4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Senja di Cakrawala, dan Hal Lain di Sekitarnya

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
November 5, 2019
in Esai
Melihat Senja di Cakrawala, dan Hal Lain di Sekitarnya

Pementasan Musikalisasi Puisi Senja di Cakrawala pada Festival Seni Bali Jani 2019

Pada buku “Paduan Wacana & Apresiasi Musikalisasi Puisi”, dijelaskan arti Muspus menurut pengarangnya Hamdy Salad bahwa Musikalisasi Puisi atau Muspus adalah segala bentuk dan jenis karya musik yang digubah, dibuat, dan disusun berdasarkan teks puisi yang ditulis penyair sebagai karya sastra dan telah dipublikasikan sebagai karya puisi secara umum.

Yang sering menjadi permasalahan dalam perkembangan Muspus hari ini di Bali adalah bukan pada ranah pembedaan antara Muspus dan lagu yang menyerupai bentuk Muspus. Sedangkan saya sendiri memang masih bingung bagaimana bentuk Muspus aslinya? Karena Muspus begitu blur dan samar, disini ruang Muspus mempunyai daya cipta yang begitu luas, karena pada kenyataanya tidak ada hal-hal yang harus diikuti secara teori untuk mencipatakan Muspus.

Tapi pada hari ini khususnya di Bali ruang Muspus yang begitu luas itu hampir tak terlihat pada kelompok-kelompok pegiat Muspus. Mungkin memang ada beberapa kelompok yang mempunyai kesadaran lebih akan hal itu, tapi ada juga beberapa kelompok yang terdoktrin oleh ketentuan bentuk Muspus oleh kelompok yang mereka anggap berhasil membawakan Muspus.

  Ada kecendrungan kelompok satu dengan kelompok lainya semacam mengikuti bentuk dan jejak dari kelompok yang dianggapnya berhasil, padahal pada kenyataanya ruang Muspus itu tidak seperti itu karena pada satu sisi tidak ada tradisi atau aturan Muspus yang tertulis dengan sah.

Kecendrungan daya cipta semacam itu mungkin memang menjadi baik pada satu sisi, untuk sekiranya menjadi pemikat agar pegiat Muspus semakin banyak. Tapi pada satu sisi menjadi masalah juga, karena setelah merasa mengikuti dan diikuti tidak ada sikap tegas setelah itu. Dan kasus-kasus semacam ini sering sekali terjadi jika ada perlombaan Muspus, jika melihat lomba Muspus hampir semua peserta meniru apa yang dianggapnya berhasil oleh terdahulunya kemudian diikuti tanpa ada sebab dan akibatnya untuk mencari tahu lebih lanjut.

Apalagi ditambah ruang bergerak Muspus hari ini bisa dikatakan hampir tidak ada, belum bisa saya mengatakan bahwa Muspus menjadi kubutuhan khusus bagi kelompok pegiat Muspus itu sendiri. Mungkin ada beberapa kelompok yang mencoba mengadakan pentas Muspus dengan tiba-tiba tanpa ada angin dan hujan, tapi itu hanya sekali dua kali setelah itu selesai. Jika demikian, bagaimana misalnya jika sekarang saya memposisikan diri sebagai penikmat Muspus. Kelompok tertentu sering kali mengatakan bahwa Muspus itu mempunyai pendengarnya sendiri. Soal itu mungkin saya paham, demikian pula hal lainya juga pasti demikian. Jangankan Muspus, makanan saja pada hari ini bisa mempunyai penikmatnya sendiri.

Hal-hal atau pengambilan sikap seperti itu mungkin bisa menjadi keresahan saya pribadi sebagai penikmat Muspus, selain karena rasa penasaran saya tentang kelompok itu mengeksplor musik. Ada juga rasa keingin tahuan saya tentang pembawaan sebuah karya puisi penyair kemudian direspown dengan bentuk lain salah satunya Muspus, tentu saja ada proses Panjang pastinya untuk mengubah bentuk puisi menjadi sebuah Muspus. Akan lebih menarik rasanya ketika saya menonton sebuah pentas Muspus kemudian mengetahui pula rekaman jejak kelompok tertentu dalam berproses.

