KERIUHAN selalu akan terjadi menjelang Lebaran di Indonesia. Seperti biasa, mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta selalu menunggu datangnya Tunjangan Hari Raya (THR). Bukan hanya untuk membeli pakaian baru atau makanan Lebaran, tetapi juga untuk mudik ke kampung halaman.
Mudik lantas menjadi ritual wajib tahunan bagi masyarakat Indonesia, baik yang beragama Islam maupun agama lain. Karena momentum Lebaran diwarnai dengan libur panjang bagi semua pekerja. Maka, Lebaran menjadi milik rakyat Indonesia, menjadi waktu bagi semua orang yang bekerja di rantau untuk mudik.
Kesiagaan mudik bukan hanya dilakukan masyarakat. Semua instansi pemerintah sibuk mempersiapkan lebaran. Posko Lebaran dibentuk di setiap bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, di sepanjang jalan nasional, dan objek wisata di daerah.
Mudik juga disambut oleh naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Protes ibu-ibu rumah tangga atas kenaikan harga itu menjadi “nyanyian” setiap menjelang Idulfitri; dan Lebaran tetap saja dirayakan. Lebaran diglorifikasi sebagai sesuatu yang sakral.
Mudik bukan semata ruang religiusitas dan tradisional. Mudik juga bagian dari ruang komunikasi intrabudaya. Sejarah panjang mencatat aktivitas mudik sebagai ritual masyarakat Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendifinisikan mudik sebagai aktivitas pergi ke udik atau pedalaman, serta pulang ke kampung halaman.
Secara etimologi, mudik berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung sungai. Antropolog UGM Heddy Shri Ahimsa Putra menyebut mudik memiliki konteks pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya
(CNBC Indonesia, 23/12/2025).
Sebagai bagian dari tradisi dan budaya Indonesia, mudik diperkirakan sudah terjadi sejak tahun 1960-1970. Pada saat itu beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota besar lain di Indonesia mulai melakukan proyek pembangunan pasca kemerdekaan. Banyak tenaga kerja yang dibutuhkan datang dari berbagai penjuru desa dan daerah di Indonesia.
Kota-kota besar menjadi tumpuan masyarakat dari daerah untuk mencari rizki dengan bekerja di berbagai sektor. Momentum Lebaran menjadi saat yang ditunggu oleh para pekerja untuk mudik, pulang ke kampung halaman. Karena itulah, mudik sejatinya bukan terminologi keagamaan, melainkan tradisi sosial dan komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Ritual Mudik
Mudik Lebaran adalah sebuah energi besar yang mampu menggerakkan ratusan juta rakyat Indonesia untuk pulang kampung. Kementerian Perhubungan mencatat sejumlah 154,6 juta rakyat Indonesia melakukan perjalanan selama Lebaran tahun 2025. Itu artinya lebih dari separuh penduduk Indonesia mudik saat libur Idulfitri. Hanya pandemi Covid-19 yang mampu menghalangi orang untuk mudik. Tahun 2020 saat Covid-19 masih mengganas di Indonesia, jumlah pemudik hanya berada di angka 0,29 juta orang.
Sebagai sebuah ritual besar, mudik Lebaran tak pernah lepas dari dimensi komunikasi intrabudaya. Pulang kampung akan dimaknai sebagai kembali ke akar budaya, mengunjungi Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa. Bila tak mudik, orang dianggap bukan hanya kehilangan akar budaya, tapi juga kehilangan diri sendiri.
Bagi sebagian besar orang, mudik merupakan momen yang sarat dengan aktivitas komunikasi. Simak saja apa yang biasa dilakukan orang ketika mudik ke kampung halaman. Setiba di rumah, orang akan kembali berkomunikasi dengan bahasa dan logat daerahnya; bertanya tentang kabar semua kerabat, tetangga, kabar tentang siapa saja yang telah menikah dan siapa yang sudah meninggal.
Ziarah kubur menjadi ritual Lebaran bagi umat Muslim. Bukan semata mendoakan orang tua maupun sanak saudara yang telah meninggal. Ziarah kubur adalah komunikasi intrabudaya tentang arti penting “menengok” leluhur yang telah tiada. Tanpa ziarah, orang merasa belum mudik, belum pulang kampung, dan belum mengunjungi akar budayanya.
Selepas salat Idulfitri, bersimpuh dan memohon maaf kepada orang tua dan yang dituakan adalah bentuk komunikasi intrabudaya. Orang tua adalah simbol kehadiran seseorang di muka bumi. Wajib hukumnya bagi seorang anak untuk memohon ampunan seraya berharap orang tua mendoakannya agar kehidupan ke depan lebih baik.
Menyambangi sanak famili merupakan bagian dari komunikasi intrabudaya yang tak pernah surut dalam ritual mudik. Bukan sekadar berkabar tentang pekerjaan di rantau. Bertemu sanak famili adalah merenda kohesitas sosial budaya yang selama ini terhalang oleh jarak geografis, lantaran harus bekerja di perantauan.
Modernitas barangkali sudah merambah setiap daerah. Namun tak menyurutkan orang yang mudik untuk tetap berbelanja di pasar tradisional. Bagi para pemudik, pasar tradisional adalah pusat perdagangan yang memiliki akar budaya. Orang masih tetap dapat menjumpai senyum ramah pedagang, tawar-menawar harga meski hanya untuk berkurang seribu rupiah, serta bau keringat orang yang lalu-lalang. Semua adalah kerinduan akar budaya bagi para pemudik.
Tergantikan Komunikasi Digital?
Hingga kapan tradisi dan ritual mudik ini akan masih bertahan, sulit untuk diprediksi. Sepanjang masih ada Lebaran, mudik akan tetap ada. Selama kota besar terus membangun, dan orang sulit mencari kerja di daerah, mudik akan tetap menjadi bagian dari ritual Lebaran para pekerja.
Mereka yang tidak sempat mudik lantaran kendala biaya akan memanfaatkan panggilan telepon atau video untuk menghubungi orang tua dan kerabat di kampung. Cepat, praktis, dan efisien. Namun apakah tradisi mudik Lebaran dapat tergantikan di era komunikasi digital seperti saat ini?
Secara teknologi mungkin bisa tergantikan. Akan tetapi secara manusiawi media digital tak akan mampu menggantikan tradisi mudik Lebaran. Genggaman tangan saat berjabat tak mungkin dirasakan lewat panggilan video. Kecupan di kening dan kepala dari orang tua tak dapat dirasakan tanpa mudik secara fisik.
Teknologi komunikasi mungkin mampu bercerita tentang pembangunan yang mulai bergeliat di kampung halaman. Namun orang akan tetap merindukan menapaki tanah becek selepas hujan di kampung halaman. Media komunikasi dapat dengan cepat mengabarkan kawan-kawan yang telah tumbuh dewasa. Akan tetapi mudik memberi ruang yang lebih luas untuk bercanda dengan teman kecil sambil menyusuri pematang sawah atau bermain di tepian sungai.
Komunikasi intrabudaya telah menjadikan mudik Lebaran sebagai kultur agraris yang sulit terhapus, kultur pulang kampung, dan budaya kangen Ibu Pertiwi-Bapak Angkasa. Teknologi komunikasi hanya mampu menggantikan silaturahmi secara simbolik. Namun tak mampu memaknai secara esensial mudik Lebaran. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole


























