7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Magnet – [Cerpen Putri Handayani]

Putri Handayani by Putri Handayani
September 20, 2020
in Cerpen
Magnet – [Cerpen Putri Handayani]

Ilustrasi: Dok Putri Handayani

Mitosnya, cinta pertama itu tidak terlupakan. Aku setuju. Ini adalah kali pertama aku jatuh cinta di usia 26 tahun. Banyak yang bilang alasanku baru membuka hati terbilang klise: Selama ini aku sibuk belajar. Tapi itu bukan dusta, aku baru saja lulus Magister Ilmu Linguistik dengan predikat pujian.

Selama ini aku fokus belajar, mana ada waktu untuk pacaran? Banyak temanku yang hamil duluan sebelum lulus dan aku tidak ingin berakhir seperti mereka. Bagiku, pacaran identik dengan hawa nafsu dan ranjang. Setelah ‘kebobolan’, masa depan akan terenggut tanpa persiapan yang matang. Jadilah setiap pagi mereka hanya sarapan cinta, beli popok dan susu anak juga pakai cinta.

Sebisa mungkin aku mempertahankan keperawananku hingga usia ini. Tapi, menjadi wanita Bali itu serba salah. Hamil duluan dibilang tidak bisa menjaga diri, belum menikah di umur 25 ke atas dibilang tidak laku. Aku bukannya tidak ingin menikah, tapi hanya belum siap saja punya anak dan berkeluarga. Sementara, orang tuaku sudah mengambil ancang-ancang untuk menjodohkanku dengan pria pilihan mereka, yang satu kasta biar gampang silaturahmi katanya. Aku mencari banyak alasan agar tidak dinikahkan paksa, salah satunya dengan melanjutkan S2.

Tak diduga-duga, setelah pendidikanku telah rampung, aku kepincut dengan seseorang. Rasa itu tumbuh tanpa malu-malu, mendobrak ruang hati kosongku yang selama ini berdebu. Semua terjadi begitu cepat. Setelah itu, segalanya jadi tidak rasional lagi bagiku. Aku seperti menjadi orang yang berbeda. Dalam tubuhku seperti ada dua naluri yang saling bersahutan. Perasaanku berkecamuk hingga bermuara pada sebuah pertanyaan tentang esensi manusia normal dan tidak normal.

Panas di cangkir kopiku menghangat setelah 30 menit dihidangkan. Aku masih terpojok di dekat jendela sebuah kedai kopi bergaya tropis sambil melipat tangan menghadap jendela. Sudut ini adalah tempat favoritku selama mengerjakan tesis dan di sudut ini juga pertama kali aku bertemu dia.

Aku masih ingat aroma tubuhnya yang segar, campuran aroma sandalwood, earthy, breeze, dan safron. Sederhananya seperti menghirup aroma pagi. Aku masih ingat rambut sebahunya yang selalu dicepol dengan karet hitam, tampak selalu rapi meski hanya disisir jari. Lengan kemeja putihnya yang dilipat tiga per empat lengkap dengan apron cokelat. Kulitnya yang putih pucat. Wajahnya yang sinis. Alisnya yang rapi dan selalu dinaikkan sebelah. Juga, tatapannya yang tajam dan dingin: Dia sangat menawan dan maskulin.

Dia adalah Barista di kedai ini. Biasanya, Senin hingga Jumat aku selalu nongkrong di sini dengan laptop dan alis yang berkerut. Lalu, aku akan memesan Chocolate Ice Blend untuk mendinginkan otakdan dari balik meja barista, dia mencibirku dengan nada sinis.

“Ke kedai kopi hampir setiap hari dalam seminggu, tapi yang dipesan hanya Chocolate Ice Blend. Kenapa gak ke warung Teh Poci aja?”

Jelas aku tersindir oleh ejekannya. Aku mendekatinya, memperhatikannya dari kepala hingga dada.

“Di mana-mana Gemini itu sama ya? Kata-katanya nyelekit, bahkan ke pelanggan sendiri.”

Dia mendelik, aku yakin ia terkejut karena aku tau zodiaknya. Cepat-cepat aku menjawab.

”Salahkan tattoo lambang Gemini di belakang telingamu.”

Aku cekikikan sambil melenggang ke mejaku.

Tentu aku tidak memesan kopi karena setiap meminumnya perutku langsung melilit dan berakhir dengan bolak-balik toilet setiap lima menit sekali dan dia tidak perlu tahu. Lagipula, kalau ke kedai kopi kita tidak harus memesan kopi, kan? Aku hanya suka suasana kedai ini. Tumbuhan Monstera dan Sirih Gading mendominasi di sana-sini, menambah keteduhan suasana interiornya yang dominan bermaterial kayu berwarna natural dan dinding bata oranye. Kedai ini juga tidak menggunakan AC karena embusan angin dengan leluasa masuk dari lubang jendela dan ventilasi.

