6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Kita Membenci India?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
July 31, 2020
in Opini
Apakah Kita Membenci India?

Lukisan I Ketut Suwidiarta

Jika membaca sedikit tentang sejarah, kita tak punya alasan kuat untuk membenci India—dan apapun yang berbau India. Jadi sebenarnya tidak relevan lagi membuat klasifikasi, sekaligus membenturkan Hindu Bali dan Hindu India—lalu mengarahkan amarah terhadap persoalan yang saat ini ada di Bali ke Hindu India. Pembentukan identitas Hindu di India melalui proses yang rumit, begitu juga Hindu di Indonesia. Sulit kita mengidentifikasi diri secara demarkatif dan tegas seperti ini. Karena—sekali lagi—saya pernah menulis juga; bahwa pembentukan identitas Hindu di Indonesia melalui proses genius sintesis. Tentu kita pasti sepakat untuk selalu menjaga genius sintesis ini.

Saya ingin kembali membahas hubungan antara India dan Bali—yang lebih puitis—untuk menurunkan tensi panas kita. Karena menurut saya, India dan Bali justru pernah memiliki nasib yang sama; pernah berada di bawah tekanan dan tuduhan agama-agama abrahamik. Jika di India sana, tekanan agama abrahamik ini menghasilkan sebuah gerakan-gerakan neo-Hindu, di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya, tekanan tersebut menghasilkan komfromi melalui proses genius sintesis. Ini menarik kita bahas.

Gencarnya Kristenisasi dan merebaknya gaya hidup barat di India sejak masa penjajahan Inggris, memicu sikap reaktif Raja Ram Mohun Roy untuk mendirikan sebuah Brahma-Sabha (Komunitas Satu Tuhan)—sejenis komunitas agama baru yang berusaha membuktikan bahwa agama Kristen tidak menawarkan sesuatu yang baru—yang tidak hadir dalam tradisi India. Ia menegaskan, meskipun takayul, penyembahan berhala memang perlu disikapi, namun tidak menjadi keharusan orang India memeluk agama Kristen. Orang India bisa menemukan agama yang murni dalam diri mereka sendiri.

Berangkat dari semangat inilah ia mendirikan Brahmo Samaj—sekaligus membuktikan kepada para teolog dan misionaris Kristen bahwa agama yang mereka anut sudah terkandung dalam teks-teks Upanisad. Ajaran-ajaran mereka sudah terkandung dalam kitab ini. Gerakan keagamaan ini juga mempengaruhi seorang Devendranath Tagore untuk ikut memimpin Brahmo Samaj. Devendranath Tagore ini adalah ayah dari penyair, sastrawan, dan filsuf terkenal Rabindranath Tagore.

Tidak hanya Brahmo Samaj—konstelasi politik keagamaan di India juga menghasilkan gerakan yang dikenal dengan Arya Samaj. Gerakan ini diciptakan oleh Swami Dayananda Saraswati pada tahun 1875 yang mendasarkan diri pada Veda. Menurut Bhattacharyya dalam Indian Religious Historiography, awalnya memang Dayananda memasukkan Upanisads, tetapi ketika ditunjukkan bahwa Upanisad sendiri menolak autoritas dari Veda sebagai wahyu tertinggi dan satu-satunya, Dayananda mengubah pandangannya dan hanya mengandalkan Rg Veda.

Yang menarik dari Dayananda adalah ketika ia menyadari lemahnya gerakan Hindu di India dan tergerak oleh semangat militan Kristen Evangelis dan proposisi dakwah Islam untuk menciptakan dan menumbuhkan militansi yang sama dalam agama Hindu itu sendiri.

Tak hanya itu, muncul juga nama Swami Vivekananda (1863-1902)—yang oleh Martin Ramtedt—disebut sebagai yang ketiga dari reformasi besar Hindu—untuk kebangkitan Hindu. Ia dianggap berhasil menyebarkan ke dunia keutamaan dan visi Hinduisme modern yang monoteistik dan inklusif di Parlemen Agama Dunia di Chicago. Ia kemudian mendirikan Ramakrisna Mission. Di sini bisa dikatakan, pengaruh agama-agama abrahamik terhadap gerakan neo-Hindu bisa terlihat jelas.

Lalu apa ada hubungan dengan Indonesia atau Bali? Ada. Karena cara pandang gerakan neo-Hindu inilah yang turut mewarnai dinamika Hindu di Indonesia. Meskipun harus diakui juga, telah lahir persahabatan antara India dan Bali.

 Pada tahun 1948 India mengadakan konferensi Negara-negara Asia untuk memprotes kembalinya penjajahan Belanda ke Indonesia dan Bali khususnya. Di samping itu, Nehru adalah kepala negara asing pertama yang mengunjungi Indonesia merdeka pada tahun 1950.

India dan Indonesia juga terikat pada perjanjian budaya.  Indian Council and Cultural Relations saat itu mulai memberikan beasiswa bagi siswa Indonesia yang belajar ke India. Beberapa orang Bali memanfaatkan kesempatan ini  dan terdaftar di Shantiniketan Vishva Bharaty, Universitas Hindu Banares, dan Akademi Kebudayaan India Internasional. Saya tidak sebut para pendahulu kita yang pernah belajar ke India. Tapi buku-buku mereka pernah kita baca juga.

