10 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 9, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan “Kawitan“. Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah atau moyang dalam silsilah keluarga. Namun, jika ditelaah lebih dalam secara filosofis, Kawitan adalah Atma—energi hidup yang menjadi muasal dari segala kehidupan.

Jika masih bernama atau identitas tertentu bukan Bhatara Kawitan tapi disebut Bhatara Pitra. Pitara adalah Jiwa (jiwa bersifat personal). Ini yang membedakan antara memuja Bhatara Pitara dan memuja Bhatara Kawitan.

Kawitan adalah Atma — pemantik energi muasal kehidupan. Atma tanpa identitas inilah Kawitan, Maha Muasal Hidup (Bhatara Kawitan).

Pemujaan Tahap Bhakti dan Pemujaan Tahap Jnana

1. Jika kita mengaku bahwa “kita memuja leluhur dan masih ada nama tokoh tertentu maka kita masih memuja Pitara” artinya kita masih memuja sosok tertentu dalam imajinasi kita, inilah Pitara-Pitari. Ini pemujaan tahap bhakti pada Bhatara Pitara-Pitari.

2. Jika kita mengatakan bahwa “kita memuja leluhur dan tidak ada nama tokoh tertentu (sudah pada pemahaman tataran muasal atau Atma tanpa nama) maka kita telah memuja Kawitan” artinya kita telah memahami bahwa leluhur adalah “muasal tertinggi dari jiwa”, inilah Bhatara Kawitan. Ini pemujaan tahap jnana pada Bhatara Kawitan.

Secara umum pemahaman umat Hindu di Bali terbagi menjadi 2 tahapan tersebut di atas. Umat yang telah sampai pada pemujaan tahap jnana artinya telah sangat mendalam dan selaras dengan konsep  Adwaita Vedanta atau filsafat Atman yang universal. Pada tataran ini umat bisa membedakan dengan sangat jernih antara aspek personal (individu) dan universal (sumber).

Perbedaan Antara Kawitan dan Pitara

Kawitan sejatinya bukanlah identitas satu atau dua tokoh tertentu. Bhatara Kawitan adalah Sang Muasal Hidup. Dalam level ini, ia tidak lagi memiliki nama manusia atau batasan sejarah. Ia adalah percikan suci yang menghidupi setiap makhluk. Ketika kita menyebut “memuja leluhur” dalam konteks ini, artinya kita sedang memuja sumber kehidupan itu sendiri—sebuah kesadaran murni yang melampaui ego dan bentuk.

Penting bagi kita untuk membedakan antara Kawitan (Atma) dan Pitara-Pitari (Jiwa). Perbedaan utamanya terletak pada sifat personalitasnya:

  1. Kawitan (Atma): Bersifat universal, tidak bernama, dan merupakan energi murni. Ia adalah “Hidup” sebelum terbungkus oleh identitas duniawi. Bhatara Kawitan adalah “Hidup” itu sendiri. Adalah energi murni tanpa bentuk (Nirguna), tanpa nama, dan merupakan percikan kecil dari Brahman.
  2. Pitara (Jiwa/Pitra): Bersifat personal. Jika dalam pemujaan masih melekat sebuah nama, gelar, atau identitas tokoh tertentu, maka sosok tersebut adalah Bhatara-Bhatari Pitra. Mereka adalah jiwa yang masih memiliki keterikatan dengan memori dan sejarah garis keturunan manusia. Adalah entitas yang masih membawa “bungkus” identitas duniawi, garis keturunan, dan sejarah tertentu.

Dengan prinsip ini, memuja Kawitan sebenarnya adalah tindakan kembali ke asal (sangkan paraning dumadi), melampaui sekat-sekat silsilah manusia menuju kemanunggalan hidup.

Esensi Pemujaan Leluhur

Jika kita mengaku memuja leluhur sebagai sumber muasal, maka fokus kita seharusnya beralih dari sekadar memuja “sosok manusia masa lalu” menjadi memuja muasal dari energi kehidupan yang mengalir dalam diri kita. Pemujaan leluhur dengan identitas nama tokoh atau sosok adalah penghormatan terhadap sejarah, namun memuja Kawitan adalah upaya untuk bersatu kembali dengan Sang Pencipta Kehidupan.

Dengan memahami bahwa Kawitan adalah Atma universal, kita menyadari bahwa setiap diri manusia membawa percikan suci yang sama. Kita tidak hanya terhubung secara biologis melalui darah, tetapi terhubung secara spiritual melalui satu sumber yang sama: Sang Muasal Hidup.