Lalu, kenapa kali ini aku malah memesan kopi? Aku bahkan memesan Double Shot Espresso yang bisa dibayangkan betapa tingginya kadar kafein di setengah cangkir kopi hitam kental yang mahal ini. Aku sengaja memesannya untuk merayakan patah hati. Aku anggap ini patah hati karena efeknya sangat melelahkan fisik dan psikisku.

Setelah memutuskan keluar kota seminggu tanpa ponsel, akhirnya aku kembali dan memutuskan untuk mampir ke kedai ini lagi. Aku ingin lihat seberapa besar perubahan yang terjadi. Apakah dia merasa kehilangan atau justru sebaliknya? Aku masih memandang kosong ke arah jendela kedai itu.

“Begini ya caramu agar mendapat perhatian orang?”

Suara itu datang sekonyong-konyong dari balik punggungku disertai aroma segar pagi yang sangat kukenal. Kopi yang sudah berubah dingin di hadapanku langsung disambar dan dibuang ke wastafel. Aku terkesiap dan gelagapan tapi hanya bisa terbengong menatap punggungnya yang makin menjauh. Perasaanku campur aduk antara rindu, senang, gengsi, dan satu rasa lainnya yang selalu kelu kuungkapkan.

Tak lama kemudian, dia kembali dengan segelas Chocolate Ice Blend. Kini ia duduk di depanku dan bibirku masih terkunci. Ada keheningan mengambang beberapa menit sebelum ia mengawali pembicaraan.

“Ingat makan ya! Anda terlihat kurus.”

Kali ini, aku tidak tahu kepribadian mana yang sedang dipakainya.

“Kamu gak kangen aku?” aku tidak tahan lagi menanyakan ini.

“Kangen. Beberapa hari ini kamu menghilang tanpa kabar, dan tiba-tiba saja kamu muncul di tempat kerjaku dan ingin menenggak Espresso sendirian padahal kamu tau kopi tidak baik untuk perutmu. Udah gila kamu, ya?”

“Kalau kangen kenapa tidak dihubungi?” tembakku sambil menyesap minuman pemberiannya.

“Untuk apa? Menghilang artinya sudah tidak butuh. Tidak butuh artinya selesai, kan?”

Dia selalu bisa membuat aku kikuk dengan jawaban-jawaban sadisnya. Kalau sudah debat begini, sulit bagiku untuk menang.

“Lebih baik kamu pulang. Biarkan aku bekerja dengan tenang. Lanjutkan hidupmu dan anggap kita tidak pernah kenal. Benar katamu, kita adalah magnet dengan kutub yang sama dan kutub yang sama tidak akan bisa menyatu.” Tandasnya datar.

Ia bangkit dari duduknya pelan, menghasilkan bunyi gesekan dari kursi kayu dengan lantai yang ngilunya terasa sampai hatiku.

Ada banyak hal remeh yang membuat kami tertawa, tapi ketika hal itu merujuk pada pembahasan yang lebih serius, hasilnya selalu sama: Tak bisa berkomitmen. Masalahnya, aku tidak semudah itu untuk menetapkan komitmen dengannya. Hubungan ini tidak wajar, setidaknya bagi orang-orang di sekelilingku, bagi keluargaku, bagi negara ini, terlebih bagiku yang belum sepenuhnya menerima ‘perubahan’ ini. Ada rasa geli sekaligus tabu yang tidak bisa sembarangan kuceritakan pada siapa pun. Celakanya, memendam sendiri juga membuatku hampir gila.

Sementara, dia sangat berani dan bebas dengan prinsipnya. Ia bahkan tidak takut untuk tidak berteman dengan siapa-siapa karena menurutnya pertemanan itu penuh kepalsuan. Pernah suatu ketika kami bertengkar untuk kesekian kalinya dan aku bilang tidak ingin berpisah dengannya. Dengan enteng ia berkata, “semua orang sama saja, pada takut dimusuhi.”

Justru, aku tertarik dengan kemisteriusan dan cueknya. Lidahnya jarang memuji atau terlalu sering membuat ego orang lain terlukai. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya, tepatnya tidak mau. Tidak ada yang bisa membuatku nyaman seperti dia. Tidak ada yang bisa membuat jokes sereceh dia. Tidak ada yang memikirkan hal seunik dan seidiot dia.

Suatu saat ketika mulai akrab, dia mengajakku ke pantai di bilangan Jimbaran.

“Kita mau ke pantai yang mana?”

“Ke pantai favoritku.”

