14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Senja di Cakrawala, dan Hal Lain di Sekitarnya

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
November 5, 2019
in Esai
Melihat Senja di Cakrawala, dan Hal Lain di Sekitarnya

Pementasan Musikalisasi Puisi Senja di Cakrawala pada Festival Seni Bali Jani 2019

Pada buku “Paduan Wacana & Apresiasi Musikalisasi Puisi”, dijelaskan arti Muspus menurut pengarangnya Hamdy Salad bahwa Musikalisasi Puisi atau Muspus adalah segala bentuk dan jenis karya musik yang digubah, dibuat, dan disusun berdasarkan teks puisi yang ditulis penyair sebagai karya sastra dan telah dipublikasikan sebagai karya puisi secara umum.

Yang sering menjadi permasalahan dalam perkembangan Muspus hari ini di Bali adalah bukan pada ranah pembedaan antara Muspus dan lagu yang menyerupai bentuk Muspus. Sedangkan saya sendiri memang masih bingung bagaimana bentuk Muspus aslinya? Karena Muspus begitu blur dan samar, disini ruang Muspus mempunyai daya cipta yang begitu luas, karena pada kenyataanya tidak ada hal-hal yang harus diikuti secara teori untuk mencipatakan Muspus.

Tapi pada hari ini khususnya di Bali ruang Muspus yang begitu luas itu hampir tak terlihat pada kelompok-kelompok pegiat Muspus. Mungkin memang ada beberapa kelompok yang mempunyai kesadaran lebih akan hal itu, tapi ada juga beberapa kelompok yang terdoktrin oleh ketentuan bentuk Muspus oleh kelompok yang mereka anggap berhasil membawakan Muspus.

  Ada kecendrungan kelompok satu dengan kelompok lainya semacam mengikuti bentuk dan jejak dari kelompok yang dianggapnya berhasil, padahal pada kenyataanya ruang Muspus itu tidak seperti itu karena pada satu sisi tidak ada tradisi atau aturan Muspus yang tertulis dengan sah.

Kecendrungan daya cipta semacam itu mungkin memang menjadi baik pada satu sisi, untuk sekiranya menjadi pemikat agar pegiat Muspus semakin banyak. Tapi pada satu sisi menjadi masalah juga, karena setelah merasa mengikuti dan diikuti tidak ada sikap tegas setelah itu. Dan kasus-kasus semacam ini sering sekali terjadi jika ada perlombaan Muspus, jika melihat lomba Muspus hampir semua peserta meniru apa yang dianggapnya berhasil oleh terdahulunya kemudian diikuti tanpa ada sebab dan akibatnya untuk mencari tahu lebih lanjut.

Apalagi ditambah ruang bergerak Muspus hari ini bisa dikatakan hampir tidak ada, belum bisa saya mengatakan bahwa Muspus menjadi kubutuhan khusus bagi kelompok pegiat Muspus itu sendiri. Mungkin ada beberapa kelompok yang mencoba mengadakan pentas Muspus dengan tiba-tiba tanpa ada angin dan hujan, tapi itu hanya sekali dua kali setelah itu selesai. Jika demikian, bagaimana misalnya jika sekarang saya memposisikan diri sebagai penikmat Muspus. Kelompok tertentu sering kali mengatakan bahwa Muspus itu mempunyai pendengarnya sendiri. Soal itu mungkin saya paham, demikian pula hal lainya juga pasti demikian. Jangankan Muspus, makanan saja pada hari ini bisa mempunyai penikmatnya sendiri.

Hal-hal atau pengambilan sikap seperti itu mungkin bisa menjadi keresahan saya pribadi sebagai penikmat Muspus, selain karena rasa penasaran saya tentang kelompok itu mengeksplor musik. Ada juga rasa keingin tahuan saya tentang pembawaan sebuah karya puisi penyair kemudian direspown dengan bentuk lain salah satunya Muspus, tentu saja ada proses Panjang pastinya untuk mengubah bentuk puisi menjadi sebuah Muspus. Akan lebih menarik rasanya ketika saya menonton sebuah pentas Muspus kemudian mengetahui pula rekaman jejak kelompok tertentu dalam berproses.