Memuja Leluhur sebagai Identitas Pribadi dan Melampaui Identitas

Perbedaan antara memuja leluhur sebagai identitas pribadi (Pitra) dengan memuja leluhur melampaui identitas (Kawitan/Atma) terletak pada kedalaman kesadaran dan objek yang dituju.

Berikut adalah perbandingannya:

1. Memuja Leluhur sebagai Identitas Pribadi (Bhatara-Bhatari Pitra)

Pemujaan ini bersifat horizontal dan historis. Anda memuja sosok yang pernah hidup di dunia dengan nama, gelar, dan jasa tertentu.

  • Fokus: Menghormati jasa, garis keturunan (genealogi), dan menjaga ikatan emosional keluarga.
  • Wujud: Biasanya diwujudkan dalam bentuk pelinggih spesifik atau penyebutan nama dalam doa (misalnya: “Sembah bakti hamba kepada Kakek/Buyut X”).
  • Tujuan: Memohon perlindungan bagi keluarga, menjaga tradisi, dan memberikan penghormatan agar jiwa yang dipuja mendapat tempat yang layak sesuai jasanya.
  • Sifat: Terikat pada memori dan dualitas (baik-buruk, besar-kecil, milik saya-milik orang lain).

2. Memuja Leluhur Melampaui Identitas (Bhatara Kawitan/Atma)

Pemujaan ini bersifat vertikal dan metafisis. Anda tidak lagi memuja “orangnya”, melainkan memuja energi hidup yang menyebabkan orang tersebut (dan Anda sendiri) ada.

  • Fokus: Memuja Atma atau sumber kehidupan (wit/ kawitan). Di sini, leluhur dipandang sebagai “pintu masuk” untuk menyadari bahwa hidup ini tunggal.
  • Wujud: Tidak terbatas pada nama atau bentuk rupa manusia. Ia adalah energi murni yang menyatu dengan sumber semesta.
  • Tujuan: Mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi, menyadari kemanunggalan (Advaita), dan kembali ke asal muasal (Sangkan Paraning Dumadi).
  • Sifat: Universal dan Esa. Tidak ada lagi “leluhur saya” atau “leluhur Anda”, karena pada level Atma, semua berasal dari satu energi yang sama.

.

Memuja dengan identitas adalah bentuk bhakti (bakti/etika), sedangkan memuja tanpa identitas adalah bentuk jnana (pengetahuan/kebijaksanaan tertinggi).

Sehingga dengan gambaran tersebut kita menyadari ada dalam konteks pemujaan leluhur, perbedaan antara jalur Bhakti (pengabdian/perasaan) dan Jnana (pengetahuan/kesadaran).

Berikut adalah rincian perbedaannya:

1. Pemujaan Leluhur dalam Konteks Bhakti (Jalan Pengabdian)

Jalur ini mengandalkan cinta kasih, rasa hormat, dan keterikatan emosional yang suci kepada sosok leluhur.

  • Objek Pemujaan: Leluhur dipandang sebagai personalitas (Bhatara-Bhatari Pitra). Ada sosok yang dibayangkan, ada nama yang disebut, dan ada sejarah yang diingat.
  • Cara Pemujaan: Mengutamakan ritual, sesaji (upakara), dan bakti fisik. Hubungannya bersifat seperti anak kepada orang tua atau murid kepada guru.
  • Logika Berpikir: “Saya ada karena leluhur saya ada. Saya berterima kasih atas darah dan nafas yang mereka wariskan.”
  • Tujuan: Mendapatkan perlindungan (pangayoman), menjaga keharmonisan keluarga, dan memastikan hubungan antara yang hidup dan yang mati tetap tersambung melalui doa.
  • Kekuatan: Sangat kuat dalam menjaga tradisi, moralitas, dan etika di dunia nyata.

2. Pemujaan Leluhur dalam Konteks Jnana (Jalan Kebijaksanaan)

Jalur ini menggunakan analisis spiritual dan kesadaran untuk menembus kulit luar identitas menuju hakikat terdalam.

  • Objek Pemujaan: Leluhur dipandang sebagai Prana atau Atma (Bhatara Kawitan). Fokusnya bukan pada “siapa” orangnya, melainkan pada “energi apa” yang menghidupinya.
  • Cara Pemujaan: Lebih banyak melalui kontemplasi, meditasi, dan pemahaman bahwa Atma di dalam diri leluhur sama dengan Atma di dalam diri penyembah. Ritual adalah simbol, namun kesadaran adalah yang utama.
  • Logika Berpikir: “Leluhur hanyalah perantara. Yang sesungguhnya saya puja adalah Hidup (Atma) yang mengalir melalui mereka.”
  • Tujuan: Mencapai pembebasan (Moksha) dan menyadari kemanunggalan. Di sini, penyembah berusaha melampaui dualitas “aku” dan “leluhurku” untuk sampai pada “Sang Muasal”.
  • Kekuatan: Memberikan pencerahan dan membebaskan seseorang dari keterikatan ego atau kebanggaan semu atas garis keturunan tertentu.