Tak hanya itu, seorang misionaris Arya Samaj, Narendra Dev Pandit Shastri juga datang ke Bali. Ia bahkan memiliki istri di Bali dan tinggal seumur hidup. Ia juga menerbitkan Intisari Hindu Dharma. Terbitan ini—oleh Ramstedt—berfungsi sebagai cetak biru reformulasi teologi dan ritual Bali di sepanjang garis neo-Hindu. Pandit Shastri juga menulis Dasa Sila Agama Bali dan Sejarah Bali Dwipa. Sampai pada tahun 1961, Hindu Dharma akhirnya menjadi salah satu dari lima agama yang dianut oleh orang Indonesia.

Seperti kita ketahui, ketika orang Bali dianggap menjalankan praktik animisme, dan tidak diakui sebagai agama—sampai Departemen Agama yang didominasi Muslim gagal juga mengakui agama Bali sebagai agama, akhirnya terjadi reformasi agama dan budaya. Mereka tentu saja melakukan konfirmasi nilai ke India, mencari rumusan yang sesuai permintaan pemerintah saat itu.

Di sini sebenarnya ada titik temu antara kebutuhan penyesuaian rumusan agama versi Negara dan munculnya gerakan neo Hindu yang sudah melakukan penyesuaian melalui reformasi besar di India. Termasuk masuknya aliran-aliran keagamaan seperti Sai Baba dan Hare Krisna, diuntungkan oleh kondisi politik di Indonesia.

Di sisi lain ada fakta berbeda: di luar Bali banyak juga umat Hindu—baik itu yang berasal dari Jawa, Sulawesi, Sumatra atau orang Bali yang merantau karena tugas Negara merasakan tekanan agama mayoritas ketika menjalankan praktik keagamaan yang ritualistik. Para perantau dan kaum urban inilah yang akhirnya banyak memilih mengikuti gerakan-gerakan keagamaan semacam itu—karena selain praktis, juga dianggap lebih aman dijalankan daripada praktik agama seperti yang dilakukan di tempat asal mereka.

Dan di sini, pemerintah sering belum mampu melindungi agama minoritas yang tertekan. Sekali lagi: ini persoalan lain—yang mesti direspon serius oleh tokoh-tokoh agama kita.

Ada lagi: kita belum serius menggarap Hindu Nusantara, karena sering kali juga ada keluhan tentang Balinisasi dan Indianisasi di luar sana. Padahal, umat Hindu luar Bali yang memilih memeluk Hindu pasca 1965, sedang melaksanakan “proyek diri” yakni mencari identitas kehinduan yang pas untuk mereka. Tentu kita perlu mendukung proses tersebut, jika benar-benar pro Hindu Nusantara.

“Kecelakaan” selanjutnya adalah kaum urban kota yang lama hidup di luar Bali dan mengikuti gerakan keagamaan (berbau neo-Hindu) ketika datang ke Bali melakukan tuduhan seolah-olah aktivitas keagamaan di Bali rumit, biaya mahal, dan kurang efisien.

Tuduhan ini, meski tak langsung, turut berpengaruh pada konversi internal di Bali dan akhirnya ikut dalam aliran-aliran keagaman semacam itu. Padahal, tuduhan mereka hanya karena mereka gagal memahami praktik agama di Bali—sama seperti gagalnya misionaris Kristen memahami Bali. Aksi sistematis sampai menyentuh buku-buku agama dari tingkat sekolah dasar yang membawa misi khusus juga mempekeruh suasana.

Belum lagi, muncul seorang pejabat publik yang oportunis lalu mengeksploitasi isu-isu ini demi kepentingan politik. Bahkan saat ini ia malah mengolok diri dengan menyebut dirinya: Hindu Bali, setelah videonya beredar ke publik.

Saya hanya mencoba melihat sisi lain dari kisruh ini. Selain memang menyarankan para tokoh dan pejabat publik di Bali untuk rekonsiliasi—bukan malah memprovokasi memanaskan suasana dengan mengaku Hindu Bali, padahal di sana mengaku seorang bhakta. Saya berharap para tokoh menyelesaikan persoalan ini dengan cara-cara yang intelek, prosedural, dan mengedepankan musyawarah mufakat.

Kita pernah punya pengalaman pahit soal politik; aksi puputan, pembunuhan massal pada tahun 1965 yang penyebabnya masih misterius, kerusuhan politik pasca reformasi, dan saat ini ada problem besar; ambyarnya ekonomi akibat ambruknya pariwisata Bali karena covid-19. Banyak yang diputus kerja, dirumahkan, dan dalam keadaan yang sulit. Jangan sampai kisruh ini seperti api dalam sekam; karena dalam keadaan krisis ekonomi, akan muncul krisis-krisis lain yang lebih berbahaya.

Tabik

I Gusti Agung Paramita

Lukisan: I Ketut IKetut Suwidiarta

Tags: balihinduindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berhenti Membicarakan Pandemi

Next Post

Memahami Penularan Penyakit Infeksi

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Memahami Penularan Penyakit Infeksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co