Hal demikianpun juga sangat jarang saya perhatikan di kalangan Muspus itu sendiri. Mungkin bagi saya karena kurangnya ruang-ruang yang kolektif untuk kelompok Muspus, tapi jika benar itu adalah titik fokus dari masalahnya. Kemudian dimana letak kesadaran sebagai kelompok pegiat Muspus untuk memperluas jangkauan pendengarnya? Tentu saja jawaban bahwa Muspus itu mempunyai penikmatnya sendiri kurang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Karena saya sendiri menyadari bahwa kemauan penikmat pun selalu menginginkan hal baru, dan contoh kecil yang terjadi misalnya pada diri saya adalah seperti lagu-lagu keseharian yang saya dengarkan.

Saya mengalami perkembangan soal lagu, misalnya ketika jaman SMP saya mendengarkan lagu yang Pop sekarang sudah mulai mendengarkan lagu yang agak sedikit keras seperti Metal atau Rock Alternatif. Itu bagi saya adalah contoh perkembangan yang pasti dirasakan dan dialami oleh tiap orang karena rasa kaingin tahuan dan kesenanganya mendengar musik, kemudian apakah kelompok Muspus tertentu melakukan pembacaan semacam itu? Kalau yang saya takutkan dari diri saya sendiri sebagai penikmat Muspus adalah ketika saya sudah mulai nge-fans oleh satu kelompok Muspus tapi kemudian pembawaan Aransemenya monoton begitu saja. Yang saya takutkan adalah saya mulai bosan dan mulai berpaling ke hal lain. Itu kan bisa dikatakan bahwa kelompok tertentu menjadi alat mematikanya gerakan Muspus secara perlahan, karena tidak melakukan perkembangan. Dengan demikian penikamtnya satu persatu mulai bosan dan lebih memilih musik dangdut misalnya. Karena misalnya seperti dangdut-pun mengalami hal perkembangan tersebut, saya mungkin tidak begitu paham soal sejarah musik.

Tapi jika dipikir-pikir kembali benar saja bahwa dangdut mengalami hal perkembangan, dulu ketika saya SD sepulang sekolah pasti dapat saja mendengarkan lagunya Rhoma Irama, dengan alunan musiknya yang kadang mempengaruhi jalan saya seperti kuda laut. Karena bunyi gendangnya yang seperti memantul. Sedangkan musik dangdut hari ini, sudah banyak sekali variasinya. Semacam diremix menjadi House Musik Funky (DJ). Yang membuat saya ketika mendengarnya-pun tak karuan, tapi penikmat dangdut tetaplah penikmat dangdut. Kesadaran seperti itu mungkin harus lebih dibesarkan mengingat bentuk Aransemen Muspus hari ini hampir seragam bentuknya. Dengan demikian untuk nge-fans dengan satu kelompok Muspus saja saya tidak bisa hari ini, karena hampir serupa bentuk dari segi Musiknya. Yang mana mau saya idolakan?

Kalau saya tafsirkan sendiri, seperti halnya saya menulis ini dengan segala tafsir saya sendiri. Tentu saja mungkin bagi saya bahwa titik permasalahnya adalah kurangnya ruang kegiatan atau eksploratif pada Muspus itu sendiri, dan kurangnya antar pegiat untuk saling bertatap muka kemudian membicarakan bagaimana Muspus hari ini. Karena ruang yang bisa menyediakan hal tersebut adalah lomba saja, yang tentunya dari jauh hari ketika berproses yang disiapkan adalah ego yang begitu tinggi kemudian rasa memiliki Muspus yang dibungkus dengan perasaan senioritas.

