26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

4 Tahun Jokowi, 4 Tahun Saya

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
October 25, 2018
in Esai
4 Tahun Jokowi, 4 Tahun Saya

Saya (penulis) dan Andrinof Chaniago

MUNGKIN saya ke-geer-an, tapi fakta memang, saya merasa ‘dimata-matai’ oleh Presiden Jokowi. Prosesnya  dimulai ketika September 2014 lalu saya menerbitkan kumpulan puisi yang kedua, Mencari Kubur Baridin. Pada saat yang sama, Jokowi juga mempersiapkan kabinet kerja pertamanya selaku Presiden RI.

Entah mengapa pula saat launching kumpulan puisi itu di Denpasar, moderator (Wayan Sunarta, S.Sos) menanyakan kepada saya mengapa judul buku saya bukan “Mencari kursi di kabinet Jokowi”, misalnya? Waktu itu setelan pakaian saya kebetulan pula bernuansa Jokowi. Kemeja putih bersih, celana hitam, pas dengan badan postur yang langsing.

Jadi mungkin moderator waktu itu punya alasan untuk bertanya seperti di atas. Dan waktu itu tentu saja, saya hanya tersenyum saja.

Tak lama kemudian, viral di media sosial foto Jokowi sedang mengenakan sarung dan kaos singlet di istana. Iseng, saya mengupload pula foto saya di FB sedang mengenakan sarung tapi berkemeja dan berfose di kontrakan, istana saya. Segera saja, foto itu mendapat respon dari teman-teman. Langsung banyak komentar. Saya menduga, foto saya itu juga viral walaupun hanya di kalangan teman-teman saya sendiri yang tak seberapa jumlahnya.

Setelah itu, saya menyangka, tak akan ada lagi moment unik yang bakal membantu saya terhubung secara aneh dan imajinatif dengan Jokowi. Ternyata saya salah. Di Kalimalang, di pintu gang utama menuju kontrakan saya, sedang dibangun pintu tol Becak-Ayu. Singkatan dari tol Bekasi–Cawang–Kampung Melayu. Proses pembangunan tol itu sangat menganggu saya secara pribadi, karena membuat jalan becek ketika hujan, dan membuat saya harus memutar lebih jauh untuk menyeberang ke jalan Kalimalang.

Saking jengkelnya saya pada pembangunan tol itu, saya sampai menulis puisi bergaya protes,: Tol, jangan brengsek//engkau bukan pintuku/bukan tempat laluku//…pergilah engkau bersama suara berisik kendaraan roda empat dan alat-alat berat itu//pergilah bersama kaum kelas menengah//angka-angka projek….

Begitulah. Tapi puisi itu tak pernah saya lanjutkan. Tiba-tiba saya merasa iba pada kelas menengah dan orang-orang kaya yang mobilnya kesusahan lewat di jalan Kalimalang yang sempit itu. Juga kepada pengguna trasportasi umum yang setiap hari terpaksa bermacet-macet di jalan Kalimalang untuk berangkat dan pulang kerja. Mungkin tol akan membantu mereka lebih cepat, pikir saya waktu itu.

Dan memang demikianlah adanya. Walaupun puisi saya tak berlanjut, tol itu berlanjut dengan cepat. Mungkin tidak sampai dua tahun sudah diresmikan oleh Presiden Jokowi. Celakanya, seremoni peresmiannya dilakukan di pintu gang ke kontrakan saya yang kini menjadi pintu tol itu. Lagi-lagi, saya merasa dimata-matai Jokowi. Bayangkan, kami hanya berjarak kira-kira tiga puluh meter saja. Saya menonton di kontrakan yang sempit, Jokowi membuka seremoni tol tak jauh dari saya.

Sekarang, jalan sepanjang Kalimalang sudah jauh lebih lebar. Di atas aliran sungai, berdiri megah salah satu bukti kerja Jokowi yang tentu saja besar manfaatnya bagi mobilitas masyarakat. Bangun-bangunan bedeng dan permanen yang dulu menyesaki pinggir sungai, kini sudah berganti jalan umum. Kalau dari estetika, memang jauh lebih rapi dan tertib kelihatan.

Jalan raya, memang salah satu capaian Jokowi paling menonjol dalam kerjanya sebagai presiden. Selama 4 tahun, ia telah membangun ribuan kilimeter jalan. Menurut keterangan terakhir mentri PUPR, sampai 2018 pemerintah telah membangun 3.432 km jalan nasional, 941 km jalan tol, dan 39,8 km jembatan untuk mendukung konektivitas. Sebagai proyek itu itu dibangun di luar Jawa. Artinya, melalui infrastruktur, Jokowi melakukan pemerataan pembangunan dengan kuantitas yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Papua, menjadi pulau yang mendapat fokus luar biasa dari Jokowi untuk infrastruktur ini. Sepanjang 1.066 kilimoter jalan Trans Papua sudah tersambung dan beraspal. Sejak republik berdiri, orang Papua mungkin tak akan pernah membayangkan bisa memiliki jalan sepanjang itu. Sikap ngotot Jokowi untuk menembus Papua dengan jalan, bagaimana pun harus diapresiasi sebagai bukti program pemerataan dan pemanusiaan di sisi lain. Tanah Papua yang isi buminya banyak dikeruk untuk kepentingan nasional itu, selama ini memang jauh dari pembangunan. Tak heran, jika warga di sana menamai jalan-jalan yang kini ada itu dengan ungkapan: Jalan Jokowi.

