2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Panduan Nyepi ala Cangak

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 5, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sebelum internet dimatikan karena harus Nyepi, ada baiknya saya memberikan panduan untuk menyepi kepada khalayak luas maupun sempit.

Saya akan berusaha menghindari penjelasan berulang-ulang tentang empat janji diri beramai-ramai saat nyepi. Untuk sekadar mengingatkan, keempat itu adalah tidak pergi, tidak makan, tidak bekerja, tidak menyalakan api. Begitulah hasil hapal-hapalannya. Namanya saja hapalan, maka jangan heran jika nanti bisa terlupakan dengan sengaja.

Jangan lupa, kalau Nyepi itu adalah tahun baru. Namanya tahun baru Saka. Karena tahun baru, maka banyak yang merayakan. Merayakan tahun baru Saka dengan Nyepi.

Menurut seorang pakar, ada yang tidak nyambung antara kata merayakan dan Nyepi. Sebab keduanya mewakili ide yang berbeda. Perayaan baginya, mewakili ide tentang kemeriahan dan ramai-ramai. Sedangkan Nyepi tidak begitu. Nyepi adalah situasi yang disengaja untuk menjadi sepi. Gitu lho.

Memang akan ada banyak pengamat agama, budaya, yang melejit memberikan tafsir begini dan begitu tentang Nyepi. Ada yang bilang, bahwa menyepi berarti meng-Nol-kan kembali seluruh jagat setelah setahun bergerak. Tapi jagat mana yang berhenti bergerak? Kan Bumi yang konon bulat ini menurut para sekelompok ahli – saya sebut sekelompok, sebab ada ahli-ahli lain yang berpendapat bumi ini datar—terus berputar pada sumbunya sambil mengelilingi matahari.

Mungkin maksudnya adalah menghentikan sehari aktifitas penghuni Bumi. Penghuni Bumi memang begitu kesukaannya, selalu dicarinya penyebab dari luar dirinya atas segala jenis kejadian. Penghuni Bumi itu pun hanya satu pulau kecil. Karena merasa kecil, maka banyaklah yang sangat amat bangga dengan tradisinya itu. Meski kecil, sumbangannya terhadap dunia yang sangat besar itu tidak kalah besarnya.

Begitulah Nyepi dalam kepala kebanyakan orang. Selalu memikir-mikirkan Nyepi, malah kepalanya sendiri tidak sepi-sepi. Maka, ada juga yang berkata, kalau nyepi itu adalah waktunya introspeksi diri. Introspeksi diri ini, dibumbui dengan istilah mulat sarira. Padahal artinya tidak ruwet seperti kelihatannya. Arti mulat sarira adalah melihat tubuh. Sesederhana itu. Apanya yang ruwet dari melihat tubuh? Tidak ada yang ruwet. Cukup ambil cermin lalu lihat-lihatlah tubuh sendiri. Jangan bercermin dengan cermin buram.

Tidak kurang banyak yang ngomong, kalau Nyepi adalah cara menghargai alam semesta. Jadi polusi udara dan suara bisa dipersedikit karena Nyepi. Begitu konon menurut mereka yang terpelajar di bidangnya. Pokoknya, semua untuk kebaikan alam.

Yang paling mencengangkan di antara segala tafsir Nyepi, adalah bahwa Nyepi itu tidak melulu tentang alam semesta tapi juga tubuh. Nyepi jagat dan nyepi diri! Demikian tafsir lain yang mengejutkan dan juga mengharukan. Mendengarnya saja, pasti akan membuat haru biru menderu-deru. Air mata meleleh dibuatnya karena memikirkan tentang pandangan leluhur yang tidak kalah luhurnya.

Filsuf tidak akan melewatkan kesempatan Nyepi ini untuk merenung. Yang direnungkannya adalah nyepi atau kesepian. Kedua kata itu sama-sama dibangun oleh kata sepi, tapi maknanya tidak sama.

Nyepi berarti tindakan yang disengaja untuk menjadi sepi, sedangkan kesepian barangkali tidak. Mana ada orang sengaja membuat dirinya kesepian. Kesepian itu adalah hadiah dari pura-pura. Tidak kurang tidak lebih.

Agar tidak kesepian, berhentilah pura-pura. Nyepi menjadi momentum yang selalu dicari dan dinanti. Hanya saat nyepi, para pemburunya tidak dihantui pertanyaan-pertanyaan begini dan begitu oleh yang tidak suka memburu sepi. Jika ada yang bertanya tentang mengapa begini mengapa begitu, maka jawabannya sudah tersedia. Ya, karena Nyepi. Nyepi jagat dan nyepi diri. Begitu jawabannya.

Agar sukses, Nyepi diri bisa diawali dengan persiapan-persiapan. Persiapan itu haruslah matang, supaya didapatnya Sepi itu, bukan malah kesepian. Ada juga yang tidak tahu bagaimana caranya menyongsong Nyepi. Maka dalam tulisan ini akan saya berikan metode Nyepi ala Cangak, beginilah caranya.