Sehingga ketika bertemu pada ruang perlombaan yang terjadi hanya “Sapa Ala Semut”, ketawa-ketawa lalu setelah itu selesai. Mungkin akan berbeda jadinya ketika Muspus memang disiapkan untuk dipersentasikan, atau menggelar parade Muspus dan sharing proses misalnya. Mungkin itu bisa menjadikan hal dan pengetahuan baru bagi kelompok lain. Dan menjadikan Muspus makin berkembang, bukan hanya semangat saat lomba saja. Karena terkadang kelompok yang sering kali kalah dalam perlombaan selalu merasa gagal menjadi Kelompok Muspus lalu berhenti berMuspus. Sudah menjadikan penikmatnya pergi perlahan, lalu kemudian mematikan perlahan pula kelompok yang lainya.

Mungkin kelompok “Senja Di Cakrawala” adalah salah satu dari sebagaian kelompok yang menyadari hal tersebut, ada kesadaran bahwa keresahan mereka terhadap dunia yang mereka geluti. Karena kelompok ini adalah salah satu Pegiat Muspus yang begitu aktif di Denpasar, bahkan sering kali menjuari perlombaan Muspus dari berbagai kelas dari se-Kecamatan sampai Provinsi. Bahkan saya pernah diceritakan oleh salah satu anggotanya bahwa sebelum mengikuti lomba tersebut mereka hanya bersiap dan berlatih hanya 2-3 hari sebelum perlombaan.

Dan hasilnya sangat membanggakan bagi mereka ketika meraih juara 1. Tentu sudah tidak diragukan lagi bagaimana mereka dalam Permuspusan Duniawi khususnya di Denpasar bahkan Bali. Kemudian apakah ini adalah contoh keresahan mereka ketika melihat Mupus hari ini, semoga saja. Ketika dihadapkan dengan ruang yang bisa dikatakan kolektif, kolektif dari segi acaranya kemudian dari segi pengkonsepanya hingga disiapkanya tim penulis yang dibebaskan untuk menuliskan proses untuk kelompok ini. Kebetulan saya adalah tim penulis dari kelompok Senja Di Cakrawala. Semoga saja sikap yang diambil dalam mengahadapi hal apapun selalu disertai dengan pembacaan yang Panjang.

Karena saya turut senang juga ketika melihat kelompok ini begitu sibuknya menyiapkan konsep pentasnya nanti di acara “Apresiasi Sastra” Festival Bali Jani untuk tanggal 8 November. Begitu semangatnya pula saya mendengarkan berbagai cerita yang dilontarkan dari bebrapa anggotanya ketika menceritakan konsepnya dan pembacaanya terhadap Muspus. Walaupun saya tidak begitu paham apa sebenarnya konteks yang dia ceritakan, tapi saya merasa senang dan dapat tertawa bersama saat berdiskusi.

Karena yang saya peribadi perlukan sebagai penikmat Muspus adalah rekam jejak proses dan pola berpikir apa yang hadir untuk menciptakan satu karya tersebut. Dan saya karena lebih memilih mencoba berserius dalam kesenian teater akhirnya mencoba menyambungkan-menyambungkan saja pembicaraan dalam konteks berkarya ala anak muda. Sehingga menimbulkan percakapan yang hangat dan cara berpikir baru dalam berproses. Tugas saya sebagai teman yang baik pasti mendengarkan dan mencoba memberikan pandangan baru dalam berproses, pun demikian dengan mereka. Mereka selalu memberikan kisah dan hal yang baru bagi saya. Serta keterbukaan mereka dan kehangatan kelompok mereka dalam menerima seseorang, “lho malah curhat”.

Jadi mereka mencoba mengkonsepkan dan mengobservasi beberapa puisi yang sudah disiapkan kemudian mencoba melakukan suatu hal baru dalam kelompok mereka sendiri. Menyusun dan mengaitkan dari satu masukan dan diskusi mereka pada anggota mereka, kemudian akhirnya kemarin sempat bercerita kepada saya bahwa mereka akan membuat konsep pentas yang “ala-ala Vintage gitu dah”, atau seperti style anak muda jaman 90-an, itu dari segi kostumnya. Kemudian dari segi panggung mereka mencoba merubah suasana panggung tersebut menjadi ruang tamu. Saya tidak tahu jelas bagaimana detail ruang tamu yang mereka susun karena mereka sendiri juga masih ingin mengembangkan idenya yang sudah disepakati bersama. Karena nanti mereka akan pentas di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Centre.

