PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada Minggu, 20 September 2026. Hasil itu membawa Tut Karben menuju babak baru. Gagasan yang sebelumnya ditawarkan kepada warga kini menanti untuk diwujudkan.
Hari itu, warga Desa Guwang berdatangan ke tempat pemungutan suara. Mereka menggunakan hak pilih untuk menentukan siapa yang akan memimpin desa dalam periode berikutnya.

Setelah pemungutan dan penghitungan suara selesai, pilihan warga mulai terang. Dalam rapat pleno rekapitulasi hasil Pemilihan Perbekel Desa Guwang 2026, I Ketut Karben Wardana (calon nomor urut 1) memperoleh 2.219 suara. Sementara I Made Darsana (calon nomor urut 2) mendapat 2.176 suara. Tut Karben unggul dengan selisih 43 suara.
Setelah rangkaian penghitungan suara terbuka di tingkat desa selesai, tahapan berikutnya adalah proses penetapan hingga pelantikan perbekel terpilih yang dijadwalkan pada 24 Oktober 2026. Pemerintah Kabupaten Gianyar sebelumnya juga menetapkan jadwal tersebut sebagai bagian dari tahapan Pilkel serentak tahun ini.
Bagi I Ketut Karben Wardana atau yang akrab disapa Tut Karben, hasil pemilihan itu menandai tahap baru setelah rangkaian kampanye, pertemuan dengan warga, serta pemaparan visi dan program. Gagasan yang selama ini disampaikan sebagai tawaran kepada masyarakat kini akan berhadapan dengan pekerjaan pemerintahan.

Tut Karben bukan sosok baru dalam urusan Desa Guwang. Sebelum maju sebagai calon perbekel, ia pernah memimpin sebagai Bendesa Adat Guwang. Dalam posisi tersebut, ia bersentuhan dengan berbagai persoalan desa sekaligus terlibat dalam pengembangan sejumlah potensinya.
Pada 2021, misalnya, ia turut memperjuangkan aset dan lahan fasilitas umum milik Desa Adat Guwang dalam sengketa hukum di Pengadilan Negeri Gianyar. Aset tersebut mencakup area sekolah, pasar, dan kantor desa.
Ia juga terlibat dalam pengembangan potensi lokal, termasuk objek wisata geologi dan petualangan Hidden Canyon Beji Guwang, serta pementasan seni Barong and Keris Dance.
Sejak 2017, Tut Karben juga memprakarsai pengelolaan sumber mata air suci atau beji bersama pemerintah. Pengelolaan tersebut diarahkan agar sumber air dapat dikelola secara higienis sekaligus memberikan manfaat bagi kesejahteraan warga desa melalui produk Toya Beji.
Di sektor ekonomi, ia turut membersamai pendirian unit usaha ekonomi desa adat melalui konsep Baga Usaha Padruenan Desa Adat atau BUPDA. Salah satu usaha yang berkembang dari upaya tersebut adalah Tenten Mart yang kini menjadi Guwang Mart.
Pengalaman itulah yang kemudian dibawa Tut Karben ketika masuk ke gelanggang Pemilihan Perbekel Desa Guwang.
“Tujuan saya mencalonkan diri memang atas dasar ingin mengabdi untuk desa dan masyarakat. Selagi saya diberikan kesehatan, saya akan melayani desa semaksimal saya,” ujar Tut Karben.


