3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Jalan Kusam yang Mesti Dicat Warna

Son Lomri by Son Lomri
August 19, 2023
in Puisi
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Jalan Kusam yang Mesti Dicat Warna

Sonhaji

PANGGUNG KEGELAPAN

Kursi kursi itu ditata sejak pagi. Kemarin.
Sebagaimana seonggok gong akan dipukul berbunyi bangga:
Di tengah kota. Telah panggung berdiri dan megah, agung.

Hari ini dan sampai satu bulan kedepan.
Mereka akan berbicara tentang laut. Tanpa bosan.
Tentang tuhan. Dan tentang dewa yang perhatian. Pada laut.

Lambaian tangan yang lihai. Simbol simbol harap.
Metafora metafora yang menantang deras mengalir-
Seperti sungai yang pergi ke hilir.
Mengingatkan kita semua pada pengatur laut tetapi jahat
Berapa jumlah tongkang tongkang batu berlayar
Menggantikan kekasih laut, nelayan, berlayar?

Menatap tajam ia di atas panggung. Mencoba menjawab beberapa hal yang hilang itu dikepala. Memikirkan. Tetapi tidak satupun menemukannya.
Dan menjelaskan yang lain diatas panggung: Panggung hanyalah pelabuhan terakhir bagi nasib yang buruk, katanya.

Oooo…
O. Tarian yang hilang.
Oooo…
O. Kalimat tanya yang hilang.
Oooo…
O. Laut yang menangis.
Oooo…

Penampil terakhir itu kemudian berdiri mengambil kain pembungkus mayat. Lalu membalutkannya pada mikrofon yang mati. Pada tanda tanya yang hilang.

“Tuan-tuan dan Puan-puan yang terhormat. Penampilan telah selesai…” ucapnya dengan suara agak keras dan serak sebelum akhirnya akan menuntaskan kalimat selanjutnya. Tetapi lampu mati terburu buru dan panggung menjadi tempat gelap. Sangat gelap. Penonton terkejut. Terhibur. Pengatur Laut terhibur. Dan tepuk tangan menyambut meriah ditengah kegelapan.

Bali, 2023

JALAN KUSAM YANG MESTI DICAT WARNA

Ini tahun politik. Ya, sebentar lagi maksudku.
Suasana. Ya, Aku masih ingat betul suasana tahun politik menjelang.
Satu waktu. Jalan di depan rumahku, beton dan berwarna kusam.
Berganti warna menjadi hijau setelah
Pak RT dan Ketua Pemuda menugaskan aku dan beberapa temanku
Yang sedang berkumpul.
Ia berpesan untuk memberinya cat
Berwarna dengan variasi ikan, bintang, dan
Gambar gambar yang bagus sepanjang jalan.
Jangan lupa, kata dia, beri warna hijau yang banyak di setiap ruasnya.

“Sebentar lagi ada Bupati dan Kepala Desa akan berkujung. Lusa. Beliau beliau akan datang, segera cat warna hijau!”

Pak RT itu kemudian memberi kami uang untuk membeli cat
Dan meminjamkan motornya agar segera berangkat ke toko.
Tanpa tahu ini penting atau tidak. Pemuda semacam kami, penganggur.
Sangat senang. Tentu bukan karena tamu kehormatan akan datang!

Tetapi atas pekerjaan yang diberikan dan beberapa rokok kretek dan kopi, gorengan dan sebungkus nasi uduk. Setidaknya nafas kami lebih lama dalam satu hari. Pula dipandang penganggur yang baik beberapa hari jika masih hidup.
Namun. Sekali kali hati penasaran saat memberi warna pada jalan, “Apa fungsinya Bupati dan Kepala Desa sehingga jalan mesti di cat?”

Bali, 2023

JAMUAN MERAH DI LAMPU MERAH

Merah menjamu tanda baik
Berhenti kami menunggu
Tanda giliran pulang. Dari Pantai Panimbangan
Berjalan keluar kami kuning kuning

Tidak dengan hewan banteng yang terpenjara di dalam makna.
Terpakung di tiang listrik kepalanya. Abadi dalam gambar tanpa tubuh yang jelas.
Merah merah kabur warnanya. Pula nilainya barangkali.

Mural kebebasan dan lampu lampu jalan
Sedikitnya menambahkan warna baik kepada tembok
Hari baik kepada banteng sebagai teman.

Ini tanda baik! Lampu telah hijau memberi jalan.
Kami hormat! Pulang penuh semoga.
Semoga selamat.

