelakang cerita yang mendukungnya.

Terlepas dari itu silahkan nikmati saja, sebagaimana teman-teman membaca puisi seperti biasanya.

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Next Post

Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

by Wayan Esa Bhaskara
February 21, 2026
0
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Hikayat Begadang satu peringatan, bayangkanada tangga menuju surga, dan aku siap-siap menaridi bawahnya, malam kliwon baru saja usai tak ada...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

by Chusmeru
February 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Aku Tanpa-Mu Ramadan hari iniSama seperti saat lalu ya RabbMenghitung pinta yang tak habis di sela doaMenagih nyata yang tak...

Read moreDetails

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

by I Wayan Kuntara
February 15, 2026
0
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Aku Benci Politik aku benci politikdatang dengan senyum licikmanis kata-kata penuh retoriknamun di baliknya tersimpan taktik aku benci politikJanji-janji menggema...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

by Made Bryan Mahararta
February 14, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

Sepintas Kita pernah berjumpa meski sesaatdari pagi yang masih terasa beratsampai langit semakin gemerlapdan lampu jalan redup perlahan, padam Ku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

by Maria Utami
February 13, 2026
0
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Pengakuan Si Pahit dari Sumatra Aku tidak punya waktu untuk urusan asmaradi ketinggian yang manja.Lahir dari tanah Lampung yang keras...

Read moreDetails

Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure

by Karst Mawardi
February 8, 2026
0
Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure

AKTUAL preseden dan prediksijadi 2 sisi koin logammereka lemparkan itubukan buat ditangkap peristiwa jadi gentingtatkala koin mendaratmemaksa kita berpikirmelulu soal...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode

Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co