24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam Keakraban Berbuntut Teror

Chusmeru by Chusmeru
July 23, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada di dalam kelas, Asifa Furoda juga banyak meluangkan waktunya di luar kelas untuk membimbing berbagai kegiatan mahasiswa jurusan.

Setiap mahasiswa juga mengenal Asifa Furoda yang manis, ramah, dan sangat mudah akrab. Meski ia tidak mengenal semua mahasiswa di jurusan. Hanya pengurus HMJ dan mahasiswa yang aktif berkegiatan saja yang dikenalnya. Bahkan Asifa Furoda memiliki banyak nomor ponsel mahasiswa.

Tentu saja tidak mudah menjadi dosen pembimbing mahasiswa. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Apalagi Asifa Furoda memiliki target yang tinggi bagi mahasiswa yang dibimbingnya. Ia berharap setiap pengurus himpunan berhasil mengukir prestasi di berbagai bidang, baik ilmiah, olah raga, sosial, maupun budaya.

Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan HMJ adalah malam keakraban untuk menyambut mahasiswa baru. Meskipun kegiatan itu agenda rutin mahasiswa jurusan, namun tetap saja memerlukan pendapat dan persetujuan Asifa Furoda sebagai dosen pembimbing. Teknis pelaksanaan, tempat kegiatan, dan rangkaian acara sepenuhnya ditangani mahasiswa.

Ketua HMJ Ilmu Komunikasi periode tahun ini dipegang oleh Riski Perdana. Ia yang bertanggung jawab atas semua kegiatan jurusan, termasuk malam keakraban nanti. Berkaca pada kegiatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya, malam keakraban selalu berjalan lancar dan sukses. Maka tahun ini pun Riski Perdana berharap malam keakraban akan sukses.

Hasil diskusi dengan semua pengurus HMJ dan Asifa Furoda selaku dosen pembimbing, diputuskan tempat kegiatan dilakukan di sebuah kompleks vila di bebukitan lereng Gunung Slamet. Tempatnya nyaman dan bersih. Udara di sekitar vila sangat sejuk. Pertimbangan yang paling utama tentunya harga sewa vila yang murah dan aksesnya mudah dijangkau.

Mendengar nama vila yang dipilih mahasiswa, Asifa Furoda sebenarnya agak ragu. Ia pernah mendengar cerita, vila yang akan dijadikan tempat malam keakraban mahasiswa baru itu dikenal angker. Konon vila itu dibangun di atas tanah yang pada zaman dahulu merupakan gudang perkebunan teh milik Belanda.

Menurut cerita, dulu beberapa buruh pabrik meninggal dunia secara tak wajar di tempat itu. Ada pula cerita seorang mandor pabrik berkebangsaan Belanda tewas mengenaskan setelah terjatuh di gudang pabrik. Karenanya banyak berkembang cerita jika di vila itu sering muncul penampakan makhluk halus.

***

Mahasiswa baru jurusan yang diterima tahun ini sejumlah 160 orang. Jika ditambah dengan panitia dari HMJ, maka peserta malam keakraban hampir 200 orang. Mereka terbagi dalam beberapa  vila yang ada di bukit lereng Gunung Slamet untuk menginap selama dua malam.

Acara demi acara dimulai di ruang pertemuan kompleks vila. Masing-masing mahasiswa diminta untuk menampilkan bakat dan keterampilan mereka. Neneng Rohani mahasiswa asal Cianjur menampilkan tarian jaipong. Gerakannya yang lincah mengundang tepuk tangan mahasiswa yang hadir.

Namun tiba-tiba ada yang aneh pada diri Neneng Rohani. Ia menari jaipong sambil matanya menatap tajam ke atas, kemudian sorot matanya tertuju pada mahasiswa. Asifa Furoda yang mendampingi acara ikut terkejut. Neneng Rohani mendadak berhenti menari dan tertawa keras, melengking, dan menyeramkan.

Suasana ruang pertemuan berubah menjadi tegang. Neneng Rohani kesurupan. Entah makhluk apa yang merasuk ke dalam tubuhnya. Anehnya, Neneng Rohani berbicara dengan logat Banyumasan. Padahal ia berasal dari Cianjur yang setiap hari berbicara dengan logat Sunda. Asifa Furoda mencoba berkomunikasi dengan makhluk yang merasuki Neneng Rohani. Ia dulu pernah belajar tentang hal gaib dari Pak Kusmedi, dosennya waktu ia masih kuliah.

