23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengejar Bayangan Kebahagiaan

Krisna Aji by Krisna Aji
September 25, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

KEBAHAGIAAN kadang terasa seperti bayangan sendiri. Menjauh saat dikejar, terasa berjarak saat tubuh tidak bergerak. Pernyataan tersebut dikatakan oleh seorang teman setelah ia berhasil melalui berbagai masa sulit. Dikatakan kepada saya beberapa bulan yang lalu dan kembali terlintas dalam meditasi rutin yang saya lakukan di malam hari selepas praktik.

Saya bermeditasi rutin selepas praktik untuk membersihkan batin dari kotoran mental akibat cerita dari puluhan pasien dalam sehari. Seperti tenaga kesehatan yang mandi sepulang kerja, saya pun membersihkan diri dari “kuman” batin. Serpihan ingatan acak sering kali muncul dalam proses itu. Bisa jadi serpihan itu adalah masalah pasien yang terserap dan mengendap di alam bawah sadar saya. Salah satunya adalah renungan tentang hubungan antara kebahagiaan dan bayangan diri. Sebuah paradoks yang layak direnungkan lebih dalam.

Jika membandingkan kebahagiaan dan bayangan sendiri, bukankah itu adalah hal yang paradoks?

Bayangan adalah bagian dari diri yang tentu saja akan menjauh saat dikejar. Ia sejatinya tidak berjarak dengan manusia sebagai sumber bayangan. Mengejarnya hanyalah tindakan sia-sia karena memang ia akan selalu menjauh. Jika mengejar bayangan tetap dilakukan, anak kecil yang melihat pun akan tertawa.

Bagaimana dengan kebahagiaan? Bukankah sesuatu hanya dikejar jika berjarak, termasuk kebahagiaan? Jika sudah memilikinya, untuk apa mengeluarkan tenaga yang sia-sia? Apakah kebahagiaan selalu berjarak dengan manusia dan tidak dapat untuk diraih? Atau, kebahagiaan sejatinya memang tidak berjarak dengan diri sehingga usaha untuk meraihnya adalah tindakan bodoh? Berbagai pertanyaan tersebut terus beranak-pinak dan berkelindan. Mereka saling membantah hingga membuat frustrasi. Seperti yang sering saya temui di ruang-ruang profesional.

Apakah paradoks tersebut buntu tanpa pintu keluar? Mungkinkah paradoks itu sendiri adalah jawaban yang membebaskan? Untuk memperjelas kemungkinan tersebut, mari kita bahas perlahan.

Mulai dari pemahaman akan kebahagiaan. Masing-masing orang mungkin memiliki pendapatnya sendiri. Rasa senang dan puas akan hal konkret yang tercapai, bisa jadi adalah standar umum yang diterima banyak orang. Seperti keberhasilan finansial, cita-cita, pangkat dan jabatan, atau apapun yang menggairahkan untuk didapatkan. Gairah tersebut tentu saja hanya akan muncul jika ada jarak antara manusia dengan objek yang dikejar. Sesuatu akan menantang saat berjarak dan menggembirakan saat jarak ditaklukkan. Karena, apa menariknya mengejar sesuatu yang sudah dimiliki? Pemahaman ini mungkin akan relevan dengan ambisi manusia yang tak berujung akan target-target yang tak berpangkal. Dengan pemahaman ini pula, kebahagiaan memang tampak seperti mengejar sesuatu yang selalu menjauh. Sebab tanpa jarak, tak ada tantangan. Tanpa tantangan, tak ada pencapaian. Tanpa pencapaian, kebahagiaan tak terasa.

Tetapi, apakah jarak adalah syarat mutlak kebahagiaan? Bagaimana jika sejatinya, jarak tidak diperlukan sama sekali? Di mana jarak hanya ilusi yang memperkeruh batin?