Salah satu program yang ia tawarkan adalah HaloKel. Melalui program tersebut, warga dapat menghubunginya selama 24 jam untuk menyampaikan persoalan maupun urusan yang membutuhkan perhatian.
“Warga boleh menghubungi saya selama 24 jam. Akan saya layani. Bila perlu, saya langsung yang menindaklanjuti urusan apa pun itu,” katanya.
Gagasan mengenai pelayanan itu menjadi bagian dari sejumlah program yang ia bawa selama pencalonan. Salah satu ruang tempat Tut Karben memaparkan arah pembangunan tersebut adalah kampanye dialogis di Wantilan Pura Dalem Guwang, Kamis, 10 September 2026.
Dalam forum yang digelar Panitia Pemilihan Perbekel Desa Guwang itu, Tut Karben bersama calon lainnya mendapat kesempatan menyampaikan visi dan misi, mengikuti sesi dialog, serta menjawab pertanyaan masyarakat.
Beberapa hari kemudian, saat memasuki masa tenang, panitia juga menggelar rapat koordinasi bersama kedua calon dan tim pendukung. Para pihak diminta menjaga kerukunan dan kondusivitas desa serta menghindari tindakan yang dapat memicu perselisihan menjelang pemungutan suara.
Dari Rekam Jejak ke Agenda Pembangunan
Dalam pencalonannya, Tut Karben membawa visi “Desa Krta Wahya Dhyatmika”, yakni mewujudkan Desa Guwang yang sejahtera secara sekala-niskala melalui pembangunan yang tertata, penguatan ekonomi masyarakat, lingkungan bersih, ketertiban penduduk, serta pengelolaan potensi desa secara mandiri dan profesional.
Visi itu diterjemahkan ke dalam tujuh misi yang diberi nama “Sapta Kriya Abhipraya”.
Misi pertama, ‘Paramajnana Satwika Yadnya’, menempatkan nilai agama, adat, budaya, ngayah, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai landasan kehidupan masyarakat.
Misi kedua, ‘Nayaka Praja Bhadra Sewakattama’, menyasar tata kelola pemerintahan desa yang transparan, responsif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Program, anggaran, aset, serta hasil usaha desa diharapkan terbuka kepada masyarakat, dengan pengelolaan yang memiliki target dan evaluasi yang jelas.
Misi ketiga, ‘Sadana Ayu Luih’, diarahkan pada pengembangan desa wisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya. Misi keempat, ‘Krsaka Prajahita’, memberi perhatian pada pertanian berkelanjutan, termasuk pengembangan beras organik Desa Guwang sebagai produk unggulan.
Persoalan lingkungan ditempatkan dalam misi kelima, ‘Bhuana Lestari’, dengan target membangun sistem pengelolaan sampah yang mandiri, tertib, dan berkelanjutan. Sementara misi keenam, ‘Yowana Prawira’, diarahkan pada pengembangan minat, bakat, kreativitas, dan daya saing generasi muda Guwang.
Adapun misi ketujuh, ‘Sahakara Astula’, menekankan kerja sama strategis dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk dalam pendataan dan pengawasan penduduk pendatang serta aktivitas usaha dari luar Desa Guwang.

Lima Prioritas untuk Guwang
Tujuh misi tersebut kemudian dipadatkan menjadi lima prioritas besar yang lebih konkret: Guwang Wisata, Guwang Pasar, Guwang Bersih, Guwang Kuliner, dan Guwang Mandiri.
Guwang Wisata diarahkan untuk menata Desa Wisata Guwang secara terintegrasi sehingga sektor pariwisata dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Guwang Pasar menargetkan aktivasi kembali Pasar Seni Guwang. Pasar tersebut hendak didorong menjadi sentra UMKM sekaligus pusat ekonomi masyarakat.
Melalui Guwang Bersih, sistem pengelolaan sampah mandiri dirancang mulai dari rumah tangga hingga kawasan wisata dan pasar. Guwang Kuliner diarahkan pada pengembangan kuliner serta UMKM lokal sebagai kekuatan ekonomi desa.
Adapun Guwang Mandiri bertumpu pada optimalisasi parkir, aset desa, wisata, serta berbagai potensi ekonomi lainnya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa atau PADes.
Bagi Tut Karben, pengalaman sebagai Bendesa Adat menjadi bekal untuk mengenali persoalan dan potensi Guwang. Namun jabatan perbekel membawa cakupan tanggung jawab yang lebih luas. Ia akan berhadapan dengan urusan pemerintahan, pembangunan, pelayanan, pemberdayaan masyarakat, hingga pengelolaan berbagai potensi dan aset desa.
Sebelum pemungutan suara, Tut Karben berdiri di hadapan masyarakat membawa pengalaman sekaligus menawarkan arah pembangunan.
Kini Pemilihan Perbekel Desa Guwang telah usai. Tut Karben menjadi peraih suara terbanyak. Tahap berikutnya bukan lagi tentang menyampaikan apa yang hendak dikerjakan. Setelah proses penetapan dan pelantikan dilalui, gagasan-gagasan itu kini menanti pembuktian dalam kerja pemerintahan dan manfaatnya bagi masyarakat Guwang. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