Hal demikianpun juga sangat jarang saya perhatikan di kalangan Muspus itu sendiri. Mungkin bagi saya karena kurangnya ruang-ruang yang kolektif untuk kelompok Muspus, tapi jika benar itu adalah titik fokus dari masalahnya. Kemudian dimana letak kesadaran sebagai kelompok pegiat Muspus untuk memperluas jangkauan pendengarnya? Tentu saja jawaban bahwa Muspus itu mempunyai penikmatnya sendiri kurang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Karena saya sendiri menyadari bahwa kemauan penikmat pun selalu menginginkan hal baru, dan contoh kecil yang terjadi misalnya pada diri saya adalah seperti lagu-lagu keseharian yang saya dengarkan.

Saya mengalami perkembangan soal lagu, misalnya ketika jaman SMP saya mendengarkan lagu yang Pop sekarang sudah mulai mendengarkan lagu yang agak sedikit keras seperti Metal atau Rock Alternatif. Itu bagi saya adalah contoh perkembangan yang pasti dirasakan dan dialami oleh tiap orang karena rasa kaingin tahuan dan kesenanganya mendengar musik, kemudian apakah kelompok Muspus tertentu melakukan pembacaan semacam itu? Kalau yang saya takutkan dari diri saya sendiri sebagai penikmat Muspus adalah ketika saya sudah mulai nge-fans oleh satu kelompok Muspus tapi kemudian pembawaan Aransemenya monoton begitu saja. Yang saya takutkan adalah saya mulai bosan dan mulai berpaling ke hal lain. Itu kan bisa dikatakan bahwa kelompok tertentu menjadi alat mematikanya gerakan Muspus secara perlahan, karena tidak melakukan perkembangan. Dengan demikian penikamtnya satu persatu mulai bosan dan lebih memilih musik dangdut misalnya. Karena misalnya seperti dangdut-pun mengalami hal perkembangan tersebut, saya mungkin tidak begitu paham soal sejarah musik.

Tapi jika dipikir-pikir kembali benar saja bahwa dangdut mengalami hal perkembangan, dulu ketika saya SD sepulang sekolah pasti dapat saja mendengarkan lagunya Rhoma Irama, dengan alunan musiknya yang kadang mempengaruhi jalan saya seperti kuda laut. Karena bunyi gendangnya yang seperti memantul. Sedangkan musik dangdut hari ini, sudah banyak sekali variasinya. Semacam diremix menjadi House Musik Funky (DJ). Yang membuat saya ketika mendengarnya-pun tak karuan, tapi penikmat dangdut tetaplah penikmat dangdut. Kesadaran seperti itu mungkin harus lebih dibesarkan mengingat bentuk Aransemen Muspus hari ini hampir seragam bentuknya. Dengan demikian untuk nge-fans dengan satu kelompok Muspus saja saya tidak bisa hari ini, karena hampir serupa bentuk dari segi Musiknya. Yang mana mau saya idolakan?

Kalau saya tafsirkan sendiri, seperti halnya saya menulis ini dengan segala tafsir saya sendiri. Tentu saja mungkin bagi saya bahwa titik permasalahnya adalah kurangnya ruang kegiatan atau eksploratif pada Muspus itu sendiri, dan kurangnya antar pegiat untuk saling bertatap muka kemudian membicarakan bagaimana Muspus hari ini. Karena ruang yang bisa menyediakan hal tersebut adalah lomba saja, yang tentunya dari jauh hari ketika berproses yang disiapkan adalah ego yang begitu tinggi kemudian rasa memiliki Muspus yang dibungkus dengan perasaan senioritas.

