Pagi September 1965 di Suatu Desa
Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejuk
Anak-anak mengajak bermain ke sawah
Berburu belalang untuk santap siang
Meronce tikus sawah dimasak sore
Mereka bersorak gembira mengikuti kata orang dewasa
Setiba di pasar desa perempuan bertudung menari kian kemari mengikuti irama Genjer-Genjer
Anak-anak tak mengerti lagu apa yang mengiringi langkah perempuan desa
Kereta api kluthuk melintas di stasiun
Di badan gerbongnya tertulis Manipol USDEK
Anak-anak tak mengerti makna tulisan itu
Pagi yang lain pintu rumah kakek rapat terkunci di desa yang mencekam
Anak-anak tak berani bermain ke sawah
Mendengar kabar yang bikin dada berdebar
Lelaki dan perempuan dewasa diarak ke tanah lapang desa
Semua dibungkam tak berdaya hingga hilang sukma
Anak-anak tak mengerti apa yang terjadi
Hingga kini
Pagi Menjelang Siang Mei 1998 di Kota
Suara gemuruh derap kaki menyusuri jalanan kota sepanjang pagi menjelang siang
Tangan mengepal mulut berpekik lantang
Anak-anak menonton di tepian
Lelaki perempuan tua muda menuntut perubahan
Puluhan tahun didera ketidakpastian
Sedang kursi menjadi tempat nyaman bagi kekuasaan
Gelimang nyawa tumbal keserakahan
Kaum muda berteriak lantang: Reformasi atau Mati
Anak-anak menjadi saksi di kemudian hari
Pagi yang lain sekira pukul sembilan
Lelaki tua pasrah pada keadaan
Tersungkur lemas pada tuntutan zaman
Suara gelegar kian memadati kota
Sorak sorai mewarnai negeri
Anak-anak belajar untuk mengerti
Bahwa singgasana tak pernah abadi
Pagi Hingga Siang 2026 di Desa dan Kota
Suara berisik terdengar di televisi semua rumah
Sang penentu melangkah gagah
Menawarkan santap di kala begah
Anak-anak berlarian menyambut sumringah
Sekali lahap terkapar lemah
Makan pagi hingga siang yang bau tanah
Sang komando berdiri pongah
Menggebrak meja menatap murka
Suara sumbang kian menantang
Negeri mana yang mampu menawarkan girang
Lelaki bingung menebar sesumbar:
Tidak boleh ada anak-anak yang kelaparan ketika berangkat sekolah
Anak-anak di desa dan kota terdiam menafsir jengah
Sabda pandita tak boleh salah
Purwokerto, 2026




