Aku mengencangkan pegangangan tanganku yang melingkar di perutnya. Dalam perjalanan dia selalu melirikku dari sepion motor. Aku pura-pura tidak sadar kemudian sengaja kutumbukkan pandanganku ke sepion. Dia kaget dan memalingkan pandangan. Aku tertawa geli. Berhenti di traffic light adalah kesukaanku. Lututuku akan dielus perlahan dan itu nyaman sekali.

Kami duduk di sebuah tonjolan tebing yang di bawahnya terdapat karang tajam serta deburan ombak. Aku terpukau dengan apa yang disaksikan mataku. Patung Garuda Wisnu Kencana terlihat sangat kecil di ujung sana. Tapi, aku agak kesulitan, angin kencang dan lembab membuat rambutku lepek dan semrawut.

“Aku selalu ke sini kalau sedang suntuk.” Celetuknya sambil menyodorkan karet rambut padaku.

“Berarti sekarang lagi suntuk, dong?”

“Nggak juga.”

Dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku yang sudah rapi terikat.

“Sebentar lagi!” Tiba-tiba ia berseru.

“Apanya yang sebentar lagi?”

“Tunggu aja.”

Waktu itu sudah hampir menunjukkan pukup 6.30 petang. Aku diajak berdiri dan melihat ke belakang. Dia menghitung mundur, “tiga, dua, satu!”

Mataku terbelalak berbinar-binar. Dua puluh enam tahun hidup di Bali, belum pernah aku ke Pantai Balangan dan melihat pemandangan semegah itu. Aku hanya bisa berdecak sambil tidak henti-hentinya berseru.

“Wiiiihhhhh…! Kok bisa tepat?”

“Keren kan? Ini yang biasanya aku tunggu-tunggu. Aku udah hafal jam berapa mereka akan menyalakannya.”

Mau tahu apa yang aku lihat? Lampu-lampu di pelabuhan dan kota! Banyak sekali, seperti bintang-bintang kecil yang berderet-deret. Romantis sekali. Aku rasa dia dan aku punya kesamaan untuk hal ini: kebahagiaan kami sederhana.

Bibir kami bertemu perlahan. Utung saat itu tidak ada orang yang melihat, hanya disaksikan deburan ombak yang menghantam tebing dan kemilau lampu kota. Napasku tertahan tiga detik sebelum aku bisa menikmatinya dengan lepas. Oh bibir itu, lembut dan dingin. Lidah kami bertaut dengan agresif. Begini nikmatkah berciuman? Rasanya seperti dosa yang manis. Bayangkan saat kau makan dua bungkus Indomie sekaligus. Kau tahu itu berbahaya, tapi tetap dinikmati. Begitulah ciuman pertamaku dengan dia.

Kami pulang lewat jalan tol Bali Mandara. Motor melaju menembus angin laut yang lumayan kencang. Bertemakan lampu-lampu kota, alunan musik Sunset Lover milik Petit Biscuit yang diputar berulang-ulang di ponsel, dan hutan mangrove yang hanya terlihat siluetnya, dia meraih tanganku dengan tangan kirinya. Meletakkannya tepat di perut yang tidak terlalu rata itu.

“Kamu mau gak jadi pacarku?”

Aku kaget setengah mati. Suaranya bisa kudengar jelas meski tertutup kaca helm.

“Mau gak? Setidaknya sepanjang jalan tol ini.”

Jujur, aku tidak bisa menolak karena suasana ini sangat mendukung, sekaligus pikiranku sudah jauh memikirkan risiko. Aku jawab ‘mau’ meski tidak bisa kupungkiri rasa janggal di dadaku. Tapi, aku ingin menikmatinya menjadi seseorang yang baru meski hanya sepanjang jalan tol.

“Jadi, kita pacaran, nih?”

Aku mengangguk kecil sambil melongokkan kepala di bahu kirinya.

“Ngomong-ngomong, kamu tau gak zodiakku apa?” tiba-tiba aku melayangkan kuis dadakan.

“Aku tebak, kamu adalah Cancer. Bener, gak?”

“Ih, tau dari mana?”

“Dari drama dan cara menghilangmu.”

Tawa kami pecah. Jalan tol sebentar lagi akan habis, padahal aku masih ingin lebih lama.

“Yah, bentar lagi kita akan keluar jalan tol. Apa kita putar balik lagi, ya? Haha. Tapi, sebelum jalannya habis, boleh aku minta sesuatu?”

“Apa?” tanyaku.

“Nikah sama aku ya?”

. . .

Pertanyaan itu tidak terjawab hingga hari ini atau lebih tepatnya kami tahu itu tidak memerlukan jawaban.