Infrastruktur jalan juga yang membawa saya pada peristiwa unik yang lain, yang membuat saya makin merasa memang punya hubungan khas dengan Presiden Jokowi. Kisahnya akhir tahun lalu, saya dan kawan saya David Krisna Alka, bertemu mantan Menteri Bappenas, Andrinof Chaniago di tempat nongkrong saya di Kalibata City.

Saya dan Andrinof mendiskusikan kemungkinan untuk meneruskan gagasan balai seni STA yang terbengkalai di Toya Bungkah, Kintamani, Bali. Cita-cita kebudayaan STA, menurut pandangan saya perlu dirintis ulang di Sumatra Barat karena wialayah itu memiliki syarat-syarat materil dan immateril yang memadai untuk mewujudkan cita-cita STA itu. Bahkan kali ini, gagasan kebudayaan itu lebih diperluas sesuai dengan konteks dan visi zaman post-milenial.

Andrinof sepikiran, dan kami merencanakan terlebih dahulu sebuah event kebudayaan yang bakal mempertemukan seniman, sastrawan, pemikir kesenian, kalangan industri budaya dan pariwisata. Tujuan kegiatan ini untuk tahun pertama, mendorong kalangan pemodal meningkatkan aksi – dari sekedar partisipasi ke investasi dalam kebudayaan.

Saya pun pulanglah ke Padang untuk mempersiapkan kemungkinan itu. Tempat yang saya tuju kebetulan kampung saya, Mandeh, yang saat ini menjadi destinasi pariwisata andalan Provinsi Sumatra Barat. Tempat yang sangat indah dan perawan, dengan topografi perbukitan dan aliran sungai yang langsung bertemu dengan pantai. Di depannya pulau-pulau berpasir putih memagari segara-segara bening berombak tenang. melindungi kawasan itu dari keganasan Samudera Hindia. 80 % hutan perbukitan di Mandeh adalah hutan lindung yang hijau, dan di sisinya kini telah dibangun jalan aspal beton yang lebar dan mulus sepanjang 56 km.

Jalan ke Mandeh, Sumatra Barat, yang dibuat Jokowi

Jalan itu tak lama lagi akan selesai seluruhnya dan akan tembus ke kota Padang hingga memudahkan wisatawan mengunjungi Mandeh dari bandara. Tapi yang lebih terpenting adalah penduduk di kawasan Mandeh itu sendiri yang terdiri dari beberapa desa. Sekarang mereka sudah memiliki akses darat untuk ke luar. Harga dji sam soe juga menjadi lebih murah. Tak heran, kalau masyarakat di sana menjadi mengenal Jokowi lebih dari warga Sumatra Barat di daerah lain yang tak terlalu cocok dengan Jokowi karena alasan yang tak saya tahu.

Di kawasan Mandeh itu ada satu kampung bernama Sungai Nyalo, dihuni kira-kira 200 kk saja. Waktu saya tiba, wali nagarinya membawa saya ke pelanta kayu di depan sebuah kedai di tepi laut dekat gelanggang nagari. Kami pun mengobrol di situ dan tahulah saya, pelanta yang sama, juga menjadi tempat duduk Jokowi saat datang ke Sungai Nyalo untuk meresmikan kawasan Mandeh sebagai destinasi wisata . Sebuah pelanta kayu yang diteduhkan dengan atap daun kelapa, diteguhkan dengan sebuah sandaran dari kayu Laban sebesar lengan orang dewasa.

Di situlah, saya pun bercakap-cakap dengan warga sampai sore, seperti halnya Jokowi bercakap-cakap mendengarkan keluhan masyarakat. Bedanya saya merokok, dan tidak pakai pengawal, kecuali kepala dinasa pariwisata kabupaten Pesisir Selatan yang waktu itu menemani saya. Dan sejujurnya, diam-diam saya memang membayangkan andai diri saya seorang presiden kala itu.

Kegiatan budaya yang direncanakan akhir tahun 2018 itu, belum terwujud. Uda An (Andrinof Chaniago) yang sedianya mencarikan duit untuk acara itu, ternyata tak kunjung kongkrit. Kesibukannya selaku komisasris utama BRI tampaknya terlalu menyita waktu, hingga kami pun sudah agak sulit bertemu belakangan. Terakhir saat kami ngopi lagi di tempat nongkrong saya di Kalibata City, kami masih saja dalam tahap pembahasan.