Sehingga ketika bertemu pada ruang perlombaan yang terjadi hanya “Sapa Ala Semut”, ketawa-ketawa lalu setelah itu selesai. Mungkin akan berbeda jadinya ketika Muspus memang disiapkan untuk dipersentasikan, atau menggelar parade Muspus dan sharing proses misalnya. Mungkin itu bisa menjadikan hal dan pengetahuan baru bagi kelompok lain. Dan menjadikan Muspus makin berkembang, bukan hanya semangat saat lomba saja. Karena terkadang kelompok yang sering kali kalah dalam perlombaan selalu merasa gagal menjadi Kelompok Muspus lalu berhenti berMuspus. Sudah menjadikan penikmatnya pergi perlahan, lalu kemudian mematikan perlahan pula kelompok yang lainya.

Mungkin kelompok “Senja Di Cakrawala” adalah salah satu dari sebagaian kelompok yang menyadari hal tersebut, ada kesadaran bahwa keresahan mereka terhadap dunia yang mereka geluti. Karena kelompok ini adalah salah satu Pegiat Muspus yang begitu aktif di Denpasar, bahkan sering kali menjuari perlombaan Muspus dari berbagai kelas dari se-Kecamatan sampai Provinsi. Bahkan saya pernah diceritakan oleh salah satu anggotanya bahwa sebelum mengikuti lomba tersebut mereka hanya bersiap dan berlatih hanya 2-3 hari sebelum perlombaan.

Dan hasilnya sangat membanggakan bagi mereka ketika meraih juara 1. Tentu sudah tidak diragukan lagi bagaimana mereka dalam Permuspusan Duniawi khususnya di Denpasar bahkan Bali. Kemudian apakah ini adalah contoh keresahan mereka ketika melihat Mupus hari ini, semoga saja. Ketika dihadapkan dengan ruang yang bisa dikatakan kolektif, kolektif dari segi acaranya kemudian dari segi pengkonsepanya hingga disiapkanya tim penulis yang dibebaskan untuk menuliskan proses untuk kelompok ini. Kebetulan saya adalah tim penulis dari kelompok Senja Di Cakrawala. Semoga saja sikap yang diambil dalam mengahadapi hal apapun selalu disertai dengan pembacaan yang Panjang.

Karena saya turut senang juga ketika melihat kelompok ini begitu sibuknya menyiapkan konsep pentasnya nanti di acara “Apresiasi Sastra” Festival Bali Jani untuk tanggal 8 November. Begitu semangatnya pula saya mendengarkan berbagai cerita yang dilontarkan dari bebrapa anggotanya ketika menceritakan konsepnya dan pembacaanya terhadap Muspus. Walaupun saya tidak begitu paham apa sebenarnya konteks yang dia ceritakan, tapi saya merasa senang dan dapat tertawa bersama saat berdiskusi.

Karena yang saya peribadi perlukan sebagai penikmat Muspus adalah rekam jejak proses dan pola berpikir apa yang hadir untuk menciptakan satu karya tersebut. Dan saya karena lebih memilih mencoba berserius dalam kesenian teater akhirnya mencoba menyambungkan-menyambungkan saja pembicaraan dalam konteks berkarya ala anak muda. Sehingga menimbulkan percakapan yang hangat dan cara berpikir baru dalam berproses. Tugas saya sebagai teman yang baik pasti mendengarkan dan mencoba memberikan pandangan baru dalam berproses, pun demikian dengan mereka. Mereka selalu memberikan kisah dan hal yang baru bagi saya. Serta keterbukaan mereka dan kehangatan kelompok mereka dalam menerima seseorang, “lho malah curhat”.

Jadi mereka mencoba mengkonsepkan dan mengobservasi beberapa puisi yang sudah disiapkan kemudian mencoba melakukan suatu hal baru dalam kelompok mereka sendiri. Menyusun dan mengaitkan dari satu masukan dan diskusi mereka pada anggota mereka, kemudian akhirnya kemarin sempat bercerita kepada saya bahwa mereka akan membuat konsep pentas yang “ala-ala Vintage gitu dah”, atau seperti style anak muda jaman 90-an, itu dari segi kostumnya. Kemudian dari segi panggung mereka mencoba merubah suasana panggung tersebut menjadi ruang tamu. Saya tidak tahu jelas bagaimana detail ruang tamu yang mereka susun karena mereka sendiri juga masih ingin mengembangkan idenya yang sudah disepakati bersama. Karena nanti mereka akan pentas di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Centre.