“Mohon maaf, ini siapa?” tanya Asifa Furoda.

“ Ora usah gujih… kae wong kon padha meneng, aja reang bae nang omahku..!!!” jawab Neneng Rohani dalam bahasa Banyumasan dengan nada membentak. Suaranya seperti seorang nenek tua. Artinya, “Jangan cerewet. Itu orang-orang suruh diam, jangan berisik di rumahku”. 

“Nggih, Mbah,” kata Asifa Furoda sambil memberi isyarat agar semua mahasiswa diam sejenak. Musik jaipong yang disetel dari flashdisk dihentikan.

Neneng Rohani melihat ke seluruh ruangan, lalu memandang ke atas. Wajahnya tampak marah dan menyeramkan. Asifa Furoda membaca doa-doa, telapak tangannya diusapkan di wajah Neneng Rohani. Sesaat kemudian kaki Neneng Rohani menghentak tanah, sambil tertawa mengerikan. Tak lama setelah itu ia terkulai lemas. Neneng Rohani tersadar kembali.

Acara malam keakraban dilanjutkan, tetapi tidak diiringi dengan tetabuhan musik. Sebenarnya suasana masih terasa mencekam, tetapi Asifa Furoda mengizinkan panitia untuk melanjutkan kegiatan. Bayu, mahasiswa baru asal Yogya tampil membawakan komedi tunggal. Dengan logat Yogya yang kental, Bayu mampu mengundang tawa teman-temannya. Guyonan Bayu mencairkan suasana. Ketegangan perlahan berubah menjadi riang kembali.

Giliran berikutnya, Afif Yulianto tampil membawakan puisi panjang Nyanyian Angsa karya WS Rendra. Gaya membaca Afif Yulianto yang penuh penghayatan membuat mahasiswa terdiam mendengarkan, termasuk Asifa Furoda.

“Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantin adalah saya,” ucap Afif Yulianto menutup puisi WS Rendra.

Tepuk tangan mahasiswa menggema di ruangan saat Afif Yulianto selesai membaca puisi. Namun ia tidak segera kembali ke tempat duduknya. Afif Yulianto masih berdiri mematung. Mulutnya komat-kamit mengucapkan sesuatu dengan bahasa Belanda. Matanya tampak melotot ke arah mahasiswa. Semua terkejut. Afif Yulianto kesurupan hantu Belanda.

Asifa Furoda kebingungan sekaligus ketakutan. Ia tidak tahu bahasa Belanda. Beruntung ada Ruben, salah satu mahasiswa baru yang mengerti bahasa Belanda. Dibantu Asifa Furoda, Ruben berkomunikasi dengan Afif Yulianto.

“Niet zo’n lawaai maken.. !!!” bentak Afif Yulianto kepada Ruben dan Asifa Furoda.

Sementara mahasiswa yang lain tampak ketakutan. Ada pula yang merinding. Apalagi hari sudah menjelang tengah malam. Setelah diteror ketakutan oleh makhluk halus berbahasa Banyumasan, kini mereka berhadapan dengan hantu Belanda.

“Apa katanya?” tanya Asifa Furoda kepada Ruben.

“Jangan bikin keributan, jangan berisik, katanya Bu,” jawab Ruben menerjemahkan ucapan Afif Yulianto.

“Ya sudah, sampaikan kita akan mengakhiri acara malam ini,” kata Asifa Furoda kepada Ruben untuk disampaikan kepada makhluk halus yang merasuki Afif Yulianto.

Ruben pun atas nama seluruh mahasiswa menyampaikan permohonan maaf kepada makhluk halus itu dengan bahasa Belanda, dan meminta untuk kembali ke alamnya. Tampak Afif Yulianto mengangguk sambil tetap menunjukkan wajah yang marah. Tak berapa lama seperti ada sesuatu yang keluar dari tubuh Afif Yulianto. Ia menjerit dan terkulai lemas. Afif Yulianto tersadar kembali.

***

Teror makhluk halus di acara malam keakraban mahasiswa baru membuat acara tidak dapat berjalan sesuai jadwal. Kegiatan terpaksa harus dihentikan. Sepertinya makhluk halus di seputar kompleks vila tidak berkenan ada kegiatan yang menimbulkan kegaduhan. Padahal acara masih akan berlangsung dua hari lagi.

