Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu, ketika kita menyaksikan Senator AS, Elizabeth Warren keluar dari ruang briefing, dengan wajah muram yang tak bisa ia sembunyikan, dunia seolah ikut membeku. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena frustrasi melihat ketegangan antara Amerika, Israel, dan Iran, dalam sebuah konflik yang bahkan bagi para pengamat paling tajam pun, terasa seperti lakon absurd tanpa naskah yang jelas.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah suara lama muncul dari dalam ingatan. Bukan suara sirene, melainkan ratapan. Ratapan dari sebuah lagu yang dulu mungkin kita dengarkan sebagai melodi pop yang indah: Earth Song oleh Michael Jackson.
Dulu, lagu itu adalah puisi tentang hujan yang tak lagi turun, tentang padang gembala yang berubah gersang. Tapi pagi itu, di bawah bayang-bayang perang, liriknya berubah menjadi pertanyaan hidup yang menampar wajah kita. Bumi yang terluka itu kini sedang bertanya, suaranya parau tertelan asap mesiu: “What about us?” Apa kabar kami, manusia?
Perang yang meletup pada 28 Februari 2026 itu tak ubahnya letusan gunung berapi di dasar laut. Ia tak hanya melontarkan bara di langit Timur Tengah, tapi juga mengirimkan gelombang tsunami kecemasan yang menghantam pantai-pantai dunia, dari gejolak harga minyak hingga dinginnya ruang-ruang diplomasi. Dan di tengah gemuruh itu, di sela-sela sirene yang histeris, “Earth Song” mendadak menjelma menjadi doa yang selama bertahun-tahun kita kubur dalam hiruk-pikuk kehidupan.
Michael Jackson tidak sekadar menyanyikan lagu ini. Ia meratapinya. Dengan vokal yang menusuk, ia membawa kita menyelami lautan keputusasaan. Setiap nada tinggi yang ia lepaskan adalah lolongan kemarahan atas kelengahan kita. Ia berdiri di tengah hutan yang terbakar, di atas tanah yang retak dan bertanya pada angin: kemana perginya rasa iba?
Kini, di tengah debu yang berterbangan akibat ambisi, pertanyaan Jackson kembali menggema di koridor-koridor kekuasaan yang dingin.
“What about all the peace that you pledge your only son?” Bukankah kita dulu berjanji pada anak-anak kita tentang dunia yang damai?Sekarang, di Washington dan Teheran, di setiap ruang pengambilan keputusan, janji itu seperti kertas usang yang terbakar oleh ego geopolitik. Kita mengorbankan masa depan anak-anak kita di altar konflik tak berujung.
“What have we done to the world?” teriak Jackson. Itu bukan sekadar lirik, itu adalah tinju yang menggedor pintu kesadaran. Dan ketika Warren dengan suara bergetar mengatakan bahwa situasi ini lebih buruk dari yang bisa dibayangkan, bahwa tak ada alasan jelas untuk perang ini, apalagi rencana untuk mengakhirinya, kita seperti mendengar gema dari pertanyaan Jackson yang sama. Kita kehilangan arah, kita buta, dan kita terus berlari menuju jurang kehancuran.
“Did you ever stop to notice all the blood we’ve shed before?” Pernahkah kita berhenti? Atau kita terlalu sibuk menghitung kekuasaan hingga lupa bahwa setiap tetes darah yang jatuh ke tanah adalah bagian dari tangisan Bumi?
Kini, di tengah dentuman yang mereduksi hati menjadi bebal, lagu Michael Jackson menemukan kembali takdirnya. Ia menggema, tak hanya sebagai hiburan, tapi sebagai lampu peringatan di tengah badai. Ia menyoroti betapa sia-sia kehancuran ini. Setiap rudal yang jatuh bukan hanya merenggut nyawa, tapi juga melukai paru-paru Bumi. Perang bukan lagi sekadar perebutan peta politik, ia adalah aksi bunuh diri ekologis yang masif.
“What about flowering fields?” Apa kabar ladang-ladang berbunga yang akan kita wariskan?Atau akankah yang tersisa hanya ladang ranjau dan tanah yang mandul oleh bahan peledak?
Di akhir ratapannya, Jackson berbisik, lalu berteriak: “Stop and look!” Berhentilah dan lihatlah! Dan mungkin, di situlah letak jawabannya. Seperti Warren yang “marah dan berduka”, kita semua diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk agresi, untuk melihat luka yang kita torehkan, dan bertanya pada diri sendiri: masihkah kita punya hati untuk mendengar jawaban Bumi?
Karena pada akhirnya, perang ini bukan tentang kita. Ini tentang Bumi yang menangis, dan tentang “Earth Song” yang terus bergema, menunggu kita untuk mendengarkannya. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:




