Jika kita melihat dari sisi pengalaman batin, kebahagiaan sering dipahami sebagai hilangnya  penderitaan. Keduanya tampak berseberangan. Kebahagiaan dicari saat penderitaan muncul. Saat kebahagiaan muncul dan bertahan lama, kondisi itu berakhir dengan kebosanan yang membuat derita. Ia memerlukan kebahagiaan baru sebagai jalan keluar. Karena penderitaan selalu muncul lagi saat kebahagiaan hilang. Tetapi, apakah itu penderitaan? Jangan-jangan, selama ini kita salah dalam memahami konsep penderitaan?

Jika memahami dengan konsep Buddhisme, akar penderitaan hanya satu: kelekatan. Kelekatan terhadap objek yang buruk akan menimbulkan penderitaan. Hal yang berkebalikan mungkin terjadi saat adanya kelekatan terhadap objek yang membahagiakan. Kebahagiaan akan muncul seketika. Namun ketidakkekalan adalah fakta yang tak terbantah. Segala sesuatu yang terkondisi–bahkan yang bersifat baik–pada akhirnya akan hilang. Saat kondisi yang membahagiakan pergi (entah karena objeknya hilang atau karena kebosanan), maka penderitaan akan muncul. Semua hanya dibedakan oleh waktu. Dari sudut pandang ini, cara terbaik untuk lolos dari penderitaan adalah dengan melepaskan kelekatan itu sendiri. Berhenti mengejar dengan menghilangkan kerakusan. Dengan hilangnya kelekatan, kebahagiaan sejati akan muncul bertahap dengan sendirinya. Karena kebahagiaan sejatinya memang ada di diri sendiri. Ia tidak berjarak.

Keinginan manusia yang tak terbatas membuat dunia tampak muram. Seperti yang dikeluhkan juga oleh Arthur Schopenhauer, dorongan yang tak henti terus melahirkan penderitaan. Saat keinginan tak terpenuhi, penderitaan muncul. Bahkan, saat keinginan sudah terpenuhi, keinginan lain akan muncul. Tanpa ujung dan hanya menghasilkan penderitaan baru. Penderitaan akibat manusia yang tak pernah puas. Dengan pesimisme Schopenhauer, jalan keluar bukanlah dengan menuruti kehendak, tetapi menolaknya. Pandangan ini dekat dengan Buddha yang mengajarkan padamnya keinginan, tetapi dengan tindakan yang menabrak dengan frontal. Karena menolak keinginan, menurut pandangan Schopenhauer, adalah satu-satunya jalan keluar dari penderitaan.

Keputusasaan Schopenhauer lalu ditertawakan oleh Friedrich Nietzsche. Bagi Nietzsche, hidup bukan untuk ditolak, tetapi untuk ditegaskan. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan perlu diterima karena dari situlah justru kekuatan, kreativitas, dan keagungan manusia lahir. Nietzsche berbicara tentang kehendak manusia untuk berkuasa, bukan dalam arti menindas orang lain, tetapi lebih ke dorongan untuk mengatasi dan menguasai diri sendiri. Menguasai diri akhirnya berujung pada penerimaan atas segala sesuatu yang hadir. Alih-alih melarikan diri dari penderitaan dengan cara menolak secara frontal segala penyebab penderitaan (termasuk keinginan itu sendiri), Nietzsche mendorong kita untuk mengatakan “ya” pada segala hal yang terjadi pada hidup. Semuanya. Entah itu kebahagiaan, kesedihan, luka, ataupun kegagalan. Penderitaan–dan juga kebahagiaan–bukanlah musuh yang perlu dijauhi. Ia adalah teman perjalanan yang dapat membuat manusia mencintai hidup dan nasibnya, apapun yang terjadi. Gagasan yang juga dikenal dengan amor fati.