Singaraja, 2023

TAK APA. UNTUK HARI RAYA

Lele mematil jariku berdarah.
Aku tahan sakitnya. Aku lap dengan bajuku yang bau anyir ikan itu
Tidak lama. Lelepun berdarah. Robek perutnya dan mati.
Lele di masak kemudian.
Menyusul lobster dan kepiting yang sudah bersih menunggu.
Mereka dimasak juga kemudian.

Kenikmatan orang orang yang hendak pergi kearah Denpasar dan Pelabuhan Gilimanuk. Seakan tiada habisnya berhenti dan memesan lele goreng dan dua porsi seafood tawar sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil masing masing.
Tak apa berbanting tulang dengan waktu kerja sore-dini hari dan luka jariku.
Sebab. Bagaimanapun seorang laki-laki mesti berfikir tentang hari raya yang sama: bertemu teman. Berbagi dan sama sama gembira.

Sehingga aku memutuskan untuk bekerja. Menggantikan beberapa karyawannya yang pergi mudik tiga minggu, ke Jawa.
Ya, ditempat warung milik orang china blasteran. Orang memanggilnya dengan sebutan Cak Koko. Terkenal betul masakan seafoodnya di Bali Utara.
Satu minggu sudah bekerja. Sudah kebal jariku dari patilan lele dan capitan kepiting. Ini hari yang baik untuk mengambil uang.

Diberilah aku upah dua ratus ribu rupiah dan waktu libur lima hari. Karena lusa sudah hari raya idul fitri, hari raya agamaku.

Aku terima uang itu penuh suka cita.
Aku masukan kedalam kantung bajuku sebelah kanan.
Tak apa. Untuk hari raya.
“Naskleeenggg!!!!!” batinku.

Singaraja, April 2023.

KUCING SEMALAM

Pagi ini. Tidak ada bau daging tergoreng,
Terkukus atau disate. Tidak sama sekali
Tercium lezatnya. Tidak sama sekali.
Selain. Hanya debu debu yang terbang sesak nafas.
Selain. Setumpuk sampah tercecer ulah kucing lapar berbulu kuning belang belang. Menguar aroma tak sedap. Membangkitkan jiwa pemarah salah satu temanku.
Satu hari penuh.

Saat terbangun dari mimpi basahnya. Ia,
Seakan mendapatkan perintah tuhan yang maha sulit dilakukan saat membuka mata: Membersihkan segala yang kotor di Bumi! Termasuk di atas lantai tentu saja.
Cahaya gelap dari mulutnya seakan menjelaskan kepada yang lain tentang dirinya adalah manusia sangat biasa dan tidak ada Nabi yang dipilih setelah terbangun dari mimpi basah. Maka. Wajarlah jika ia mengomel, kalap dan puas meracau-mengumpat kesetanan.

“Dasar! Kucing tak punya akal! Tak bermoral!” Umpatnya sangat kesal dengan mata mendelik seolah mencari cari kemana kucing itu pergi. Seolah akan diburu walau hanya seekor yang terlihat.
Sementara tanpa celah.

Sapu ditangannya semakin tercekik tiada ampun.
Bahkan debu debu kemarau sampai terbang liar tak menentu:

Hinggap.
Ke Piring. Ke Perut.
Hinggap.
Ke Tembok. Ke Hidung.
Ke Piring. Ke Perut.

Kemana mana.

“Lain kali. Kau bedol saja kepala kucing itu dan mengisinya regulasi regulasi tentang sampah!” kataku. “Bila perlu, bunuh! Jika tetap tak mengerti tinggal di kost kecil bagaimana.”
Waktu terdiam. Hening beberapa saat.

Debu debu kemarau yang hinggap-mengejutkan bangkit dari segala sisi kemudian:
Sepertinya tuhan tak ingin melihat darah kucing tercecer di lantai dan lebih memilih membagi sedikit cahaya pada jiwa orang yang sedang kalap.

“Percuma” katanya kepadaku. “Sebab binatang tidak akan pernah bisa mengerti! Sekalipun itu adalah kucing yang sering pergi ke Kampus. Atau… ke Masjid sekalipun.”

Singaraja, 2023

[][][]

  • BACA puisi-puisi lain
Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air
Puisi-puisi Andy Sri Wahyudi | Jejak Api, Melihat Ingatan
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali

Next Post

Rumah Gadang Sebagai Gelanggang: Upita Agustine dalam Delapan Latar

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Liyan, Lebur Tiada Jarak:  Faisal Baraas dalam Leak

Rumah Gadang Sebagai Gelanggang: Upita Agustine dalam Delapan Latar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co