Pertama, makan dan minumlah secukupnya. Makan secukupnya ini dilakukan sebelum matahari terbit setelah melakukan tawur kasanga. Setelah semua ogoh-ogoh diarak oleh yang suka minum arak, siap-siapkan diri untuk menyongsong sepi. Jangan makan dan minum berlebihan, tidak lucu jika sedang serius menyepi tiba-tiba perut sakit dan kepala pusing.

Kedua, mandilah yang bersih. Ini gunanya agar bau badan tidak menyebar kemana-mana. Jadi ini bisa bermanfaat bagi diri sendiri, tidak akan diganggu oleh bau badan. Selain itu, badan bisa lebih segar karena selama sehari penuh akan didiamkan. Jangan lupa pakai deodorant. Siapa tahu, nanti datang bidadari untuk memberikan anugerah.

Ketiga, kuncilah kamar rapat-rapat. Fungsinya adalah untuk meminimalisir gangguan dari yang ingin mengganggu atau tidak sengaja mengganggu. Ini juga berguna untuk menciptakan suasana yang hening. Jadi proses Nyepi bisa aman terkendali.

Keempat, berikan pesan kepada yang lain bahwa akan mabrata. Point yang keempat ini sangatlah penting, agar jangan digedor-gedor. Mana bagus saat diam mengolah nafas tiba-tiba jadi sesak karena kaget pintu digedor.

Kelima, matikan segala jenis alat komunikasi. Sebelum melakukan ini, bagi yang punya pacar, silahkan kabari terlebih dahulu pacarnya. Agar tidak timbul kecurigaan setelahnya. Jadi Nyepi pun bisa lebih khusuk. Bagi yang tidak punya pacar, point kelima ini bisa menjadi solusi untuk tidak narsis. Contohnya foto selfie saat Nyepi.

Keenam, jangan taruh makanan atau pun minuman di kamar. Ini akan sangat membantu, sebab meminimalisir keinginan untuk melanggar. Karena segala jenis pelanggaran umumnya dilakukan karena ada kesempatan.

Ketujuh, sediakan alas duduk yang nyaman. Kalau bisa jangan di kasur, sebab kasur itu godaan paling hakiki. Kan saat Nyepi tidak boleh tidur. Namanya majagra.

Kedelapan, siapkan diri untuk ngembak geni. Point kedelapan ini, sangat penting untuk diperhatikan. Karena menyelesaikan sama pentingnya dengan memulai dan menjalani. Menyelesaikan Nyepi jangan buru-buru. Pelan-pelan saja. Kalau ingin mulai makan, minumlah terlebih dahulu. Akan sangat baik jika yang diminum adalah yang manis-manis. Gunanya untuk membiasakan kembali fungsi tubuh dengan makanan serta minuman. Itu gunanya yang manismanis, asal yang manis-manis itu bukan kenangan, apalagi sama mantan. Jangan!

Delapan langkah itu saja sepertinya cukup. Itu berdasarkan pada permenungan ala Cangak. Maka akan sangat penting untuk diperhatikan satu persatu. Kalau bisa, jangan dilanggar. Nanti kena kartu merah.

CANGAK SEBELUMNYA:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?

Oh iya, Nyepi berbeda dengan Galungan. Jadi tidak ada yang namanya manis Nyepi, karena perhitungan waktu keduanya berbeda. Setelah Nyepi bernama ngembak geni, artinya membuka api. Sedangkan setelah Galungan disebut Manis Galungan karena perhitungannya adalah lima hari dimulai dari Umanis, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Begitu seterusnya kembali ke Umanis. Galungan terjadi tepat pada Kliwon, makanya sehari setelah Galungan adalah hari Umanis. Ini juga penting diingat, jangan lupa. Ok?

Sekian dulu panduan Nyepi ini, sebab saya pun harus menyiapkan segala sesuatunya. Terutama menyiapkan badan agar siap diajak diam. Apalagi kaki Cangak saya yang mungil ini berisi tahi lalat. Konon bagi yang kakinya begitu, pastilah tidak suka diam. Inginnya hanya jalan-jalan saja.

Memang beberapa hari ini, kaki Cangak saya sudah gatal untuk jalan-jalan, apalagi setelah melihat kondisi penghuni telaga yang menyedihkan seperti ini. Hati Cangak saya yang lembut ini merasa terenyuh. Sungguh sangat ingin saya membantu mengentaskan penderitaan semua makhluk.

Lalu apa yang bisa kita dapatkan dari Nyepi? Nah, itu tergantung cara menjalani. Kalau saya pribadi, yang saya dapat adalah sebuah rumus. Rumusnya adalah “penghargaan diam, sama menariknya dengan penghargaan gerak”. Itu saja. [T]B

Tags: baliHari Raya Nyepihindupanduanrenungantips
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Malasti, Dari Tepi Air ke Hening

Next Post

Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co