Dalam praktiknya, keduanya sering berjalan beriringan. Bhakti adalah fondasi (cara kita menghargai akar bumi), sedangkan Jnana adalah puncaknya (cara kita kembali ke langit/sumber). Memuja leluhur dengan identitas (Bhakti) membantu kita mengenal asal-usul, sementara memuja tanpa identitas (Jnana) membantu kita kembali ke asal-muasal.

Jebakan Mengagungkan Diri dan Keluarga — Bahaya Jebakan Mitos Keluarga

Dalam konteks ini, yang paling berisiko terjebak dalam mitos adalah jalur Bhakti (Pemujaan Identitas/Pitra).

Berikut adalah alasan mengapa jalur identitas lebih rentan terhadap mitosisme dibandingkan jalur Jnana:

1. Keterikatan pada Narasi dan Nama

Pemujaan berbasis identitas (Bhakti) sangat bergantung pada cerita rakyat, silsilah (babad), dan tutur. Karena identitas membutuhkan “bukti” sejarah, seringkali muncul narasi-narasi yang didramatisasi atau ditambahkan unsur ajaib (supernatural) untuk memperkuat legitimasi suatu garis keturunan. Inilah yang menjadi celah masuknya mitos.

2. Personifikasi Berlebihan

Ketika leluhur dipandang sebagai sosok pribadi yang memiliki sifat seperti manusia (bisa marah, bisa senang, memiliki ego kelompok), maka muncul kepercayaan-kepercayaan mitologis. Contohnya: “Jika tidak menyembah di sini, leluhur X akan marah.” Ini adalah bentuk mitos ketakutan yang muncul karena kita mempersonifikasikan Atma menjadi sosok yang masih memiliki emosi manusiawi.

3. Jebakan Fanatisme Golongan

Pemujaan identitas sering memunculkan mitos tentang “keunggulan darah”. Seseorang bisa terjebak merasa paling suci atau paling berkuasa hanya karena garis keturunan tertentu. Ini menjauhkan orang dari hakikat Kawitan sebagai Atma (yang universal) dan justru mengkotak-kotakkan manusia dalam sekat-sekat mitos silsilah.

Mengapa Jalur Jnana (Atma) Lebih Minim Mitos?

Jalur Jnana memuja Energi Hidup (Atma) yang bersifat abstrak dan universal.

  • Tanpa Nama: Tidak ada cerita atau drama yang perlu dipertahankan.
  • Logis: Fokus pada keberadaan “Hidup” itu sendiri. Anda tidak perlu mitos untuk membuktikan bahwa Anda hidup; Anda cukup menyadarinya.
  • Melampaui Bentuk: Mitos membutuhkan “wujud” atau “cerita”. Ketika Anda memuja Sang Muasal tanpa identitas, semua narasi manusiawi gugur dengan sendirinya.

Evolusi Kesadaran dan Praktek Membangkitkan Kesadaran

Seseorang terjebak mitos jika ia berhenti pada “siapa” leluhurnya (identitas), bukan “apa” yang menghidupi leluhurnya (Atma). Namun, perlu diingat bahwa mitos dalam Bhakti juga memiliki fungsi sosial sebagai pemersatu, asalkan disadari bahwa itu adalah “bungkus”, bukan “isi” yang sejati.

Dalam perspektif filsafat spiritual, pemujaan leluhur memang sering kali merupakan sebuah  evolusi kesadaran yang dapat dibagi menjadi dua tahapan utama:

1. Tahap Personal (Bhatara-Bhatari Pitra)

Pada tahap ini, pemujaan berbasis pada identitas pribadi dan hubungan emosional.

  • Objek: Leluhur dipuja sebagai sosok individu yang memiliki nama, silsilah, dan jasa sejarah tertentu (misalnya: “Eyang X” atau “Leluhur dari klan Y”).
  • Karakteristik: Fokus pada rasa syukur atas warisan biologis dan nilai-nilai keluarga. Ritual cenderung bersifat spesifik dan terikat pada memori kolektif garis keturunan.
  • Risiko: Jika berhenti di sini, seseorang rentan terjebak dalam fanatisme golongan atau mitos-mitos yang mengagungkan identitas semu. 

