Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”, pemandangan di hotel itu terasa beda. Para karyawan itu hadir mengenakan busana adat madya, lalu duduk manis dan di depannya terdapat berbagai bahan, seperti sayur, daging dan berbagai bumbu tradisional. Masing-masing lengkap dengan pisau, babagai tentara perang yang siap tempur.
Itulah suasana “ngebat”, tradisi memasak tradisional yang sangat erat kaitannya dengan budaya gotong royong bertempat di Djaman Doeloe Bali yang masih berada di Four Points by Sheraton Bali mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WITA, Jumat 22 Mei 2026. Para pekerja pariwisata yang biasa melayani para tamu itu, kini secara bersama-sama menyiapkan hidangan sehari sebelum Hari Raya Tumpek Bubuh. Kegiatan budaya itu, dilakukan dengan suka cita, dan tentu menjadi atraksi wisata budaya bagi setiap tamu hotel.
Pada saat acara itu dimulai, suara talenan, papan potong yang digunakan sebagai alas saat memotong, mencincang, atau mengiris bahan makanan itu terdengan saling tindih. Suara itu bagai permainan ceng ceng dalam permainan gamelan bleganjur yang saling mengisi. Setelah semuanya dicincang, bahan itu selanjutnya dikumpulkan dalam satu wadah, kemudian diaduk merata. Saat mencoba taste, mereka saling mencicipi seakan tak ada sekat.
“Di tengah dinamika pariwisata Bali yang terus berkembang, Four Points by Sheraton Bali, Kuta, menghadirkan kembali akar budaya melalui sebuah tradisi yang sarat makna, yaitu mebat,” kata Restaurant & Bar Manager Four Points by Sheraton Bali, Kuta, I Komang Karsana, disela-sela acara ngebat itu.
Karyawan hotel itu tampak menguasai ngebat, meracik bumbu dan memasak hidangan tradisional Bali, sehingga dapat meningkatkan daya tawar karier secara signifikan. Keterampilan mereka dalam mengolah menu membuka peluang menjadi Chef spesialis kuliner otentik yang banyak dicari, memperdalam nilai budaya, dan memberikan peluang memimpin kelas memasak (cooking class) yang bernilai tambah.

Four Points by Sheraton Bali, Kuta, yang berlokasi di Jalan Benesari, Banjar Pengabetan, Kuta, Kabupaten Badung, menghadirkan sebuah tradisi yang lebih dari sekadar kegiatan memasak bersama, mebat adalah simbol kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di Bali.
“Kami ingin menghidupkan semangat melestarikan hidangan local, Four Points by Sheraton Bali, Kuta berkolaborasi dengan Warung Sendok Garpu, restoran ramah keluarga asal Gianyar, yang menghadirkan perpaduan hidangan lokal dan internasional,” imbuhnya.
Acara yang digagas oleh Putu Hovit Yusmanjia, runner-up Master Chef Indonesia season 12, berkolaborasi dengan menyajikan hidangan bebek istimewa lengkap dengan bumbu khas yang diwariskan dari tradisi keluarga.
Acara tersebut, benar-benar ditata apik agar menarik. Mulai dari dekorasi yang khas hingga rangkaian hiburan yang sarat unsur tradisi, yang sengaja dirancang untuk membawa para tamu lebih dekat dengan esensi budaya Bali. “Mebat merupakan acara yang digelar satu tahun sekali, di mana pada tahun ini pengalaman mebat semakin istimewa dengan sajian beragam hidangan khas Bali yang autentik dan diracik dengan cita rasa lokal yang kuat,” beber Karsana.
Kegiatan tersebut menjadi semakin hidup ketika penampilkan Wayang Ental dari Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, sebuah pertunjukan seni yang memadukan keindahan gerak dan narasi dalam harmoni yang memukau. Krisna Floop, Musisi Bali yang kemudian menghadirkan sentuhan unik melalui perpaduan alunan seruling tradisional dengan musik elektronik modern, menjadikan suasana semakin hidup dan berkesan.

Karsana mengatakan, acara ini menghadirkan perpaduan antara komunitas, budaya, dan kuliner lokal, serta menjadi pilihan yang tepat bagi wisatawan maupun masyarakat lokal yang ingin merasakan tradisi Bali dalam suasana yang santai. “Melalui acara ini, Four Points by Sheraton Bali, Kuta siap menghadirkan pengalaman menginap juga membuka ruang bagi para tamu untuk merasakan, memahami, dan terhubung langsung dengan kekayaan budaya lokal Bali,” sebutnya. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole





