Nantinya mereka akan Memusikalisasikan Puisi dari Wayan Esa Bhaskara berjudul “Hujan” dan “Sekolah Hari Pertama” karya Frischa Aswarini. Dari pembicaraan mereka menyatakan bahwa, pemilihan puisi itu sendiri dengan pertimbangan memilih dua jenis puisi yang dirasa berbeda untuk dibawakan agar tidak melulu mendayu-dayu. Menurut mereka juga bahwa tantangan terbesar dari memusikalisasikan puisi adalah memaknai puisi itu sendiri karena multitafsirnya. Kedua puisi yang sama-sama berbicara tentang waktu, hanya saja pada puisi “Hujan” lebih pada sebuah penantian sampai habis waktu, begitu ujar mereka.

Sedangkan untuk puisi “Sekolah Hari Pertama” lebih pada perjalanan keseharian yang menuai harapan. Sebagian besar konsep musikalisasi ini dengan dasar percobaan, misalnya jika genre musik dibuat berbeda dari biasanya. Karena pada biasanya mereka memusikalisaikan puisi dengan genre Balad, kemudian akan menjadi seperti apa dan seberapa jauh berhasilnya Senja Di Cakrawala ini menyajikanya. Nantinya puisi “Hujan” dengan genre Pop Blues Alternatif dan puisi “Sekolah Hari Pertama” bergenre Folk Alternatif. Mereka berharap juga dengan percobaan ini semoga Muspus menjadi lebih bervariatif.                

Untuk penutup tulisan ini jangan lupa datang dan ramaikan nanti acara “Apresiasi Sastra” dalam rangkaian Festival Bali Jani, tanggal 8 November 2019. Di Taman Budaya Art Centre, Denpasar, Bali. Mencoba sama-sama menyaksikan dan melakukan pembacaan ulang tentang sudah sejauh mana “Bali Jani”? Sebagai penutup pula saya pribadi ingin mengutip beberapa kata dari teman-teman Senja Di Cakrawala bahwa “Apapun itu, semua hal alangkah baiknya dikerjakan dengan sederhana termasuk bermusik”, ujar Yoga salah satu anggota Senja Di Cakrawala.

Dengan demikian saya berpikir pula sesederhana apa kira-kira nantinya pementasan Muspus mereka? Saya pun tak dapat membayangankan kalau tidak menyaksikanya langsung. Atau jangan-jangan kutipan tersebut mempunyai makna lain seperti misalnya apa memang harus sesedrahana itu melihat realitas dan perkembangan Muspus hari ini? Sebab “Ibarat jantung, musik adalah kehidupan. Memiliki detak dan ritme”, ujar Hanny salah satu anggota Senja Di Cakrawala. Betapa tegangnya ketika melihat konteks kutipan yang seakan berada pada maksud berbeda, yang satu sederhana yang satunya lagi menganggap bahwa musik adalah detak jantungnya. Ada ketegangan yang belum usai hanya dalam proses ini untuk Muspus. Mari sama-sama menjadi pengapresiasi [T]

Tags: Festival Seni Bali Janimusikmusikalisasi puisiPuisiSenja di Cakrawala
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Cube #2 – 25 Karya Seni Visual yang Sangat Beragam

Next Post

Relasi Tubuh Sanggar Seni Kelakar dengan Puisi Sungai Karya Kim Al Ghozali

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Relasi Tubuh Sanggar Seni Kelakar dengan Puisi Sungai Karya Kim Al Ghozali

Relasi Tubuh Sanggar Seni Kelakar dengan Puisi Sungai Karya Kim Al Ghozali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co