Secara implisif, amor fati juga hidup dalam tulisan-tulisan Albert Camus walaupun secara kasat mata ia mengeluhkan keabsurdan dunia. Di dunia yang absurd ini, manusia terus mencari makna tetapi semesta diam dan tak menjawab. Seperti cerita Sisyphus yang dihukum untuk terus mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya terguling lagi. Setelah batu terguling, ia harus kembali mendorongnya. Terus menerus tanpa henti. Seperti manusia yang mengejar bayangannya sendiri tanpa akhir.

Pertanyaan besarnya adalah: apakah kita harus menyerah pada absurditas ini? Jawabannya: tentu tidak!

Coba bayangkan Sisyphus merasa bahagia saat mendorong batu. Bukan saat batu tersebut berada di puncak gunung. Kebahagiaan yang seolah menertawakan keabsurdan hidup yang mencoba menghadirkan penderitaan. Hidup yang absurd bukan alasan untuk putus asa, melainkan alasan untuk memberontak dengan cara mencintai takdir yang tidak jelas. Tetap hidup sepenuhnya meski semesta tetap diam.

Tidak sekedar membayangkan mitos Sisypus, memeluk penderitaan pernah dilakukan langsung oleh Viktor Frankl. Ia adalah psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Dari pengalaman konkret itulah ia membawa filsafat penderitaan. Viktor Frankl menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana manusia dapat bertahan hidup dalam kondisi paling brutal. Bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan menemukan makna dari penderitaan yang dipeluk. Harapan akan kebahagiaan dengan menolak penderitaan hanya akan membuat manusia semakin lemah. Daripada menghabiskan energi dengan menolak realitas, menciptakan makna dari setiap penderitaan yang diterima adalah jalan yang menyelamatkan. Hal ini juga bersinggungan dengan ajaran Buddha: kebebasan batin menjadi mungkin, bahkan ketika tubuh dan realitas terpenjara.

Dalam keheningan meditasi yang hanya terisi suara napas, pikiran saya dihampiri berbagai pandangan tersebut. Buddha berbisik bahwa penderitaan berakar dari kelekatan dan kebahagiaan sejati lahir dari pelepasan. Schopenhauer menimpali dengan nada muram. Ia berakhir dengan menolak semua kehendak sebagai asal mula penderitaan dengan frontal. Kemuraman itu dibantah oleh Nietzsche: fokus sebaiknya tidak tertuju pada penolakan akan hasrat sebagai pangkal penderitaan, tetapi melihat penderitaan sebagai medan untuk bertumbuh. Semangat serupa diserukan oleh Camus dengan cara mencintai absurditas meskipun tidak ada garansi bahwa semesta dapat memberikan makna. Frankl mengalaminya sendiri. Ia menegaskan: dalam situasi paling kejam sekalipun, manusia tetap bebas menemukan makna dan kebahagiaan dalam penderitaan–bahkan jika semesta tetap diam. Karena tetap mencintai kekinian yang absurd, tanpa harapan berlebihan akan masa depan, adalah cara bahagia paling sederhana.

Kesimpulan yang tak terkatakan muncul dalam perjalanan meditasi. Menghadirkan jalan tengah yang bukan sekadar menolak, menegaskan, ataupun memberontak. Melainkan melihat dengan jernih hakikat dari segala sesuatu yang terkondisi: tidak kekal, tanpa inti, dan tak mampu memberi kebahagiaan sejati. Memahami dan mengalami konsep ini secara menyeluruh melalui kontemplasi di setiap ritme napas meditasi pelan-pelan menghadirkan titik keseimbangan yang sesungguhnya. Berhenti menggenggam dan membiarkan batin menjadi jernih apa adanya. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Trauma Masa Kecil yang Diam-Diam Merusak Hubungan Cinta
Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Tags: kebahagiaankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sarapan, Kopi, dan Manajemen Kolosal ala Pak Imam Tejo

Next Post

NCT DREAM “Rainbow”: Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
NCT DREAM “Rainbow”: Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

NCT DREAM "Rainbow": Warna-Warna Persahabatan dalam Lirik yang Hangat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co