Asifa Furoda meminta seluruh mahasiswa untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. Besok pagi masih ada kegiatan olah raga. Satu per satu mahasiswa masuk ke kamar. Satu vila terdiri dari beberapa kamar, dan satu kamar ada yang ditempati 4 orang, ada pula yang 5 orang. Jarak antara satu vila dengan vila lainnya juga tidak jauh.

Suasana mencekam masih dirasakan mahasiswa setelah terjadi kesurupan pada diri Neneng Rohani dan Afif Yulianto. Kebanyakan mahasiswa masih merinding ketika memasuki kamar mereka. Apalagi suasana di seputar kompleks vila sangat sepi dan rimbun oleh tumbuhan hutan.

Benar saja. Ternyata teror malam keakraban belum berakhir. Waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam kurang lima menit. Saat Dinda Amalia bersama tiga temannya hendak berangkat tidur, tercium aroma bunga kamboja yang menyengat hidung. Mereka saling pandang, merinding dan ketakutan. Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Kembali mereka saling pandang. Tak ada yang berani membuka pintu. Wajah mereka tampak pucat.

“Siapa..???” tanya Dinda Amalia memberanikan diri.

Tidak terdengar suara sautan. Aroma bunga kamboja semakin tajam tercium. Dinda Amalia berdebar ketakutan. Sekujur tubuhnya gemetaran. Tiba-tiba terdengar kembali suara ketukan di pintu kamar. Entah mengapa Dinda Amalia melangkahkan kakinya menuju pintu. Dengan tangan gemetar ia buka pintu kamar. Dan, jantung Dinda Amalia nyaris copot ketika dilihatnya kepala manusia yang menyeramkan melayang-layang. Hanya kepala, tanpa anggota tubuh lainnya.

“Hantuuu…!!!!” teriak Dinda Amalia sambil menutup pintu kamar dengan keras. Ketiga temannya terkejut. Mereka saling peluk ketakutan. Dinda Amalia menangis karena ngeri melihat hantu kepala melayang di depan kamar vila.

Teror mengerikan juga dialami Setyo Pramono, mahasiswa baru asal Magelang yang tidur bersama tiga rekannya di kamar vila. Ketika Setyo Pramono hendak membaringkan tubuhnya di kasur, terdengar derap langkah di depan kamar. Suara sepatu yang keras mengikuti langkah itu. Setyo Pramono heran, mengapa ada orang melintas tengah malam.

Awalnya Setyo Pramono menduga pegawai vila yang lewat. Namun itu suara sepatu pantofel, sepatu formal yang berbahan sol kulit yang biasa dipakai pegawai kantoran. Lagi pula ada urusan apa orang itu di tengah malam, ketika mahasiswa sudah mulai tidur. Belum usai keheranan Setyo Pramono, tercium aroma bunga sedap malam. Ia merinding. Sementara teman-temannya sudah tertidur pulas.

Bukannya menghilang suara langkah kaki bersepatu itu, semakin lama justru semakin bertambah keras. Langkah itu seolah bolak-balik di depan kamar. Setyo Pramono mulai dicekam ketakutan. Ingin membuka pintu ia tak berani. Hendak membangunkan teman-temannya tidak enak hati. Kasihan mereka, terlalu capai.

Setyo Pramono bingung di tengah ketakutannya. Suara sepatu di luar kamar itu sangat mengganggunya. Sedangkan harum bunga sedap malam membuatnya bergidik. Tengah malam tercium aroma wangi bunga dan suara langkah kaki orang dengan sepatu pantofel membuat Setyo Pramono merasa diteror makhluk halus di vila.

Ditariknya napas dalam-dalam, kemudian dihembuskan pelan-pelan. Setyo Pramono berusaha menahan ketakutan. Ia memberanikan diri membuka pintu untuk melihat siapa orang yang mondar-mandir lewat di depan kamar. Betapa terkejut dia. Seorang berperawakan tinggi besar berjalan menuju ke kamar.

Nyaris tak percaya. Setyo Pramono melihat seorang bule berparas Belanda mengenakan jas warna coklat dan sepatu pantofel. Kumisnya tebal. Bule itu melewati kamar dengan sorot mata tajam.  Setyo Pramono hanya berdiri kaku. Wajahnya ketakutan. Setelah melewati kamar, mendadak bule Belanda itu menghilang. Aroma bunga sedap malam kembali tercium. Setyo Pramono gemetaran. Cepat-cepat ia tutup pintu kamar.

