2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seks: Barang & Gaya Itu-itu Saja, Yang Rumit adalah Persepsinya

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 27, 2019
in Esai
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Seks di dunia timur maupun dunia barat, sebetulnya sama saja. Barangnya, ya sama. Gayanya, ya itu-itu juga. Yang berbeda dan menjadikannya begitu rumit, adalah persepsinya.

.

Jika dalam masyarakat barat, seks tidak ditempatkan sebagai ukuran moralitas, sebaliknya di tengah-tengah masyarakat timur seks memegang peranan sangat penting dalam mengukur moralitas. Di sinilah bedanya.

Saat ia dijadikan sebagai ukuran moral yang posisinya sedemikian tinggi, di balik pintu, seks sangat diminati sebagai kebutuhan tubuh yang paling rendah. Kenapa disebut paling rendah? Karena seks atau kawin, seperti juga makan, dapat dilakukan oleh semua mahluk, yang hampir tak berotak sekalipun.

Belalang misalnya, dalam hal ini belalang sembah (Mantis religiosa), bahkan ia punya cara kawin yang sangat unik dan kejam. Belalang sembah betina akan memutus, mengunyah dan memakan kepala pejantannya selama atau setelah kawin.

Anehnya, meski ini sebuah kebetulan belaka, dalam dunia manusia, laporan-laporan kematian saat atau setelah berhubungan seks juga selalu terjadi pada laki-laki, sama seperti pada fenomena belalang sembah. Tak perrna ada laporan seorang wanita mati saat bercinta, kecuali itu memang suatu tindak kriminal perkosaan dan pembunuhan.

Dalam perilaku manusia yang lain, ada satu fenomena yang dinamakan orientasi seks, kalau tak mau dibilang kelainan, yang disebut sadomasochism. Yang terjadi dalam hal ini adalah seseorang memperoleh kenikmatan seksual saat yang bersangkutan menerima siksaan fisik dari pasangannya yang juga merasakan hal yang sama. Kita tak tahu, akankah ia tetap bahagia dan senang jika kepalanya diputus dan dikunyah seperti nasib belalang sembah itu? 

Satu kebutuhan yang “sangat rendah”, jika dijadikan sebagaui ukuran moral yang sangat tinggi, akan kemudian memberi tantangan yang sangat besar dalam kehidupan. Ia rendah karena dekat dengan naluri primitif, yang tak butuh dipelajari. Ia bukan skil dan tak butuh kognisi yang kuat. Ia telah dirancang secara alami oleh kekuatan paling primitif dalam struktur jiwa manusia.

Jangan terlalu sinis dengan hal-hal yang kita sebut primitif. Insting inilah yang sesungguhnya pondasi dari kehidupan itu sendiri, apa yang disebut sebagai pelestarian yaitu reproduksi.

Akan hal ini, membawa kita ingat pada tulisan sastrawan besar tanah air, Pramoedya Ananta Toer, yang sangat mengesankan dalam bukunya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Kisah hidupnya saat ia menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Ia tak lupa menuliskan sedikit hal menarik tentang perilaku seksual penduduk asli di pulau itu.

Kalau boleh dikatakan, mungkin fenomena prilaku seksual inilah yang dapat dibilang sebagai standar moralitas, karena hubungan seks hanya dilakukan untuk maksud reproduksi atau menghasilkan anak belaka.

Diceritakan, pada saat yang sudah ditentukan, sepasang lelaki dan perempuan akan pergi ke dalam hutan hanya untuk bersetubuh, tak diketahui apakah mereka juga telah bercinta? Entahlah! Satu-satunya gaya koitus yang mereka ketahui dan lakukan adalah, seperti binatang, menyetubuhi pasangannya dari belakang dalam posisi berdiri atau setengah membungkuk.

Setelah ejakulasi, usai pula ritual mulia tersebut, bergegaslah mereka kembali ke kampung. Baru setelah hadir orang-orang pendatanglah, mereka kemudian diajari gaya bercinta yang lain, yang menurut kaum pendatang itu jauh lebih membuai dan menerlenakan. Dan penduduk aslipun menyetujui dan mengakuinya, gaya bersetubuh yang baru memang lebih gila rasanya, yaitu gaya berhadap-hadapan, karena “semuanya kena”, begitu alasannya.

Dalam masyarakat barat, seks sepenuhnya fenomena biologis dan pilihan manusia, apakah heteroseksual, homoseksual atau biseksual, semuanya dianggap normal. Karena dari sana, semua dapat memperoleh sensasi erotika dan klimaks. Seks itu kebutuhan hidup belaka, titik! Maka jika merupakan sebuah kebutuhan, dapat saja ia menjadi kebutuhan tersier, kemewahan dan kebanggaan, seks dapat menjadi prestise.

—

BACA KOLOM DOKTER LAIN:

  • Acintya
  • Nyepi: Terapi Kesehatan
  • Pasien, Guru yang Sempurna
  • Dokter dan Sepotong Filsafat
  • Dokter & Dukun, Tujuan Sama, Satu Naik Heli, Satu Naik Boat, Tidaklah Bertabrakan…

—

Untuk itu mari bahas Hugh Hefner, bos majalah tersohor Plaboy itu. Tak satu orang pun menuduhnya amoral karena telah tidur dengan ratusan model majalah panasnya tersebut. Sampai pada akhir hayatnya, tak satupun ada yang melaporkannya sebagai tindakan zina. Karena memang tak ada yang merasa telah dicuri miliknya, maka moralitas hanya diukur dari penghormatan atas hak-hak orang lain sepakat atau tidak untuk melakukan seks.

Ia hanya akan berhadapan dengan hukum saat ada unsur pemaksaan atau faktor belum cukup umur. Jadi kita takkan pernah tahu apakah Hugh Hefner, terkait perilakunya itu telah masuk neraka atau surga. Kalau toh ia masuk neraka, ia bakal bertemu Dewi Venus yang juga suka gonta-ganti pasangan seks. Bagi Hugh, ini justru sebuah upgrade karir, hahaha!

Saat piala dunia Jerman 2006, pun ada satu hal cukup menarik. Sedari jalan-jalan ke luar bandara hingga di kota-kota, terpampang baliho-baliho iklan yang menampilkan profile wanita pekerja seksual komersil untuk pendatang yang akan menonton bola yang mungkin butuh pemenuhan kebutuhan biologis. Biasa saja, seakan-akan baliho iklan sabun atau caleg di tanah air.

Mungkin karena itulah di sana istilah munafik atau hipokrit tak begitu sering terpakai. Nah, semoga tulisan yang ke sana ke mari ini tak membuat pembaca menjadi rumit pikiran dan kehilangan klimaks! [T]

Tags: Seksualitassex
Share155TweetSendShareSend
Previous Post

Reformasi dan Raja Kecil

Next Post

Law of Attraction: Memanifestasi Harapan

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Law of Attraction: Memanifestasi Harapan

Law of Attraction: Memanifestasi Harapan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co