2. Tahap Transendental (Bhatara Kawitan/Paramatma)

Pada tahap ini, pemujaan naik ke level Jnana (Pengetahuan), di mana identitas pribadi dilepaskan untuk melihat hakikat yang lebih dalam.

  • Objek: Leluhur dipuja sebagai Atma atau energi hidup yang murni tanpa nama dan bentuk (Nirguna).
  • Karakteristik: Menyadari bahwa leluhur adalah perantara dari “Sang Muasal Hidup” yang sama dengan yang ada dalam diri kita. Ini adalah pemujaan terhadap Paramatma (Roh Semesta).
  • Tujuan: Mencapai kemanunggalan (Advaita), di mana penyembah menyadari bahwa di balik semua nama leluhur, hanya ada satu sumber kehidupan yang Esa. 

Hubungan Antar Tahap Personal dan Transendental

Kedua tahap ini tidak harus saling meniadakan. Tahap pertama (Bhakti) sering kali menjadi pintu gerbang atau fondasi etika. Tanpa menghormati identitas leluhur, seseorang sulit menghargai keberadaannya saat ini. Namun, tahap kedua (Jnana) adalah puncak yang membebaskan, di mana seseorang tidak lagi terkotak-kotak oleh ego silsilah, melainkan bersatu dengan universalitas hidup. 

Pemujaan yang diupayakan adalah keberimbangan ketika seseorang melakukan ritual dengan rasa bakti kepada leluhur (Tahap 1), namun di saat yang sama memiliki kesadaran penuh bahwa yang dipuja sejatinya adalah Atma yang tak bertepi (Tahap 2).  [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

BACA BAGIAN 2:

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]
Tags: hinduHindu Balikawitanleluhurmemuja leluhur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

Next Post

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

by Sugi Lanus
March 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

Read moreDetails

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

by Satria Aditya
March 9, 2026
0
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik

SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah...

Read moreDetails

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

by Angga Wijaya
March 9, 2026
0
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti...

Read moreDetails

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
0
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

DALAM bentang sejarah musik rock di tanah air, sulit membayangkan struktur megah genre ini berdiri kokoh tanpa menyebut satu nama...

Read moreDetails

Mudik Lebaran dan Komunikasi Intrabudaya

by Chusmeru
March 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KERIUHAN selalu akan terjadi menjelang Lebaran di Indonesia. Seperti biasa, mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta selalu menunggu...

Read moreDetails

Keseimbangan Rasio dan Rasa

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
March 8, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

PERHATIKAN orang yang berselancar, begitu menikmatinya. Justru semakin besar gelombang, semakin peselancar itu menikmati rasanya. Kenapa orang itu bisa melakukannya?...

Read moreDetails

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

by Agung Sudarsa
March 7, 2026
0
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

SETIAP Sabtu pagi di akhir bulan, Wantilan DPRD Renon bukan sekadar bangunan terbuka dengan tiang-tiang kokoh dan lantai semen yang...

Read moreDetails

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng
Pemerintahan

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng

DEWAN Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Buleleng mengelar pertemuan penting guna membahas arah pembangunan daerah ke depan serta validasi data sosial....

by tatkala
March 9, 2026
‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026
Panggung

‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026

DI antara deretan karya dalam Lomba Sketsa Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026, sebuah gambar berjudul “Gangga Maya” menarik perhatian dewan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta  —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan
Opini

Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan

TULISAN I Gede Joni Suhartawan mengenai Lakon Lobi Pedidian Bali di Pusat di tatkala.co membuka kotak pandora yang selama ini...

by Jro Gde Sudibya
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Esai

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah...

by Satria Aditya
March 9, 2026
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah
Panggung

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan "Kawitan". Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini
Opini

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

ADA nada genting yang terselip dalam pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster belakangan ini. Saat ia meminta para wakil Bali di...

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026
Panggung

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

HARI itu, Minggu pagi, 8 Maret 2026, langkah-langkah kecil berbaris rapi. Lapangan Puputan Badung, Denpasar berubah menjadi arena budaya yang...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026
Panggung

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

PULUHAN sketsa, tapel, dan ogoh-ogoh mini berjajar di dalam tenda pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Di...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’
Esai

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti...

by Angga Wijaya
March 9, 2026
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia
Esai

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

DALAM bentang sejarah musik rock di tanah air, sulit membayangkan struktur megah genre ini berdiri kokoh tanpa menyebut satu nama...

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co