“Hantuuu…!!!” teriak Setyo Pramono membuat ketiga temannya terbangun.

Di kamar vila yang lain, Asifa Furoda yang tidur sendirian dibuat ketakutan oleh suara tangisan anak kecil di luar kamar. Harum bau bunga melati juga menembus kamarnya. Asifa Furoda mencoba menenangkan diri. Barangkali anak pengelola vila yang menangis. Namun ia berpikir, bukankah sudah tengah malam?

Menjawab rasa penasarannya, Asifa Furoda membuka pintu kamar. Dilihatnya ke sekeliling. Tidak ia temukan seorang anak kecil. Aroma bunga melati kian menyengat hidung. Bergegas ia tutup kembali pintu kamar. Tak lama, terdengar lagi suara tangisan anak kecil. Asifa Furoda dicekam ketakutan. Ia coba telepon ketua panitia malam keakraban, tetapi ponselnya tidak aktif. Asifa Furoda hanya bisa berdoa sambil berharap suara tangisan anak kecil itu segera berhenti.

***

Saat sarapan pagi bersama di aula pertemuan,  Dinda Amalia dan Setyo Pramono berbagai cerita menyeramkan. Mendengar perbincangan mereka, Asifa Furoda bergabung sambil menceritakan suara tangisan anak kecil di depan kamarnya. Suasana sarapan pagi berubah menjadi tegang. Malam keakraban mahasiswa berbuntut teror hantu vila.

Ternyata bukan hanya mereka bertiga yang diteror makhluk halus. Beberapa mahasiswa baru juga mengalami kejadian yang serupa. Ada yang diketuk-ketuk pintu kamarnya oleh makhluk halus. Ada yang lampu kamarnya byar pet, mati dan menyala terus-menerus. Ada pula yang diteror suara orang sedang mandi, tetapi ketika ditengok tidak ada siapa pun di kamar mandi.

Asifa Furoda menangkap gelagat tidak beres. Malam keakraban yang dilakukan di vila berbuntut teror makhluk halus. Padahal masih tersisa dua malam mereka menginap di vila itu.  Ia segera menemui pengelola vila dan menceritakan apa yang dialami mahasiswa semalam. Pegelola vila merasa prihatin dengan apa yang dialami Asifa Furoda dan mahasiswa. Ia kemudian mendatangkan Mbah Kiman, kesepuhan atau orang yang dituakan di desa.

Mbah Kiman datang dengan membawa beberapa sesaji dan kemenyan. Ia duduk bersila di sudut kanan halaman vila. Asap kemenyan mengepul melambung ke udara. Suasana magis terasa ketika di tengah keheningan Mbah Kiman mengucapkan sesuatu dalam bahasa Banyumasan, kemudian sesekali ia berkata dengan bahasa Belanda.

Aroma kemenyan dirasakan hingga aula pertemuan vila tempat mahasiswa melakukan kegiatan. Angin dingin semilir dirasakan semua mahasiswa. Asifa Furoda ikut membaca doa. Beberapa mahasiswa tampak menahan rasa takut. Selesai melakukan ritual, Mbah Kiman melangkah menuju aula.

“Makhluk halus itu terganggu dengan acara kalian. Mereka bertempat tinggal di seputaran vila ini. Semestinya di awal kegiatan kulonuwun dulu, permisi minta izin kepada mereka,” kata Mbah Kiman kepada Asifa Furoda dan mahasiswa.

“Terus selanjutnya bagaimana, Mbah. Apakah mereka akan mengganggu kita lagi?” tanya Asifa Furoda.

“Semoga tidak lagi. Saya sudah minta agar mereka maklum,” jawab Mbah Kiman.

Asifa Furoda merasa lega. Mahasiswa tampak tenang kembali. Malam keakraban dilanjutkan kembali. Tidak ada lagi teror misterius yang terjadi. Asifa Furoda mencoba menjelaskan kepada mahasiswa, bahwa kehidupan ini terdiri dari alam nyata dan alam gaib. Selayaknya masing-masing saling memahami, sepanjang tidak saling menganggu.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: cerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

Next Post

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails
Next Post
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co