Mungkin itulah beda yang nyata antara Jokowi dengan saya. Jokowi mewujudkan rencana-rencananya dalam empat tahun ini, sementara saya tetap dalam rencana-rencana. Beda lainnya, Jokowi orang yang ngotot, sementara saya orang yang rileks dalam banyak hal. Padahal dalam kehidupan ini memang kita perlu ngotot untuk beberapa hal. Seperti misalnya sikap ngotot Jokowi agar jalan Trans Papua dibangun. Tanpa sikap ngotot, hal itu tentu tak akan tercapai. Sebab menurut laporan khusus Harian Kompas, upaya membangun infrastruktur jalan di Papua sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1970 di awal orde baru. Tapi karena tak ada pemimpin yang ngotot, jalan itu tak jadi-jadi. Jokowi lain, ia ngotot, jalan pun jadi menembus pedalaman dan perbatasan.

Cukup lama saya di kampung akhir tahun 2017 itu. Di luar dugaan, saya mendadak jadi ‘jubir’ tak resmi Jokowi tanpa pelantikan, tanpa pengangkatan. Orang kampung saya, yang memang tidak memilih Jokowi di pemilu 2014, rupanya melampiaskan semua kesusahan ekonomi mereka pada Jokowi. Terutama petani karet. Harga getah karet murah, menurut mereka itu sejak Jokowi menjadi presiden. Yang lebih mengejutkan ketika kebanyakan orang kampung saya menyangka Jokowi akan mengubah Indonesia jadi negara komunis, Jokowi membenci ulama, dan isu-isu sejenis yang kita tahu merupakan hoax berunsur fitnah yang telah muncul menyerang Jokowi sejak ia maju menjadi capres di pemilu 2014 lalu.

Saya tentu merasa tak nyaman karena kebanyakan orang kampung saya melakukan penilaian terhadap pemimpinnya berdasar hoax. Bukannya alim, hal itu malah akan membuat Sumatra Barat bertambah tampak bodoh. Jadi pelan-pelan saya menjelaskan duduk perkara beberapa topik saat ngobrol di lapau-lapau maupun saat bersama orang kampung di ladang. Saya terangkan, tidak betul Indonesia akan jadi komunis, saya paparkan Jokowi itu orang soleh karena sudah 20 tahun tidak pernah berhenti melakukan puasa Daud atau pun puasa senin-kamis. Mana mungkin orang seperti itu membenci ulama?

Mungkin karena seringnya saya berdiskusi semacam itu dengan orang kampung saya, ada teman berseloroh saya ini orang istana. Lumayan, saya naik status, dari penyair ke orang istana. Percakapan-percakapan di lapau itu mungkin memang membawa hasil.  Selama tiga bulan di kampung, saya melihat banyak perkembangan di level wacana terkait Jokowi. Di lapau-lapau, banyak orang yang mulai positif melihat Jokowi.  Karena itu sembari bercanda, ketika baru-baru lalu sejumlah kepala daerah di Sumbar menyatakan diri mendukung Jokowi dua periode, saya katakan pada teman-teman saya, itu terjadi karena saya pulang kampung. Hehehe..

Beberapa penjelasan saya mengenai Jokowi itu  juga terbukti benarnya dan dilihat sendiri oleh orang Sumbar. Contohnya, waktu Jokowi bertandang ke sate Mak Syukur di Sumatra Barat saat melakukan kunjungan kerja di Padang. Waktu itu Jokowi sedang melakukan puasa sunah Senin – Kamis. Jadi tak makan saat sampai di warung sate Mak Syukur yang terkenal itu. Pejabat dan ulama Sumbar yang sempat mengira Jokowi bukan orang muslim, pasti akan tercengang-cengang. Dan karena media setempat mengabarkan pula kejadian itu, orang kampung saya tahu. Akibatnya, mulai percaya kepada saya. Jadi layaklah, kalau saya mengklaim, Jokowi perlu berterimakasih kepada saya.

Tetapi bukan hanya di Jakarta dan Sumbar saja, hubungan goib antara saya dan Jokowi terjadi. Februari 2018 lalu, Presiden Jokowi berkunjung ke desa Marga Tabanan. Di media, saya lihat fotonya sedang berkumpul bersama petani di sebuah sawah di Desa Kukuh. Setelah saya amat-amati, pematang sawah tempat Jokowi berkumpul itu, adalah pematang yang sama yang dulu saya titi saat masih menjadi warga desa di Marga. Saya jadi tersenyum-senyum sendiri melihat foto itu: memang Jokowi tampaknya sengaja mengikuti titik-titik perjalanan saya…. (T)

Jakarta, Oktober 2018

Tags: JokowiPapuaSumatra
Share60TweetSendShareSend
Previous Post

Horeee, Warga Sedahan-Mengwi Punya Balai Banjar Baru

Next Post

Kampung Papua, Antara Eksploitasi dan Konservasi (1)

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails
Next Post
Kampung Papua, Antara Eksploitasi dan Konservasi (1)

Kampung Papua, Antara Eksploitasi dan Konservasi (1)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co