Setelah insiden beberapa hari lalu di kedai kopi, pikiranku jadi semakin kacau. Tidurku tidak nyenyak lagi. Sekalinya tidur nyenyak, aku malah memimpikan saat-saat bersama dia. Aku semakin sering menangis sendiri tanpa bisa bercerita lugas pada siapa pun. Ibuku mulai menasihatiku untuk mengurangi menonton drama Korea yang sedih-sedih agar mataku tidak sembab terus setiap pagi.

Ada rasa yang kontras ketika aku dan dia baik-baik saja dengan ketika kami lost contact seperti sekarang. Dulu ketika baik-baik saja, aku selalu ingin bertemu dengannya, menghirup aroma tubuhnya, atau sekadar mencari alasan agar aku bisa berbincang ngalor ngidul dengannya di Whatsapp. Tapi kini sungguh berbeda, ketika ada hal-hal kecil yang mengingatkan tentangnya atau kebiasaan kami, perutku langsung bereaksi. Seketika aku tidak nafsu makan dan mual. Aku tidak habis pikir, stres bisa berakibat pada asam lambung yang meningkat. Berat badanku turun lima kilo dan ini jadi perhatian serius bagi orang tuaku.

“Pak, kasihan ya, Ranu. Kerjaannya nangis terus habis nonton Korea-koreaan, gak nafsu makan sampai kurus gitu. Sebaiknya perjodohannya dipercepat saja ya sama Si Hara.” Bisik ibuku pada bapak.

Hara pria yang baik. Dia sopan, bertanggung jawab, dan tidak pernah memaksaku main di ranjang sebelum resmi menikah. Tipikal orang yang bisa kuatur. Perlahan aku coba membuka hati kembali dan menerima cinta yang baru. Namun, ingatan tentang Si Gemini belum juga terhapus. Berpisah baik-baik itu menyakitkan, apalagi memaksakan diri untuk melupakan, padahal sekarang aku sudah diterima kerja di sebuah lembaga negeri di Denpasar, lumayan ada kesibukan baru.

Hubunganku dan Hara sudah menginjak setahun. Kami berniat merayakannya dengan makan malam saja dan aku diminta untuk memilih tempatnya. Pikiranku langsung tertuju pada kedai kopi itu, menu di sana juga enak-enak dan match dengan lidahku yang picky. Lagipula, apa kabar ya dia sekarang? Lama tidak dengar kabarnya. Sekalian mengetes mental, siapa tahu aku sudah ‘sembuh’ dan kuat berhadapan lagi dengannya.

Dari sebuah meja – yang bukan meja favoritku – aku melihatnya lagi. Sehat, berisi, dan, semakin cantik. Dia sedang sibuk meracik kopi untuk pelanggan lainnya. Tubuhku bergetar hebat, kukira aku sudah cukup kuat menghadapi badai masa lalu.

“Sayang, kamu kenapa? Kedinginan?” tanya Hara panik.

“Nggak apa kok, Sayang.” Jawabku agak terbata.

“Nggak papa gimana? Kalau kurang sehat, kita pulang aja, yuk. Ngerayain annive-nya bisa belakangan.”

Ajakan Hara ada benarnya. Perutku sudah mulai mual lagi. Jika dipaksakan makan sambil melihat dia, bisa-bisa aku muntah di atas piring dan hari spesial ini jadi memalukan. Sebelum dia melihatku aku harus segera berkemas dan pergi.

Tiing!

Sebuah bel ditekan oleh penghuni meja sebelah. Tampaknya ia sedang memanggil pramusaji atau siapalah itu. Suasana kedai saat itu memang sedang ramai dan hanya ada sedikit pelayan di sana. Aku masih memakai jaket yang resletingnya mendadak macet. Aku kesal sekali sambil menarik-narik resleting. Hara yang terdistraksi dengan tingkahku mencoba membantu.

Tiga menitku tersita sia-sia gara-gara resleting sialan itu. Baiklah, sekarang aku siap pulang, Hara menunggu di parkiran. Tapi, momen setelah itu seharusnya tidak pernah kusaksikan. Si Gemini, dia sedang asyik bermanja-manja dengan pelayan wanita lainnya. Mesra sekali. Jiwaku seperti melorot jatuh dan terburai. Seketika mataku berkunang-kunang. Tanganku mencengkram meja dengan kuat sebelum akhirnya melangkah pergi dengan sekuat tenaga. Aku tidak peduli mereka melihatku atau tidak.

Yang jelas, sakit sekali, melihat kutub magnet yang sama bisa menyatu seperti itu.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serunya Galungan Kita Dulu

Next Post

Google Doodle Mengenang Benyamin Sueb

Putri Handayani

Putri Handayani

Bernama lengkap Desak Ketut Putri Handayani. Lahir di Klungkung. Adalah penulis pemula yang punya niat besar untuk terus berkembang

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
Google Doodle Mengenang Benyamin Sueb

Google Doodle Mengenang Benyamin Sueb

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co