Nantinya mereka akan Memusikalisasikan Puisi dari Wayan Esa Bhaskara berjudul “Hujan” dan “Sekolah Hari Pertama” karya Frischa Aswarini. Dari pembicaraan mereka menyatakan bahwa, pemilihan puisi itu sendiri dengan pertimbangan memilih dua jenis puisi yang dirasa berbeda untuk dibawakan agar tidak melulu mendayu-dayu. Menurut mereka juga bahwa tantangan terbesar dari memusikalisasikan puisi adalah memaknai puisi itu sendiri karena multitafsirnya. Kedua puisi yang sama-sama berbicara tentang waktu, hanya saja pada puisi “Hujan” lebih pada sebuah penantian sampai habis waktu, begitu ujar mereka.

Sedangkan untuk puisi “Sekolah Hari Pertama” lebih pada perjalanan keseharian yang menuai harapan. Sebagian besar konsep musikalisasi ini dengan dasar percobaan, misalnya jika genre musik dibuat berbeda dari biasanya. Karena pada biasanya mereka memusikalisaikan puisi dengan genre Balad, kemudian akan menjadi seperti apa dan seberapa jauh berhasilnya Senja Di Cakrawala ini menyajikanya. Nantinya puisi “Hujan” dengan genre Pop Blues Alternatif dan puisi “Sekolah Hari Pertama” bergenre Folk Alternatif. Mereka berharap juga dengan percobaan ini semoga Muspus menjadi lebih bervariatif.                

Untuk penutup tulisan ini jangan lupa datang dan ramaikan nanti acara “Apresiasi Sastra” dalam rangkaian Festival Bali Jani, tanggal 8 November 2019. Di Taman Budaya Art Centre, Denpasar, Bali. Mencoba sama-sama menyaksikan dan melakukan pembacaan ulang tentang sudah sejauh mana “Bali Jani”? Sebagai penutup pula saya pribadi ingin mengutip beberapa kata dari teman-teman Senja Di Cakrawala bahwa “Apapun itu, semua hal alangkah baiknya dikerjakan dengan sederhana termasuk bermusik”, ujar Yoga salah satu anggota Senja Di Cakrawala.

Dengan demikian saya berpikir pula sesederhana apa kira-kira nantinya pementasan Muspus mereka? Saya pun tak dapat membayangankan kalau tidak menyaksikanya langsung. Atau jangan-jangan kutipan tersebut mempunyai makna lain seperti misalnya apa memang harus sesedrahana itu melihat realitas dan perkembangan Muspus hari ini? Sebab “Ibarat jantung, musik adalah kehidupan. Memiliki detak dan ritme”, ujar Hanny salah satu anggota Senja Di Cakrawala. Betapa tegangnya ketika melihat konteks kutipan yang seakan berada pada maksud berbeda, yang satu sederhana yang satunya lagi menganggap bahwa musik adalah detak jantungnya. Ada ketegangan yang belum usai hanya dalam proses ini untuk Muspus. Mari sama-sama menjadi pengapresiasi [T]

Tags: Festival Seni Bali Janimusikmusikalisasi puisiPuisiSenja di Cakrawala
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Cube #2 – 25 Karya Seni Visual yang Sangat Beragam

Next Post

Relasi Tubuh Sanggar Seni Kelakar dengan Puisi Sungai Karya Kim Al Ghozali

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Relasi Tubuh Sanggar Seni Kelakar dengan Puisi Sungai Karya Kim Al Ghozali

Relasi Tubuh Sanggar Seni Kelakar dengan Puisi Sungai Karya Kim Al Ghozali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co